Obrolan Malam Bersama Pram

| Februari 08, 2013 | Sunting
Aku tak sengaja melewatkan satu hari yang biasa kuperingati. Ini adalah ulang tahun seseorang. Kami bersua pertama kali berkat sebuah artikel koran pada hari yang sendu sekitar awal Mei 2006. Ada seseorang, kalau tak salah Esti Nuryani Kasam, menulis semacam memoar tentangnya di harian Kedaulatan Rakyat.

Dari sana, ketertarikanku untuk mengetahui lelaki ini muncul. Hanya saja, aku baru kesampaian membaca bukunya setahun kemudian, saat menjejaki akhir bangku kelas dua SMP. Kutemukan bukunya di perpustakaan sekolah. Ialah Pramoedya Ananta Toer, Pram.
Pram di kebun rumahnya, jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur,  tahun 1994
Aku melahap Bumi Manusia dalam dua minggu — dengan penuh perjuangan memaknai setiap katanya tentu. Lantas berlanjut dengan Anak Semua Bangsa. Namun, setelah buku kedua ini aku memutuskan untuk menunda membaca buku ketiga dan keempatnya, memilih untuk membaca beberapa roman pendeknya karena waktu itu aku sudah menginjak tingkat terakhir di sekolah menengah. Berturut-turut aku baca: Gadis Pantai (resensi tentang roman ini sempat ditempel di mading sekolah), Bukan Pasar Malam, Midah Si Manis Bergigi Emas, dan Larasati. Hatiku semakin meleleh.

Memasuki SMA, aku menuntaskan dua buku tersisa dari Tetralogi Buru: Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain itu juga mendapatkan kesempatan membaca Sang Pemula, buku Pram yang juga dilarang edar oleh pemerintah sebagaimana bukunya yang lain. Buku itu pinjaman dari seorang guru bahasa Indonesia, "Saya menyimpannya selama bertahun-tahun. Kepala Sekolah dulu meminta saya untuk membakarnya, saya iyakan, namun sebenarnya saya simpan!"

Masih saat SMA, Panggil Aku Kartini Saja juga kutuntaskan. Ianya memberikan satu pandangan lain tentang tokoh emansipasi tersebut. Kemudian ditambah dengan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Cerita Calon Arang, Mangir, dan separuh Arok Dedes — karena memang bukunya di perpustakaan kami tinggal separuh.
***
Kami memang tidak saling mengenal, generasi kamipun terlalu jauh berjarak. Dan yang pasti, aku mengenalnya malah karena kematiannya. Namun, keintiman di antara kami melampaui semua kenyataan itu (lebih tepatnya ke-sok-akrab-an-ku). Malam ini, sehari setelah ulang tahunnya dan hampir tujuh tahun setelah kematiannya, kami mengobrolkan berbagai hal.
***

Anda dikuburkan dengan ritual Islam, tapi juga berkumandang lagu Internationale dan Darah Juang. Kan itu lagu kebangsaan komunis?
Ha, ha, ha, Anda ini kok berpikir seperti zaman dan pemerintahannya Orde Baru! Sedikit-sedikit komunis. Syarikat Islam sekalipun juga ada poros komunisnya, sampai ada SI Merah. Saya juga dikatakan komunis hanya gara-gara ikut Lekra! Dan karena itu pula saya dipenjara di Buru, tanpa pengadilan. Karya saya habis dibakar. Apa sekarang, setelah saya mati, saya mau dibakar juga?

Lho, Anda kan memang mengatakan bakar saja saya?
Oh itu? Anda baca tulisan Zen ya?

Maaf saya potong, tetapi panggil saya 'kamu atau 'Bas' saja, ..
Saya ini suka membakar. Ya rokok, ya sampah!
Aih, baiklah.

Jadi begini Bas, salah satu kegemaran saya adalah membakar sampah. Kegiatan ini sudah menyelamatkan saya dari sergapan sunyi selama bertahun-tahun di Buru. Selain itu saya juga gemar membakar rokok. Djarum Super! Haha.

Saya tidak mungkin memberi tahumu, apakah saya dibakar atau tidak di sini. Apalagi banyak pengagum saya, terutama yang beraliran materialisme, juga tidak setuju. Tentang apakah setelah kematian itu ada alam kubur, saya tidak mau berpolemik di situ. Hanya saja saat itu kondisi saya kan memang sudah kritis. Begitu saya dibawa pulang dari Carolus, rumah saya penuh orang. Termasuk juga ada wartawan-wartawan. Tapi anehnya berita saya meninggal malah sempat menyebar.

Tahlilan juga sudah digelar, katanya kalau memang saya diberi kesehatan ya agar sehat, tapi kalau tidak mereka juga sudah ikhlas.

Sampai pukul 02:00 saya bilang, dorong saja saya. Tetapi semua orang masih berusaha menyemangati! Saya sempat juga menanyakan apakah sampah sudah dibakar. Minta lampu-lampu dimatikan.

Yudhistira terus menunggui saya. Orang-orang lain juga, walaupun tak pasti siapa. Maimunah sepertinya tidak tega melihat saya meregang nyawa. Terakhir ya itu, saya kemudian mengerang dan memekik, "Akhiri saja saya, bakar saya sekarang!"

Saya akhirnya benar-benar berangkat pukul 08:55 pagi. Dulu sekali saya juga sempat berpesan, kalau saya mati, jasad saya dibakar saja, lalu tebarkan abunya!

Tapi, tidak pernah dilakukan ya...
Haha, saya dulu pernah bilang sama Sinar Harapan. Nggak ngerti kok hidup saya begini. Dirampas, diinjek, dihina. Karya saya dibakar dan dirampas, nggak ngerti saya sama mereka. Kalau negara membutuhkannya, silakan ambil. Tapi ya pakai tanda terima segala macam. Itu kan lebih baik. Lhah ini, dirampas dan dibakar, nggak ngerti saya.

Padahal dokumentasi saya itu mulai abad sebelumnya. Berapa harganya nggak bisa dihitung. Nggak ngerti kok bisa berbuat begitu. Tapi dari dulu saya sudah bosan dengan perasaan. Makanya karya-karya saya lebih banyak soal rasionalitas. Penulis sekarang juga harus berani dan mampu mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Tapi memang ada risiko yang mesti ditanggung seorang diri.

Generasi sekarang banyak yang pemikirannya terlampau miskin, perhatiannya pada kemanusiaan nggak ada. Padahal itu urusan kalian lho, sudah bukan urusan saya lagi. Angkatan muda harus punya keberanian. Kalau tidak, sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri.

Tapi generasi sekarang ‘kan generasi buku sejarah?
Kalau saya, itulah pentingnya rekonstruksi sejarah! Saya tulis Kartini, saya tulis Arok Dedes, hingga Mangir dan Jalan Pos, untuk apa? Sumber-sumber yang jarang disentuh atau memang sengaja dikaburkan, harus dibuka kembali.

Arsip-arsip di Lentera, harian Bintang Timur, hingga harian Rakjat harus dibaca orang. Saya pun yakin Tempo menyimpan banyak catatan sejarah. Arsip-arsip semacam itu harus dijaga jangan sampai hilang lagi, karena sekali hilang, ya sudah, kita kehilangan sejarah.

Generasi muda jangan takut untuk maju, bicarakan ide-ide dan juga ketidaktahuanmu. Sekali kalian takut, kalahlah kalian!

Anda juga dituntut bertanggung jawab atas peran Anda di Lekra dulu...
Segala tulisan dan pidato saya di masa pra 65 itu tidak lebih dari golongan polemik biasa yang boleh diikuti oleh siapa saja. Saya tidak terlibat lebih jauh. Saya juga merasa difitnah ketika dituduh membakar buku segala. Apakah karena itu lantas buku saya juga dibakar oleh Orde Baru? Perkara itu dibawa ke pengadilan saja jika memang cukup materi. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri! Saya rasanya seperti dikeroyok, tanpa kesempatan untuk melawan.

Apakah Anda merasa dihukum oleh Orde Baru? Masyarakat?
Kenapa? Karena saya dipenjara tanpa pengadilan? Seumur hidup saya sudah 3 kali merasakan penjara. Pertama kali antara tahun 1947 hingga 1949 oleh Belanda. Kemudian pada masa orde lama Angkatan Darat memenjarakan saya setahun karena Hoa Kiau di Indonesia. Baru kemudian saya dipenjara selama 14 tahun 2 bulan oleh Orde Baru. Tanpa proses pengadilan, tanpa apa-apa. Saya dipindah-pindah dari Salemba, Nusa Kambangan, hingga ke Buru.

Berapa lama Anda di Buru?
Sepuluh tahun. Saya ini masuk rombongan pertama yang masuk Buru, sekaligus yang paling terakhir keluar dari sana. Tanggal 21 Desember 1979 saya ceritanya dibebaskan. Yah, saya masih begitu ingat hari itu!

Bagaimana pembebasan Anda dari Buru waktu itu?
Saya sudah hafal betul kebusukan Orba!
Ada ceritanya sendiri kalau itu. Untuk bisa naik kapal, kami harus mau menandatangani surat pernyataan yang isinya kami diperlakukan dengan baik di Buru. Rangkap tiga. Meski demikian, ada beberapa orang yang tidak juga diizinkan naik kapal termasuk saya. Kemudian ada seorang komandan datang, khusus pada saya ia mengatakan, “Pak Pram akan pergi naik kapal langsung ke Jakarta.”

Tapi saya sudah terlalu hafal dengan janji-janji semacam itu. Rumus saya, kalau yang dikatakan aparat adalah X, maka kenyataannya adalah minus X. Jadi saya sudah langsung berpikir: saya tidak akan dibawa ke Jakarta.

Dan nyatanya rumus itu benar. Sampai di utara Madura mungkin, kami dipindahkan ke kapal yang lebih kecil. Kemudian dikirim ke pantai. Baru setelah itu kami dinaikkan bus. Kami sudah menduga akan disembunyikan di Nusa Kambangan. Tapi, waktu di pelabuhan sebelum kapal berangkat, ada saksi dari gereja Katolik. Jadi, mereka ini melaporkan ke Ambon, Ambon ke dunia internasional, sehingga waktu kapal berangkat sudah ada berita di dunia internasional bahwa ada sebagian rombongan yang dipisahkan.

Sampai di Magelang, rombongan kami dimasukkan penjara. Di situ menunggu, lantas dipindah lagi ke tempat lain, baru kemudian dibawa ke Semarang. Baru di Semaranglah kami benar-benar dilepaskan, dengan kesaksian dubes-dubes luar negeri. Jadi rencana untuk menyembunyikan kami di Nusa Kambangan gagal. Dari Semarang kami dibawa dengan bis ke Jakarta. Masuk ke penjara lama Salemba, baru esoknya dibebaskan.

Kembali lagi: apakah Anda merasa dihukum oleh Orde Baru?
Begini, sepulang dari Buru sekalipun saya masih dikenakan tahanan rumah hingga 1992. Setelah itu, dikenakan tahanan kota dan tahanan negara hingga tahun 1999. Oh ya, juga dikenakan wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun! Namun, di saat yang sama, karya-karya saya di terbitkan. Juga diterjemahkan hingga ke 41 bahasa dunia. Saya juga menerima Magsaysay . Dan sejak 1981 saya dicalonkan sebagai penerima nobel. Bagaimana menurut Anda? Dihukumkah saya?

Haha, mungkin Anda tidak akan setenar ini kalau tidak dibegitukan ya...
Sayangnya saya menulis tidak untuk menjadi tenar! Saya hanya tidak ingin ditinggalkan sejarah. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis... hilanglah ia dari sejarah! Padahal, menghilangkan diri dari sejarah itu sama saja dengan menghilangkan satu potongan informasi untuk generasi anak cucu, dosa besar! Di luar itu, menulis, bekerja, berkarya, adalah pertanda daya hidup! Ketika orang sudah tidak lagi berkarya, sebenarnya ia sedang berjabat tangan dengan maut! Mayat hidup..

Idealis sekali Anda..
Yah, harus itu! Idealisme itu penting! Idealisme selalu saya tanam di tulisan-tulisan saya, bersanding dengan keadilan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Bukankah semua itu lebih penting dari keindahan apapun?

Humm, maju mundur saya sebenarnya ingin menanyakan hal ini, bagaimana Anda melihat korupsi di negeri ini?
Sudah jelas sebenarnya, korupsi sudah ada sejak... lama sekali. Sejak jaman Tumapel, Amangkurat, hingga Bakir*. Tetapi satu hal, saya kok masih tetap percaya bahwa kalau manusia sudah tidak bisa lagi dicegah niat buruknya, besok atau lusa ia sudah bisa tukar benteng pertahanannya dengan uang...

Kemudian kawin lagi. Kemudian dijauhi kawan-kawan. Kemudian mendapat kawan-kawan baru yang semua ada dalam ketakutan. Haha... Petuah itu begitu lekat.
Yah, berbahagialah mereka yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannnya sendiri! Dan ingat, setiap hak yang berlebihan adalah penindasan! Sekali engkau menindas, habis sudah.

Ingat selalu apa kata Multatuli, kewajiban manusia adalah menjadi manusia! Bukan memperbudak, atau menjadi budak! Korupsi itu bukan hanya memperbudak diri sendiri, namun juga memperbudak orang lain! Menakutkan.

Terakhir, mengapa Anda mengidolakan Soekarno?
Mana yang lebih kamu inginkan, jawaban panjang atau ringkasnya sahaja?

Jangan terlalu pendek, namun juga terlalu panjang. Kalau bisa...
Megawati itu tidak ada beda dengan Soeharto!
Begini. Dia memersatukan dan memerdekakan negerinya. Dia membebaskan rakyat dari rasa rendah diri dan membuat mereka merasa bangga dan terhormat menjadi orang Indonesia. Semua ini terjadi sesudah kolonialisme ratusan tahun yang mengungkung kita.

Ia sanggup melahirkan nation, bukan sekadar bangsa, tanpa menumpahkan darah! Mungkin dia satu-satunya atau paling tidak satu di antara yang sangat sedikit! Kelahiran nation itu biasanya, dimana saja, selalu mandi darah!

Bandingkan saja katakan dengan Suharto yang harus membantai dan memenjarakan jutaan orang hanya untuk menegakkan rezim yang dia namakan Orde Baru. Sekadar rezim lho itu, tidak ada apa-apanya dengan nation, bangsa.

Oh ya, coba lihat tulisan New York Times, pada edisi kepergian saya. Tahun 2004 saya bilang kalau setelah Soekarno, yang ada itu cuma badut-badut yang nggak becus memimpin negara. Hahaha... Dan itu adalah jaman presidennya?

Jaman Megawati? Rasa dhongkol Anda padanya masih ada?
Bagaimana tidak? Jangankan pada para pendukung Bapaknya, dia sendiri apakah pernah menyinggung kesewenang-wenangan yang menimpa Bapaknya sendiri? Jaman Soeharto dia duduk di parlemen, dan tetep saja diam. Ingat jaman anak-anak PRD ditangkapi karena peristiwa Juli 1996? Mereka ini mendukung Mega lhoh, tetapi siapa malah yang membantu mereka? Mega? Bukan. Yang bantu malah seorang Jesuit, Sandyawan Soemardi. Bagaimana menurut Anda itu? Terakhir kan ini?

Haha. Oh ya, selamat ulang tahun, maaf terlambat...
Haha, katanya sudah terakhir? Hmm, memang tidak terasa umur manusia lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Tapi, masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Dimanapun juga dia menyerbu ke dalam kepada dan dada manusia, kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepada dan dada itu kosong seperti langit!

Selamat malam Tuan Minke...
***
Saat ini aku tengah berusaha menyelesaikan All That Is Gone, terjemahan Cerita dari Blora, selain terkadang mencuri waktu untuk membaca paruh kedua Arok Dedes dan buku hasil suntingan Pram: Cerita dari Digul. Tentang Sekali Peristiwa di Banten Selatan bisa dibaca di sini.

catatan:
Obrolan ini sebagian besar adalah tulisan mas Iwan di majalah Indie: Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner. Foto-foto Pramoedya dalam tulisan ini milik IISG dan Revitriyoso Husodo.

Dua Ribu Rupiah di Lipatan Dompet

| Desember 31, 2012 | Sunting
Saya adalah manusia random yang senang menyimpan barang-barang yang sebenarnya tidak penting di dalam dompet. Mulai dari tiket bioskop, materai, potongan boarding pass, lipatan tiket kereta, risit belanja, hingga kertas-kertas penuh coretan tangan yang sebenarnya lebih layak untuk dibuang. Namun, entalah, saya merasa enggan saja untuk membuangnya. Sekali dompet butut saya sudah penuh, maka akan saya pindahkan barang-barang minor itu ke dompet pensil yang lebih besar.

Malam ini, di penghujung bulan Desember, saya kembali membongkar dompet. Beberapa recehan ringgit bergemerincing menggelinding ke kolong tempat tidur, berturut-turut kemudian terjatuh tiket bioskop untuk film Hobbit dan Life of Pi, tiket Metro Bus 91 ke Ong Tay Kim - pasar tempat saya biasa belanja bulanan, tiket Bus Transnasional jurusan Melaka - KL, slip ATM, dan kupon bekas pulsa elektrik. Namun, sepertinya ada benda lain yang nyrempil di antara KTP dan ATM, lantas saya tariklah ia. Wahai, selembar dua ribu Rupiah bergambar Pangeran Antasari kumal. Saya buka ia dari lipatan yang sudah benar-benar mlipit. Dan seketika itu terlihat tanda tangan saya di bagian tanda air, bertanggalkan 24 Juni 2012.
***
"Maaf mas, apakah ada uang lain yang lebih bagus?" ujar mbak-mbak petugas konter check-in Philippine Air, Terminal 2, Soekarno-Hatta, seraya mengembalikan selembar uang dua ribu rupiah kumal yang saya gunakan untuk membayar airport tax.
"Maaf mbak, itu uang terakhir saya. Sudah tidak ada lagi!" jawabku.
"Tetapi ini sudah terlalu kumal Mas, tidak bisa kami terima!" si mbak keukeuh.
"Mbak, ana rongewu?", tanyaku pada mbak Maria, teman perjalananku.
"Duitku kurang rongewu Mbak!", ulangku meyakinkan mbak Maria yang masih belum ngeh.

Sejurus kemudian mbak Maria menyorongkan lima rupiah padaku seraya berujar, muk ana iki Bast, uang yang langsung ke serahkan kepada si mbak petugas. Kubernapas lega begitu ia memberikan boarding pass-ku sambil mengucapkan selamat jalan. Namun aku sendiri yakin ia masih tertawa dalam hati melihat ada orang yang mau pergi ke luar negeri tanpa membawa uang. Yah, itulah aku! Uang terakhir dalam dompetku adalah seratus lima puluh satu ribu rupiah. Dalam perjalanan dari Gambir ke Soetta kugunakan untuk membeli air minum, tersisalah seratus empat puluh delapan ribu rupiah. Sebenarnya kubermaksud untuk menahan haus, namun karena sudah tidak tertahan ditambah lagi deraan lapar karena belum makan sama sekali, akhirnya ya sudah ku beli. Ku pun begitu gembira begitu mendapatkan dua ribu rupiah kumal dari dalam kotak pensil. Masih cukup untuk membayar airport tax, batinku. Namun, yah, dua ribu rupiah itu tadilah yang baru saja kutemukan, setelah 6 bulan berselang. :')
***
Enam bulan silam saya berangkat ke Manila, Filipina untuk sebuah pelatihan jurnalistik atau lebih tepatnya debat, jurnalistik dan videografi (selanjutnya akan saya tulis media saja) selama dua minggu. Sejak insiden kecil di konter check in saya langsung yakin perjalanan tersebut akan menjadi pengalaman yang menarik. Dan, ternyata saya memang benar. Hingga enam bulan berselang, memorinya masih begitu lekat dalam angan.

Empat puluh pemuda dari seantero Asia Tenggara dikumpulkan untuk belajar tentang pemanfaatan media dalam membantu kegiatan sosial yang tengah mereka jalankan di negaranya masing-masing. Sekilas lalu, ada Dave Albao - seorang Buddhist, delegasi Filipina yang concern pada isu kerukunan antar umat beragama, Precy - pejuang hak buruh yang senegara juga dengan Dave, Lucas - penjuang HAM dari Malaysia, dan puluhan aktivis lainnya yang masing-masing dari Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Singapura, dan tentunya Indonesia. 

Indonesia sendiri kala itu berhasil mengirimkan 6 orang. Masing-masing mbak Maria - advokasi hak anak dan perempuan dari Klaten, bang Waway - peneliti di FKM UI, bang Zul - pekerja di salah satu badan PBB di Jakarta, mbak Dining - advokasi remaja dari Pati, Vina - pejuang perempuan dari Medan, dan saya sendiri - penggembira, haha.
***
Pelatihan sendiri secara keseluruhan adalah hari-hari panjang yang penuh dengan kelas debat - jurnalistik - video. Namun yang menarik adalah selalu dan selalu ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, sehingga praktis kami selalu menghabiskan malam di lobby hotel untuk mengebut tugas.
Sebagian peserta SEA Youth Media Camp
Di luar itu, pelatihan juga diisi dengan malam budaya, dimana masing-masing negara menyiapkan booth untuk memperkenalkan budaya negara bersangkutan. Indonesia sendiri, yang tidak tahu kalau harus mempersiapkan booth, mempersiapkannya dengan sangat sederhana. Booth kami hanya berisi beberapa baju batik, kostum timnas Indonesia, beberapa kerajinan dan cinderamata khas, dengan backdrop bendera Merah Putih. Namun, sebagai warga negara Indonesia sejati, kami didukung dengan bakat meramaikan suasana yang mumpuni. Walhasil malam itu Manila digoyang Ayu Ting Ting dan juga Tor-tor massal, diikuti oleh peserta dari berbagai negara, hehe.

Selain itu, kegiatan juga diisi dengan semacam praktik lapangan. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk kemudian diserahi dua tugas untuk diselesaikan: membuat video pendek dan feature story. Preccy (Filipina), Sokha (Kamboja), Chamta (Myanmar), dan Nguyen (Vietnam), itulah kelompok saya. Kelompok yang kemudian berubah menjadi keluarga lintas negara dan budaya. :) Keluarga yang terkadang dibatasi oleh kemampuan bahasa, namun kemudian tercairkan dengan semangat kerja sama.

Kerja sama yang kemudian membuahkan gelar Best Feature Story. Kami menyoroti kisah hidup Pasita Coliera, seorang nenek 68 tahun yang sudah puluhan tahun tidak mendapatkan akses air bersih. Kasus ini kami angkat mengingat kasus yang sama juga dihadapi oleh jutaan penduduk di berbagai negara. Merekam keseharian nenek ini seolah melemparkan kami ke bagian terkumuh Filipina - meskipun menurut Preccy masih ada kawasan yang lebih kumuh. Pasita tinggal di dekat pantai yang selalu kebanjiran di saat pasang ataupun hujan. Dan sekali banjir, beragam materialpun kemudian lalu lalang, mulai dari kotoran anjing hingga sampah plastik.
***
Manila (baca: 2012) secara tidak langsung juga mengukuhkan hati saya untuk memupuk passion di bidang tulis menulis. Saya bukanlah debater yang handal, bukan bula tukang video yang mahir, namun paling tidak saya bisa menulis dengan (lebih) baik. Salah satu tulisan saya bahkan secara tidak terduga menjadi media memoir terbaik. :')


Siapa?
Malam ini, enam bulan kemudian di Kuala Lumpur, saya tengah mengumpulkan memori-memori itu melalui selembar uang dua ribu rupiah. Tulisan saya memang belum bisa berperan apa-apa. Namun, Alhamdulillah, saya bisa banyak belajar dari sana. Status-status facebook saya mendapatkan respon positif dari para pegiat dunia maya. Beberapa tulisan di blog ini juga sempat diperbincangkan di forum-forum. Yah, menulis telah menyadarkan saya akan dunia, mengasah ketajaman insting saya akan apa yang tengah terjadi di luar sana. Yah, saya bahagia dengan menulis. Oh ya, dibicarakan atau tidak, dibaca atau tidak, saya akan tetap menulis :)

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine