Terjemahan
Terjemahan

Kehilangan Misterius Alon Shemesh – Etgar Keret

| Januari 20, 2017 | Sunting


Pada hari Selasa, Alon Shemesh tidak terlihat di sekolah. Dan ketika Bu Nava guru kami membagikan stensil, beliau berikan dua buah untuk Jakie, karena ia adalah teman dekat Alon Shemesh. Pun keluarga mereka tahu satu sama lain, dan di ujung minggu mereka biasa pergi tamasya, juga mengerjakan hal-hal lain, bersama. Sehingga wajar apabila Jakie diminta untuk membawakan pekerjaan rumah Alon.

"Oh ya Jacob, jangan lupa sampaikan salam kami semua, mudah-mudahan Alon cepat sembuh," pesan Bu Nava. Jakie, yang memang dikenal bengal, hanya menggerakkan kepala seolah mengatakan, "Alah Bu, berisik!", tetapi Bu Nava pikir itu adalah anggukan.

Pada Rabu pagi Jakie juga tidak berangkat ke sekolah. "Dia pasti sudah ketularan Alon," bisik si kutu buku Aviva Krantenstein. Namun, Meyer Subban tidak memercayainya, "Tidak mungkin. Aku yakin mereka berdua cuma membolos," katanya. "Mereka pasti sedang piknik ke pantai bersama keluarganya."

"Tenang anak-anak," seru Bu Nava. "Apakah ada yang ingin bersukarela untuk membawakan PR murid-murid yang sedang sakit?" "Saya akan antarkan punya Alon Bu," Yuval mengajukan dirinya. "Kami tinggal di blok yang sama."

"Dan saya akan serahkan PR Jacob Bu," sambar Dikla, sebelum orang lain berkesempatan untuk berbicara. Semua orang sudah tahu bahwa ia menaksir Jacob. "Dan saya akan serahkan PR Jacob Bu," ujar Meyer Subban menirukannya, seisi kelas pun tertawa. "Niat untuk membantu teman yang sedang sakit bukanlah lelucon anak-anak. Ibu juga akan menelepon mereka nanti, untuk memastikan keadaannya."

"Alah, katanya saja mau menolong, padahal ia hanya ingin menggodai Jacob," bisik Gafni dengan cukup keras.

Keesokan harinya Yuval dan Dikla juga tidak masuk sekolah. "Aku tidak tahu dengan yang lain," kata Subban, "tetapi aku yakin Yuval tidak berangkat karena ada ulangan geografi. Aku berani bertaruh!" 

"Mungkin mereka terserang demam tifoid. Menurut buku, orang-orang jaman dulu juga banyak yang terserang demam itu..." Aviva Krantenstein kembali berceramah, tetapi Gafni mengancam akan membakar semua buku catatan kepunyaannya, sehingga Aviva kemudian memilih untuk diam. 

"Ibu sudah mencoba untuk menelepon ke rumah murid-murid yang tidak masuk, tetapi tidak ada yang mengangkatnya," terang Bu Nava. "Sekarang sudah tidak ada pilihan lain, Ibu akan mengunjungi rumah mereka. Dengar, Ibu tidak izinkan kalian untuk menengok mereka sampai dapat Ibu pastikan bahwa penyakit mereka memang tidak menular."

Sepulang sekolah, seisi kelas berkumpul di dekat pohon mullberry di Taman King David. "Ia pikir siapa dirinya, sampai melarang kita untuk menjenguk teman kita sendiri?" teriak Meyer Subban. "Dia pikir dia yang paling oke," Gafni ikut memanasi. "Kita akan tunjukkan padanya! Kita semua akan menjenguk Jakie hari ini. Dan tidak ada alasan apapun, Krantenstein. Jadi, kalau sampai aku tidak melihatmu di sana, akan aku telan semua magic marker-mu."

Pada akhirnya aku tidak bisa ikut pergi. Mama meninggalkan pesan bahwa akan ada tukang yang datang untuk membetulkan kulkas dan Mama akan terlambat pulang, sehingga aku harus tetap berada di rumah, yang sebenarnya membuatku kesal. Aku tahu Gafni akan memercayaiku, tetapi beberapa orang yang lain pasti akan mengataiku pengecut.

Pada hari Jumat hanya aku dan Michel de Casablanca yang datang ke sekolah. Bahkan Ibu Guru pun tidak datang. Michel de Casablanca bilang, tak seorang pun memberitahunya tentang pertemuan di Taman King David itu, sehingga ia langsung pulang. Kami menaikkan tempat sampah ke atas meja, dan bermain lempar kertas sepanjang pagi.

Sudah satu minggu penuh, Michel dan aku begitu akrab sekarang. Ia mengajariku berbagai macam permainan dengan nama Perancis yang terdengar lucu, dan waktu kami terasa begitu menyenangkan. Kata Mama, apa yang terjadi di sekolah sudah keterlaluan, dan ia ingin mengumpulkan semua wali murid. Sayangnya, selain orang tua Michel, tidak ada satu pun orang tua muridn yang menggangkat telepon Mama. 

Mama bahkan juga tidak bisa menghubungi kepala sekolah. Sekretarisnya mengatakan, kepala sekolah menelepon tiga hari sebelumnya untuk memberi tahu bahwa ia akan sedikit terlambat karena harus mengunjungi Bu Nava dulu, dan sejak itu tidak ada kabar berita lagi darinya. 

Mama menganggap kejadian itu begitu serius. Ia tak henti-henti merokok dan menulis surat untuk Menteri Pendidikan. "Jangan khawatir Bu Abadda," Michel terus-terusan mencoba untuk menenangkannya. 

"Mereka semua mungkin bersama-sama piknik ke pantai." 

Mungkin saja ia benar, aku tidak tahu. Atau mungkin memang benar apa yang dikatakan Aviva Krantenstein dan mereka semua mati karena demam tifoid.
Etgar Keret mulai dikenal luas setelah cerita-ceritanya diterjemahkan ke bahasa Inggris. Kumpulan The Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories  terbit pertama pada tahun 2004. Salah satu cerpen dalam kumpulan ini adalah yang saya terjemahkan ini: The Mysterious Disappearance of Alon Shemesh. Beberapa terjemahan cerpen Etgar Keret lainnya bisa dibaca di sini. Gambar milik Kevin O'Mara.

Vladimir Hussein – Etgar Keret

| Oktober 19, 2016 | Sunting
Ia duduk di sebelah lelaki tua yang sedang mengisi teka-teki silang
"Haram jadah!" gumam lelaki tambun itu seraya meninjukan tangannya ke bangku halte. Vladimir tetap memandangi gambar-gambar di koran, tanpa sedikit pun memerhatikan berita yang menyertainya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tidak suka menunggu bus. "Haram jadah," kata si tambun lagi, kali ini dengan keras, sambil melayangkan ludahnya ke trotoar, hampir mengenai kaki Vladimir. "Kamu berbicara padaku?" tanya Vladimir, yang sedikit terkejut tentunya, sambil menengokkan kepalanya ke arah si lelaki – yang sepertinya mabuk. "Tidak. Aku ngomong sendiri," pekik si lelaki. "Oh," balas Vladimir, lalu kembali memandangi korannya. Terlihat sebuah gambar berwarna: onggokan potongan tubuh manusia di alun-alun kota. Ia lalu mencari rubrik olahraga. "Hei, aku memang berbicara padamu, bodoh!" Si tambun bangkit dari duduknya dam berdiri di hadapan Vladimir. "Oh," kata Vladimir sekali lagi, "aku juga berpikir demikian tadi, tapi katamu-" "Lupakan apa yang aku katakan tadi, dasar Arab kotor!" "Aku Rusia," ujar Vladimir, berlindung di balik silsilah keluarganya yang sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya. "Ibuku dari Riga." "Pantas saja," timpalnya setengah tak percaya. "Dan ayahmu?" "Ia dari Nablus," jawab Vladimir, lalu kembali memandangi korannya. "Dua darah kotor mengalir di dalam tubuhmu." sahut si tambun. "Apa lagi yang akan mereka lakukan untuk merampas pekerjaan kami?" Di halaman koran terlihat gambar orang-orang kerdil Kurdi yang hangus terbakar, mencuat dari sebuah pemanggang raksasa. Vladimir yang melit sejenak menyesali sumpahnya untuk tidak akan pernah membaca keterangan gambar.

"Berdiri kau," perintah si tambun. Vladimir akhirnya menemukan juga rubrik olahraga yang ia cari dan melihat gambar seorang lelaki kulit hitam tengah bergelantung di ring basket. Vladimir tidak lagi mampu menahan godaan untuk mengintip keterangan gambarnya, "Fan yang Frustasi Inginkan Darah Baru." "Heh, aku minta kau berdiri," si tambun mengulangi permintaannya. "Aku?" tanya Vladimir, "bukankah–" "Ya, kamu," potong si tambun. Vladimir pun bangkit dari duduknya. Lelaki kulit hitam di gambar tadi sudah dua musim bermain untuk North Carolina College sebelum kemudian digantung oleh pengadilan Tel Aviv. Seketika itu, Vladimir menyadari bahwa ia sudah melanggar salah satu prinsipnya sendiri. Saat itu sudah pukul lima dan bus belum juga tiba. Dalam pidato radionya, Perdana Menteri telah menjanjikan sungai darah, dan si tambun itu ternyata sekepala lebih tinggi darinya. Vladimir menghantamkan lututnya ke selangkangan lelaki itu, lalu memukulinya dengan linggis besi yang sengaja ia sembunyikan dalam koran. Si tambun tersungkur dan mulai mengerang, "Ampun Arab! Rusia! Tolong!"  Vladimir memukul kepalanya dengan linggis, lantas kembali duduk ke bangku.

Bus tiba pukul 5:07. "Kenapa lelaki itu?" tanya si sopir, sambil menunjuk si lelaki tambun yang tergeletak di atas trotoar dengan dagunya. "Ia tidak naik bus ini," jawab Vladimir. "Aku juga tahu," timpal si sopir, "tetapi tidakkah kita harus menolongnya, atau melakukan sesuatu mungkin?" "Dia terkena epilepsi," ujar Vladimir. "Lebih baik jangan menyentuhnya." "Jika ia terserang epilepsi, darimana asal darah itu?" si sopir kembali bertanya. Vladimir mengangkat bahunya. "Dari pidato Perdana Menteri di radio." Ia memasukkan pas bus bulanannya ke dalam saku lalu duduk di bagian belakang, di sebelah seorang lelaki tua berbaret dan berkacamata yang sedang mengisi teka-teki silang. "Bulbul," ujar si tua. "Burung penyanyi (enam huruf)," Vladimir menyebutnya keras-keras. "Siapa yang bicara padamu hei Arab kotor?" kata si tua. "Pertanyaan/pernyataan kesukaan polisi peronda perbatasan (dua-puluh delapan huruf, tak termasuk tanda bacanya)," kata Vladimir lagi tanpa ragu-ragu. "Tidak terlalu buruk untuk seorang schvartze," gumam si tua dengan penuh rasa takjub. "Aku juga suka teka-teki silang," kata Vladimir, sambil merendahkan kepalanya takzim.

Ketika bus sampai di pemberhentian Vladimir, si tua melepas baretnya dan menarik benang yang berjuntaian dari bagian belakangnya. "Ini anak muda, hadiah dariku," katanya, menyerahkan topinya pada Vladimir. "Terima kasih Opa," jawab Vladimir, menerima baretnya lalu melompat ke trotoar. Bus itu berlalu, Vladimir melemparkan topi tadi ke tong sampah berwarna hijau, lalu merunduk. Sebuah ledakan terjadi beberapa detik kemudian, menghujaninya dengan rombengan sampah.

Ia bergegas ke sebuah bangunan berdinding marmer, tempat ia tinggal bersama keluarganya. Ia menaiki anak tangga dua-dua, dan terengah-engah begitu mencapai atap. Oma Natasha tengah duduk di dalam tenda, menonton siaran layanan masyarakat di televisi. Mereka menayangkan seorang model berambut pirang, berbikini, tengah berenang dengan gaya punggung di sungai darah yang mengalir sepanjang jalan Arlozorov. "Dia itu tidak benar-benar pirang." gerutu Oma Natasha, sambil menunjuk-nunjuk si model. "Rambutnya itu dikelantang." Ibu Vladimir masuk ke dalam tenda, membawa keranjang cucian. "Kamu dari mana saja sejak tadi?" tanyanya dengan marah. "Kami mencarimu sepanjang pagi. Orang-orang anti-polusi gila itu menyalib Kakek di terminal sentral." Vladimir tengah membayangkan dirinya bercinta dengan model televisi itu. "Aku memintamu pergi ke pemakamannya, jangan lari seperti saat pemakaman ayahmu dulu, kau dengar itu?" Ia tidak peduli rambutnya dikelantang, ia tetap menyukainya. "Vladimir? Kamu mendengarkanku?" Marah, Ibunya mulai mengeluarkan serapah dalam bahasa Rusia. "Jadi Ibu berbicara padaku?" tanya Vladimir, sambil memandangi Ibunya. "Tidak, aku berbicara dengan Tuhan!" jawab Ibunya sebelum kemudian melanjutkan sumpah serapahnya. "Oh," ucap Vladimir sebelum kembali menontoni televisi yang tengah menayangkab separuh bawah bagian tubuh si model. Darah yang berkilauan mengalir di sekitarnya tetapi tidak ada sedikit pun yang menempel. Terdapat keterangan gambar dan logo kota di atasnya, tetapi Vladimir mampu menahan keinginannya dan berhasil mengelakkan diri dari membacanya.
Diterjemahkan dari cerpen berjudul serupa yang masuk dalam kumpulan cerpen terbitan Farrar Straus and Giroux (2008), The Girl on the Fridge. Cerita-cerita Etgar Keret dalam buku ini dialihbahasakan oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston dari bahasa Ibrani. Keret sendiri adalah penulis Israel yang dikenal karena kepiawaiannya meramu humor-humor gelap. Cerpen Etgar Keret yang lain, Parallel Universes, saya terjemahkan di sini.

Lelaki Tenggelam Paling Tampan di Dunia

| Oktober 04, 2016 | Sunting
Lelaki itu bernama Esteban
Anak-anak yang pertama kali melihat benda gelap itu mendekat dari arah laut mengiranya sebagai kapal musuh. Begitu menyadari benda itu tidak berbendera ataupun bertiang, mereka pikir itu pasti seekor paus. Baru setelah benda itu terhempas ke pantai dan mereka bersihkan rumpun rumput laut, tentakel ampai-ampai, dan bangkai-bangkai ikan, juga kapar yang ikut tersangkut, mereka sadar bahwa yang mereka perhatikan sedari tadi adalah jasad seorang lelaki.

Anak-anak itu sudah memainkannya sepanjang siang: menguburnya di pasir lalu menggalinya lagi, menguburkannya lagi, ketika seseorang tidak sengaja melihat dan mengabarkannya ke desa. Para pria yang kemudian menggotongnya ke rumah terdekat merasa bahwa si lelaki lebih berat dari mayat siapa pun yang pernah mereka tahu, ia hampir sama beratnya dengan seekor kuda. Mereka menerka-nerka mungkin karena si lelaki sudah terlalu lama hanyut, sehingga air sampai meresap ke tulang-tulangnya. Ketika membaringkannya ke lantai, mereka berkata bahwa lelaki itu lebih tinggi dari siapa pun karena hampir tidak ada ruangan yang cukup untuknya di rumah itu. Tetapi (lagi-lagi) mereka menerka-nerka bahwa mungkin ada lelaki tenggelam yang tetap memiliki kemampuan tumbuh. Aroma laut meliputi si lelaki dan hanya perawakannyalah yang membuat orang menduga bahwa ia adalah mayat manusia karena kulitnya terselimuti oleh lumpur dan kerak air.

Mereka tidak perlu membersihkan wajahnya untuk mengetahui bahwa si lelaki bukanlah warga desa mereka. Desa itu hanya terdiri dari dua-puluhan rumah kayu berhalaman batu, tanpa bunga, yang tersebar di ujung sebuah tanjung yang lebih mirip padang pasir. Hanya ada sedikit sekali daratan. Para ibu selalu diliputi cemas kalau angin akan menerbangkan anak-anak mereka dan, seperti yang korban-korban sebelumnya, mereka harus melemparkan jasad mereka dari atas bukit karang. Tetapi, lautan sekitarnya tenang lagi melimpah ikan dan semua lelaki desa itu muat masuk ke dalam tujuh perahu saja. Sehingga ketika menemukan lelaki itu, mereka hanya perlu melihat satu sama lain untuk tahu tidak ada seorang pun yang kurang.

Kisah-kisah dari Suriah

| Agustus 31, 2016 | Sunting
Suriah hari-hari ini | © Diaa Al-Din/Reuters
Hidup di daerah yang jauh dari konflik bersenjata membuatku selalu berpikir bahwa perang adalah duka nestapa yang harus selalu diratapi. Ketika perang Irak meletus tahun 2003, dalam kelas bahasa Indonesia, saya menulis 'surat kepada Presiden Amerika Serikat' agar menghentikan perang karena salah satunya 'cerita seperti apa yang akan dikisahkan anak-anak Irak kepada generasi sesudahnya apabila perang terus berkecamuk'.

Lebih dari satu dekade kemudian saya tahu cerita macam apa yang bisa dirangkai oleh perang. Tangan dingin penulis eksil Irak, Hassan Blasim, mengantarkanku pada semesta yang ternyata tak semata berkalang duka, namun juga penuh cerita lainnya: cinta, canda, juga tawa. Lewat The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq, Hassan menyajikan semacam dongeng pelipur lara, narasi-narasi yang tumbuh dari puing-puing perang. Dalam Pameran Mayat semisal, Hassan bercerita tentang pembunuh bayaran yang diuntungkan oleh kekacauan yang tengah melanda negara. Sementara di cerpen yang lain, Sang Komponis, Hassan berkisah tentang  komponis pro-pemerintah yang kehilangan pekerjaannya setelah pemerintahan yang ia dukung jatuh.

Berawal dari Hassan-lah saya kemudian membaca kisah-kisah lain yang juga menjulur dari remah-remah perang. Salah satunya adalah kisah-kisah dari Suriah yang terhimpun dalam buku Breaking Knees: Sixty-three Very Short Stories from Syria (Garnet Publishing, London: 2016).

Penulisnya, Zakaria Tamer, adalah eksil Suriah yang dikenal sebagai penulis cerita pendek (kebanyakan cerita anak) dan juga kolom satir di koran-koran. Ia meninggalkan negaranya untuk memulai hidup di Inggris, tak lama setelah dipecat dari posisinya sebagai editor sebuah majalah sastra keluaran Kementerian Kebudayaan Suriah pada awal 1980-an. Sebabnya: pemerintah tak suka dengan kegemarannya memasukkan tulisan-tulisan yang menyindir pemerintah.

Dalam sebuah wawancara Zakaria mengungkapkan, alasannya meninggalkan tanah Suriah adalah perasaan keterasingannya di tengah konflik yang terjadi. Ia sulit menerima bagaimana bisa manusia bisa saling membunuh, bahkan juga membunuh dirinya sendiri, serta turut menyeret anak-anak tanpa dosa ke pusaran perang.
Breaking Knees: Sixty-three Very Short Stories from Syria

Penindasan dan kesewenang-wenangan praktis menjadi dua hal yang banyak disinggung oleh Zakaria dalam keenam-puluh-tiga cerita (sangat) pendeknya. Dengan humor-humor satir ia keras menentang represi politik, korupsi dan penyelewengan.

– 4 –
Ketiga bocah lelaki itu tidak menghiraukan teriknya matahari tengah hari dan terus bermain di gang yang sepi itu. Keriuhan ketiganya bahkan serupa dua puluh orang, sebelum kemudian seorang lelaki meneriaki mereka dari jendela. Nadanya marah dan jengkel, "Jangan berisik anak-anak setan! Kami sedang istirahat!"

Jelas bahwa bocah-bocah lelaki itu mengenal, dan menakuti, lelaki yang meneriaki mereka. Seorang dari mereka menjawab, "Baik Abu Salim, baik!"

Mereka tidak melanjutkan permainan mereka. Lantas bersandar ke dinding seraya membicarakan masalah sekolah. Mereka memaki guru yang tidak meluluskan mereka. Bocah pertama berkata, "Menteri Pendidikan itu adalah teman orang tuaku, dan ia tidak pernah menolak apa saja permintaan ibuku. Ia tentu akan marah besar kalau tahu apa yang terjadi. Guru itu pasti akan dipecat dari sekolah."

Bocah kedua menimpali, "Kepala kepolisian juga dekat dengan kakak perempuanku. Ia selalu memanjakanku. Setiap kali ia datang bertandang, ia akan menyuruhku keluar membeli kue atau coklat. Akan kuceritakan padanya tentang guru kita yang gemuk dan pemalas itu. Juga bahwa ia kerap mengutuki pemerintah di depan kita. Ia juga tidur dan mengorok di kelas, membiarkan kita begitu saja."

Bocah ketiga diam saja, sementara kedua temannya memandanginya berharap tambahan cerita. Ia ingin berbicara, tetapi tidak ada hal yang dapat ia ceritakan. Ibunya tidak mengenal laki-laki selain ayahnya. Dan saudara-saudara perempuannya tidak mengenal siapapun kecuali suami mereka. Ia diliputi perasaan bingung dan merasa gagal, untuk kedua kalinya.

– 53 –
Fathi lapar. Ia membeli dua buah apel, satu merah, satu hijau. Ia lalu pergi ke taman, duduk di atas bangku, dan sudah hampir menggigit yang hijau. "Akankah aku dieksekusi tanpa melalui proses pengadilan?" tanya si apel.

"Kamu tidak lebih berharga daripada seorang manusia," jawab Fathi.

"Bahkan aku tidak diizinkan untuk menuliskan wasiatku?" tanya si apel.

"Aku tidak akan memakanmu," ujar Fathi. "Aku tidak ingin dituduh memusuhi apel hijau."

Fathi hendak menggigit apel yang merah, tetapi si merah juga berkata dengan nada mengancam: "Jika kamu memakanku, kamu akan menyesalinya!"

"Semoga Allah melindungi kita dari penyesalan!" seru Fathi.

"Aku yakin kamu tidak tahu siapa aku," kata si apel merah, "dan kamu tidak tahu dari markas mana bala bantuan akan datang."

"Apakah kamu adalah anggota partai penguasa, atau partai oposisi?" Fathi bertanya dengan penuh rasa tidak percaya.

"Apakah kamu juga akan menanyakan hubunganku dengan penyelundupan dan peredaran obat-obatan terlarang?" si apel merah bertanya balik.

"Jadi saudara laki-lakimu adalah perwira tentara?" tanya Fathi.

"Pernahkan kamu mendengar ada apel membawa senjata dan membunuh?" jawab si apel.

"Ataukah pamanmu adalah seorang menteri?" tanya Fathi lagi.

"Tidak ada seorangpun pegawai negeri dalam keluargaku," jawab si apel merah. "Hal-hal yang pohon kerjakan tidak ada sangkut pautnya dengan hukum, komando, dan pengambilan keputusan."

"Apakah pamanmu salah satu dari mereka yang mengenakan turban besar?" Fathi kembali bertanya.

"Pertanyaan semacam itu," balas si apel, "tidak seharusnya ditujukan kepada apel merah sepertiku."

"Lalu, mungkinkah salah seorang sanak saudaramu adalah jutawan?" tanya Fathi lagi.

Si apel merah menjawab, "Tidak ada sejarahnya sebatang pohon apel pergi ke bank."

Fathi tergelak, setengah mengejek. Ia memakan apel merah, lalu apel hijau. Ia tidak mempedulikan tangisan keberatan mereka. Ia menyeka mulutnya dengan kertas tisu sebelum kemudian membuangnya. Si tisu menggerutu, mengumpat orang-orang yang tidak tahu berterimakasih.

– 54 –
Seorang perempuan tua bungkuk mengunjungi sebuah taman yang pohon-pohonnya sudah meranggas. Ia berdiri di depan sebuah patung batu besar, patung seorang lelaki tinggi dengan raut wajah serius. Tangan kanan si patung terangkat dengan gestur yang mengundang kekaguman dan rasa hormat, seolah-olah sedang memberkati pengikut tak kasatmata yang tengah berlutut di hadapannya. Perempuan tua tadi seketika diliputi perasaan takut yang amat sangat. Ia ingin menyeringai marah pada lelaki yang telah membunuh anak-anak lelakinya, juga ayah mereka itu. Tetapi matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan dan kerendahan hatinya. Si perempuan tua merasa tubuhnya seperti mengecil. Ia terus menyusut hingga kemudian menghilang. Sekelilingnya — bangunan dan orang-orang– juga mulai mengecil, hingga mereka pun lenyap. Tak ada yang tersisa kecuali patung tadi, juga burung-burung yang gemar memberakinya. 

Surat dari Gaza: Perang Tak Berujung

| Mei 09, 2016 | Sunting
Tulisan Dokter Belal Aldabbour
Anak-anak Gaza
Seorang mahasiswaku mendapatkan nilai kedua terbaik meski dua bulan lalu adiknya mati ditembak
Lagu-lagu Umm Kulthum yang diputar kencang beradu dengan deru mesin taksi. Aku meminta sang sopir, seorang lelaki akhir 20-an berkacamata, untuk menggantinya ke saluran berita saja. Sudah beberapa hari ini Israel kembali menggempur Gaza.

"Buat apa?" ia menyahut. "Nikmati saja lagunya. Bom-bom akan memberitahu kita saat perang dimulai."

Suasana di Jalur Gaza jauh lebih tenang bila dibandingkan dengan riuhnya media sosial. Dalam beberapa hari terakhir pendapat-pendapat pribadi tentang kemungkinan kembali meletusnya perang berseliweran di Facebook dan Twitter. Tak lupa juga berbagai analisis atas apa-apa saja yang mungkin (dan tidak mungkin) terjadi. Dan tentu saja doa mereka yang mengharapkan perang tidak kembali meletus, meski itu hampir mustahil.

Satu hal yang pasti: orang-orang Palestina di Gaza hidup dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan ketidakberdayaan, utamanya setelah lagi dan lagi Israel terbebas dari upaya hukum atas tiga perang sebelumnya. Juga diamnya dunia pada pengepungan dan pendudukan Gaza selama berdekade lamanya — yang nampaknya tak akan pernah berhenti.

Vanka – Anton Chekhov

| April 11, 2016 | Sunting
the Apprentice, Ivan Bogdanov
Vanka, bocah 9 tahun, yang magang di tempat Aliakhin, si pembuat sepatu
Sudah tiga bulan ini bocah sembilan tahun bernama Vanka Zhukov itu magang di tempat pembuat sembatu Aliakhin. Saat malam Natal, ia memilih untuk tidak tidur. Ia menunggu sampai sang majikan dan istrinya, juga para pekerja lain, pergi ke gereja. Sepeninggal mereka, ia ambil sebotol tinta dan sebatang pulpen yang ujungnya sudah karatan dari lemari majikannya. Setelah itu ia membentangkan selembar kertas kusut, lalu mulai menulis.

Tetapi, belum juga memulai huruf pertamanya, ia sudah berkali-kali memandangi pintu dan jendela dengan perasaan takut. Ia juga sekilas melihat ikon gelap yang terpasang di antara rak-rak sepatu.  Ia mendengus pendek. Vanka berlutut di lantai, sementara kertas terhampar di atas bangku di depannya.

"Kakekku sayang, Konstatin Makarych!" tulisnya. "Aku tulis surat ini untukmu. Selamat hari Natal, Tuhan memberkati. Saat ini aku tidak lagi memiliki ayah dan ibu. Hanya kakek yang kupunya."

Vanka memandangi jendela yang gelap. Bayangan cahaya lilinnya bekerlipan. Sosok kakeknya seperti berdiri di sana. Konstantin Makarych adalah seorang penjaga malam di Zhivarevs, lahan perkebunan milik orang-orang kaya. Tubuhnya kecil kurus. Tetapi ia masih cukup gesit dan bersemangat untuk ukuran lelaki enam puluh lima tahun. Wajahnya selalu terlihat bahagia. Matanya sayu karena kebanyakan minum. Kalau tidak tidur di kamar pembantu, ia akan menghabiskan siang harinya untuk bersenda gurau dengan para babu. Sementara di malam hari, berbalut mantel kulit tebal, ia akan berjalan keliling kebun sambil membunyikan kelentungnya. Di belakangnya dua ekor anjing mengikuti dengan malas. Mereka adalah si tua Kashtanka dan seekor anjing bernama Eel, ia dinamai demikian karena bulunya yang hitam legam dan bentuk tubuhnya yang panjang seperti ikan loach. Si Eel ini adalah anjing yang sangat penurut, lagi jinak. Ia memperlihatkan pandangan yang bersahabat ke semua orang, termasuk yang tidak dikenalinya sekalipun. Tetapi jangan pernah percaya padanya. Kepatuhan dan kejinakannya itulah yang menyamarkan tabiat aslinya. Tidak ada yang lebih mahir dari si Eel dalam hal menyergap dan menggigit kaki. Atau bagaimana ia mengendap-endap masuk ke kelder. Juga kelihaiannya menggondol ayam milik petani. Kaki belakangnya sudah berkali-kali terkena jerat. Pernah malah dia digantung, dua kali. Dan tak terhitung lagi berapa kali ia dipukuli hingga tak berdaya. Tetapi ia selalu saja pulih kembali.

Alam Semesta Paralel – Etgar Keret

| Februari 29, 2016 | Sunting
Aku berhubungan badan dengan kuda, juga menang lotre di alam semesta yang berbeda | foto timothy evans
Sebuah teori menyatakan bahwa terdapat milyaran alam semesta lain, paralel dengan alam semesta yang kita tinggali, dan di antara alam-alam semesta itu hanya ada sedikit perbedaan. Di beberapa alam semesta kamu tidak pernah dilahirkan, sementara di sejumlah alam semesta kamu bahkan tidak ingin dilahirkan.  

Di beberapa alam semesta paralel aku berhubungan badan dengan kuda, sementara di alam semesta yang lain aku menang lotre. Di sekian alam semesta aku terkapar di lantai kamar tidurku, perlahan mengalami pendaharan hingga mati. Aku bahkan juga terpilih sebagai presiden dengan kemenangan mutlak di sejumlah alam semesta yang lain. 

Tetapi sekarang aku tidak peduli lagi dengan alam-alam semesta paralel itu. Satu-satunya yang menarik perhatianku adalah alam semesta tempat perempuan itu meratapi pernikahannya yang gagal, dengan seorang anak laki-laki yang lucu, dan perempuan itu benar-benar sendiri. Aku yakin ada banyak alam semesta semacam itu. Alam-alam semesta itulah yang sekarang tengah aku coba pikirkan.

Dari beberapa yang aku coba pikirkan itu, kami tidak pernah bertemu di beberapa alam semesta. Aku tidak lagi peduli pada yang beberapa ini. Dan di antara yang tersisa, di beberapa alam semesta, ia tidak menginginkanku sama sekali. Ia menolakku. Sementara ia mengungkapkannya dengan lemah lembut di beberapa alam semesta, di sejumlah alam semesta ia menolakku dengan cara yang menyakitkan. Alam semesta jenis ini juga tidak lagi kupedulikan.

Yang tersisa kini hanyalah tempat ia benar-benar mau menerimaku, dan aku memilih satu di antaranya, kurang lebih seperti saat kamu memilih buah yang hendak kamu beli di kedai buah. Tentu saja aku pilih satu yang paling bagus, paling ranum, dan paling manis. Aku memilih alam semesta yang cuacanya sempurna, tidak pernah terlalu panas atau terlalu dingin. Dan kami tinggal di sebuah pondok kecil di dalam hutan.

Ia bekerja di perpustakaan kota, empat-puluh lima menit perjalanan dari rumah kami. Sementara aku berkaja di departemen pendidikan daerah. Tempat kerja kami saling berhadapan. Kadang-kadang, dari jendala kantor aku dapat melihatnya tengah menata kembali buku-buku di rak. Kami selalu makan siang bersama. Dan aku mencintainya, begitu pun dia.

Aku akan lakukan apa saja untuk bisa pindah ke alam semesta itu. Tetapi, sebelum aku menemukan cara untuk ke sana, aku hanya bisa membayangkannya. Dalam bayanganku, aku tinggal di tengah-tengah hutan. Bersama dengannya, penuh kebahagiaan. 

Alam semesta paralel di dunia ini tidak terhingga jumlahnya. Di satu alam semesta aku berhubungan badan dengan kuda. Di alam yang lain aku menang lotre. Aku tidak lagi memikirkannya sekarang. Hanya satu yang aku pikirkan: alam semesta dengan hutan dan  pondok kecil di dalamnya.

Di sebuah alam semesta aku tergeletak di lantai kamar tidurku dengan pergelangan tangan yang tersayat dan berdarah. Di sanalah aku ditakdirkan meregang nyawa. Tetapi aku tidak ingin memikirkannya sekarang. Aku hanya ingin memikirkan alam semesta yang tadi. Sebuah pondok di dalam hutan, matahari perlahan tenggelam, dan kami tidur lebih awal. Di atas ranjang, tangan kananku baik-baik saja – tidak tersayat dan kering. Ia terbaring di atasnya dan kami saling berpelukan.

Ia terbaring di sana untuk waktu yang sangat lama, hingga aku sulit merasakan keberadaannya lagi. Tetapi aku tidak bergerak. Aku suka dengan posisi semacam itu: lenganku berada di bawah tubuhnya yang hangat. Dan aku tetap menyukainya meski aku bahkan tidak lagi bisa merasakan lengan tanganku sendiri.

Aku dapat merasakan nafasnya di wajahku – berirama, teratur, tak berujung. Mataku mulai terkatup sekarang. Bukan hanya di alam semesta itu, di ranjang, di dalam hutan, tetapi juga di alam semesta yang lain. Alam semesta yang tidak ingin aku pikirkan.

Aku senang mengetahui bahwa ada satu tempat, di tengah hutan, tempat aku bisa tertidur dengan bahagia.
Judul asli cerpen ini adalah Parallel Universes, bagian dari kumpulan cerpen Suddenly, a Knock on the Door (Vintage Books, 2013). Etgar Keret adalah penulis asal Israel yang karyanya, sebagian besar adalah cerita pendek, sudah diterbitkan ke lebih dari 40 bahasa. Tahun ini Keret meraih Kusala Charles Bronfman. Cerpen Etgar Keret yang lain, Vladimir Hussein, bisa dibaca di sini. Gambar milik timothy evans.

Sang Komponis – Hassan Blasim

| Januari 19, 2016 | Sunting
Basra, Irak
Basra, Irak - karya Paolo Pellegrin
JAAFAR AL-MUTALLIBI DILAHIRKAN DI KOTA al-Amara. Pada tahun 1973 ia keluar dari partai Komunis dan bergabung dengan partai penguasa, Baath. Pada tahun yang sama, istrinya melahirkan anak kedua mereka. Jaafar adalah pemain gambus handal, juga komponis lagu-lagu patriotik ternama. Ia mati dibunuh saat pemberontakan Kirkuk meletus, tahun 1991.
---
Hari ini aku bisa menceritakan padamu bagaimana ia mati. Apakah kau lihat perempuan tua yang tengah berteriak menawarkan ikan di ujung sana? Ia ibuku. Kami sudah berjualan ikan sejak kembali ke Baghdad. Biarkan aku membantunya mengangkat peti ikan dulu, setelah itu kita bisa pergi ke kedai kopi dan berbincang.
---
Setelah berakhirnya perang Irak-Iran, ayahku mulai terang-terangan menunjukkan keateisannya dan itu membawa banyak masalah pada kami. Satu malam ia pulang ke rumah dengan baju berlumuran darah. Hidungnya berdarah karena dipukul orang, temannya sendiri. Mereka tengah bermain domino di warung kopi ketika ayah mulai menyenandungkan hinaan-hinaan cabul pada Allah dan Nabi. Ia mengarang sendiri liriknya, juga solmisasinya, selagi bermain domino. Sebagaimana kamu ketahui, ia adalah komponis terkenal. Mulanya ia sekadar menyiulkan satu lagu bergaya militer, lalu ia menambahkan sebuah cacian: sebatang paku di dalam buah zakar saudara perempuan (?) imammu.

Orang terbahak-bahak mendengar kalimat-kalimat hinaan meluncur dari mulutnya, tetapi mereka segera pergi dan memohon ampun pada Allah. Beberapa dari mereka lantas menghindar setiap kali berjumpa dengan ayah di jalan. Seseorang bahkan dengan setengah bercanda mengatakan ia berharap truk penuh baja melindasnya. Tetapi, di saat yang sama, mereka juga takut pada koneksi ayah dengan pemerintah. Sehari setelah dipukuli itu, ayah melaporkan Abu Alla, si pelaku, ke markas besar partai. Dua hari kemudian Abu Alla menghilang.

Kami bermukim di sebuah wilayah bernama Second Qadissiya. Di sana pemerintah membangun rumah untuk para tentara berpangkat rendah, para pendatang dari kota-kota di bagian selatan dan tengah, juga untuk keluarga-keluarga Kurdi yang bekerja pada penguasa. Kami satu-satunya keluarga di kawasan itu yang mencari penghidupan dengan cara lain. Semua keluarga, kecuali kami, hidup dari gaji yang diberikan tentara, partai, dan badan intelejen. Sementara kami hidup dari lagu-lagu patriotik yang ayah tulis. Meski demikian, status ayah sebenarnya lebih tinggi dari walikota dan para partai sekalipun, karena Presiden sendiri sudah beberapa kali menganugerahinya medali kemiliteran. Tentu saja untuk lagu-lagu perang karangannya, lagu-lagu yang orang ingat hingga hari ini.

Dengarkan, saudaraku, aku akan meringkas ceritanya untukmu. Setahun setelah peperangan berakhir, ayah menderita apa yang media sebut sebagai writer’s block. Ia tidak lagi mampu mengarang musik baru. Pujian-pujian untuk Presiden malah lebih banyak disuarakan oleh penyair-penyair terkenal lewat puisi mereka.

Bulan berganti tahun, dan ia tetap tidak bisa menulis satu pun lagu baru. Tahukah kamu apa yang ia lakukan di waktu senggang? Ia memanfaatkannya untuk menulis dan mengatur nada puisi-puisi pendek yang mengolok-olok agama. Pada suatu malam yang hangat di musim dingin kami tengah menonton televisi ketika kami dengar ayah menyanyikan lagu barunya, tentang istri-istri Nabi dan betapa liar mereka itu.

Sekonyong-konyong abang bangkit dari duduknya, mengambil pistol milik ayah dari dalam lemari. Ia lompati tubuh ayah lalu menodongkan pistol itu ke mulutnya. Abang pasti sudah membunuhnya jika bukan karena ibu yang seketika itu bajunya, lalu mempertontonkan payudaranya sambil menjerit. Abang tercengang beberapa saat memandangi payudara yang sedemikian besar. Itu adalah kali pertama kami melihat payudara ibu, kecuali saat masih bayi dulu tentunya.

Aku pergi ke kamar mandi, sementara abang meninggalkan rumah, menghindari tatapan tajam Ibu tepatnya. Ibu sebenarnya buta huruf, tetapi ia lebih cerdas dari ayah, yang ia perlakukan dengan aneh. Ia memanjakan ayah seolah ia adalah anak lelakinya. Ibu adalah bidan yang memiliki izin praktik di daerah Qadissiya, dan orang-orang sangat mengasihinya. Ayah memutuskan untuk melaporkan abang ke kantor cabang partai, tetapi mereka tidak menanggapinya.

Reputasi ayah mulai memburuk di lingkungan tempat kami tinggal dan kalangan seniman. Mereka bilang bahwa Jaafar al-Mutallibi sudah edan. Teman-teman lama mengucilkannya. Ia pergi ke Baghdad untuk mengajukan permohonan ke radio dan stasiun televisi agar mereka menyiarkan ulang lagu-lagu perang karyanya, atau setidaknya satu lagu setiap minggu. Mereka menolak permohonannya itu karena lagu-lagunya sudah tidak layak putar. Sekarang lagu-lagu patriotik hanya disiarkan dua kali setahun: di hari peringatan bermula dan berakhirnya perang. Ayah ingin mengembalikan kejayaan masa lalunya dengan cara apa saja. Ia bahkan mencoba untuk bertemu dengan Presiden, meski gagal. Ia memasukkan proposal  ke departemen film dan teater, mengusulkan pembuatan film dokumenter tentang lagu-lagu dan musiknya, dan lagi-lagi permintaannya tidak diacuhkan.

Selagi ia mencoba segala kemungkinan, ia juga merampungkan penggarapan musik untuk sepuluh lagu yang menghina Allah dan kewujudan-Nya, juga sebuah lagu yang indah tentang empat khalifah pertama. Kami sadar bahwa ia sudah benar-benar sinting ketika ia mulai mendatangi studio-studio rekaman dan meminta mereka untuk merekamkan lagu-lagunya. Jelas saja ia ditolak mentah-mentah, beberapa melemparkannya ke jalanan dan mengancam untuk membunuhnya.

Pada akhirnya ayah memutuskan untuk merekam sendiri lagu-lagunya dengan perekam di rumah. Ia duduk di depan alat perekam lalu mulai menyanyi dan memainkan gambus. Tentu saja hasil rekamannya payah, tetapi masih cukup jelas untuk didengar. Ia memainkannya saat sarapan. Kami takut kalau orang-orang tahu. Kami mencoba untuk mengambil dan memusnahkannya, tetapi ia selalu mengantonginya di mantel, kemana saja ia pergi. Ketika tidur, rekaman itu ia selipkan ke kantong khusus yang sudah ia buat di bantalnya.

Sekarang sudah tidak perlu lagi menyembunyikan salinan rekaman ini. Ada saja orang yang membutuhkannya. Agama juga sudah berkembang pesat. Juga para jagal dan maling. Reaksi jalanan mungkin saja riuh rendah, tetapi tinggal tembakkan saja peluru ke udara. Terus saja begitu. Kamu ini wartawan, hal ini akan baik untuk kamu beritakan. Orang-orang juga suka. Seorang penyanyi muda meminta izin untuk menyanyikannya ulang, membawanya ke dapur rekan. Ako tolak. Lagu-lagu ini tidak boleh berubah. Harus sebagaimana yang ayah rekam dulu. Ini adalah bukti atas cerita-cerita tentangnya. Rekaman-rekaman itu hanya bisa digandakan.

Orang-orang cepat melupakan kisah-kisah tentang kejadian ini. Ketika kamu menceritakannya, mereka tidak akan percaya. Sebut saja pedagang lapak sebelah kami: Abu Sadiq, si penjaja bawang. Kalau ia sekarang menceritakan kisahnya bertempu dengan orang-orang di Iran di sungai Jassim, pasti akan terdengar seperti cerita seram Hollywood yang ia reka sendiri.

Tentara pemerintah melarikan diri, dan milisi Kurdi, Peshmerga, memasuki Kirkuk. Penduduk kota menyambut pemberontakan itu dengan suka cita. Kekacauan besar terjadi, baku tembak, mayat-mayat, tarian dan nyanyian Kurdi dimana-mana. Kami tidak bisa melarikan diri. Pengacau membakar rumah-rumah di kawasan pendukung pemerintah dan mana-mana anggota partai tinggal. Mereka membunuh dan menggantung tubuh para pendukung partai Baath, polisi, dan aparat keamananan.

Kami diam saja di rumah, dan sekelompok pemuda mendobrak pintu beton kantor ayah. Mereka membawa kami keluar ke jalan untuk menerima hukuman mati kami. Ibu bersimpuh memohon-mohon pada mereka, tetapi kali ini tidak merobek bajunya.

Apa? Ayahku? Tidak, tidak, ayah tidak bersama kami. Berbulan-bulan sebelum pemberontakan ia telah benar-benar menjadi orang gila kota kami, berkeliaran di jalanan menyanyikan lagu-lagu menentang Allah sambil membawa gambusnya, yang sidah ompong, tanpa senar. Api membakar rumah kami, dan ibu jatuh tak sadarkan diri sementara kami semua bersandar ke dinding. Umm Tariq, tetangga kami yang beretnis Kurdi, muncul pada saat-saat terakhir, berteriak ke arah pemuda-pemuda tadi dan berbicara dengan bahasa mereka. Lalu ia mulai memohon untuk membebaskan kami.

Ia memberi tahu mereka betapa baik dan murah hati Ibuku dan bagaimana ia membantu perempuan-perempuan Kurdi melahirkan dan merawat wanita-wanita hamil. Ia katakan pada mereka bagaimana ibu akan memberikan roti kepada para tetangga untuk menghormati Abbas, anak Imam Ali, saat hari raya. Juga betapa berani abangku. Ia teman baik mendiang anak lelakinya yang mati terbunuh selagi berjuang dengan Peshmerga selama kampanye Anfal. Abang juga yang membantu si mendiang melarikan diri dari Kirkuk (di sini ia berbohong). Aku sendiri diceritakan sebagai anak lelaki baik-baik yang menyakiti lalatpun tidak berani.

“Mereka tidak bertanggungjawab atas apa yang Jaafar al-Mutallibi telah perbuat,” katanya mengakhiri usahanya. Ia lalu meludah ke tanah. Setelah itu kami pergi ke rumah Umm Tariq dan tinggal di sana hingga pasukan Republican Guard memasuki kota dan milisi Peshmerga pergi. Sebagian besar pengacau turut lari bersama para milisi.

Pada akhirnya kami menemukan jenazah ayah tanpa kepala, dikaitkan ke traktor dengan seutas tali besar. Tubuhnya ditarik keliling kota sepanjang hari, mayatnya dipertontonkan dengan cara yang sebenarnya tak terbayangkan. Saat mereka hendak mengeksekusi kami, ayah berada di sekitar kantor cabang partai, yang halamannya dipenuhi tubuh-tubuh anggota partai memenuhi halamannya. Ayah masuk ke gedung yang kosong melompong dan menuju ke ruang informasi. Ia hafal betul ruang ini karena dari sanalah lagu-lagunya biasa disiarkan melalui pengeras suara selama masa perang yang pertama. Dari pengeras suara yang sama anggota partai akan mengumumkan bilamana seseorang dieksekusi karena membelot dari militer atau membantu prajurit Peshmerga. Ayah memasukkan kaset rekaman itu ke dalam alat pemutar dan pengeras suara mulai menyiarkan lagu-lagunya yang menghina Allah. Ayah tengah memeluk gambusnya dan tersenyum ketika para pemberontak datang. Mereka membawanya keluar –

Maaf, kawan. Ada pedagang ikan datang membawa beberapa karung ikan gurameh, aku harus pergi sekarang. Esok akan kuceritakan hubungan rahasia ayahku dengan Umm Tariq, perempuan Kurdi itu.
Diterjemahkan dari The Composer, bagian dari buku The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq (Penguin Books, 2014). Hassan Blassim lahir dan besar di Baghdad, sebelum hidup sebagai pengungsi di Finlandia sejak tahun 2004. Cerpennya yang lain, Pameran Mayat, bisa dibaca di sini.

Pameran Mayat – Hassan Blasim

| November 30, 2015 | Sunting
Potongan lukisan Salvador Dali, Le Sommeil

SEBELUM MENARIK PISAU DARI BALIK JASNYA IA BERKATA, "Setelah kamu pelajari semua berkas klien pertamamu ini, kamu harus menyusun rancangan singkat tentang bagaimana ia akan kau bunuh lalu kau pamerkan tubuhnya di pusat kota. Tapi kamu harus ingat: tidak semua yang kau usulkan akan otomatis diterima. Akan ada ahli yang mengkaji usulanmu itu, bisa saja ia menyetujuinya tapi seringkali ia akan menawarkan ide lain yang hampir pasti tidak mungkin kau tolak.. Sistem ini berlaku untuk semua orang apapun jabatan dia dan di semua tahapan kerja — bahkan setelah kau lulus tes dan masa percobaanmu. Di semua fase kau akan mendapatkan gaji penuh. Tentang itu aku tak mau merincikannya sekarang. Semua akan sedikit demi sedikit aku jelaskan. Intinya setelah kau terima semua klienmu, tidak bisa lagi kamu berisik menanyakan ini itu. Apapun pertanyaanmu harus kau tulis. Kau akan punya arsip sendiri yang isinya ya tetek bengek pertanyaanmu, proposalmu, semuanya. Jangan sekali-sekali meneleponku atau mengirimuku surat elektronik selagi itu urusan pekerjaan. Haram. Nanti kamu akan kukasih formulir khusus untuk menampung ketidaktahuanmu. Dan yang terpenting adalah kamu harus benar-benar mencurahkan waktumu untuk memahami klienmu itu. Jangan sampai ada sedikitpun yang terlewat!

"Misalnya saja kamu gagal di tugas pertamamu ini, posisimu masih aman. Belum pernah ada agen yang dipecat hanya gara-gara gagal mengeksekusi klien pertama. Paling mungkin kamu hanya akan dipindah ke departemen lain. Fasilitasmu, gajimu tetap. Oh ya, mengundurkan diri setelah dapat gaji juga haram hukumnya. Sudah hampir pasti ditolak. Ada aturan-aturan ketat tentang itu. Kalaupun pihak pentadbiran setuju, akan ada seabrek tes yang harus kamu lalui. Kami mempunyai data lengkap tentang para mantan agen. Kalau kamu terpikir untuk mengikuti jejak mereka, bisa saja kutunjukkan pengalaman beberapa dari mereka. Tapi rasanya tidak, kamu tidak akan selemah mereka. Yakin saja bahwa di sinilah kehidupanmu akan berubah.

"Ini, hadiah pertamamu. Tidak usah dibuka. Sekadar gaji pertamamu. Penuh. Kamu bisa pakai dulu untuk membeli koleksi dokumenter kehidupan hewan-hewan buas, nanti kami ganti uangnya. Pelajari benar-benar bagaimana mereka meremuk tulang-tulang mangsanya. 

"Ingat juga ini, bahwa kita bukan teroris yang ingin membunuh korban sebanyak-banyaknya untuk membuat orang-orang takut. Juga bukan pembunuh edan yang membunuh demi uang. Kita juga tidak hubungan apapun dengan kelompok-kelompok garis keras ataupun intel pemerintah. Juga tidak dengan kelompok apapun.

"Aku tahu kau sekarang pasti menyimpan banyak pertanyaan dalam kepala. Tenang saja. Sedikit demi sedikit kau pasti akan mengerti. Dunia ini diciptakan bertingkat-tingkat. Dan tidak semua orang berhasil mencapai semua tingkat itu bersama-sama. Beberapa bahkan mungkin tidak pernah menyelesaikannya. Pun di organisasi kau harus ingat bahwa ada posisi lebih tinggi yang menantimu. Menanti ide-ide segarmu. Ide-idemu bengismu.

"Setiap klien yang berhasil kamu habisi adalah semacam karya seni yang menanti sentuhan akhirmu. Dan ingat: kemampuan memamerkan mayat-mayat itu agar bisa dinikmati khalayak adalah kreativitas utama yang kami cari. Hal itu yang sedang kita coba untuk pelajari dan ambil keuntungannya. Jujur saja aku muak dengan agen-agen yang imajinasinya kering. Ada satu misalnya agen yang nama samarannya Pisau Setan — Satan's Knife. Namanya garang tapi dia bodoh. Aku benar-benar berharap ia segera dipecat. Si tolol ini berpikir bahwa memotong-motong tubuh klien lalu menggantungkannya di kabel listrik di kawasan kumuh adalah  puncak imajinasi dan daya cipta manusia. Sudah tolol, angkuh pula. Aku benci caranya yang kuno, walaupun ia menyebutnya neo-klasik. Bayangkan saja, yang agen kelas teri ini lakukan kemudian adalah mencat bagian-bagian tubuh klien dan mengantungnya dengan tali kecil. Jantungnya dicat biru gelap, usus-ususnya hijau, lalu hati dan buah zakarnya dengan warna kuning. Ia melakukan semua itu tanpa sama sekali paham makna kesederhanaan. Norak.

"Kamu terlihat bingung. Tenang saja, tarik napas dalam-dalam, dengarkan irama alam bawah sadarmu. Biar kuterangkan lagi beberapa hal padamu untuk mengenyahkan kesalahpahamanmu, kalau memang ada. Aku lagi ingin buang-buang waktu juga. Tetapi ingat: ini adalah pandangan pribadiku, anggota yang lain bisa saja punya pandangan yang lain.

"Aku suka segala hal yang ringkas, sederhana, tetapi istimewa. Ambil saja contoh si agen Tuli — Agent Deaf. Pembawaanya tenang, tetapi ia memiliki indera yang tajam. Kerjanya yang kusuka adalah seorang perempuan yang tengah menyusui. Pada satu pagi hujan di musim dingin, para pejalan kaki dan sopir-sopir yang kebetulan melintas, berhenti mengerubuti perempuan itu. Ia telanjang, gemuk, dan anaknya yang juga telanjang tengah menyusu tetek kirinya. Si Tuli meletakkan perempuan itu di bawah pohon palem kering di median jalan utama. Tidak terlihat sama sekali bekas luka ataupun peluru di Ibu-anak itu. Si perempuan dan bayinya terlihat seperti masih hidup. Sosok jenius seperti si Tuli inilah yang hampir tidak kita punyai sekarang ini. Kamu seharusnya melihat sendiri sebesar apa tetek perempuan itu dibandingkan dengan bayinya yang kurus kering. Tak ada seorangpun yang bisa menemukan cara mereka dihabisi. Sebagian berpendapat mereka diracun dengan zat misterius yang belum pernah diklasifikasikan. Tetapi si Tuli menuliskan hal yang sama sekali berbeda dalam catatannya. Kamu harus baca sendiri dan rasakan betapa puitis si Tuli ini. Ia saat ini menduduki posisi cukup penting dalam kelompok ini. Walau sebenarnya masih tidak sebanding dengan kreativitasnya yang menakjubkan.

"Negara ini memang sedang kacau. Tetapi karena itulah kita dapatkan kesempatan langka semacam ini. Mungkin saja apa yang kita kerjakan tidak bertahan lama. Kita harus mencari markas baru segera setelah negeri ini kembali aman. Tapi tidak usah khawatir, ada banyak negara yang bisa menjadi target markas baru kita. Haha.

"Dulu, agen-agen baru seperti kamu ini tidak akan mendapatkan paparan informasi seluas ini. Tetapi kondisi telah berubah. Kita tak lagi bergantung pada perintah. Yang kita perlu sekarang adalah kesegaran imajinasi. Dan mau tak mau kita harus lebih demokratis. Bayangkan saja, dulu aku harus membaca banyak buku konyol yang mendikte tentang bagaimana bekerja secara profesional. Banyak kajian-kajian perdamaian yang harus kulahap, walau sebenarnya aku sendiri sudah mual. Banyak anologi naif yang sama sekali tidak berguna. Satu yang masih kuingat adalah pernyataan bodoh ini: bahwa semua bentuk obat, bahkan odol sekalipun, sudah diujicobakan pada tikus dan hewan-hewan lain terlebih dulu sebelum diproduksi massal. Sehingga, menurut tesis itu, perdamaian di muka bumi akan menjadi mustahil tanpa turut mengorbankan kelinci-kelinci percobaan itu. Gila bukan? Teori-teori kuno semacam itu membuatku frustasi. Generasimu sungguhlah beruntung berada dalam masa penuh peluang. Sekadar seorang artis film menjilat es krim saja bisa menghasilkan ratusan foto dan berita. Dan enaknya lagi itu bisa tersebar cepat hingga ke pelosok paling terpencil sekalipun. Bukan saja berita untuk orang-orang yang kenyang, tapi juga untuk mereka yang tengah kelaparan. Paling tidak yang seperti itulah yang kusebut sebagai nikmat menemukan ketidakpentingan dan ketidak jelasan esensi dunia ini. Perlu berapa banyak lagi hal-hal semacam itu sehingga kita bisa memamerkan mayat dengan kreativitas tinggi di pusat kota. 

"Mungkin aku sudah bercerita terlalu banyak hal padamu. Sejujurnya aku mengkhawatirkanmu, karena orang seperti kamu ini kalau bukan jenius ya idiot, dan itu benar-benar membuatku penasaran. Jika kamu ini jenius, tentu itu akan sangat menyenangkan. Aku masih percaya kejeniusan, meski orang-orang selalu meributkan pengalaman dan praktik. Tapi kalau kamu ini ternyata seorang idiot, aku ingin menceritakan satu kisah pendek sebelum aku pergi. Ini kisah tentang seorang idiot juga yang mencoba bermain-main dengan kita. Aku bahkan tidak menyukai namanya, si Kuku, the Nail. Setelah usulan caranya membunuh klien  dan memamerkan tubuhnya di sebuah restoran besar disetujui, kami tentu menunggu hasil kerjanya. Tetapi orang ini lambat sekali. Aku menemuinya beberapa kali dan bertanya apa sebab keterlambatannya. Dia selalu bilang bahwa ia tak mau mengulangi cara orang-orang terdahulu, ia tengah memikirkan bagaimana membuat inovasi. Tetapi nyatanya tidak begitu. Si Kuku ini adalah pecundang yang telah terinfeksi sentimentil kemanusiaan yang banal dan, sebagaimana orang-orang lain yang terinfeksi, ia mulai mempertanyakan keuntungan membunuh orang lain dan apakah ada semacam Pencipta yang melihat seluruh perbuatan kita. Dan itulah awal dari nerakanya sendiri. Karena,menurut klasifikasi yang dibuat oleh madzab-madzab di dunia yang bodoh ini, setiap anak yang terlahir di dunia hanyalah akumulasi kemungkinan: apakah akan jadi baik atau buruk. Sama sekali berbeda dengan pandangan kami tentu saja: bahwa setiap anak yang terlahir di dunia hanyalah tambahan beban pada sebuah kapal yang sudah hampir karam. Tapi sudahlah, aku lanjutkan saja cerita tentang si Kuku. Ia mempunyai saudara yang bekerja sebagai satpam rumah sakit di pusat kota dan si Kuku terpikir untuk menyelinap masuk ke kamar mayat rumah sakit lalu mengambil mayat dari sana — ketimbang harus menyiapkan mayatnya sendiri, membunuh orang maksudku. Tentu itu mudah saja, ia cukup menyogok saudaranya itu dengan separuh gajinya. Kamar mayat rumah sakit penuh dengan mayat korban aksi-aksi teror (bodoh), mayat-mayat yang koyak akibat bom mobil, dan tentu saja termasuk mayat-mayat tanpa kepala korban kekerasan sektarian, mayat orang-orang tenggelam yang sudah mulai bengkak, dan mayat-mayat lain. Si Kuku menyusup diam-diam ke kamar mayat malam itu dan mulai mencari mayat yang tepat untuk dipamerkan ke publik. Ia mencari mayat anak-anak, karena pada proposalnya ia mengusulkan ide membunuh bocah umur lima tahun.

"Di dalam kamar mayat itu ada banyak potongan tubuh anak-anak sekolah yang menjadi korban bom mobil atau yang terbakar di jalanan, atau malah yang terkena bom yang dijatuhkan ke permukiman. Akhirnya si Kuku memilih mayat seorang bocah yang dipenggal kepalanya bersama anggota keluarganya yang lain karena masalah sektarian. Tubuh si bocah persih dan potongan pada lehernya juga serapi sobekan kertas. Si Kuku berpikir untuk memamerkan tubuhnya di restoran dan meletakkan mata anggota keluarga si bocah di atas meja,disajikan dalam semangkok darah, seperti sup. Mungkin itu adalah ide yang cemerlang, tetapi itu adalah hasil kebohongan dan khianat. Kalau saja ia memenggal sendiri kepala si anak, itu pasti akan menjadi karya seni yang otentik. Tetapi mencurinya dari kamar mayat  dan lantas memula akting yang hina itu tentu saja adalah aib dan juga sikap pengecut. Si Kuku tidak tahu bahwa dunia hari ini terhubung bukan hanya dengan terowongan dan koridor.

"Adalah si penjaga kamar mayatnya sendiri yang menangkap basah si Kuku sebelum ia berhasil membohongi orang banyak. Umurnya kira-kira baru awal enam puluh tahunan, seorang lelaki yang gagah. Pekerjaannya di kamar mayat bertambah banyak setelah bertambahnya jumlah tubuh yang tercerai berai (akibat bom) di negara ini. Orang-orang memintanya untuk mereka ulang tubuh sanak saudaranya. Mereka membayarnya mahal untuk mengembalikan tubuh-tubuh yang koyak bentuk yang selayaknya. Dan si penjaga kamar mayat ini memanglah seorang seniman yang mumpuni. Ia bekerja dengan sabar dan cinta. Malam itu ia mengarahkan si Kuku ke ruangan samping kamar mayat dan mengunci ruangan itu. Ia menyutikkan sebuah obat yang membuat si Kuku lunglai tapi tetap dalam keadaan sadar. Ia membaringkan si Kuku ke atas meja kamar mayat, mengikat kaki dan tangannya, lalu menyumpal mulutnya. Ia menyenandungkan sebuah lagu kanak-kanak yang cantik dengan suara mirip perempuannya yang aneh seraya menyiapkan meja kerjanya. Lagu tersebut berkisah tentang seorang anak yang memancing katak di sebuah genangan darah, dan sesekali ia akan membelai rambut si Kuku dengan lembut. Sambil membisiki telinganya, "Oh, sayangku, oh, kawanku, ada yang lebih aneh daripada kematian — yaitu melihat dunia yang tengah melihatmu, tetapi tanpa isyarat, ataupun pengertian atau bahkan tujuan sekalipun, selaiknya kamu dan dunia disatukan dalam kebutaan, seperti sunyi dan kesendirian. Dan ada yang sedikit lebih aneh dari kematian: laki-laki dan perempuan yang bergumul di ranjang, lalu kamu datang, yah kamu yang selalu salah tulis cerita hidupmu sendiri.'

"Si petugas kamar mayat menyelesaikan kerjanya pagi-pagi buta.

"Di depan pintu gerbang Kementerian Keadilan ada sebuah platform, seperti platform tempat berdirinya patung kota, tetapi terbuat dari daging dan tulang. Di atas platform tersebut berdiri pilar perunggu dan di sana tergantung kulit si Kuku, lengkap dan dikuliti dengan keahlian tinggi tentu, berkibar-kibar seperti bendera kemenangan. Di bagian depan platform kamu dapat melihat dengan jelas mata kanan si Kuku, dipasangkan pada lumatan dagingnya sendiri. Matanya terlihat kosong, kurang lebih seperti tatapan matamu sekarang ini. Tahukah kamu siapa sebenarnya si petugas kamar mayat itu? Dia adalah anggota departemen terpenting organisasi ini. Ia bertanggung jawab atas Departemen Kebenaran dan Kreativitas."

Lalu ia menusukkan pisaunya ke perutku sambil berkata, "Kamu gemetaran."
Diterjemahkah dari cerpen The Corpse Exhibition, karya penulis Irak Hassan Blasim. Bagian dari buku berjudul The Corpse Exhibition: And Other Stories of Iraq yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Jonathan Wright. Cerita Hassan yang lain, Sang Komponis, bisa dibaca di sini.

Belajar Patriotisme dari Indonesia

| Agustus 17, 2014 | Sunting
Bendera Merah Putih di Museum Sejarah Jakarta
Mendiang Pramoedya Ananta Toer menghabiskan hidupnya di penjara selama lebih dari 12 tahun. Ketika ia dibebaskan pada tanggal 21 Desember 1979, label tahanan politik (tapol) tetap melekat pada dirinya. Ia sendiri begitu menderita, begitu pula dengan keluarganya. 

Saya terakhir bertemu dengannya 17 tahun yang lalu: kondisi kesehatannya sedang tidak begitu bagus, namun dia tetap gembira dan banyak bicara - seperti biasanya. Di atas mejanya berdiri sebuah bendera Merah Putih kecil. Bendera itulah yang lantas begitu menarik rasa keingin-tahuan saya: bagaimana perasaannya pada simbol dari negara yang telah memperlakukannya dengan sangat tidak adil. Saya menduga Pak Pram akan menjawab bahwa dia tidak memendam perasaan apapun pada negaranya. Juga bahwa ia sudah menerima nasibnya, karena dia sendiripun memiliki masa lalu yang (selalu diasumsikan) suram. Dia adalah salah satu otak dari Lembaga Kebudayaan Rakyat, lembaga underbouw Partai Komunis Indonesia. 


Namun, nyatanya ia tetaplah sebagaimana orang Indonesia lainnya: loyal dan patriotik. Dia berbicara panjang lebar tentang negeri tercintanya. Utamanya tentang keyakinannya pada Bhinneka Tunggal Ika - berbeda-beda tetapi satu jua, yang merupakan semboyan Indonesia. Dan satu hal: dia tidak sedikitpun membenci negaranya. Juga tidak menafikkan pentingnya Hari Kemerdekaan. Bahkan ia juga mengenal begitu banyak bapak bangsa - termasuk Sukarno, presiden pertama Indonesia. 


Saya begitu iri pada orang Indonesia. Begitu menyinggung perihal manifestasi patriotisme, mereka tidak perlu lagi banyak kompromi. T
idak perlu perdebatan, pertengkaran ataupun himbauan pada mereka untuk mengibarkan Sang Dwiwarna. Tidak perlu pula pemimpinnya tampil di televisi untuk mengiba-iba, memohon dan membujuk rakyaknya untuk mengibarkan sang Bendera Negara.

Indonesia dipenuhi warna merah putih bulan ini - 17 Agustus 1945 adalah Hari Kemerdekaan Indonesia. Lebih dari sekadar seremoni, kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari perjuangan panjang melawan orang putih yang datang untuk menjajah. Tak berhitung bulan dan tahun yang mereka butuhkan demi bisa menjadi sebuah negara. Demi bisa mengibarkan benderanya dengan aman dan tanpa rasa was-was. Tak heran mereka sebut benderanya Merah Putih suci. Yah, karena ianya memang kudus, suci.

Berbagai macam suku, bahasa, agama hingga pandangan politik membagi-bagi mereka. Tetapi, ada satu hal yang lantas menyatukan mereka: rasa hormat pada lambang negara Indonesia. Sang Saka Merah Putih utamanya. Lagu kebangsaan. Dan, rasa cinta mereka pada tanah air yang bisa dibilang selalu hidup, menyala dalam dada mereka. 

Patriotisme menjelma dalam aneka bentuk, sebagian dicibir orang. Kesangatan cinta pada tanah air dianggap kuno oleh sebagian orang. Pun dengan simbolisme yang tidak begitu berarti bagi sebagian anggota masyarakat kita.

Padahal, rasa setia pada tanah air tidaklah hanya dengan tunduk pada norma-norma kepatutan dan perilaku luhur. Rasa cinta pada negara bisa dimanifestasikan pada bentuk yang lain. Dan, di sinilah perdebatanpun sering kali bermula.

Tetapi, coba ceritakan hal tersebut pada orang-orang Indonesia. Mungkin prioritas mereka adalah memastikan lahirnya negara bangsa mereka, sisanya adalah urusan belakangan.

Mereka percaya pada persatuan dalam keberagaman. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama. Mereka mengamalkan Pancasila, dasar negara mereka - tidak seperti Rukun Negara kita. Mereka mungkin belum "sesukses" kita dalam hal ekonomi, tetapi mereka telah membangun dasar negara mereka. Dasar untuk menyatukan 240 juta rakyatnya.

Bahkan, Pak Pram yang mendapatkan diskriminasi negara sekalipun tetap menulis novel-novel keren tentang Indonesia. Dunia mengenal Indonesia melalui buku-bukunya. Melalui cerita-ceritanya yang sedemikian jujur dan memukau.

Dari Keluarga Gerilya hingga Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dua dari novel autobiografi terbaiknya, ia mengajari kita tentang kerendahan hati, perjuangan, dan pengorbanan. Dan di atas semua itu: rasa cinta pada tanah air.

Hari Kemerdekaan memang bukanlah sekadar soal parade, lagu-lagu perjuangan dan pengibaran bendera. Juga bukan tentang bagaimana menirukan pekikan "Merdeka!" Tunku Abdul Rahman, perdana menteri pertama Malaysia. Tidak begitu penting bagaimana kita memanifestasikan patriotisme, tetapi, belajar dari Indonesia, paling tidak kita bisa mengibarkan Jalur Gemilang, bendera Malaysia, di depan kantor, toko, juga rumah kita.

Saya penasaran bagaimana respons mendiang Yasmin Ahmad melihat kita yang masih gemar mendebatkan apa saja yang bisa disebut patriotisme. Satu hal yang pasti: ia akan terus menunjukkan kepada kita Malaysia yang bersatu dalam film-filmnya. Malaysia yang senantiasa ia idam-idamkan.

*Tulisan ini diterjemahkan oleh seorang teman dari kolom Johan Jaaffar di harian New Straits Times. Hadiah untuk Peringatan Hari Kemerdekaan RI katanya. Saya ubah seperlunya.*

Thailand Berubah Menjadi Indonesia, Begitu Juga Sebaliknya

| Juni 09, 2009 | Sunting
Aku membaca tulisan yang dimuat di Sydney Morning Herald ini pertama kali melalui milis Mediacare. Walau tidak sempat mengartikannya kata per kata, tetapi aku sudah dapat tersenyum karenanya. Senyumku semakin lebar begitu menemukan terjemahannya di blog GNFI. Terima kasih banget kepada si Pian - Sofyan Hadi, atas infonya tentang blog ini. Seperti komentarmu, blog ini benar-benar menjadi inspirasi untuk kembali memupuk optimisme kita sebagai sebuah bangsa. Dan tentunya juga jaya terus untuk Good News For Indonesia. Berikut saya salinkan tulisan yang saya maksud.

Thailand berubah menjadi Indonesia, begitu juga sebaliknya.
Trairanga, sang tiga warna
Orang Thailand gemar menyebut Thailand sebagai tanah penuh senyuman. Dan untuk sementara, setelah kebangkitan demokrasi di tahun 1992, sebutannya ini sepertinya sesuai menjadi semboyan pemerintah. Demokrasi tumbuh di Thailand. Bahkan ketika Asia mengalami krisis ekonomi di tahun 1997, jenderal-jenderal militer Thailand tetap berdiam di baraknya. Thailand terus tumbuh. Turis-turis membanjiri Thailand dan kaum investor bisa tersenyum karena sudah memetik keuntungan di Thailand.

Sebaliknya di dunia berbeda yang disebut Indonesia, gambarannya sungguh mengerikan, Semboyan Negara, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua, kelihatannya hanya menjadi sebuah sindiran. Keragaman yang dimaksud hanya disatukan oleh rasa ketakutan terhadap diktator militer, Soeharto. Ketika krisis ekonomi Asia menghantam Indonesia, Soeharto dipaksa turun dari kekuasaannya di tahun 1998 dan gambaran Indonesia semakin lama semakin suram

Ekonomi Indonesia hancur. Islam bangkit dari tidur panjangnya dan bangkit menurut caranya sendiri. Keragaman Indonesia ditekan oleh hegemoni Islam sebagai agama mayoritas.Prospek Indonesia menjadi semakin buruk. Teroris membom para wisatawan di tempat tujuan wisata yang Indah di Bali. Sebuah golongan dari Islam Indonesia sepertinya tumbuh menjadi virus baru untuk membuat islam menjadi lebih keras dan ekstremis. Investor memberikan label hitam pada Negara ini.

Jika Thailand disebut-sebut sebagai cahaya Asia Tenggara, maka Indonesia muncul sebagai mimpi buruk dari kawasan tersebut.

Tapi itu dulu. Sekarang kita melihat kedua negara secara luar biasa berganti peran. Thailand sekarang menjadi runtuh, menderita akibat krisis konstitusional, aturan darurat yang diberlakukannya dan menjadi pukulan bagi semua investor.

Bangkok Post mengatakan bulan lalu ; “Bagaimana bisa Lumbung beras Asia, tempat transit, perdagangan, Macan Asia dan “Amazing Thailand” (Thailand yang luar biasa) sesuai dengan slogan pariwisata kita, bisa berubah menjadi sebuah Negara yang gagal?”

Indonesia, di sisi lain, berubah menjadi Negara yang stabil dan toleran dalam kepemimpinan yang bersih dan dewasa, dan memiliki prospek untuk tumbuh lebih baik dibanding semua Negara di kawasan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat menganggap Indonesia untuk pertama kalinya sebagai satu-satunya Negara bebas dan demokratis di kawasan Asia Tenggara.

Andrew MacIntyre dan Douglas Ramage mengatakan dalam makalahnya untuk Australian Strategic Policy Institute: " Indonesia di tahun 2008 adalah sebuah Negara yang stabil, demokratis, dengan system pemerintahan desentralisasi, negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dibawah kepemimpinan yang nasional yang kompeten, dan memiliki peran yang cukup penting di komunitas internasional maupun regional."

Sementara Indonesia semakin cemerlang dengan keberhasilan mereka menjadi tuan rumah perwakilan 189 negara di dunia dalam konferensi perubahan Iklim di Bali, Desember 2007, Thailand di sisi lain harus dipermalukan bulan lalu ketika Thailand harus memulangkan 16 pemimpin Negara dalam pertemuan ASEAN Summit .Tentara Thailand tidak kuasa lagi dalam membendung para pemprotes berbaju merah di Pattaya, pemimpin China dan Jepang terpaksa harus dievakuasi dengan helicopter, sedangkan pesawat pemimpin lain terpaksa harus berbalik arah di tengah perjalanan menuju Thailand. Hal ini sangat memalukan dan menurunkan kredibilitas Thailand, yang tidak mampu menjadi tuan rumah sebuah pertemuan regional , dan tidak bisa melindungi pemimpin dunia bahkan di tanah airnya sendiri.

Kemudian mari kita lihat titik yang sama pada minggu lalu.

Ketika 20.000 ribu pemprotes berbaju merah memboikot jalan di Bangkok untuk berdemonstrasi secara anarkis melawan pemerintahan Thailand yang tidak dipilih secara demokratis tersebut, Indonesia malah sedang mengumumkan hasil Pemilu legislatifnya yang berjalan dengan relatif aman dan damai.

Apa yang terjadi, Bagaimana bisa 2 negara kunci di Asia tenggara ini berganti tempat secara dramatis?

Kondisi Thailand berubah ketika terjadi kudeta pemerintahan untuk menjatuhkan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang pertama kali dipilih di tahun 2001 dan kembali terpilih pada tahun 2005.

Thaksin yang merupakan pelaku bisnis sekaligus milyuner ini memiliki 2 kubu yang pro dan kontra dengan dirinya. Dia sangat popular di kalangan rakyat kecil dan kaum pekerja, tapi sayangnya sangat ditentang oleh kaum urban dan militer.

Keputusan untuk mengirim tentara untuk menjatuhkan dia datang dari pihak kerajaan.Terakhir kali Raja mengintervensi di dunia politik adalah untuk mengakhiri krisis konstitusional yang terjadi di Thailand, sekarang malah Raja yang memprovokasinya.

Pihak militer dan kerajaan mebuat rezim baru yang tidak demokratis di Negara tersebut, tetapi berjanji untuk mengadakan pemilu di waktu yang akan datang. Tapi pendukung Thaksin berusaha untuk membuat perang sipil yang tidak berkesudahan yang mencerminkan ketidakpatuhan. Thaksin sendiri, yang didakwa melakukan tindak korupsi, memimpin perlawanan terhadap pemerintah dari luar negeri. Analis asal Thailand berkata sangat sulit untuk melihat resolusi apapun mengenai Thailand. Dua kubu yang berlawanan sama2 memiliki kedudukan yang kuat, dan Pemilu sepertinya tidak akan memecahkan masalah tersebut, mereka berkata.

Indonesia di sisi lain mengganti kepemimpinannya secara demokratis dengan memilih Susilo Bambang Yudhoyono, lebih dikenal di Indonesia sebagai SBY. Mantan Jenderal ini terbukti cukup bijaksana dan popular sejak mengambil kekuasaan di tahun 2004. Dia pro-bisnis dan pro barat, dan juga anti terhadap terorisme dan korupsi. Bahkan, dia memasukan besannya sendiri ke penjara karena terlibat kasus korupsi.

Partai Politik Islam di Indonesia tetap moderat, tidak menjadi radikal.

Indonesia sekarang memiliki pers yang bebas serta pengadilan hukum yang berkembang. Demokrasi menjadi lebih solid,umum dan para Kompetitor bertanding untuk mendapatkan kekuasaan dengan menggunakan kotak suara, bukan di jalan. SBY sepertinya merupakan salah satu presiden favorit untuk pemilhan presiden bulan Juli mendatang, jika dia diperbolehkan untuk menjadi calon.

Kawasan Asia Tenggara kali menderita krisis financial global, Tapi sementara Asian Development Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Thailand akan jatuh dari 2,6 persen menjadi minus 2 persen tahun ini, Indonesia malah diprediksi terkena dampak krisis global lebih ringan, dengan pertumbuhan ekonomi 6,1 persen menjadi 3,6 persen tahun ini.
Perbedaan mendasar antara Thailand dan Indonesia adalah bahwa elit politik Indonesia secara umum menghargai demokrasi yang ada di Indonesia sedangkan di Thailand tidak. 
Dan sumber utama arogansi anti demokrasi sudah terbukti berasal dari raja Thailand. Jadi bisa diambil kesimpulan, bahwa Indonesia bangkit menjadi model sebuah Negara, yang membuktikan bahwa Islam dan Demokrasi dapat hidup dan tumbuh secara bersama-sama. Keragaman Indonesia disatukan oleh demokrasi bukan karena ketakutan oleh rezim tertentu.sedangkan Thailand berubah menjadi otokrasi yang menyedihkan. Senyuman Thailand sepertinya berubah menjadi sebuah seringai.

* Tulisan Peter Hartcher, Editor Herald.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine