SANG MERAH PUTIH

| Agustus 21, 2009 | Sunting

Tanggal 17 Agustus sudah lewat, tapi suasana perayaan kemerdekaan RI masih terasa. Di mana-mana kita masih bisa melihat bendera merah putih yang masih terpasang, berbagai umbul-umbul, spanduk, gapura, dan hiasan-hiasan lain mewarnai setiap sudut lingkungan kita. Bendera merah putih! Ya, itulah bendera negara kita. Sederhana, hanya terdiri dari 2 warna, merah dan putih. Merahnya di atas dan putihnya di bawah. Buat sebagian orang, mungkin bendera kita terlalu sederhana, tidak keren dan kurang membanggakan.Tapi anda, juga saya, tidak boleh beranggapan begitu!Bendera itu ada dan tegak berdiri di tanah ibu pertiwi karena ada yang memperjuangkannya. Tidak terhitung berapa banyaknya tetes air mata, banjir keringat, tumpahan darah dan hilangnya nyawa rakyat dan bangsa Indonesia yang telah berkorban untuk menegakkan bendera merah putih itu.

Saya ingat waktu di SD dulu, ibu guru saya menerangkan bahwa bendera pusaka kita dijahit sendiri oleh istri pemimpin kita saat itu, yaitu Ibu Fatmawati Soekarno. Bendera itu memang berasal dari 2 kain yang berbeda warna, merah dan putih, dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. (Ingat ya, itulah perbandingan ukuran panjang lebar bendera kita, 2 banding 3). Saya ingat juga bahwa bendera pusaka itu sewaktu zaman revolusi kemerdekaan dibawa-bawa oleh para pejuang kita agar tidak jatuh ke tangan tentara Belanda yang saat itu bermaksud menjajah kembali Indonesia. Sampai-sampai bendera pusaka itu pernah disembunyikan di pucuk pohon kelapa, ibu guru sejarah saya saat itu. Memang, bendera pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan musuh, karena itulah menjadi simbol kemerdekaan negara RI. 

Lalu ada peristiwa heroik ketika para pejuang kita merasa kehormatan negara kita tidak dianggap oleh bangsa lain, yaitu beberapa waktu setelah tentara Sekutu memasuki wilayah tanah air kita. Saat itu, di bulan September 1945, di sebuah hotel bernama Yamato, atau Hotel Orange (nama Belandanya) di Surabaya, berkibarlah bendera merah putih biru. Ya, merah putih biru! Berarti bendera Belanda!”Apa-apaan orang Belanda mengibarkan seenaknya benderanya di wilayah kita!”Mungkin itulah pikiran para pemuda dan pejuang kita saat melihat bendera merah putih biru dengan angkuhnya bertengger di tiang menara hotel tersebut. 

Akhirnya beberapa pemuda dengan beraninya memprotes kepada tentara Sekutu dan seorang pemuda memanjat gedung hotel itu untuk mencapai tiang di mana bendera itu dipasang. Dan dirobeknyalah bagian biru dari bendera itu, sehingga yang ada tinggal merah putihnya.Berkibarlah benderaku! Merah Putih. Sang Dwi Warna.(Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela!)

Jadi, bendera kita itu sangat bersejarah, dan warna merah putih itu bukan asal memilihnya. Makanya kita tidak boleh sembarangan menggunakan, atau memodifikasi bendera itu (Ingat kan pernah kejadian ada grup band musik yang menampilkan logo grupnya di atas bendera merah putih? Bagaimana tanggapan anda?)

Warna merah dan putih itu sangat filosofis, yang secara simpel berarti bahwa bangsa kita sangat menjunjung tinggi keberanian (merah) atas dasar kebenaran/kesucian (putih). Sehingga warnanya merah di atas putih. Bukan sebaliknya, putih di atas dan merah di bawah. Filosofi ini dipakai oleh para pendiri negara kita (founding fathers) sewaktu menentukan desain dan warna bendera yang akan dijadikan bendera negara.

Bahkan, Bung Karno sempat mengutarakan pemikirannya, seperti yang dituangkan dalam otobiografinya BK Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Bahwa warna merah dan putih itu sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Budaya pembuatan bubur merah bubur putih setiap ada peristiwa penting. Lalu konsep getah (putih) dan getih (merah), cairan kehidupan, yang membuat tumbuhan, binatang dan manusia hidup. Penggambaran surya (matahari) dan chandra (bulan) pun dengan berupa kedua warna tersebut. Surya digambarkan sebagai warna merah dan chandra putih. 

Mr. Muhammad Yamin lebih dahsyat lagi. Beliau menyatakan dalam bukunya yang berjudul ”6000 Tahun Sang Merah Putih”, bahwa warna merah dan putih sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman prasejarah dulu. Di gua-gua yang dihuni manusia zaman dulu, dapat ditemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa warna merah dan putih sudah digunakan sejak dulu dan menjadi warna penting dalam kehidupan masyarakat. Di zaman kerajaan Nusantara, umbul-umbul berwarna merah dan putih tercatat digunakan pertama kali pada saat pemerintahan Raja Kertanegara di kerajaan Singosari.Ada lagi, pada rumah-rumah dulu, sewaktu dibangun, pasti dipasangkan kain merah putih pada kayu suhunan atap rumah. Saya ingat di rumah tempat tinggal saya sewaktu kecil, karena sering main ke ruang atap rumah, saya melihat ada bendera membungkus di kayu suhunannya. 

Sehingga memang beralasan sekali mengapa merah dan putih ini menjadi warna bendera kebangsaan Indonesia, dan ditetapkan secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam UUD 1945.

Tulisan Ceppi Prihandi, dengan perubahan seperlunya

Indonesia: 64 Tahun

| Agustus 21, 2009 | Sunting
Negeri kita semakin tua, 64 tahun sudah umurnya, dihitung semenjak kita diakui merdeka (walaupun menurutku sampai sekarang negeri ini belumlah merdeka). Lalu apa yang ada di benakmu kawan tentang negeri kita tercinta ini? Apakah negeri yang semakin tua dan renta? Yang serba membingungkan kebijakan pemerintahannya? Sekaligus orang-orangnya? Ataukah negeri asyik yang ibaratnya surga?

Sungguh miris bila mengingat kemarin dulu, sensasi dukun cilik Ponari yang membuat masyarakat histeris hingga antri berkilo-kilo meter hanya untuk menyentuh air yang dicelubkan dengan “batu sakti” dan habis disentuh sang dukun cilik. Pengobatan “normal” sepertinya benar-benar tidak terjangkau bagi masyarakat kita, tarif dokter yang melambung, harga obat yang terus semakin tinggi. Antrean panjang di rumah Ponari adalah bukti tak terbantahkan. Sebegitu banyakkah saudara-saudara kita yang sakit hingga begitu banyak yang ingin berobat? Atau memang masyarakat kita benar-benar “sakit”? Entahlah.

Fenomena di negeri ini sepertinya sudah di luar nalar. Golput haram, Jaipong dianggap pornoaksi. (Haloo.. Kenapa baru sekarang?). Mentalitas bangsa kita yang sepertinya sakit. Tapi betulkah?


Aku tidak ingin tertarik dalam pusaran tak bernalar, aku ingin kita hidup rasional, meski tantangannya tidak gampang.. Aku berusaha untuk menjadi pendengar bagi negeriku, karena terlalu banyak orang yang berbicara. Mendengar dan menyerapnya seperti spon menghisap air, lalu memerasnya untuk mengambil yang baik dan membuang yang busuk. 


Sepertinya sederhana.

Tapi, cobalah kau tengok sekitarmu sejenak, pernahkah kamu menjadi telinga dari orang-orang sekitarmu tentang kehidupan mereka? Adakah tujuanmu bekerja selain hanya untuk mendapatkan gaji tanpa mengenal lingkungan sekitarmu? Atau kamu hanya terjebak target penjualan yang menyebabkan kamu tidak bisa mengendalikan hidupmu sendiri? Menjadi pendengar yang bijak dan tidak berbicara tanpa berpikir, karena sudah banyak orang yang sakit karena mereka terus berbicara tapi tidak ada yang mendengar.

Ayolah, sekali-kali cobalah untuk berbagi dengan orang lain, berbagi waktu dan ruang dengan orang terdekatmu. Bila kamu punya buku, baca dan sebarkan pengetahuanmu tentang buku yang sudah kamu baca. Jika kamu punya ilmu yang berguna, janganlah pelit untuk kau bagi dengan orang lain..


Apalagi?
Berbagi-berbagi-berbagi.
Andai di negeri ini banyak orang punya semangat berbagi, tak akan ada lagi korupsi. Yang kaya berbagi pada yang miskin, yang cendikia berbagi ilmu pada yang kurang padai. Ah, lagi-lagi hanya andai.
***
Yah, 64 tahun sudah. Jika negara ini adalah orang, maka tentunya dia sudah lumayan senja meski belum pantas disebut sepuh, dan kita sepertinya berpredikat sebagai cucu, mungkin anak, yang pasti bukanlah sebaya. Jika negeri ini adalah seorang kakek atau nenek, sebagai cucu sepantasnya kita menaruh hormat pada beliau. Pun jika ia adalah bertaraf ayah atau ibu, sebagai anak, maka penghormatan pun tentu saja masih merupakan haknya.

Semarak perayaannya yang menyeruak di segala penjuru, di gang-gang kecil, di kolong jembatan, di pos ronda, di pasar tradisional pun di pusat perbelanjaan, di jalan raya, di perkantoran, di Senayan (hmm, berapa meter kain merah putih yang dipakai tuk membungkus seluruh pagar “rumah para wakil rakyat yang terhormat” ini) dan menyelusup dalam berbagai perlombaan, yang diikuti oleh segenap khalayak mulai dari batita sampai manula.

64 tahun sudah status merdeka itu ada dalam genggaman. Dahulu kala, pilihannya mungkin hanya dua : Merdeka atau Mati. Dan meskipun “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, namun tak disangsikan lagi bahwa penjajahan memang masih ada di muka bumi, meski dengan modus ‘terselubung’, sebab dijaga oleh para peri (hwa…)

Tapi kata siapa kita belum merdeka, toh sekarang ini dengan segenap kebebasan kita bisa menulis, berbicara, berlaku sepuasnya, meski kadang ada yang bebas menerobos saja apa yang dinamakan norma dan etika berperilaku, bahkan dengan saena’e dhewe for breaking the rule. (Plis deh. Kalau ada tanda Dilarang Merokok, jangan merokok dong. Kasian orang-orang yand ada di sekitarnya)

Kembali ke topik ---> merdeka atau mati

Apabila kita sebagai cucu / anak yang baik, maka pantas sajakah untuk menghujat, mencaci maki negara yang sudah tua ini, karena tidak memberi kita apa yang kita inginkan? Maka terselip dimana dahulu kata-kata “jangan tanya apa yang diberikan negara untukmu, tapi tanya apa yang telah kau beri untuk negaramu” - Kennedy? Tersembunyi dimana semangat kepahlawanan orang-orang yang telah mendahului kita (Hening cipta… Mulai…) Jika yang kita bisa lakukan kini hanya mencerca, menghina dina segala kebobrokan yang ada, apakah tidak sama saja kita menambah hal yang tidak benar itu dengan ketidakbenaran yang baru ?

Come on, be realistic lah…
Jika kita senantiasa menuntut hak dulu baru kewajiban, maka yang bernama lingkaran kesetimbangan alam itu akan senantiasa berputar mundur ke belakang. Jika yang bisa kita bilang hanya berkata “hal itu tidak benar” tanpa memberi solusi yang benar itu apa, atau bagaimana.

Para abdi negara, yang melakukan pekerjaan sebagai suatu keharusan, bukannya keinginan (ppsst… toh rajin atau TIDAK bakal terima gaji juga). Maka dimana lagi kalimat “kerja adalah cinta, yang mengejawantah”?


Orang-orang sakit, yang menginginkan pengobatan gratis, hmmm, wahai, Apa yang mereka lakukan untuk menjaga diri agar tidak sakit? Menciptakan pola dalam alam bawah sadar mereka bahwa “tak apa jika saya sakit sebab berobatnya bisa gratis”


Orang-orang bersekolah, yang ingin pendidikan gratis, wahai. Apa yang mereka lakukan agar para guru tak mesti bersusah payah untuk mencerdaskan mereka? Apakah mereka belajar? Hwa… hanya segelintir,, termasuk juga aku,, hehe


Tapi sudahlah, masih banyak kok yang bisa kita lakukan, selain hanya menggerutui negara ini, men’tidak-syukuri segala nikmat ini sebab kita tinggal di Indonesia dan menjadi bagian dari Indonesia Tanah Air Beta tercinta ini.


PADAMU NEGERI… KAMI BERJANJI
PADAMU NEGERI… KAMI BERBAKTI
PADAMU NEGERI… KAMI MENGABDI
BAGIMU NEGERI… JIWA RAGA … KAMI ….

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine