Anies Baswedan: Saya Pilih Ikut Nyalakan Lilin

| September 12, 2013 | Sunting
Anies Baswedan
Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera.

Semoga email ini menemui Saudara dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif.
Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya mulai renungkan kembali tentang bangsa kita, tentang negeri ini. 

Para pendiri republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negawaran. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap  turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna politik dan politisi terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari 3 kali lipat dalam waktu kurang dari 8 tahun? Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Coba kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan bersih baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun motifnya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di partai-partai lain.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekadar kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer? Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekadar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggung-jawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera Merah Putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Repubik ini berdiri. Mereka berjuang menaikkan Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun, bukan sekadar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia mem-forward sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya Ketuhanan Yang Maha Esa diubah jadi keuangan yang maha kuasa dan seterusnya. Lalu Ia tuliskan, Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan 'gain' apa. Sebuah tamparan keras.

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederatan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah jembatan menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nekek kita, bahwa tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan bersih baru ikut turun tangan?
Saya pilih ikut ambil tanggung jawab, tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas: mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.
Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekadar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut pada apa kata sejarawan yang di kemudian hari akan menulis soal pilihan kita: diam atau turun tangan.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila di 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya bawa misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.
Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.
Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum jadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf­- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan sekadar soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan siap untuk berwarganegara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus. Istri mengatakan, yang penting jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita. Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi ibu lalu katakan, jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya. 

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, insyaAllah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Semoga kita masuki proses ini dengan kepala tegak, insyaAllah harus bisa jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza Azamta Fatawakkal Alallah ...  bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa ...

Semoga Allah Swt selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga makin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan

Bu Risma: Saya Tidak Punya Ambisi Politik

| September 03, 2013 | Sunting
Surabaya. Di kota terbesar kedua Indonesia ini, legenda berkisah tentang pertempuran dahsyat antara Sura, hiu putih raksasa dan Baya, si buaya. Berjumpa di sebuah sungai, keduanya bertempur dengan sengit demi memperebutkan supremasi kerajaan animalia. Tempat dimana pertempuran itu terjadi lantas dikenal sebagai luas Surabaya, kota hiu dan buaya. Perlambangan yang sama kemudian juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana kolonial (baca: para hiu dan buaya) mengendalikan kota tersebut selama berabad-abad.
Ibu Risma | Foto oleh Majalah Swa
Terletak di bagian utara pantai timur pulau Jawa, Surabaya sudah menjadi pelabuhan utama dan pusat perdagangan di Asia Tenggara sejak akhir tahun 1200 dan diperebutkan oleh berbagai pihak, sebelum akhirnya dikuasai oleh Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) selama tiga abad. Belanda kemudian menyerah kepada tentara Jepang pada 1942, yang kemudian menguasai Indonesia sampai mereka menyerah pada sekutu pada tahun 1945.

Pasca Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pergolakan antara pejuang kemerdekaan dengan pasukan Sekutu yang kembali ke Indonesia untuk mengambil tahanan perang kembali terjadi. Kematian Mallaby dalam baku tembak membangkitkan amarah Inggris untuk membumihanguskan kota. Pertempuran itulah yang kini diperingati sebagai titik balik perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang sama membuat masyarakat Indonesia menyebut Surabaya sebagai “kota Pahlawan”.

Hari ini, Surabaya memiliki pahlawan baru: walikota yang memberi nafas perubahan pada kota, Tri Rismaharini. Lebih dikenal sebagai Bu Risma, Walikota Surabaya ini adalah bagian dari generasi baru pemimpin Indonesia, pasca penerapan desentralisasi pemerintahan di seluruh Indonesia. Keberadaan orang-orang seperti Bu Risma bahkan disebut siap untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan nasional.

Sejak pukul 5.30 pagi, kerap kali Bu Wali sudah terlihat memunguti sampah di pinggiran jalan. Di siang hari, ia bermain bola dengan anak-anak di taman dan mengingatkan mereka untuk belajar giat. Saat malam datang, ia berpatroli ke taman-taman untuk menegur remaja-remaja yang keluyuran malam. Pun ketika lalu lintas macet, ia seringkali keluar dari mobilnya dan berinisiatif untuk mengatur lalu lintas. 

Risma juga masih sempat mendengarkan keluhan-keluhan warganya melalui sebuah program di radio. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan seputrar penggusuran, saluran air yang tersumbat bahkan kadang pertanyaan-pertanyaan yang kurang pantas.

Sebagai lulusan Teknik Arsitektur, Risma mengawali karirnya sebagai kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan di tahun 2005. Dan dibawah kendalinya, ia mengubah Surabaya, yang oleh seorang novelis Belanda disebut "kota kotor yang penuh pretensi dan kerakusan” menjadi Surabaya yang bersinar.

Di bawah pemerintahannya, kompleks pelacuran diubah menjadi Taman Kanak-Kanak. Bekas-bekas SPBU diubah jadi taman bermain. Spanduk-spanduk berisi himbauan untuk membuang sampah di tempat semestinya juga tersebar di penjuru kota. Semua itu membuat Surabaya memenangkan lusinan penghargaan sebagai pelopor kota ramah lingkungan. Dan di saat yang sama, kepemimpinannya juga berhasil menginspirasi warga kota untuk turut turun tangan merawat kotanya. Tahun lalu Surabaya meraih penghargaan sebagai kota dengan tingkat partisipasi publik terbaik di Asia Pasifik.

Tak hanya soal taman, Risma mempunyai program pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat kurang mampu – sembari merampingkan birokrasi untuk menekan inefisiensi. Putri seorang pedagang kecil ini juga rajin menimba ilmu dari kota lain. Mulai dari mengadopsi sistem lampu kota dari Berlin hingga teknik pengajaran yang lebih baik dari Seoul.

Salah satu target utamanya tidak hanya mengembangkan infrastruktur dan ekonomi kota, tetapi juga mengembangkan SDM kota Surabaya melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran publik yang menghabiskan 35 % dari APBD Surabaya untuk pendidikan, 15% lebih tinggi dari standar nasional.

“Saya tidak benar-benar memahami politik praktis,” ungkap Risma – sesuatu yang mengejutkan bila melihat pencapaiannya. Tetapi itu bisa jadi benar mengingat ia pernah hampir dimakzulkan saat awal masa jabatannya. Kala itu ia berencana menaikkan pajak reklame dan mengurangi tarif iklan bagi UKM.

Ketika ia menjabat sebagai Kepala Pengembangan Bangunan Kota, Risma dan keluarganya bahkan sampai mendapat ancaman pembunuhan karena gebrakannya mengimplementasikan sistem e-procurement. Melalui ini,  proses pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi lebih terbuka. Penekenan kontrakpun langsung dilakukan antara penyedia barang dan jasa dengan panitia pengadaan, sehingga menekan "kebocoran". Sistem tersebut bahkan berhasil menghemat 20-25% anggaran sehingga bisa dialihkan ke pembangunan jalan, jembatan dan area pedestarian.

Risma juga menjalin hubungan intensif dengan sektor swasta dan dengan cerdas mengendalikan birokrasi. Dua hari pasca pelantikannya, Risma menghadap wakil presiden untuk membahas proyek pembangunan pelabuhan yang telah terbengkalai selama beberapa dekade. Meskipun berulang kali disuruh pulang, Risma menolak sampai diteken kesepakatan untuk memulai pembangunan.

Peletakan batu pertama pembangunan pelabuhanpun dilakukan seminggu kemudian. Pembangunan ini berhasil meningkatkan lalu lintas kapal hingga 200%. Dan mendorong efisiensi dan peningkatan kapasitas pelayanan pelabuhan sebagai pintu gerbang ke provinsi-provinsi di Indonesia.

Risma juga bertemu dengan pemerintah Belgia untuk membahas potensi “sister city" antara Surabaya dan Antwerp, salah satu pelabuhan terpenting di Eropa. Kerja sama ini rencananya akan mengembangkan satu sistem yang membuat kapal kargo tidak perlu berlabuh di Singapura. Otomatis ini akan mengurangi biaya pengapalan antara dua pelabuhan dan membuat kedua kota tersebut menjadi lebih kompetitif.

Ide-ide kreatif semacam itu  telah mendorong pertumbuhan ekonomi Surabaya menjadi 7,5 persen sejak Risma menjabat pada tahun 2010 silam – sekaligus membuatnya meraih penghargaan bergengsi Woman Leader Award 2012 dari Globe Asia.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kemampuan dan kepemimpinan Risma adalah model kepemimpinan yang paling dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini? Majalah TEMPO pernah menulis misalnya, ...mungkin solusi permasalahan Indonesia selama ini sebenarnya ada pada sosok yang malah tidak pernah menghiasi halaman depan media nasional dan berada di wilayah yang jauh dari gemerlapnya Jakarta.
"Saya tidak punya ambisi politik," tegas Risma. "Menjadi walikota, gubernur atau bahkan presiden merupakan amanah yang luar biasa. Bukan hanya soal menyelesaikan masalah banjir atau semacamnya. Tetapi juga bagaimana bisa membantu masyarakat berdaya, agar mereka sukses."
Saat dia berbicara, saya teringat simbol kota Surabaya – hiu dan buaya yang tengah bergelut. Sebagai walikota, Ibu Risma tentu telah belajar untuk menjinakkan berbagai konflik kepentingan. Apa lagi yang mungkin bisa dia lakukan untuk Indonesia?

Artikel ini pertama kali dimuat di Huffington Post dan terjemahan pertama oleh Amalia Ayuningtyas.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine