Lentera Jiwa (1)

| Maret 17, 2013 | Sunting
Di STM (sekarang namanya SMK) 6 Kramat Raya tahun 1970-an akhir ada seorang siswa yang senangnya membuat puisi dan karikatur. Meski lulus sebagai juara kelas dan dapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke IKIP Negeri Padang, ia justru memilih kuliah di sekolah jurnalistik. Kalau ia mengambil opsi pertama, ia tentua sudah menjadi guru STM. Tetapi meski tak punya biaya untuk bayar kuliah sendiri, hatinya berkata lain.

Setelah lulus, ia magang di sebuah majalah berita dan dilatih melakukan investigasi berita dengan prinsip “tak ada tokoh yang tak punya kesalahan”. Dengan bekal itu, setelah bertahun-tahun menjadi reporter, di sebuah stasiun TV, pada awal reformasi ia menjadi host talkshow politik yang sarat konflik. Tokoh-tokoh yang berseberangan ia pojokkan sehingga tak berkutik dan saling menyalahkan. Tontonannya sangat menarik, ratingnya tinggi. Tetapi setelah beberapa tahun menjalankan peran itu ia bertanya: “apakah ini yang saya cari dalam hidup saya?". Ia merasa ada yang salah telah ikut menaburkan kebencian dan permusuhan.

Berawal dari pertanyaan itulah ia berhenti dari seluruh kegiatannya dari talkshow politik dan mengundang orang-orang biasa, pejuang perubahan sosial yang inspiratif. Anda mungkin tahu siapa yang saya maksud. Ya, itulah Andy Noya dengan Kick Andy show-nya. Sewaktu saya gali untuk program TV yang saya asuh di TVRI, Ia mengatakan “Saya seperti tengah bercermin. Saat tamu-tamu itu bercerita, saya seperti melihat diri saya sendiri di sana”.

Chef Seno

Apa yang dilakukan Andy agak mirip dengan sahabat saya di UI yang suskses menjadi direktur keuangan di sebuah bank. Sebagai akuntan senior ia punya semuanya: Keluarga yang harmonis, rumah yang besar, anak-anak yang sehat dan karir yang bagus. Tetapi setelah krisis moneter berlalu dan ia selamat, Ia justru meminta pensiun dini dan lama menghilang.

Akhirnya tahun lalu secara tak sengaja kami bertemu di sebuah lorong pertokoan di depan sebuah restoran Jepang di kawasan Takapuna, dekat Auckland, New Zealand. Delapan tahun yang lalu ia berimigrasi kesini dan memulai profesi baru. Ia mengambil kursus memasak selama 2 tahun, membeli alat-alat, dan memulai kariernya sebagai tukang masak dari restoran-restoran kecil. Sekarang Chef Seno sudah menjadi koki di sebuah hotel terkenal dan menemukan lentera jiwanya.

Saat kami diundang makan malam Saya melihat ia begitu piawai memotong dan menyajikan hidangan. Karakter masa lalunya sebagai akuntan yang kritis mulai tak kelihatan. Memasak adalah kecintaannya sejak kecil, namun sepertinya tak begitu macho bila dijalankan oleh pria, apalagi bila anda mengatakan itu adalah cita-citanya di tahun 70-80an. Ini mirip dengan Harland Sanders yang sudah gemar menggoreng ayam sejak usia kecil, namun setelah mendapat julukan kolonel, di usia 40-an Ia baru menggoreng ayam dan usahanya baru meledak saat usianya 60-an dengan nama KFC. Chef Seno dan Harland Sanders bukan memasak seperti ibu-ibu yang dipaksa nilai-nilai masyarakat berada di dapur: buku resep, kumpulkan bahan-bahan lalu masak. Mereka bisa memasak tanpa resep, mengikuti naluri dari bahan-bahan yang ada di dapur.

Sekolah STM bagi Andy Noya, menjadi akuntan bagi Chef Seno, atau menjadi tentara bagi Harland Sanders bukanlah lentera jiwa mereka. Brandon Burchard menyebut fase itu sebagai “The Cage” (kurungan jiwa). Di seluruh dunia, hampir semua kaum muda kesulitan menyalakan lentera jiwanya dan hidup terkurung menjalankan kehendak orang lain.
Lentera jiwa
Saya juga melihat di usia dewasa, ribuan orang yang berkarir ternyata juga terperangkap dalam hidup yang sama. Bahkan ada yang masuk ke fase ke dua: The Comfortable life seperti yang dirasakan Chef Seno saat menjadi direktur keuangan, atau Andy Noya saat menjadi pemimpin redaksi dan Wakil Pemimpin Umum di Media Indonesia dan Metro TV. Mereka beruntung mempertanyakannya: Inikah yang saya cari?

Hidup dalam The Cage membuat manusia patuh dan menjalankan sesuatu atas ekspektasi dan kehendak orang lain sehingga sulit sekali mencapai prestasi tertinggi karena selalu terjadi pertentangan jiwa. The Caged life hidup dalam kotak “belief” yang sempit yang banyak membatasi hidupnya. Ia membangun hidup dari sesuatu yang didiktekan orang lain, dan tak pernah berani keluar dari garis-garis maya yang mem- batasinya, untuk meng- eksplorasi dunia baru. The Caged life sangat takut bertentangan dengan aturan yang dibuat masternya, meski itu hanya ada dalam pikirannya. Sebegitu dalamnya peran “sang master” sehingga bila dilanggar, merasa “sangat berdosa”.

Lantas bagaimana keluar dari ke 2 fenomena itu? Tentu saja diperlukan upaya massif,  sebuah revolusi kehidupan seperti kembali ke titik nol dengan menghidupkan lentera yang oksigennya mungkin sudah ada. Saya akan lanjutkan di Lentera Jiwa 2, tetapi anda bisa menyaksikan pergulatan-pergulatan itu setiap Selasa malam di TVRI dengan tamu saya Andy Noya atau tamu-tamu inspiratif lainnya. Kalau kita bisa menghidupkan lentera jiwa kita masing-masing, maka bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Bahkan saya percaya, iri, dengki, saling menghujat akan jauh berkurang. Artinya Persatuan Indonesia akan lebih ideal kita rasakan.
*Tulisan Rhenald Kasali, founder Rumah Perubahan, dimuat di Harian Jawa Pos 4 Maret lalu. Bagian dua bisa dibaca di sini.

Aceh, Mozaik Kisah dari Berbagai Sudut Dunia

| Februari 16, 2013 | Sunting
Di Yogyakarta, saya berkawan akrab dengan Natsir, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga asal Takengon, Aceh Tengah yang selalu bersemangat menceritakan hamparan kebun kopi yang menarik hati di kampung halamannya - di pelukan pegunungan Gayo. Dengan detail ia ceritakan bagaimana rasanya menginap di pondok petani kopi, ikut memetik buah kopi tua dari pucuk pohonnya, mengeringkannya, hingga kemudian memprosesnya menjadi bubuk kopi harum yang rasanya memikat lidah. "Menikmati secangkir kopi Gayo yang baru saja dididihkan di atas perapian itu rasanya tidak terkira Bas! Kopi buatan bapakmu yang selalu kau suguhkan itu kalah jauh!", ungkapnya dengan bersemangat.
***
Di Jakarta, saya bersua dengan Hambari, seorang fotografer lepas pada suatu sore di sudut Taman Ismail Marzuki, Cikini. Saya sedang khusyuk menekuri buku fotografi bawah laut di kedai buku Jose Rizal Manua kala itu, tidak menyadari kehadirannya. Saya baru tersadar ketika putra asli Sabang ini membisiki saya, "Kalau mau melihat yang begituan, datanglah ke kampung saya, di ujung barat negeri, di Sabang!" Saya yang masih sedikit terkejut saat itu hanya terdiam. "Iyah, di Pulau Weh, ujung Aceh! Perkenalkan, saya Hambari!", tangan kami bertaut. Dan sejurus kemudian, kami sudah berpindah tempat ke salah satu kedai makanan laut di dekat pintu masuk TIM.

Dari sosok Hambari, yang baru saya kenal itu, saya dapatkan cerita tentang Pantai Gapang. Lautnya masih biru, pasirnya putih menentramkan, ombaknya memang sedikit keras namun itulah ombak laut lepas, demikian Hambari menuturkan. Saya hanya melongo karena memang tidak begitu tahu tentang Sabang dan Pulau Weh. Selama ini Wakatobi, Bunaken, hingga Mentawai sudah cukup memanjakan 'keanehan saya'. Aneh? Yah, saya ini takut air, tidak bisa berenang, namun begitu senang melihat keindahan lautan. Hambari terkekeh. Di Gapang, di bawah matahari sisi utara katulistiwa, kehidupan bawah lautnya tak kalah keren! Dari permukaan air sudah bisa kelihatan gugusan karang dengan ikan-ikan kecilnya yang lalu lalang, tak usah takut tenggelam!, Hambari menggodaku. Ah, dasar.
***
Di tengah kokoh berdirinya gedung-gedung pencakar langit di Kuala Lumpur, Zulhilmi, ketua Persatuan Pelajar Indonesia IIUM yang asli Aceh sering mengejek saya. "Sepelemparan mata saja dari Kuala Lumpur. Keterlaluan kalau dikau tak sempatkan untuk berkunjung ke Tanah Rencong!". Sosok Zulhilmi yang pekerja keras dan tulus menjalankan amanah perlahan mengikis kata orang yang sering saya dengar, "Orang Aceh itu malas-malas!".
***
Di Hong Kong, saya bertemu dengan Randy, bukan orang Aceh, namun orang Betawi, kuliah di UGM Jogja, dan menyimpan mimpi besar untuk bisa mengunjungi Aceh. Aha, akhirnya saya dapatkan rekan!, batinku.

Kamipun lantas berjanji, akan kunjungi Aceh suatu hari nanti, bersama-sama. Yah, dua orang Indonesia, pengagum Indonesia, pecinta Indonesia, berjanji berdua di tengah dinginnya udara Hong Kong di bulan Januari untuk bersama mengunjungi Tanah Rencong.
***
Yuk, ke Aceh
Pagi tadi, seseorang mengirimkan informasi tentang satu lomba menulis pada saya. Dan, begitu saya susuri informasinya, hati saya langsung meronta untuk ikut. Saya kabarkan informasi yang sama pada Randy!

"Ada komunitas, namanya @iloveaceh, yang tentu saja peduli pada Aceh dan berusaha mempromosikan Aceh melalui media maya. Mereka mengadakan lomba menulis, hadiahnya ke Aceh mas!. Saya tidak menjamin lomba ini akan menjadi penjawab mimpi-mimpi kita untuk ke Aceh bersama. Namun, bukankah tidak ada salahnya untuk mencoba kan kawan?"
"Ah, gila! Deadline sudah hampir datang!"
"Berlomba dengan deadline itu menyenangkan mas! Apalagi untuk sesuatu yang kita cinta dan kita pinta dalam setiap doa, agar suatu saat kita bisa ke sana: Aceh!"

Yah, bismillah. Aceh, aku (kami) datang!

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine