Fredy S. dalam Remang Sastra Indonesia

| Februari 25, 2015 | Sunting
Fredy S
Sosok Fredy S. Ia dilahirkan di Semarang, 5 Mei 1954 dengan nama Bambang Eko Siswanto
Di sekolah saya, SMAN 1 Cawas, ada tradisi memberikan buku tinggalan untuk perpustakaan setiap jelang kelulusan. Satu murid satu buku. Karena tidak ada kriteria tertentu yang harus dipatuhi, pengumpulan buku tinggalan lebih mirip pengumpulan buku-buku yang akan diloakkan. Sampul koyak. Halaman tanggal. Bekas kopi atau teh bahkan kuah soto. Haha.

Dari tradisi inilah Bu Siti, guru bahasa Indonesia kami, sering menyebutkan satu nama penulis. Setengah bercanda, beliau katakan semua sumbangan akan diterima. Tetapi ada penulis-penulis yang bukunya masuk daftar "haram" untuk dijadikan sumbangan (dan bahan bacaan). Satu nama yang paling sering disebut adalah Fredy S. 

"Kakak-kakak kelas kalian itu ya, dulu, kalau sudah diberitahu jangan baca buku-buku Fredy S., malah itu yang dicari-cari. Siswa laki-laki terutama. Belinya rombongan. Begitu dapat langsung disampul dengan kertas koran. Kemudian dibaca bergantian. Kalau sudah selesai baru disumbangan!"

Dari ekspresi wajah Bu Siti kami kemudian paham bahwa Fredy S. adalah penulis novel-novel bertema "begituan". Saya sendiri waktu itu berpikir mungkin semacam beberapa buku Motinggo Busje. Oh ya, saya pernah sekali waktu terbaca Perempuan itu Bernama Barabah di perpustakaan sekolah. Novel biasa sebenarnya. Tetapi ada detail-detail cerita yang mengarah ke cerita vulgar –kalau bukan porno.

Menariknya, nama Motinggo Busje masih bisa ditemukan di buku-buku. RPUL, referensi nomor satu jaman SD dulu, misalnya masih memasukkan namanya ke dalam barisan penulis tahun 1960-an. Sementara nama Fredy S. tidak pernah terdengar. Paling tidak oleh telingaku.
***
"Bu, punya penulis ini mboten?", tanyaku pada seorang Ibu pemilik kios buku di pojokan Taman Pintar, seraya menyodorkan secarik kertas. Pertanyaanku itu sebenarnya hanya sekadar proses mengonfirmasi, karena kiosnya menjadi tujuanku berdasarkan petunjuk seorang pedagang lain.

Yah, tidak mudah mencari buku-buku penulis satu ini. Padahal konon jumlah buku yang ditulisnya menembus angka 500 buku. Seorang pedagang bahkan menanggapi sodoran kertasku dengan sedikit sinis, "Saya ndak jual yang begituan mas. Kecuali sampeyan carinya buku-buku sastra (?), ada saya!"

Namun, beruntung si Ibu menjawab tanyaku dengan senyuman lebar, tanda pembenaran. Sambil membenarkan posisi kerudungnya, beliau membuka kotak kayu di samping tempat duduknya. Lalu ia mengangkat setumpuk buku yang ditali dengan rafia.

"Buku pesanan Mas ini. Tapi ndak masalah kalau mau lihat dulu. Nanti ditulis saja mau yang mana, boleh diambil besok atau lusa!", terangnya panjang lebar sambil membuka ikatan rafia. Aku tersenyum. Senang tentu saja karena karena tidak perlu izin sudah langsung ditawari untuk membaca.

Buku-bukunya masih baru. Materi sampulnya hampir seragam: sosok seorang perempuan bersama seorang lelaki. Atau paling tidak seorang perempuan saja: berpakaian minim, beberapa bagian tubuh terlihat dan mimik muka seperti orang mau buang air.

Judulnya macam-macam. Cinta Kelabu, Cinta Tak Harus Memiliki, Derita Hati Seorang Istri, Segaris Harapan, Saat Cinta Mulai Menyentuh, Berandal-berandal Cinta, Senyummu adalah Tangisku, hingga yang sedikit simbolis semacam Senja Berkabut Sutra atau Rintihan Angsa Putih.

Penulisnya sudah jelas sama: Fredy S. Yah, si penulis "haram".

Derita Hati Seorang Istri yang lantas kuambil karena ada di bagian paling atas tumpukan. Si Ibu meminjami dhingklik. Derita Hati Seorang Istri mengisahkan sepasang sejoli: Robin dan Ayu Lestari. Klasik: mereka saling tertarik, tetapi keluarga tidak merestui. Tetapi keduanya nekat untuk menikah dan membangun rumah tangga.

Derita istri yang tersurat di judul bermula sejak awal pernikahan: Ayu tak disukai oleh keluarga Robin, ditambah pula Robin mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh dan tidak bisa bekerja. Ayu lantas menjadi satu-satunya pencari nafkah. Unsur erotis novel ini hampir tidak ada. Kecuali kalau memang kisah Ayu yang diganggu oleh bosnya dianggap demikian.

Tidak "puas" dengan novel pertama, kuambil buku selanjutnya: Saat Cinta Mulai Menyentuh. Latar ceritanya adalah satu desa di Brebes. Tokoh utamanya seorang kembang desa bernama Citra. Ia diperkosa seorang lelaki bernama Aldi hingga hamil. Keduanya kemudian dinikahkan. Cerita selanjutnya berkutat pada dendam Citra pada lelaki yang kini menjadi suaminya. Begitu saja kurang lebih. Lagi-lagi aku kurang paham dengan apa yang disebut erotis. Kecuali, sekali lagi, pemerkosaan adalah sesuatu yang erotis.

Dengan sedikit kecewa kukembalikan dua buku yang habis kubaca dalam waktu kurang dari satu jam ke tumpukannya. Kutunggu sebentar si Ibu yang masih sholat. Ia menanyaiku: mau pesan berapa dan yang mana saja. Aku lantas mengeluarkan jurus yang memang sudah siap: membeli empat majalah National Geographic bekas seharga 20 ribu, tanpa memesan satu judul pun buku Fredy S.
***
"Periodisasi sastra diperkenalkan salah satunya agar kita bisa melihat konteks karya sastra berdasarkan jamannya Bas. Sitti Nurbaya tentu tidak nyambung tanpa melihat masa penulisannya. Dari sana kita bisa tahu sequence lainnya. Misal kenapa bisa booming di kalangan pembaca dan sebagainya. Begitu pun dengan erotisme Fredy S. yang juga mempunyai masa dan massanya sendiri. Jaman dulu aku baca sih basah-basah juga...! Lagipula memang tak semua tulisan Fredy S. melulu soal ranjang sih!"
***
23 April 2009, Indonesia Buku meluncurkan sebuah buku tebal dengan judul panjang: Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan.

Tentu saja karya-karya besar yang masuk dalam daftar ini. Mulai dari yang tertua adalah Student Hidjo-nya Mas Marco terbitan tahun 1919, hingga yang paling anyar buku Andrea Hirata, Laskar Pelangi (2005). Di antara rentang tahun tersebut berjejer nama-nama seperti Marah Rusli, Amir Hamzah, ST Alisjahbana, Chairil Anwar, Sapardi Djoko DamonoPramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, hingga Eka Kurniawan dan Saut Situmorang. Turut masuk pula buku-buku karya tokoh bangsa seperti Semaoen (Hikayat Kadiroen, 1920) dan Dokter Soetomo (Kenang-kenangan, 1934). Semuanya disusun runtut berdasarkan tahun terbit.

Menariknya, urutan tiga puluh dua dalam daftar ini kosong tanpa nama. Muhiddin Dahlan, salah seorang penyusunnya, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa posisi tersebut sebenarnya milik Fredy S. Tetapi, keterbatasan informasi tentangnya membuat bagian tersebut dibiarkan kosong. Padahal, masih menurut mas Muhidin, Fredy S. bukanlah penulis ecek-ecek. Fredy S. dan novel-novelnya adalah penanda zaman. Salah satu premis pendukungnya adalah Heksalogi Terpidana yang mengulas intrik politik seputar tahun 65.

Tentang heksalogi tersebut, aku berkesempatan membaca tiga di antaranya: Bercinta dalam Gelap, Politik Bercinta, dan Belenggu Dosa. Semuanya diterbitkan pada 1989 oleh Penerbit Semarak, Jakarta. Isinya sama sekali berbeda dengan dua buku Fredy S. yang sempat kubaca di kios buku Taman Pintar. Memang masih mengingkat kisah cinta, tentang perselingkuhan tepatnya. Tetapi intrik politiknya terasa lebih kental.

Tokoh utamanya adalah redaktur Warta Kota bernama Tuti. Ia terlibat perselingkuhan dengan seorang anggota Dewan bernama Kusup. Mereka dimabuk cinta hingga suatu ketika si pria ingin menjadikan Tuti istri. Masalahnya Tuti sudah bersuami. Pelak saja ia menolak. Dan di sinilah intrik cinta bermula. Melibatkan gosip-gosip politik, Kusup dengan licik berusaha memisahkan Tuti dari suaminya. Di sini pulalah ungkapan-ungkapan semacam PKI, Lekra, komunis, ganyang Manikebu, hingga G30S disebut berkali-kali.

Sayangnya dengan kerja yang sedemikian bagus, terutama dalam heksalogi ini, Fredy S. tetap saja tercampak dari perbincangan sastra umum. Namanya bahkan dianggap tabu untuk disebut. Padahal di saat yang sama karya-karyanya dibaca luas hingga ke mancanegara. Beberapa perpustakaan di Malaysia dan Brunei masih menyimpan karya-karyanya hingga kini.

Di era 90-an, demi menghidupi diri dan keluarganya, Fredy S. mulai merambahi dunia sinema. Selain menulis skenario, ia juga menyutradarai beberapa sinema elektronik. Karya-karyanya masih muncul di televisi hingga awal 2000-an. Lelaki kelahiran Semarang, 5 Mei 1954 ini terserang stroke sekitar tahun 2002.
***
Akhir Januari lalu sebuah akun blog bernama Denala bergerilya menyambangi puluhan laman di dunia maya yang merekam karya-karya Fredy S. Pesannya di kotak komentar tiap tulisan sama. Inalilahi wainalilahi rojiun. R.I.P FREDY SISWANTO. Sat, January, 24 2015 - 16:00 WIB. One of the best novelist in Indonesia. I know I have to let you go, how do I will, I don't know. I know This is your time to die, what I don't know is how to say good bye. May you Rest in Peace Papa.

Fredy S. meninggal dunia pada tanggal 24 Januari 2015. Ia meninggal dalam remang. Media baru mulai memberitakan kematiannya beberapa hari kemudian setelah beberapa narablog meneruskan pesan Denala, kemudian diketahui milik putri sang penulis: Denala Damayanti, ke media sosial. Selamat jalan Fredy S.

Semoga duniamu sekarang terang benderang.

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine