Jejak Pramoedya Ananta Toer di Layar Perak

| Januari 03, 2017 | Sunting
Mendengar nama Pramoedya adalah mendengar nama penulis besar yang karyanya tidak hanya dibaca dalam bahasa Indonesia, tetapi juga puluhan bahasa lain di dunia.

Yang tak banyak diketahui adalah ternyata Pram pernah berkiprah di dunia perfilman, meskipun singkat. Namanya setidaknya muncul di tiga kredit film Katalog Film Indonesia. Sumber lain menyebutkan ada lima karya film yang melibatkan Pram. Yang jelas, di semua film tersebut peran Pram adalah sebagai penulis cerita.
***
Pram memulai debutnya sebagai penulis cerita film pada tahun 1955, melalui film besutan Djoko Lelono, Rindu Damai.
Rindu Damai, iklan koran Java-bode, 17 November 1955
Film drama ini menguliti kisah Rahim, seorang lelaki berkeluarga. Istrinya dikenal sebagai perempuan yang cantik dan supel. Keduanya sudah memiliki seorang anak. Si Rahim dikisahkan telah lama memendam kesal pada sang istri yang masih gemar menerima teman-teman lamanya. Ketidaksukaan Rahim memuncak ketika suatu masa ia mengadakan pesta, dan ia mendapati istrinya berdansa lama-lama dengan salah seorang tamu. Rahim kalap dan menembak si lelaki.

Rahim lantas membawa keluarganya kabur. Dalam pelarian, sang istri sempat mencoba untuk meninggalkan Rahim, tetapi gagal. Akhirnya dalam sekaratnya, sang istri meluahkan perasaannya. Ia jelaskan segala kesalahan si suami. Rahim sendiri lantas mati karena ditembak polisi, tak lama setelah kematian sang istri.

Jamak seperti iklan-iklan film masa itu, nama Pram ditulis besar-besar sebagai penulis cerita. Bahkan, dalam iklan yang dipasang di harian pagi De Nieuwsgier, 8 November 1955, cerita Rindu Damai diklaim sebagai karya monumental sang penulis. Dan nama Pram menjadi satu-satunya nama yang disertakan, tanpa menyinggung sedikit pun misalnya siapa yang akan bermain dalam film tersebut.
Rindu Damai, iklan koran De Nieuwsgier, 8 November 1955
Tidak diketahui pasti bagaimana nasib film ini di pasaran. Yang pasti, untuk menarik orang ramai, pemeran-pemeran yang dipilih pun beberapa bintang di masa itu.

Ellya, pemeran istri Rahim, adalah aktris kelahiran Bangka yang sudah beberapa membintangi film sebelumnya. Sementara lawan mainnya, A.S. Mouna - lengkapnya Amran Said Mouna, sudah menekuni dunia teater sebelum kemudian menceburkan diri ke dunia film. Setahun sebelumnya keduanya juga berpasangan di film Senen Raya, arahan S. Waldy.
***
Selain tidak banyak dibahas orang, Pram sendiri juga tidak pernah membahas masa karyanya di dunia layar perak. Saya menduga ada dua alasan kenapa Pram memilih demikian.

Pertama karena Pram sendiri ternyata tidak terlalu puas dengan hasil akhir film-film yang digarap berdasarkan naskah tulisannya. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1 (Lentera, 1995),  Pram mengenang, ...Kemudian hubungan baru dengan dunia film, sekalipun ternyata kelak film-film yang dibuat itu sangat mengecewakan.

Kedua, keputusan Pram memasuki dunia layar perak semata dilandasi oleh alasan dapur. Awal 1950-an sebenarnya adalah masa keemasan Pram. Buku-bukunya silih berganti naik percetakan. Ia bahkan berani mengundurkan diri dari Balai Pustaka dan mulai mengelola penerbitannya sendiri, Mimbar Penyiaran Duta.

Namun, berbagai masalah silih berganti menghampiri Pram setelah itu, mulai dari krisis keuangan hingga badai rumah tangga. 

Januari 1955 Pram menikah untuk kedua kalinya. Kehidupannya agak membaik setelah itu. Gairah menulisnya kembali bangkit. Tulisannya mulai banyak ditemukan kembali di berbagai terbitan koran dan majalah. Mingguan Star Weekly bahkan rutin memuat tulisannya - honor setiap tulisan cukup untuk menghidupi keluarganya dalam sebulan.

Tetapi keadaan berubah sekembalinya Pram dari lawatan ke Peking, Oktober 1956. Star Weekly menolak semua tulisannya. Lantas diikuti juga oleh penerbit-penerbit lain. Kepergiannya ke Tiongkok dinilai telah menjadikan Pram komunis dan pantas dijauhi.

Menghadapi boikot itulah Pram memutar otak untuk menyambung hidup. Anak istrinya ia titipkan sementara ke rumah mertua. Menulis naskah cerita untuk film adalah satu dari banyak hal yang lantas ia coba.
***
Selain Rindu Damai, dua film lain yang melibatkan Pram adalah Peristiwa Surabaja Gubeng (1956) dan Biola (1957).

Tidak ada informasi rinci tentang film pertama, kecuali bahwa film ini disutradarai oleh trio Djoko Lelono, Hasan Basry R. M., dan Jusman. Aktris Ellya, yang sudah dikenal sebagai Ellya Rosa, kembali bermain di film ini. Ia beradu peran dengan Ali Sarosa, Aminah Banowati, dan juga legenda film Tan Tjeng Bok.

Cerita film Peristiwa Surabaja Gubeng diangkat dari salah satu cerpen Pram yang berjudul Gambir. Cerita ini ditulis sekitar bulan Mei 1953, ketika Pram sedang tinggal di Amsterdam (atas sponsor dari Sticusa, sebuah yayasan kerjasama kebudayaan). Di kemudian hari Gambir masuk dalam kumpulan Cerita dari Jakarta (Grafica, 1957).

Gambir menceritakan dinamika kehidupan dua orang kuli di Stasiun Gambir. Tidak diketahui pasti kenapa kemudian beralih latar menjadi Surabaya Gubeng di film.
Poster film Biola yang malah bergambar terompet. Koleksi filmindonesia.or.id
Sementara, meski tak banyak, film Biola menyisakan informasi yang lebih terang. Sutradaranya adalah S. Waldy, seorang Indo kelahiran Blitar, dan diproduksi untuk Jajasan Usaha Film Artis.

Ceritanya berkisar pada hidup seorang bocah lelaki yang hidupnya begitu susah. Ia Tertekan karena orang bilang ia anak yang lahir di luar nikah, anak haram. Beruntung saja ada sedikit orang yang masih menaruh perhatian padanya. Satu di antaranya adalah seorang gurunya di sekolah.

Kisah film ini didasarkan pada cerita berjudul Anak Haram, yang muncul dalam kumpulan Cerita dari Blora (Balai Pustaka, 1952). Judul Biola hampir pasti diambil dari barang idam-idaman si bocah, yang kemudian didapatkannya dari sang guru.
***
Selain ketiga film di atas, Bahrum Rangkuti dalam buku Pramoedya Ananta Toer dan karja seninya (Gunung Agung, 1963) juga menyebutkan dua judul film lain. Yakni Buruh Bengkel (1956) dan Midah Si Manis Bergigi Mas.
Adegan dalam film Buruh Bengkel. Koleksi Perpusnas.
Buruh Bengkel diketahui merupakan film arahan Awaludin.. Bahrum menyebut bahwa alur film ini didasarkan pada cerita Gulat di Jakarta (Mimbar Penyiaran Duta, 1953). Hanya saja di kreditnya hanya menyantumkan Asrul Sani sebagai penulis ceritanya.

Sekilas, cerita Buruh Bengkel dan Gulat di Jakarta memang mirip: perihal perjuangan hidup di Jakarta, tempat tokoh utamanya merantau dan bekerja di sebuah bengkel. Sayangnya saya tidak menemukan sumber lain yang menyebutkan bahwa alur cerita Buruh Bengkel memang bersumber dari Gulat di Jakarta.

Sedangkan tentang film Midah yang disebut produksi Titien Sumarni Film Coy, tidak ada satu pun referensi lain yang menyebutkan bahwa film ini pernah dibuat. Ada yang tahu?

3 komentar:

  1. Dan yang ngebuat karya-karya seperti ini makin ngga diketahui orang adalah filmnya sendiri udah ga tahu kemana. Terlepas dari bagus engganya karya tersebut ya.

    Kita jelas abai dalam hal pengarsipan. Beruntung ada orang-orang seperti Pak Misbach yang berbuat banyak untuk proses pengarsipan film-film kita. Namun tetep aja, jalan mereka pun bukan yang lancar-lancar aja.

    BalasHapus
  2. Wow... Berarti berita2 semacam 'Tulisan Pram akan Difilmkan untuk Pertama Kalinya' kurang tepat ya?

    BalasHapus

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine