Pulang

| September 28, 2016 | Sunting
Petang tadi jalanan tak sepadat biasanya. Azan Maghrib baru berkumandang ketika aku memasuki kampus. Padahal biasanya malam sudah turun jauh sebelum gerbang kampus kulalui.
Abang Sopir
Aku adalah satu-satunya penumpang yang turut hingga ke area kampus. Begitu dua penumpang lain, seorang bapak tua dan gadis kecil, turun dari bus, aku beringsut ke bagian depan. Mendekati sang sopir. "Ikut sampai hentian akhir ya Bang." pintaku.

Sang sopir, masih dalam usia tiga puluhan, hanya mengangkat tangannya, mengiyakan. Namun tak lama kemudian ia menengok. "Pulang kerja?" begitu tanyanya. Tentu saja kuiyakan.

Kemudian kami sama-sama diam. Sang sopir mengemudikan busnya perlahan. Langit masih terang, namun lampu-lampu di kiri kanan sudah mulai berkerlipan. Bus berhenti. Lampu merah.

"Busnya baru ya Bang?" tanyaku berbasa-basi. 

Bus yang kutumpangi memang berbeda dengan bus biasanya. Bus yang biasa melayani rute dari kampus ke tengah kota Kuala Lumpur adalah bus dengan lajur kursi penuh dari depan hingga belakang. Sementara bus yang sedang kunaiki separuh saja lajur kursinya, sementara sisanya tanpa kursi.

"Iya. Baru tukar."

"Kenapa? Bus yang lama bukannya muat lebih banyak penumpang?"

"Benar. Muat lebih banyak. Tetapi karena itu juga kami harus sering berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Kami jadi sering ditegur karena kedatangan tidak sesuai jadwal." terangnya panjang lebar.

Aku diam saja. Penjelasannya memang sangat bisa diterima. Bus sore sering kali terlambat datang karena dua hal tadi: jalanan yang padat, dan terlalu banyak penumpang yang naik-turun. Satu... satu.

Persis seperti apa kata Pram dalam Bukan Pasar Malam: Di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana…

Kulihat kembali bus yang sudah kosong. Hanya ada aku dan si pemandu. "Syukur, aku masih tahu kemana pulang..." batinku.

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine