Dua Tangan

| Januari 01, 2014 | Sunting
Kantin - Ilustrasi | Credit: OmaQ
Seringkali saya merasa kasihan kepada kasir kantin tempat saya biasa makan. Pada jam-jam makan siang yang padat, tak jarang ia harus merangkap menjadi  pembuat minum. 

Skenarionya adalah, ia berdiri di belakang mesin kasir lantas menarik senyum begitu pembeli datang dan bertanya, "Nak minum apa? Mau minum apa?" Sejurus kemudian ia bergeser dari mesin kasir ke tumpukan gelas dan jejeran porong begitu mengetahui minuman apa yang dipesan si pembeli. Segera setelah minuman siap ia akan kembali ke mesin kasir, menghitung berapa ringgit yang harus dibayar oleh si pembeli, menerima uang (dan memberikan kembalian bila ada).

Hal tersebut tentu terlihat gampang. Tetapi skenario tersebut barulah untuk satu pembeli bukan? Pada jam makan siang yang padat, skenario tersebut harus dikali-lipatkan menjadi lima puluh, bahkan seratus. 

Belum lagi ia harus dihadapkan pada orang-orang yang tengah lapar dan harap segera mendapatkan pelayanan. Tak jarang ia mendapatkan pertanyaan semacam, "Boleh cepat sikit Kak? Bisa cepat sedikit Kak?". Dan pada titik inilah rasa iba itu datang. Atau mungkin lebih tepatnya jengkel.

Tidakkah orang-orang melihat bahwa si kasir hanya memiliki dua tangan? Dua tangan yang hanya bisa digunakan untuk melakukan satu pekerjaan. Waktu yang digunakannya untuk melayani pembeli selalu saja menggunakan operasi penjumlahan, tanpa operasi pengurangan (waktu). 

Jadi, ketika taruh saja masing-masing sequence dalam skenario yang sebut tadi memakan waktu 5 detik untuk menanyakan order, 3 detik untuk berjalan ke tempat miniman, 30 detik untuk membuat minuman pesanan, 3 detik untuk kembali ke mesin kasir, 10 detik untuk menghitung total uang yang harus dibayar, 7 detik untuk menerima dan memasukkan uang ke mesin kasir (dan 3 detik tambahan bila harus memberikan kembalian), maka total waktu yang dibutuhkannya akan selalu 61 detik, tidak mungkin dikurangi. Kecuali, ada pembeli yang tidak memesan minuman. Atau jika misalnya skenario diganti si pembeli membungkus makanannya, maka perlu ditambahkan waktu memasukkan makanan ke dalam plastik dan sebagainya.

Yang pasti, tidak pernah akan berkurang waktu yang dibutuhkan si kasir bila yang diharapkan ia bisa membuat minum sambil menerima uang pembayaran misalnya.

Lantas mengapa saya harus merasa iba? Bukankah ia bisa meminta bantuan kepada pegawai kantin lainnya misalnya, atau mungkin meminta pegawai tambahan kepada majikannya? Dan bukankah pembeli adalah raja yang mempunyai hak untuk dilayani dengan baik (dan bahagia)? 

Lagipula bukankah itu memang bagian dari pekerjaannya? Yang profesional dong, dia tahu kok pasti seperti apa risiko menyanggupi pekerjaan semacam itu.

Tenang. Karena alasan 'memang pekerjaannya' itulah perasaan iba ini muncul. Si kasir ini memang mendapatkan gaji untuk pekerjaan yang digelutinya. Dan anggap saja, gaji tersebut termasuk untuk melayani berbagai macam permintaan pembeli, konsumen. Tetapi, pada tahap ini saya merasa ada batas yang lantas harus ditarik jelas. 

Lebih dari sekadar konsumen yang konon memang pantas mendapatkan pelayanan nomor satu, kita tetap memosisikan diri sebagai manusia biasa yang, "Kami kan juga punya batas sabar!", "Kami kan buru-buru, cepat lah!", "Kami kan...!" dan kami, kami lainnya. 

Lantas, kenapa pada waktu yang sama kita lupa (atau berlagak lupa?) bila sebenarnya si kasir juga memiliki hak untuk misalnya menjawab, "Kami cuma ada dua tangan dan dua tangan kami baru bisa bekerja secepat ini!", atau bila mereka tega bisa saja mereka jawab, "Tidakkah cukup dua tangan kami, apa perlu kami gunakan pula dua kaki kami untuk melayani kalian?". 

Yah, mereka punya hak dan kesempatan untuk melakukan semua itu. Tapi mereka memilih tidak. Kenapa? 
"Saya paham kok pasti mereka ini sedang lapar, jadi wajarlah kalau minta cepat. Maaf juga kalau mungkin saya yang terlalu lambat bekerja, namun sepertinya ini sudah batas maksimal saya."

(Bukan Sekadar) Perpustakaan

| Desember 18, 2013 | Sunting
I have always imagined that Paradise will be a kind of library. ― Borges
Perpustakaan utama IIUM
Saat ini saya tengah duduk di sudut Dar al-Hikmah, perpustakaan kampus kami. Duduk. Yah, duduk. Tanpa aktivitas yang berarti. Apalagi perut saya mulas sedari tadi. Oh ya, saya memutuskan pergi ke perpustakaan karena tempat ini memiliki fasilitas tandas paling nyaman, hehe. Bersih, lampunya terang. Ini adalah tempat yang seringkali menjadi tempat keluarnya berbagai macam inspirasi. Dan begitulah, keinginan untuk menulis ini pun datang begitu saja ketika saya sedang jongkok di atas lubang kakus. Beberapa dari kalian mungkin menjadi sadar kenapa saya suka berlama-lama di perpustakaan ketika sedang banyak tugas! Bukan karena saya membaca bertumpuk-tumpuk buku ataupun mengulak-alik jurnal, tetapi karena saya suka berlama-lama di toilet, mencari inspirasi.

Perpustakaan adalah tempat yang begitu familiar bagi saya. Perpustakaan yang pertama saya kenal adalah perpustakaan SD saya, SDN 1 Tancep, Ngawen, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Ketika itu, perpustakaan menempati sebuah ruang kelas di sisi timur sekolah. Isinya, sebagaimana lazimnya perpustakaan di masa itu, adalah beberapa lajur rak buku dan juga beberapa lemari kayu yang kami sendiri tidak tahu apa isinya karena selalu dikunci. Di atas lemari berjajar beberapa piala ataupun plakat yang sudah demikian berdebu!

Koleksi buku didominasi oleh buku paket (buku pendamping pelajaran, saat itu semua buku masih dipinjami oleh sekolah), diikuti buku cerita rakyat semacam Asal-usul Banyuwangi, Sangkuriang dan juga buku-buku keterampilan. Saya ingat saya pernah membaca buku cara bertanam tomat, cara bertukang dan juga buku cara membuat mesin penetas. Sayangnya, perpustakaan SD kami tidak buka setiap hari. Seringkali bahkan perpustakaan dibuka karena kami mengendap-endap mengikuti guru yang masuk perpustakaan untuk mengambil buku saat jam istirahat.

Tidak ada meja baca di perpustakaan SD kami. Kami hampir selalu duduk di lantai ketika membaca. Oh ya, juga tidak ada sistem peminjaman yang jelas karena waktu itu tidak ada satupun petugas yang menjaga perpustakaan. Begitulah, perpustakaan SD kami adalah layaknya room-requirement-nya Harry Potter. Ia ada ketika memang dibutuhkan saja. Meski begitu, perpustakaan ini tetaplah bagian penting selama masa SD saya. Di sanalah saya menemukan kumpulan peta Indonesia secara lengkap untuk pertama kalinya - yang lantas membuat saya begitu mencintai peta. Di sana pula saya menemukan buku koleksi kebudayaan terbitan TMII yang menyuguhkan ragam budaya dari seluruh Indonesia. Pemantik keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang jauh, juga untuk pertama kalinya.

Perpustakaan lain yang mengisi masa kecil saya adalah perpustakaan masjid. Bukan benar-benar perpustakaan sebenarnya, hanya sebuah lemari kecil yang berisi majalah-majalah Islam, buku khutbah dan beberapa buku keagamaan lainnya. Di lemari itulah saya membaca cerita bersambung Ketika Mas Gagah Pergi di An-Nida. Juga begitu menyukai salah satu rubrik di majalah Ummi yang memberitakan aktivitas dakwah di pelosok-pelosok Nusantara. Perpustakaan masjid kami pulalah yang membuat saya membaca Habis Gelap Terbitlah Terang! Saya sendiri sebenarnya juga masih bagaimana ceritanya kumpulan catatan harian Kartini ini bisa sampai di lemari masjid, tetapi sudahlah.

Buku penting lain yang juga saya baca dari perpustakaan masjid adalah sebuah buku kecil dengan sampul pink gelap terbitan Mizan yang saya sendiri lupa judulnya. Intinya buku ini memaparkan peran Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Betapa bapak Kimia ternyata adalah ilmuwan Islam, betapa konsep pesawat terbang pertama kali dicoba oleh cendekiawan Muslim dan lain sebagainya.

Saat itu, perpustakaan seolah menjadi kerajaan pribadi saya karena memang bukan tongkrongan favorit teman-teman sebaya saya. Semuanya berlanjut hingga saya masuk SMP. Bedanya, perpustakaan SMP saya di Bayat, Klaten, Jawa Tengah memiliki pengunjung yang lebih banyak - walaupun tetap sedikit bila dibandingkan dengan jumlah murid. Tidak seperti perpustakaan SD kami yang menjadi satu dengan lajur ruang kelas, perpustakaan SMP kami, SMPN 1 Bayat, menempati satu bangunan terpisah di sisi selatan lapangan sekolah.

Perpustakaan SMP kamipun lebih luas. Selain itu, ia juga memiliki beberapa pustakawan - di antaranya yang saya ingat adalah Bu Marta dan Bu Sri Rejeki. Selain itu juga memiliki sistem peminjaman yang lebih jelas, ada buku pengunjung dan juga menyediakan meja baca. Rak buku menempel ke dinding. Menyisakan ruang di bagian tengah untuk membaca. Koleksi buku perpustakaan SMP kami sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perpustakaan SD: dominasi buku paket, buku cerita dan buku keterampilan. Bedaya, juga ada koleksi novel teenlit (yang tidak pernah saya jamah), buku sejarah dan buku-buku lainnya. Meski demikian, koleksi perpustakaan yang paling banyak "dibaca" adalah... BUKU TAHUNAN!


Jangan bayangkan buku tahunan ini adalah buku tahunan keren yang sudah terkonsep sedemikian rupa. Bukan! Bentuknya adalah kertas folio, ditempel foto 3x4, kemudian diketikkan identitas si pemilik foto di sampingnya. Setelah itu dijilid dan diperbanyak. Sehingga seringkali fotonyapun hanya terlihat hitam. Meski begitu, murid-murid SMP saya begitu menyukainya. Membuka lembar demi lembar, tertawa cekikikan, berpindah ke halaman lain, tertawa lagi, begitu seterusnya!


Gempa yang melanda Yogyakarta dan Klaten pada Mei 2006 membuat Perpustakaan SMPN 1 Bayat saya berubah total. Sekolah kami hampir rata dengan tanah karena digoyang gempa. Buku-buku perpustakaan lama kami, kata mbak Rini - istri tukang kebun sekolah, sebagian besar dijual ke tukang rosok (pengumpul barang bekas). Nah, Titian Foundation bersama ROTA , donor kami, membangun kembali sekolah yang sudah rata tanah, mereka turut membangun sebuah perpustakaan paling yang sangat nyaman.

Meja Sibuk - Perpustakaan SMPN 1 Bayat :D

Perpustakaan  baru kami kala itu memiliki lebih dari 2000 koleksi dengan tajuk yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Perpustakaan baru yang memperkenal saya dengan Pramoedya, N.H Dini, Putu Wijaya, Romo Mangun, hingga penulis-penulis manca semacam J.K Rowling, Han Nolan, Khaled Hossaeni hingga Harper Lee. Juga membuat saya membaca buku-buku dongeng bergambarnya Hans Christian Andersen. Ataupun seri kocaknya Roald Dahl. Perpustakaan baru inilah yang lantas membuat saya betah di sekolah karena jam bukanya yang sampai sore. Perpustakaan yang lantas juga merombak mind-set bahwa perpustakaan itu harus sepi, bau buku yang khas, sedikit gelap dan horor!

Bagian terpenting perpustakaan baru ini adalah pustakawan yang penuh dedikasi. Donor kami memperkenalkan sistem perpustakaan yang lebih terstruktur dengan bantuan teknologi, sehingga tenaga-tenaga baru lantas direkrut. Mereka yang lebih dari sekadar menjaga perpustakaan mereka juga menjadi teman, guru dan saudara kami: mbak Ning, mbak Ratih, mbak Sungsang dan bu Marta (pustakawan lama kami). Juga tentunya Bu Naning, koordinator (sepanjang masa) perpustakaan SMPN 1 Bayat :) Saat itulah kali pertama saya menemukan ada komunitas dongeng di perpustakaan, ada komunitas menulis di perpustakaan hingga nonton film bareng di perpustakaan! :) 

Di perpustakaan baru ini pulalah saya diperkenalkan dengan kerja-kerja sukarela. Perpustakaan memberi kesempatan siswa untuk menjadi sukarelawan perpustakaan, membantu pustakawan menjalankan tugasnya. Menata buku, melayani peminjaman, membantu pengunjung untuk mencari buku sampai menghias perpustakaan! Di mading perpustakaan juga puisi-puisi dan tulisan saya dimuat untuk pertama kalinya, huhu *ini bagian yang paling saya rindukan :")*

Yah, begitulah, perpustakaan lantas menjadi bagian dari keseharian saya semenjak perpustakaan baru SMP itu berhasil mengubah mind-set saya. Ketika saya SMA misalnya, walaupun kondisi perpustakaannya sama dengan perpustakaan kebanyakan, tetapi saya bisa menggali sisi-sisi menyenangkannya. Mulai dari seni berburu buku-buku lawas semacam Max Havelaar dan Sitti Nurbaya (yang seringkali sudah tidak lengkap halamannya), mencuri-curi baca novel-novel bertema kasur karya Fredy S, hingga bagaimana menjalin hubungan persahabatan dengan petugas yang nyatanya sangat bermanfaat!

Pustakawan SMPN 1 Bayat: Mbak Sungsang, Mbak Ratih, Mbak Ning

Dan sampai sekarang, perpustakaan bisa dibilang adalah dermaga yang paling banyak saya singgahi. Bukan untuk melulu membaca - apalagi akhir-akhir ini saya lumayan malas membaca - tetapi juga membuka keran-keran ilmu dari berbagai hal yang saya temui di sana. Mari mencintai perpustakaan :)

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine