Vladimir Hussein – Etgar Keret

| Oktober 19, 2016 | Sunting
Ia duduk di sebelah lelaki tua yang sedang mengisi teka-teki silang
"Haram jadah!" gumam lelaki tambun itu seraya meninjukan tangannya ke bangku halte. Vladimir tetap memandangi gambar-gambar di koran, tanpa sedikit pun memerhatikan berita yang menyertainya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tidak suka menunggu bus. "Haram jadah," kata si tambun lagi, kali ini dengan keras, sambil melayangkan ludahnya ke trotoar, hampir mengenai kaki Vladimir. "Kamu berbicara padaku?" tanya Vladimir, yang sedikit terkejut tentunya, sambil menengokkan kepalanya ke arah si lelaki – yang sepertinya mabuk. "Tidak. Aku ngomong sendiri," pekik si lelaki. "Oh," balas Vladimir, lalu kembali memandangi korannya. Terlihat sebuah gambar berwarna: onggokan potongan tubuh manusia di alun-alun kota. Ia lalu mencari rubrik olahraga. "Hei, aku memang berbicara padamu, bodoh!" Si tambun bangkit dari duduknya dam berdiri di hadapan Vladimir. "Oh," kata Vladimir sekali lagi, "aku juga berpikir demikian tadi, tapi katamu-" "Lupakan apa yang aku katakan tadi, dasar Arab kotor!" "Aku Rusia," ujar Vladimir, berlindung di balik silsilah keluarganya yang sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya. "Ibuku dari Riga." "Pantas saja," timpalnya setengah tak percaya. "Dan ayahmu?" "Ia dari Nablus," jawab Vladimir, lalu kembali memandangi korannya. "Dua darah kotor mengalir di dalam tubuhmu." sahut si tambun. "Apa lagi yang akan mereka lakukan untuk merampas pekerjaan kami?" Di halaman koran terlihat gambar orang-orang kerdil Kurdi yang hangus terbakar, mencuat dari sebuah pemanggang raksasa. Vladimir yang melit sejenak menyesali sumpahnya untuk tidak akan pernah membaca keterangan gambar.

"Berdiri kau," perintah si tambun. Vladimir akhirnya menemukan juga rubrik olahraga yang ia cari dan melihat gambar seorang lelaki kulit hitam tengah bergelantung di ring basket. Vladimir tidak lagi mampu menahan godaan untuk mengintip keterangan gambarnya, "Fan yang Frustasi Inginkan Darah Baru." "Heh, aku minta kau berdiri," si tambun mengulangi permintaannya. "Aku?" tanya Vladimir, "bukankah–" "Ya, kamu," potong si tambun. Vladimir pun bangkit dari duduknya. Lelaki kulit hitam di gambar tadi sudah dua musim bermain untuk North Carolina College sebelum kemudian digantung oleh pengadilan Tel Aviv. Seketika itu, Vladimir menyadari bahwa ia sudah melanggar salah satu prinsipnya sendiri. Saat itu sudah pukul lima dan bus belum juga tiba. Dalam pidato radionya, Perdana Menteri telah menjanjikan sungai darah, dan si tambun itu ternyata sekepala lebih tinggi darinya. Vladimir menghantamkan lututnya ke selangkangan lelaki itu, lalu memukulinya dengan linggis besi yang sengaja ia sembunyikan dalam koran. Si tambun tersungkur dan mulai mengerang, "Ampun Arab! Rusia! Tolong!"  Vladimir memukul kepalanya dengan linggis, lantas kembali duduk ke bangku.

Bus tiba pukul 5:07. "Kenapa lelaki itu?" tanya si sopir, sambil menunjuk si lelaki tambun yang tergeletak di atas trotoar dengan dagunya. "Ia tidak naik bus ini," jawab Vladimir. "Aku juga tahu," timpal si sopir, "tetapi tidakkah kita harus menolongnya, atau melakukan sesuatu mungkin?" "Dia terkena epilepsi," ujar Vladimir. "Lebih baik jangan menyentuhnya." "Jika ia terserang epilepsi, darimana asal darah itu?" si sopir kembali bertanya. Vladimir mengangkat bahunya. "Dari pidato Perdana Menteri di radio." Ia memasukkan pas bus bulanannya ke dalam saku lalu duduk di bagian belakang, di sebelah seorang lelaki tua berbaret dan berkacamata yang sedang mengisi teka-teki silang. "Bulbul," ujar si tua. "Burung penyanyi (enam huruf)," Vladimir menyebutnya keras-keras. "Siapa yang bicara padamu hei Arab kotor?" kata si tua. "Pertanyaan/pernyataan kesukaan polisi peronda perbatasan (dua-puluh delapan huruf, tak termasuk tanda bacanya)," kata Vladimir lagi tanpa ragu-ragu. "Tidak terlalu buruk untuk seorang schvartze," gumam si tua dengan penuh rasa takjub. "Aku juga suka teka-teki silang," kata Vladimir, sambil merendahkan kepalanya takzim.

Ketika bus sampai di pemberhentian Vladimir, si tua melepas baretnya dan menarik benang yang berjuntaian dari bagian belakangnya. "Ini anak muda, hadiah dariku," katanya, menyerahkan topinya pada Vladimir. "Terima kasih Opa," jawab Vladimir, menerima baretnya lalu melompat ke trotoar. Bus itu berlalu, Vladimir melemparkan topi tadi ke tong sampah berwarna hijau, lalu merunduk. Sebuah ledakan terjadi beberapa detik kemudian, menghujaninya dengan rombengan sampah.

Ia bergegas ke sebuah bangunan berdinding marmer, tempat ia tinggal bersama keluarganya. Ia menaiki anak tangga dua-dua, dan terengah-engah begitu mencapai atap. Oma Natasha tengah duduk di dalam tenda, menonton siaran layanan masyarakat di televisi. Mereka menayangkan seorang model berambut pirang, berbikini, tengah berenang dengan gaya punggung di sungai darah yang mengalir sepanjang jalan Arlozorov. "Dia itu tidak benar-benar pirang." gerutu Oma Natasha, sambil menunjuk-nunjuk si model. "Rambutnya itu dikelantang." Ibu Vladimir masuk ke dalam tenda, membawa keranjang cucian. "Kamu dari mana saja sejak tadi?" tanyanya dengan marah. "Kami mencarimu sepanjang pagi. Orang-orang anti-polusi gila itu menyalib Kakek di terminal sentral." Vladimir tengah membayangkan dirinya bercinta dengan model televisi itu. "Aku memintamu pergi ke pemakamannya, jangan lari seperti saat pemakaman ayahmu dulu, kau dengar itu?" Ia tidak peduli rambutnya dikelantang, ia tetap menyukainya. "Vladimir? Kamu mendengarkanku?" Marah, Ibunya mulai mengeluarkan serapah dalam bahasa Rusia. "Jadi Ibu berbicara padaku?" tanya Vladimir, sambil memandangi Ibunya. "Tidak, aku berbicara dengan Tuhan!" jawab Ibunya sebelum kemudian melanjutkan sumpah serapahnya. "Oh," ucap Vladimir sebelum kembali menontoni televisi yang tengah menayangkab separuh bawah bagian tubuh si model. Darah yang berkilauan mengalir di sekitarnya tetapi tidak ada sedikit pun yang menempel. Terdapat keterangan gambar dan logo kota di atasnya, tetapi Vladimir mampu menahan keinginannya dan berhasil mengelakkan diri dari membacanya.
Diterjemahkan dari cerpen berjudul serupa yang masuk dalam kumpulan cerpen terbitan Farrar Straus and Giroux (2008), The Girl on the Fridge. Cerita-cerita Etgar Keret dalam buku ini dialihbahasakan oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston dari bahasa Ibrani. Keret sendiri adalah penulis Israel yang dikenal karena kepiawaiannya meramu humor-humor gelap. Cerpen Etgar Keret yang lain, Parallel Universes, saya terjemahkan di sini.

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine