Bu Risma: Saya Tidak Punya Ambisi Politik

| September 03, 2013 | Sunting
Surabaya. Di kota terbesar kedua Indonesia ini, legenda berkisah tentang pertempuran dahsyat antara Sura, hiu putih raksasa dan Baya, si buaya. Berjumpa di sebuah sungai, keduanya bertempur dengan sengit demi memperebutkan supremasi kerajaan animalia. Tempat dimana pertempuran itu terjadi lantas dikenal sebagai luas Surabaya, kota hiu dan buaya. Perlambangan yang sama kemudian juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana kolonial (baca: para hiu dan buaya) mengendalikan kota tersebut selama berabad-abad.
Ibu Risma | Foto oleh Majalah Swa
Terletak di bagian utara pantai timur pulau Jawa, Surabaya sudah menjadi pelabuhan utama dan pusat perdagangan di Asia Tenggara sejak akhir tahun 1200 dan diperebutkan oleh berbagai pihak, sebelum akhirnya dikuasai oleh Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) selama tiga abad. Belanda kemudian menyerah kepada tentara Jepang pada 1942, yang kemudian menguasai Indonesia sampai mereka menyerah pada sekutu pada tahun 1945.

Pasca Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pergolakan antara pejuang kemerdekaan dengan pasukan Sekutu yang kembali ke Indonesia untuk mengambil tahanan perang kembali terjadi. Kematian Mallaby dalam baku tembak membangkitkan amarah Inggris untuk membumihanguskan kota. Pertempuran itulah yang kini diperingati sebagai titik balik perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang sama membuat masyarakat Indonesia menyebut Surabaya sebagai “kota Pahlawan”.

Hari ini, Surabaya memiliki pahlawan baru: walikota yang memberi nafas perubahan pada kota, Tri Rismaharini. Lebih dikenal sebagai Bu Risma, Walikota Surabaya ini adalah bagian dari generasi baru pemimpin Indonesia, pasca penerapan desentralisasi pemerintahan di seluruh Indonesia. Keberadaan orang-orang seperti Bu Risma bahkan disebut siap untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan nasional.

Sejak pukul 5.30 pagi, kerap kali Bu Wali sudah terlihat memunguti sampah di pinggiran jalan. Di siang hari, ia bermain bola dengan anak-anak di taman dan mengingatkan mereka untuk belajar giat. Saat malam datang, ia berpatroli ke taman-taman untuk menegur remaja-remaja yang keluyuran malam. Pun ketika lalu lintas macet, ia seringkali keluar dari mobilnya dan berinisiatif untuk mengatur lalu lintas. 

Risma juga masih sempat mendengarkan keluhan-keluhan warganya melalui sebuah program di radio. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan seputrar penggusuran, saluran air yang tersumbat bahkan kadang pertanyaan-pertanyaan yang kurang pantas.

Sebagai lulusan Teknik Arsitektur, Risma mengawali karirnya sebagai kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan di tahun 2005. Dan dibawah kendalinya, ia mengubah Surabaya, yang oleh seorang novelis Belanda disebut "kota kotor yang penuh pretensi dan kerakusan” menjadi Surabaya yang bersinar.

Di bawah pemerintahannya, kompleks pelacuran diubah menjadi Taman Kanak-Kanak. Bekas-bekas SPBU diubah jadi taman bermain. Spanduk-spanduk berisi himbauan untuk membuang sampah di tempat semestinya juga tersebar di penjuru kota. Semua itu membuat Surabaya memenangkan lusinan penghargaan sebagai pelopor kota ramah lingkungan. Dan di saat yang sama, kepemimpinannya juga berhasil menginspirasi warga kota untuk turut turun tangan merawat kotanya. Tahun lalu Surabaya meraih penghargaan sebagai kota dengan tingkat partisipasi publik terbaik di Asia Pasifik.

Tak hanya soal taman, Risma mempunyai program pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat kurang mampu – sembari merampingkan birokrasi untuk menekan inefisiensi. Putri seorang pedagang kecil ini juga rajin menimba ilmu dari kota lain. Mulai dari mengadopsi sistem lampu kota dari Berlin hingga teknik pengajaran yang lebih baik dari Seoul.

Salah satu target utamanya tidak hanya mengembangkan infrastruktur dan ekonomi kota, tetapi juga mengembangkan SDM kota Surabaya melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran publik yang menghabiskan 35 % dari APBD Surabaya untuk pendidikan, 15% lebih tinggi dari standar nasional.

“Saya tidak benar-benar memahami politik praktis,” ungkap Risma – sesuatu yang mengejutkan bila melihat pencapaiannya. Tetapi itu bisa jadi benar mengingat ia pernah hampir dimakzulkan saat awal masa jabatannya. Kala itu ia berencana menaikkan pajak reklame dan mengurangi tarif iklan bagi UKM.

Ketika ia menjabat sebagai Kepala Pengembangan Bangunan Kota, Risma dan keluarganya bahkan sampai mendapat ancaman pembunuhan karena gebrakannya mengimplementasikan sistem e-procurement. Melalui ini,  proses pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi lebih terbuka. Penekenan kontrakpun langsung dilakukan antara penyedia barang dan jasa dengan panitia pengadaan, sehingga menekan "kebocoran". Sistem tersebut bahkan berhasil menghemat 20-25% anggaran sehingga bisa dialihkan ke pembangunan jalan, jembatan dan area pedestarian.

Risma juga menjalin hubungan intensif dengan sektor swasta dan dengan cerdas mengendalikan birokrasi. Dua hari pasca pelantikannya, Risma menghadap wakil presiden untuk membahas proyek pembangunan pelabuhan yang telah terbengkalai selama beberapa dekade. Meskipun berulang kali disuruh pulang, Risma menolak sampai diteken kesepakatan untuk memulai pembangunan.

Peletakan batu pertama pembangunan pelabuhanpun dilakukan seminggu kemudian. Pembangunan ini berhasil meningkatkan lalu lintas kapal hingga 200%. Dan mendorong efisiensi dan peningkatan kapasitas pelayanan pelabuhan sebagai pintu gerbang ke provinsi-provinsi di Indonesia.

Risma juga bertemu dengan pemerintah Belgia untuk membahas potensi “sister city" antara Surabaya dan Antwerp, salah satu pelabuhan terpenting di Eropa. Kerja sama ini rencananya akan mengembangkan satu sistem yang membuat kapal kargo tidak perlu berlabuh di Singapura. Otomatis ini akan mengurangi biaya pengapalan antara dua pelabuhan dan membuat kedua kota tersebut menjadi lebih kompetitif.

Ide-ide kreatif semacam itu  telah mendorong pertumbuhan ekonomi Surabaya menjadi 7,5 persen sejak Risma menjabat pada tahun 2010 silam – sekaligus membuatnya meraih penghargaan bergengsi Woman Leader Award 2012 dari Globe Asia.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kemampuan dan kepemimpinan Risma adalah model kepemimpinan yang paling dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini? Majalah TEMPO pernah menulis misalnya, ...mungkin solusi permasalahan Indonesia selama ini sebenarnya ada pada sosok yang malah tidak pernah menghiasi halaman depan media nasional dan berada di wilayah yang jauh dari gemerlapnya Jakarta.
"Saya tidak punya ambisi politik," tegas Risma. "Menjadi walikota, gubernur atau bahkan presiden merupakan amanah yang luar biasa. Bukan hanya soal menyelesaikan masalah banjir atau semacamnya. Tetapi juga bagaimana bisa membantu masyarakat berdaya, agar mereka sukses."
Saat dia berbicara, saya teringat simbol kota Surabaya – hiu dan buaya yang tengah bergelut. Sebagai walikota, Ibu Risma tentu telah belajar untuk menjinakkan berbagai konflik kepentingan. Apa lagi yang mungkin bisa dia lakukan untuk Indonesia?

Artikel ini pertama kali dimuat di Huffington Post dan terjemahan pertama oleh Amalia Ayuningtyas.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine