Titik Akhir, Lintasan Ragu

| Desember 31, 2008 | Sunting
detik detik yang perlahan terangkai menjadi untaian menit tak terelakkan bila pada akhirnya menggumpal, dan tahun tlah mencapai pangkal secara tidak terhitungkan. yah tiada yang tahu kapan waktu akan berhenti bergulir, tetapi nyatanya ia terus mengalir lembut hingga mencapai hilir. kutersadar pabila ku semakin dikejar waktu, ia terus dan terus menghimpitku. aku tahu bahwa sesungguhnya ini adalah tahun yang lambat, tetapi dalam lambat yang sangat membuatku jengah itu terselip berbagai manfaat yang memintaku untuk senantiasa bersyukur atas umur yang masih terukur. dan pada akhirnya kini aku hanya mampu tuk sekedar menunduk dan merenung seraya mengulak-alik apa yang telah terlewati dalam setahun ini yang tlah tertumpuk rapi dalam lembar-lembar catatan kusam dan kemudian tentukan apa yang harus kulakukan: penyesalan atau senyum bangga penuh kemenangan.

namun sudahlah, apa yang telah terlanjur hanyalah akan menjadi ratapan sia-sia apabila kita tak segera mendongak menatap asa yang tergantung di depan sana. apa yang telah terlewati di belakang sana hanyalah sebuah pelajaran yang dapat kita petik, semoga apabila kembali terjadi di depan nanti kita sudah tahu apa yang harus kita kerjakan, tangan kita sudah tahu apa yang harus segara ia raih,dan kaki kita juga sudah mengetahui arah kemana ia akan pergi. yah memang tiada gunanya kita meratap sementara waktu tak mungkin terulang kembali karena memang waktu adalah dimensi satu arah yang berjalan lurus ke depan tanpa bisa melakukan pembelokan kembali ke belakang. rajutan inspirasi yang terus berlanjut menyatakan bahwa sudah saatnya kita tuk segera tanggalkan 2008, secerlang apapun ia karna masa yang mungkin akan lebih bersinar telah datang. tak bisa terelakkan pula bila segera kita satukan angan tentang apa saja yang kita impikan di tahun yang baru, karena jangan sampai kita telah bisa berdiri di atas suatu titik namun kita tak tahu apa yang akan kita lakukan di atas titik tersebut.

dan kini saat sebuah titik hampir saja terlampaui, kita harus segera menyiapkan bekal untuk titik selanjutnya. selayaknya seorang pemain sepak bola yang harus mempersiapkan stamina dan strategi untuk menghadapi pertandingan, kita juga harus seperti itu pula dalam konteks yang berbeda.satu langkah lagi kita akan segera menginjak dimensi waktu yang anyar dimana kita artinya juga harus segera melakukan sebuah adaptasi karena tak ayal sesuatu yang anyar pula yang akan kita temui. karena bukannya sebatang pohon akan semakin besarpula angin yang menerpanya apabila semakin tinggi batangnya??selain itu dengan umur yang semakin berisi tentunya di tahun yang akan datang (yang tinggal dalam hitungan jam akan datang, yah hitungan jam!!) kita tentunya harus segera mamikirkan kemana badan ini akan kita bawa sebagaimana impian masa kecil kita dahulu. entah jadi dokter, jadi pilot, jadi guru, walupun ada juga yang puas bermimpi menjadi tukang mimpi yang setia menyambangi berbagai tempat indah di bumi walau hanya dalam fantasi (walaupun pada akhirnya dia akan terantuk pula pada risiko terbesarnya : mimpinya buyar dipatok ayam). yah dan kini semua tergantung bagaimana greget kita untuk beranjak dan sesegera mungkin untuk membuka kotak pandora kita.

kidung kehidupan

Kilau aurora di langit Alaska
yah...hidup ini adalah bagaikan sebuah lintasan pendulum yang mengalun ke kanan dan ke kiri, sehingga apabila semakin jauh dia mengayun ke kanan maka semakin jauh pula ia mengayun ke kiri... 

mungkin sebagian dari kita menalarnya sebagai karma namun faktanya sesuatu di dunia ini selalu berpasang-pasangan.dalam warna, ada hitam ada putih.dalam dunia, ada perang ada damai...dalam cinta, ada nafsu ada kasih...semakin keras tawa kita hari ini, semakin seru pula tangis kita keesokan harinya.

semakin dalam kau melukai seorang manusia, semakin perih pula kau terlukai hidup ini adalah sebuah tatanan, bagaimana kita tetap berada di alur lurus... kalaupun memang harus, seminimal mungkin kita mengayun ke kanan dan ke kiri karena seminimal itu pula kita akan terhempas balik... karena banyak dari kita tak siap dengan pembalikan ini. 

alam sebagai pedoman, kembali, pekakan jiwa untuk membaca seringai alam, gejolak alam, eling amarang sasmithaning jagad... sebagaimana leluhur kira membangun peradaban ini, alam... sebagai sumber semua keberadaan... sebagaimana bumi, yang sekalian makhluk rela tumbuh dan berkembang di atasnya.

To Kill a Mockingbird: Sebuah Novel

| Desember 31, 2008 | Sunting
To Kull a Mockingbird, terbitan Qanita
Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah masalah yang menerpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan. – Diambil resensi di belakang buku.

Novel To Kill A Mockingbird adalah cerita tentang kehidupan keluarga Finch, yang terdiri dari Atticus Finch — seorang ayah dan juga pengacara dengan integritas tinggi. Kemudian Jem Finch, anak tertuanya yang belajar meneladani ayahnya, dan Jean Louise (Scout) Finch, anak perempuan Atticus yang sangat tomboi dan dari sudut pandangnya pula buku ini oleh Lee disajikan, dan Calpurnia, seorang wanita negro yang melayani keluarga Finch dari dulu.

Paruh pertama novel ini menggambarkan kehidupan keluarga Finch, dan situasi di kotanya, kota Maycomb County, Alabama, Amerika Serikat. Keluarga dalam Maycomb County, karakter manusianya, situasi sosial politik di masa itu (sekitar 1930-an). Bagian kedua adalah bagian saat Atticus mengambil kasus pemerkosaan yang dilakukan Tom Robinson (seorang negro) pada seorang gadis. Btw, novel ini nggak ada daftar isinya :p

Novel ini sepertinya adalah novel anak-anak. Novel anak-anak yang mempesona seorang anak kecil dalam diriku untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai kehidupan.

Contoh, tentang integritas. Novel ini memberi definisi tentang integritas, dengan Atticus Finch, seorang figur ayah teladan, walau tidak sempurna. Pertama adalah melakukan apa yang dikatakan. Kedua adalah karakter Atticus yang sangat kusukai yaitu bersikap sama di jalanan maupun di dalam rumah. Dan yang paling susah adalah mampu hidup dengan diri sendiri. Hal inilah yang membuat Atticus Finch mengambil kasus Tom Robinson, yang sudah dinyatakan bersalah oleh masyarakat bahkan sebelum masuk ke gedung pengadilan.

Novel ini juga menyuarakan tentang prasangka dan merupakan tema utama novel ini. Dimulai dari skala kecil, yaitu prasangka dari Scout, dan Jem Finch terhadap Boo Radley, tetangga mereka yang kacau dan tidak pernah keluar rumah. Mereka mulai membahas gosip-gosip tentang Boo Radley memakan kelinci mentah-mentah, membunuh ibunya, dll, ternyata…. (baca sendiri :D)

Lalu berlanjut ke prasangka terhadap keluarga-keluarga di Maycomb.Suara Alexandra, bibi Scout adalah suara prasangka ini. Mulai dari karakter keluarga Ewell yang pemalas dan hidup dari santunan keluarga, keluarga Cunningham yang miskin tapi tidak mau menerima gratisan, dll.

Novel berlanjut pada isu besar pada masa itu, rasialisme pada kulit hitam. Di Amerika Serikat bagian selatan, terjadi diskriminasi yang baru berakhir tahun 1960-an. Novel ini menyoroti hal itu lewat pengadilan Tom Robinson, seorang kulit hitam yang difitnah memperkosa seorang kulit putih, dan bagaimana para juri kulit putih, walau dengan bukti dan kesaksian yang meragukan, menyatakan Tom Robinson bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Novel ini juga menyoroti sikap diskriminasi dalam diri manusia, walau guru Scout mengutuk diskriminasi dan genosida Hitler, tapi dia sendiri melakukan diskriminasi terhadap orang negro. Hal ini mungkin bisa disamakandengan orang-orang yang membenci mati-matian orang Yahudi yang menindas rakyat Palestina, tapi melakukan diskriminasi terhadap suku bangsa yang senegara, yang hanya beda tempat ibadah dan kitab suci.

Meskipun isu yang dibahas berat, novel ini sangat ringan karena diceritakan dari sudut pandang Scout yang pada awal novel baru masuk SD. Cerita keseharian anak-anak, cara berpikir yang sederhana, lugu dan seringkali lebih jernih, hal ini membuatku malas menjadi dewasa, karena aku akan kehilangan banyak hal terutama kejernihan pikiran.

***

Dan dengan selesai membaca novel yang meraih penghargaan Pulitzer 1961 dan juga novel terbaik versi majalah Time ini, berarti bertambah pula koleksi buku yang aku baca tahun ini (Yaa.. Walaupun semua cuma pinjaman dari perpustakaan). Paling tidak dari apa yang masih ku ingat:

  • The Kite Runner
  • Dancing on the Edge
  • Laskar Pelangi
  • Ayat-ayat Cinta
  • Life of Pie
  • Larasati
  • Gadis Pantai
  • Bumi Manusia
  • Jejak Langkah
  • Anak Semua Bangsa
  • Lingkar Tanah Lingkar Air
Ada buku apalagi yah, karena aku lupa. Tapi dari apa yang sudah aku baca itu, semuanya seru deh, bener. Apalagi roman "Gadis Pantai"-nya dari Pramoedya Ananta Toer, aku bener-bener sampai kayak kesihir gitu. Pun dengan novelnya Khaled Hossaeni: "The Kite Runner" yang cukup menggurat nurani. Dan tentunya pun dengan novelnya Han Nolan yang mengusung sebuah kisah fantasi imaginatif tapi masih dalam lingkar nalar.

Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang

| Desember 31, 2008 | Sunting
Buah paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan mengapainya.
Maryamah Karpov merupakan novel terakhir Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi yang laris manis. Dalam karya pamungkasnya ini Andrea nampaknya memperlihatkan sisi lain serpihan cerita hidupnya. Cerita perjuangan meraih cinta sejati menjadi tema besar yang ingin diangkat si Ikal. Kecintaannya pada A Ling yang tak akan pernah lapuk dimakan waktu, walau meraka telah berpisah belasan tahun.
Maryamah Karpov
Sepulang dari petualangan intelektualnya ke Jakarta dan daratan Eropa, Ikal tetap setia dengan cinta pertamanya, si gadis Tionghoa dari kelompok Ho Pho, yang telah menyandranya dalam balutan cinta. Kegagalannya menemukan A Ling di benua Afrika dan belantara Eropa tak meluruhkan niatnya menemukan sang dewi berkuku indah tersebut. 

Bahkan kali ini Ikal bermaksud melakukab "ekspedisi gila" demi menemukan A Ling ke pulau Batuan dengan melintasi selat Karimata yang terkenal dengan gelombang besarnya. Juga kelompok perompak yang tak kalah ganasnya, sedia untuk menghabisinya. Akan tetapi Ikal tetap teguh berpendirian, walaupun itu mengantarkannya pada cobaan berat. Cobaan pertamanya adalah membuat perahu.

Ikal merupakan tipikal pemuda yang tak mau menyerah pada keadaan. Semakin keras teror mental yang ia terima, kian besar pula keinginannya untuk menemukan A Ling. Lika-liku membuat perahu juga mengantarkannya mendapati kenangan masa kecilnya bersama Laskar Pelangi. 

Anggota Laskar Pelangi mendukung penuh rencana Ikal tentang perahunya. Lintang, Mahar, Samson, Kucai, A Kiong, Trapani, Syahdan, Sahara, dan Harun. Mahar dan Lintang merupakan dua sosok terpenting dalam hal ini. Lintang tetap menjadi sosok genius yang berhasil meyakinkan Ikal mampu membuat perahu pada saat Ikal mulai frustasi. Membuat perahu merupakan pengalaman yang tak pernah terpikirkan oleh Ikal. Rumit, butuh ketelitian, ketepatan ukur, dan tentu saja seni. Rumus-rumus fisika Lintang membantu Ikal mewujudkan perahu asteroid yang memiliki kecepatan tinggi, dengan desain modern yang elok dan menawan. Ikal menamai perahunya "Mimpi-mimpi Lintang" .

Pulau demi pulau ia telusuri demi menemukan A Ling namun tak juga diketemukannya. Batas waktu yang diberikan padahal tinggal semalam, Ikal hampir saja patah arang. Beruntung di pulau akhir, pulau Kuburan, Ikal menemukan A Ling dalam keadaan sakit. Iikal kemuadian memboyong A Ling ke belitong dengan penuh kepuasan. Ia telah temukan mimpinya.

Seru, heroik, dan jenaka juga, itulah gambaran cerita Maryamah Karpov. Cerita cinta Ikal merupakan sebuah episode terpanjang cerita Laskar Pelangi. Andrea tidak hanya melulu mengajak pembaca pada alur cerita cinta Ikal. Namun juga serumpun cerita masyarakat Melayu Belitong. Keluguan, juga kesederhanaan, kemiskinan, "kemungkaran" bertaruh, dan kepolosan masyarakat Belitong digambarkan dalam sosok-sosok yang menarik. 

Makan Siang Bernama Tayangan Berita Kriminal

| Desember 30, 2008 | Sunting
Seorang copet digebuki massa…PSK tewas tenggelam di kejar-kejar polisi… Seorang ibu bunuh diri karena beban ekonomi…Polisi menggerebek judi togel… 
Salah satu program berita kriminal
Hampir setiap hari kabar kriminal di atas menjadi menu utama stasiun-stasiun televisi swasta kita. Berbagai macam berita “panas” ditayangkan seperti kasus pembunuhan, pemerasan, pencopet yang ditembak polisi, orang bunuh diri, pencurian sepeda motor, penggerebekan narkoba atau razia PSK di losmen-losmen kecil. Namun dibalik beragamnya modus kejahatan yang diberitakan, ada satu kesamaan fakta yaitu bahwa televisi hanya menayangkan tindak kriminalitas yang baik pelaku dan korbannya kebanyakan adalah orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan rendah, pengangguran atau mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Lokasi kejadian juga identik dengan keberadaan masyarakat kelas bawah, seperti perkampungan kumuh di kota-kota besar, lokalisasi, terminal, atau desa-desa miskin di pedalaman.

Program acara jenis ini pernah menjadi kontroversi karena dianggap berpotensi dalam menimbulkan gejolak sosial di masyarakat. Ada pendapat dimana tayangan kriminal di media massa – cetak atau elektronik- tayangan jenis ini justru akan menimbulkan keresahan psikologis masyarakat. Tayangan tersebut juga dinilai sebagai bukti bahwa media telah menyimpang dari fungsi idealnya yang salah satunya adalah berperan besar bagi terciptanya masyarakat beradab (civil society) karena media adalah sumber informasi dan gagasan yang bermakna bagi masyarakat.

Mereka yang sering diberitakan dalam berita kriminal seringkali adalah mereka yang termasuk dalam kelompok-kelompok masyarakat yang sering disebut kaum marginal, yaitu mereka yang secara sistematis tersubordinasi oleh sistem. Mereka tidak punya akses atas kehidupan yang lebih layak (pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan, partisipasi politik) sebagai akibat dari struktur sosial yang sengaja diciptakan oleh kelompok-kelompok tertentu yang berkuasa demi mempertahankan kepentingan dan kemapanan mereka sendiri.

Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah anak jalanan, petani miskin, buruh, nelayan kecil, kaum miskin kota, PSK, dan pengangguran, penyandang cacat. Di Indonesia, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi awal 1997 sampai saat ini di mana kondisi politik dan ekonomi masih belum stabil, warga negara yang termasuk dalam kategori kaum marginal semakin bertambah. Saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia diperkirakan sebanyak 45 juta jiwa dan angka pengangguran mencapai 12 juta orang.

Selain tayangan televisi, banyak surat kabar yang mengambil segmen khusus berita kriminal. Yang muncul dalam berita itu tentu kasus-kasus kelas teri seperti pencurian, pemerasan dan pencopetan, ditambah dengan pemuatan judul bombastis dan foto pelaku atau korban tindak kriminal.

Namun bukannya dibantu untuk mendapatkan akses atas ekonomi politik sosial dan budaya (Ekosob) yang menjadi hak asasi mereka, kaum marginal seakan semakin dipojokkan oleh struktur sosial yang memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua. Salah satunya adalah melalui tayangan berita kriminal di televisi atau koran kuning yang ikut memberi gambaran bahwa kaum marginal adalah bukan bagian dari kelompok masyarakat kebanyakan.

Lee Loevinger (1968) mengemukakan teori komunikasi yang disebutnya sebagai “reflective-projective theory”. Teori ini beranggapan bahwa media massa adalah cermin masyarakat yang mencerminkan suatu citra yang ambigu menimbulkan tafsiran yang bermacam-macam, sehingga pada media massa setiap orang memproyeksikan atau melihat citranya. Media massa mencerminkan citra khalayak, dan khalayak memproyeksikan citranya pada penyajian media massa.

Jadi pendapat Leo Loevinger tersebut benar karena berbagai tayangan kriminal di televisi dan di koran secara tidak langsung menjustifikasi mereka yang termasuk dalam kaum marginal adalah mereka yang sering membuat onar dan aksi kriminal di lingkungan masyarakat. Muncul persepsi dan stigma yang kuat bahwa kaum marginal identik dengan tindak kekerasan, perampokan, penodongan, pencabulan, pencurian atau pembunuhan.

Bahkan pelecehan martabat kemanusiaan itu juga dilakukan sampai detail. Dalam tayangan televisi, kaidah jurnalisme yang seharusnya melindungi privasi dan kerahasiaan identitas pelaku kejahatan juga dilanggar. Tanpa mengenal “belas kasihan”, kamera televisi tidak hanya mengejar dan menambil gambar pelaku, tetapi juga ekspresi ketidakberdayaan keluarga korban, bahkan juga sudut-sudut rumah yang merupakan ruang privat seseorang. Beberapa diantara para pelaku kemudian seperti dipaksa untuk menjawab pertanyaan dari para wartawan dengan dibantu aparat keamanan, bahkan ketika pelaku sudah tidak berdaya akibat amukan massa atau secara psikologis merasa malu pada publik.

Nurani dan nilai kemanusiaan dikalahkan oleh kepentingan pasar, baik itu rating di media elektronik, atau kenaikan tiras di media cetak. Inilah ironi yang saat ini ditampilkan oleh media massa kita yang semakin hari semakin memperlihatkan ketidakberpihakannya pada kaum marginal lewat tayangan pemberitaan masing-masing.

Dan dasar nasib mereka yang sudah kalah, televisi jarang memberitakan motif dan penyebab suatu tindakan kriminal tidak digali secara mendalam. Maka asumsi yang tertanam dalam benak publik kemudian adalah bahwa tindakan kriminal tersebut dilakukan semata akibat dorongan sifat dan jahat pelaku saja. Misalnya pemberitaan seorang pemulung kecil mencuri tape recorder karena tidak punya uang, seorang pengamen membunuh temannya karena kesal diejek, atau seorang lelaki yang bunuh diri. Tidak ada tayangan yang menampilkan sisi pemberitaan yang mengungkap bagaimana anak kecil tersebut bisa menjadi pemulung, bagaimana susahnya lapangan kerja membuat pemuda tersebut terpaksa mengamen, atau bagaimana kemiskinan memaksa seseorang nekad mengakhiri hidupnya.

Kondisi yang berbeda nampak dari cara media memperlakukan dengan istimewa terhadap pelaku kejahatan kerah putih. Jika seorang pejabat melakukan tindak pidana korupsi, media seakan berpihak dengan model pemberitaan yang mengesankan bahwa kasus itu bukanlah kejahatan kriminal yang meresahkan. Televisi menggelar dialog atau mewawancarai pelaku korupsi atau pengacara mereka yang ujung-ujungnnya menempatkan pelaku tindak pidana kerah putih mempunyai status sosial lebih tinggi, lengkap dengan para pakar yang berkomentar baik pro atau kontra, sehingga muncul kesan pejabat tersebut tidak sepenuhnya bersalah.

Hanya karena kepentingan nilai jual, format tayangan atau berita kriminal yang ada di televisi atau surat kabar kita secara tidak langsung telah membuat kaum marginal sebagai kelompok warga yang harus dicurigai dan diwaspadai karena setiap saat bisa merugikan warga lain yang secara status sosial lebih mapan. Dampak yang lebih besar adalah semakin sulitnya kaum marginal untuk mendapatkan pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan, administrasi dan lain sebagainya.

Meski demikian, tayangan berita kriminal tersebut menjadi tayangan yang cukup digemari masyarakat kita saat menanti makan siang atau menunggu antrian di bank atau di bandara. Jadi, jayalah pemilik televisi, pemilik koran, dan terimalah nasibmu wahai para kaum miskin, pencopet, dan warga pemukiman kumuh

Empat Tahun Setelah Tsunami

| Desember 27, 2008 | Sunting
Sisa-sisa tsunami yang menghempas ujung Sumatera, Desember 2014
Kemarin, 26 Desember. Tepat empat tahun yang lalu, terjadi satu bencana besar yang melanda bangsa ini, tepatnya di bagian paling barat Nusantara, yaitu di Aceh. Gempa yang kemudian disusul oleh tsunami, meluluhlantakkan serambi Mekah itu, dan juga negara-negara lainnya di sekitar Samudera Hindia. Lebih dari 200 ribu jiwa melayang di Aceh, karena banyak juga yang tidak ditemukan. Puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal, dan Aceh tak akan pernah sama lagi seperti dulu. 

Empat tahun telah berlalu. Masihkah kalian ingat peristiwa itu? Masihkah kalian ingat ketika pada waktu itu bangsa kita bersama-sama, bersatu pada, membangun kembali Aceh dan Nias, saling bahu membahu meyakinkan Tanah Rencong bahwa semuanya akan baik-baik saja meskipun susah untuk mewujudkannya, tapi kita bisa.

Kita bisa bersatu ketika itu. Bersatu membangun kembali tanah yang luluh lantak, cucuran keringat, cucuran dana, cucuran doa, semuanya tertuju ke sana... bahkan terjadi perubahan besar di mana GAM (Gerakan Aceh Merdeka) akhirnya mengakui Aceh sebagai bagian dari NKRI pasca tsunami... Bencana itu membawa berkah, walaupun ternyata memakan banyak sekali korban jiwa.

Semua itu telah berlalu. Masihkah kita ingat masa itu? Masihkah kini kita punya rasa belas kasihan itu? Masihkah kini kita tahu bagaimana caranya bahu membahu, tolong menolong, demi negara kita yang sedang di ujung napas ini?

Masihkah ada yang peduli dengan itu?

Pantai Baron, Kami Datang

| Desember 24, 2008 | Sunting
Nelayan Baron, melaut untuk penghidupan
Ladang jagung di tepian pantai kami
Istirahat melaut.
Baron... Kami datang :)

IRONI

| Desember 24, 2008 | Sunting
Ya... Just do it
Coba bayangkan, ketika masyarkat miskin membutuhkan sekitar $ 6 miliar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, sebanyak $ 8 miliar dihabiskan untuk keperluan kosmetik di AS saja. Ketika $ 9 miliar dibutuhkan masyarakat di Negara-negara miskin dan berkembang untuk perbaikan sistem sanitasi, sebesar $ 11 miliar dihabiskan untuk belanja es krim di Eropa. Pemeliharaan kesehatan dasar dan nutrisi masyarakat Negara miskin dan berkembang membutuhkan dana sekitar $ 13 miliar, di saat yang sama $ 17 miliar dihabiskan untuk pemenuhan kebutuhan hewan ternak di Eropa dan AS. 

Apa yang salah dengan cara berpikir manusia? Bagaimana mungkin mereka membiarkan sesamanya meninggal kelaparan di Sub-Sahara sementara mereka memaksa sapi dan babi-babi mereka untuk semakin gemuk? Saat tukang becak dan padagang kecil di kota-kota di Indonesia kesulitan untuk memeroleh setidaknya satu dolar per hari saja, atau sekitar sepuluh ribu rupiah, rata-rata sapi di Amerika Serikat dan Eropa disubsidi dengan makanan dan perawatan harian sebesar dua dolar.

Jangan-jangan benar kata Erich Fromm, semakin hari, seiring dengan bumi yang berlari, kemanusiaan kita semakin redup saja. Saat $ 105 miliar dihabiskan untuk mengkonsumsi minuman beralkohol di Eropa dan $ 35 miliar dihabiskan untuk keperluan hiburan di Jepang, masyarakat Ethopia, Burkina Faso, dan Negara-negara di gurun Afrika lainnya menyaksikan tubuh mereka sendiri yang makin kering, tulang-tulang iga yang makin menonjol, dan mata yang semakin cekung. Ungkapan TINA atau There is No Alternative, yang diungkapkan Margaret Teacher ketika memaksa semua Negara untuk tunduk pada globalisasi, rasanya lebih tepat untuk diungkapkan oleh ibu-ibu miskin di Burkina Faso yang terpaksa menguburkan bayi-bayi mereka lebih cepat karena mati kelaparan dan kekurangan nutrisi, there is no alternative.

Ironi ini begitu getir. Sampai di sini saya harus berhenti sejenak, mengehela napas, sembari menyadari bahwa hidup ini terus-menerus mengarah pada ketidakadilan yang kontras, yang diametral. Rasanya semua isme telah gagal memainkan perannya. Bukankah semua isme dilahirkan dan dihadirkan untuk membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik? Bila sudah begini, isme manakah yang berhasil? Komunisme, Sosialisme, Modernisme, Kapitalisme, Liberalisme, Posmodernisme, atau isme apa yang sudah membawa kehidupan manusia ke arah yang lebih baik? Ah!

Apa yang ditawarkan politik ekonomi global dengan jejaring kapitalisme liberal mereka? Ternyata tak lebih dari fenomena orang miskin yang mensubsidi orang kaya. The poor are subsidizing the rich. Orang kaya yang kelebihan uang dan bingung mau menghabiskannya untuk apa, menginvestasikan uang mereka di bank. Lalu bank meminjamkannya pada orang-orang miskin yang membutuhkan uang, untuk menyambung hidup atau sekedar tambahan modal usaha kecil, dengan bunga yang sangat besar.

Mereka harus mengangsurnya setiap bulan dengan bunga yang sudah ditambahkan dan terus-menerus diakumulasikan. Dan orang-orang kaya tadi, sambil duduk manis memegang remote control TV kabelnya menunggu jumlah uang dalam rekening dan rekaman investasi mereka bertambah setiap saat. “Kapan kita main golf bersama?” sahutnya lewat telepon pada temannya di Boston. “Minggu ini aku harus menonton opera di London.” Jawab temannya dari balik telepon. “Oh, baiklah, kalau begitu kita main golf setelah aku pulang dari Paris saja.” 

Dalam dunia yang penuh ketidakadilan, orang-orang hidup dalam sekat dan jurang yang begitu kontras. Keadilan menjadi sesuatu yang mustahil, tapi terus-menerus ditunggu dan diimpikan menjadi niscaya. Mungkin, pada saat keadilan semakin sulit ditemui dalam kehidupan itulah, konsep Ratu Adil kemudian muncul; keadilan menjadi sesuatu yang [terus-menerus] tertunda dan harus dinantikan. Sebab bagi orang-orang yang memercayainya, keadilan adalah sebuah keniscayaan yang tertunda.

Di tengah situasi semacam ini, saya jadi berpikir bahwa keadilan bukanlah kepastian. Keadilan hanyalah harapan. Inilah dunia yang penuh ironi: putuskanlah, kau hendak berdiri di mana? Ada sejumlah uang di sakumu yang mungkin akan kau habiskan untuk sebatang coklat, sebungkus rokok, atau hal-hal lain yang [semestinya] bisa ditunda. Pada saat yang sama, ada jutaan orang yang tak memiliki apapun, sedang berjuang di antara garis teramat tipis antara kehidupan dan kematian.

lagi-lagi dari sini

BOHONG

| Desember 24, 2008 | Sunting
Hidumg panjang si Pinokio
Kau pernah berbohong? Aku pernah. Bahkan mungkin sering. Bila kau tanyakan pada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kealpaan, bukan? Dan kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar.

Ibu melarangku bermain di sawah. Sejujurnya dengan alasan yang tak bisa kuterima dan tak sepenuhnya kumengerti. Tetapi teman-temanku semuanya main di sawah; memburu layang-layang atau sekedar menyusuri pematang. Dan aku terkucil karena berhari-hari menolak ajakan mereka bermain ke sana. Aku teguh pada apa yang di pesankan ibu padaku, tetapi pilahan itu adalah pilihan yang (me)sulit(kan).

“Ah, banci!” Kata temanku mengejak.
“Tapi Ibu melarangku bermain di sana.”
“Ayolah, ibumu nggak akan tahu, kan?”
 


Ya, ibu memang tak akan tahu sekalipun aku tak harus menyelinap belukar untuk bermain lumpur di sawah. Ibu tak pernah kemana-mana selain di rumah. Maka kuputuskan untuk melampaui “batas” yang ibu buat untukku. Diam-diam, aku menyelinap belukar, dan memandang sawah yang terbentang. Seorang teman menarik lenganku, “Ayo kita mencuri tomat!” katanya.  

Mencuri? Aku baru saja melakukan kesalahan pertama, haruskan kesalahan kedua segera menyusul? Rupanya memang begitu. Sekali pintu kesalahan terbuka, pintu lainnya begitu menggoda. “Aku tak ingin mencuri tomat!” Ucapku pada seseorang yang keluar dari dalam diriku dan setengah berlari mengikuti temanku si pencuri tomat. “Ayolah, sekali saja.” Katanya sambil terus berlari, menyunggingkan senyum mengejek di ujung bibirnya—seperti seseorang yang berkata, kau laki-laki pengecut.  

Lalu dengan dada yang berdebar, aku pun mencuri tomat.
*** 
Berkali-kali aku menembus sawah, berkali-kali aku mencuri tomat. Dan kini kami harus pulang melewati batas senja karena kami ketahuan oleh paman penjaga petak tomat ketika sedang berusaha mencurinya. Kami harus mengahadapi sidang susila di depan gubuk paman penjaga tomat.

“Oh, jadi kalian yang suka mencuri tomat!?” Bentaknya pada kami. Dadaku berdebar hebat. Andai saja bisa kuakali waktu, aku ingin menolak ajakan temanku dulu untuk melanggar pesan ibu. Andai saja bisa kuputuskan nadi waktu.

“Bukan, bukan, Paman. Kami bukan pencuri. Kami hanya mengambil tomat-tomat yang busuk untuk bermain perang tomat.” Salah seorang temanku membela diri.

“Ah, alasan!” Katanya. “Aku akan melaporkan kalian pada orang tua kalian masing-masing!”

Deg! Tiba-tiba aku sesak napas. Aku tak mau melukai perasaan ibuku. Aku tak mau membuat ayahku malu. Ah, andai saja bisa kuakali waktu. Aku menyesal, sedalam-dalamnya. Ah, tetapi penyesalan hanyalah orang suci yang entah pergi kemana ia sebelumnya.

Setelah berjanji tak akan mencuri tomat lagi, kami dilepaskan dengan sebuah ancaman; kalau sekali lagi ketahuan mencuri tomat, paman penjaga petak tomat tak akan segan melaporkan kami pada orang tua kami.
***
Menjelang adzan Isya, kami baru pulang ke rumah masing-masing. Dan Ibu marah padaku.


“Kamu kemana saja?” Tanya ibu.
“Main, Bu.” Jawabku agak lesu.
“Main dari mana jam segini baru pulang?”
“Eh… mmm… Dari rumah Ruli.” Tiba-tiba aku mendapati diriku menjadi pembohong hebat. Ah, dadaku kembali berdebar tak karuan. Aku bohong lagi pada ibu.
“Kenapa pulangnya malam begini?”
“Eh… mmm… ya main aja. Keasyikan. Aku mau mandi, ya, Bu?”
“Ya.”
 


Sore itu, aku jadi pembohong hebat. Aku tak tahu apakah bohong semacam itu mendapat dosa yang utuh? Aku tak berbohong, aku hanya tidak mengatakan yang sebenarnya, atau aku hanya mengatakan sebagiannya saja. Aku pikir Tuhan tahu kalau kebohonganku kali ini adalah kebohongan untuk menjaga perasaan ibu, dan kebohongan seperti itu ada sedikit kebaikannya. Tapi, apakah malaikat tahu bahwa kebohongan yang dilakukan untuk menjaga perasaan orang lain harus mendapat diskon karena ada sisi baiknya? Mudah-mudahan malaikat tahu.

Sejak itu, aku jadi terbiasa berbohong. Bahkan aku tak ingat soal apa saja kebohongan yang pernah kulakukan. Hanya, pikirku, kebohongan-kebohongan yang kulakukan canderung bisa dimaafkan. Misalnya, sewaktu kelas 3 SD, aku berbohong pernah pergi ke Jakarta ketika ibu guru bertanya siapa yang pernah ke Jakarta. Semua teman sekelasku mengacungkan tangan. Kecuali aku. Dengan terlambat aku mengacungkan tangan. Mungkin kebohongan semacam itu dosanya sedikit, ibu gurulah yang sebenarnya salah. Mengapa harus menanyakan hal-hal yang bisa membuat sebagain muridnya menjadi malu? Atau mungkin seharusnya begini: mengapa membuat pertanyaan yang mungkin membuat sebagian muridnya berbohong? Semua murid mengacungkan tangan waktu itu, dan aku tak tahu siapa yang sama berbohong sepertiku?

Tapi rupanya kebohongan tak akan membiarkan kita losos begitu saja. “Fahd, ke Jakartanya ke mana?” Tanya ibu guru. Ah, aku tak mungkin menjawab tidak tahu, kan? Aku ingat pernah menonton siaran soal Taman Impian Jaya Ancol. “Ke Ancol, Bu!” Jawabku.

“Wah, aku juga pernah ke sana!” Sahut Rendi. “Kamu naik Bianglala, kan?”
“Iya, donk!” Jawabku yang semakin fasih berbohong.
“Asyik ya?”
“Iya!” 

Ah kebohongan-kebohongan itu semakin tak bisa kulepaskan dari diriku. Sejak itu aku jadi tahu, kebohongan yang kecil sekalipun, meski sudah didiskon karena kita melakukannya untuk menjaga perasaan orang lain—atau perasaan kita sendiri, tetapi bisa jadi besar kerena jumlahnya yang banyak. Kebohongan tak bisa dihentikan. Aku tahu itu setelah kami selesai mengobrol panjang soal Jakarta dan Taman Impian Jaya Ancol yang hanya kulihat di TV itu.
***
Kali ini aku berbohong. Kebohongan yang kecil, sebenarnya. Tetapi kusadari merupakan bagian lain yang tersambung dengan kebohongan pertamaku dulu. Aku kecewa karena kali ini dadaku sudah tak berdebar lagi ketika berbohong. Apakah aku sudah menjadi pembohong hebat—yang bahkan tak akan terdekesi oleh mesin pelacak kebohongan karena tak ada debar yang istimewa? 

Aku tak tahu. Aku hanya kehilangan debar itu. Debar yang membuatku tak bisa tidur semalaman dan memaksaku berjanji tak akan berbohong lagi. Kau pernah berbohong? Aku sering. Bila kau tanyakan pada siapa aku pernah berbohong? Aku tak bisa mengingatnya lagi. Ingatan kita selalu pendek soal kesalahan-kesalahan, bukan? Dan kapankah aku pertama kali berbohong? Aku juga tak ingat kapan persisnya, tetapi itu kulakukan pada ibuku, di suatu sore yang membuat dadaku berdebar dan tubuhku gemetar. Seperti sudah kuceritakan kepadamu.

Bila kau pernah berbohong, pernahkah kau dibohongi? Ah, rasanya kita tak bisa lepas dari kebohongan-kebohongan. Berbohong-dibohongi. Kau bahkan tak tahu bahwa sejak tadi aku membohongimu dengan cerita soal masa laluku, bukan? Apa kau juga pura-pura membacaku dan berkomentar soal cerita-ceritaku?

Aku juga tak tahu.

dari sini

Nostalgia

| Desember 24, 2008 | Sunting
Antrean panjang pembelian minyak tanah
Bagaimanapun minyak tanah belum bisa lepas sepenuhnya dari kebutuhan masyarakat Indonesia, ia akan senantiasa dibutuhkan dalam situasi tertentu... Karena masih banyak yang masih bergantung sepenuhnya pada salah satu komoditas migas ini. 

Kalau listrik padam dan lampu mati, masih banyak juga mereka yang membutuhkan pasokan minyak tanah pada lampu teplok. Karena bila kegelapan mulai melanda saat listrik padam, lampu teplok kadang hadir sebagai dewa penyelamat untuk memberikan cahaya penerang...

Lalu darimana sumber bahan bakar lampu darurat itu kalau bukan dari minyak tanah. Lantas apakah dengan semakin tipisnya distribusi minyak tanah juga ikut membuat lampu teplok, petromaks dan lain-lain akan menjadi barang langka dan layak untuk dimuseumkan.. Oh itu semua hanya waktu yang mampu menjawabnya....

Dialah cahaya penerang waktu listrik belum masuk di Jogja dahulu.... Menjadi cahaya penerang saat senja datang dan petang menjelang. Menjadi teman membaca buku pelajaran menggambar waktu TK. Menjadi saksi saat mata mulai mengatup membawaku ke alam mimpi. Dan tahun 85-an saat itu listrik mulai menjamah dan menyambangi Jogja maka perlahan-lahan ia pun semakin tergusur...

 Maka seiring bergulirnya waktu ia pun telah tergantikan oleh pancaran sinar bola lampu yang berpijar akibat arus yang mengalirinya, dan lampu teplok dan petromaks hanya menjadi semacam 'ban serep'. Kala-kala diperlukan saja ia memfungsikan dirinya....

Kalau dulu cahaya lampu teplok serta pancaran sinar petromaks ini menjadi senjata utama saat malam datang, selain cahaya alami dari bulan purnama yang terasa amat sangat terang waktu pada masa itu. Hahaha.. Sangat jauh dengan kondisi sekarang ini, dimana sinarnya tak lebih terang dari lampu pijar 5 Watt... 

Bulan bulat penuh
Bermain-main dengan teman sebaya di bawah sinar bulan purnama adalah suatu anugerah yang tak terkira. Bergerak riang kesana kemari. Berlarian, berkejaran... Kami bisa berteriak-teriak seolah tidak ada makhluk lain selain kami. Oh, tidak seperti sekarang seolah kita telah terhipnotis untuk duduk manis di hadapan monitor, entah monitor televisi ataupun komputer...

Sekarang semakin sulit menemui anak-anak kecil yang bermain gobak sodor, lompat tali, betengan, petak umpet dan aneka macam permainan tradisional lainnya saat bulan menampakkan wajahnya di langit malam. Semakin jarang pula orang-orang yang berkumpul bersama bercerita dan menghabiskan malam walaupun hanya sekedar duduk-duduk omong-omong kosong memandangi kerlip bintang dan cahya rembulan. Modernitas membuat aspek manusia sosial kita semakin luntur... Mungkinkah?

Anugerah Hidup

| Desember 24, 2008 | Sunting
Kelap kelip, warna warni kehidupan
Sebenarnya tiada yang istimewa dengan mendung, karena hanya peristiwa alam biasa yang sering  datang ketika musim hujan sudah tiba. Tak ada yang bermakna dengan angin sepoi-sepoi yang menusuk ke tiap relung tubuh ini.

Bintangpun yang berkedip di malam hari, juga fenomena lazim di langit. Bulan  nan bersinar hanya bagian dari rangkaian rotasi perputaran waktu.

Namun, kenapa gejala alam ini melayangkan diriku ke alam yang lain. Suasana yang membuatku hanyut dalam dunia, yang aku sendiri juga tak mengerti. 

Entahlah…

Saat-saat itulah ada tentram dalam kekalutan akan masa depan. Saat itulah kenangan melintas dalam ingatan. Saat itulah, diri merasa takjub dan mengakui kealpaan. Saat itu, hati menjadi lembut untuk menitiskan bulir demi bulir airmata dan senyum keikhlasan.

Tuhan, telah Engkau ciptakan  hidup ini dengan romantika. Dalam sedih, ada tawa. Dalam duka, ada senda. Dalam cemas, ada harap. Ketika benci, Engkau iringkannya dengan cinta.

Sungguh Engkau ciptakan diri ini tiada sia-sia. Dan takdir bukanlah keterlemparan dalam jejak-jejak langkah yang membuat diri terasing  dalam kedukaan.

Tuhan, aku ingin bersyukur pada-Mu atas anugerah teramat indah ini. Dalam tarikan nafas yang terus diburu oleh nafsu yang menari. Dalam amarah, yang membakar seluruh sendi.

Sungguh ibadahku padamu tiada murni. Karena tubuhkupun dibalut noda yang tak dapat kuhindari. Tapi ku tahu, pengampunanMu begitu luas.

Hikayat Si Pria Sakit

| Desember 18, 2008 | Sunting
ini adalah sebuah hikayat tentang si pria sakit. hidupnya adalah  untuk obat. seperti  para penderita malaria dengan pil kininenya. ataupun para pengidap de-em dengan suntikan insulinnya.

ia diasingkan ke sebuah daerah terpencil hanya untuk meminimalkan biaya. namun, ia coba untuk tegar dan membuat hatinya bahagia. karna memang hanya itulah yang bisa mengisi sisa usia yang diberikanNya menjadi lebih bermakna.

hingga kemudian ia temukan cinta tulus sesamanya. hidupnya seolah menemukan sebuah titian. walaupun ia harus menyimpan rapat semua informasi tentang dirinya karena memang ia tak mau hubungan yang perlahan telah membuat hidupnya berbunga menjadi berantakan cuma karna penyakit yang menggerogoti tubuhnya. 

terdengar seperti sinetron. memang

tiada hal lain yang diungkapkannya selain tawa. tak ada cerita tentang pil-pil sebesar kancing yang setia awali paginya, ataupun kulitnya yang pelan tapi pasti telah menjadi kebal kepada jarum suntik.

yah ia tak ingin belahan jiwanya terluka. 

tapi sandiwara pria itu mulailah terbongkar kala belahan jiwanya datang ke tempat pria itu lahir untuk sekedar kencan. si pria sakit tak mau belahan jiwanya tahu bila ia tidaklah lebih dari pesakitan yang mungkin tinggal menghitung hari untuk menanti ajal. bukannya karna ia takut ditinggal belahan jiwanya. tapi hanya karena ia takut membuat belahan jiwanya itu menangis.

telah diingatnya selalu lantunan kidung cinta mulan: bukannya aku takut kehilangan dirimu tapi aku takut, kehilangan cintamu... 

aaaggh sungguh  kisah cinta yang pragmatis. hati nurani berusaha dimainkan karena tidak ingin melihat orang yang ia cintai bersedih. ia memilih untuk biarkan belahan jiwanya pergi mencari penggantinya  karna memang cinta baginya tuk sebuah bahagia, bukan untuk bulir-bulit air mata.

malam ini adalah malam ke sembilan pria sakit itu tergolek di atas dipan karena demam yang menyerang semenjak belahan jiwanya berencana untuk mengunjunginya.

yah, hikayat pria sakit ini kan berubah menjadi layaknya hikayat hulubalang raja dimana perlahan ia menguap dan hilang. adakah yang kemudian bisa membantunya untuk menyelesaikan apa yang tengah mengguncang kisah cintanya?! 

apalagi ia tidak ingin gemilang cahaya senja di rinjani perlahan menghilang dari doanya di penghujung malam. disinilah kuberusaha untuk mendulang simpati semua orang yang telah mengenal cinta karna memang hubungan pria sakit itu telah darurat, tidaklah ada yg sekarang dapat ia perbuat kecuali termangu merenungi nasib. 
Bebz, aq pcy sm  kmu tp knp jd  bgn, y udah aq gbs maksa,thanks bebz kmu prnh cnta sm aq, aq gprnh kecewa sm kmu, ttp brpijar y bebz

Puisi Penantian

| Desember 14, 2008 | Sunting


untuk seseorang
yang bertapa di
dalam sunyinya
senja di rinjani,
cerlang cahaya
adalah layaknya
cerlang namany
dalam kalbuku

kini aku tengah
menantimu, yah
menantikanmu,
mengejang pada
kembang randu
alas mentaok di
paripurna musim
yang sudah mulai
gundul itu
berapa purnama
saja menguncup
dalam diriku dan
kemudian luruh
yang telah hati-
hati kucatat, tapi
diam-diam telah
terlepas
awan-awan kecil
perlahan mereka
berderak lintasi
jembatan kusam
itu, yah kumasih
menantikanmu
untuk segera
hengkang dari
tapamu, musim
tlah mengembun

di antara batang
bulu bulu mataku
kumendengar
berulang suara
glombang udara
memecah nafsu
dan gairah demi
telanjang di sini,
ribuan bintang
gemintang cemas

telah rontoklah
sekian kemarau
yang tipis, namun
mendadak sunyi.
dan, kemudian di
dalam riuh bunga
randu alas dan
pudup kembang
turi merah aku
pun menanti

Indomie Rebus Puskesmas

| Desember 13, 2008 | Sunting
datang juga akhirnya hari minggu. capek, begitulah kesan minggu ini. sudah pada mau copot rasanya semua tulangku. otak rasanyapun sudah sampai mengkerut karna harus kerja rodi untuk seminggu ini. kapasitasnya kudu dinaikin sekian GB untuk merangkum ulang pelajaran satu semester ini demi menghadapi semesteran. akhirnya dari pulang sekolah tiduran saja di depan tv, walau akhirnya jemu juga mata ini si layar kotak sampah. ditambah lagi dengan rasa kantuk yang mendera. mataku berair bahkan.

tapi perut ini laper banget, bahkan sampe nanggap orkes dangdut juga, berdendang riang. refleks, langsung deh meluncur ke dapur, mencari makanan, yah berburu kaya pitekantropus gitu, uuh tapi daging lagi yg dominan. hilang deh nafsuku untuk makan. ididih males? sok jadi orang kaya, memangnya ga inget biasanya kalau makan pakai garam doang? haha eitz, bukan gt bozz, tapi neh cuma karena sejak kurban aku makan daging terus. apa gak bosen hayo? memangnya juga diriku ini karnivora? so, setelah melalui rapat pleno (?) yg cukup alot, aku putuskan untuk makan di luar. 

target awal: makan mie ayam ndawung yang yummy. rincian dana:
  • mie @ 4500
  • es @ 1500
lalu, berangkatlah aku dengan modal duit 6250 dalam kantong (belum termasuk yg di dompet, di dalam kaos kaki, di bawah topi lho, ckck).

20 menit kemudian, akhirnya sampai juga, tapi ya Allah... penuh! padahalkan aku cari yg sepi? yawis, kubiarkan mimpiku sirna. target selanjutnya adalah bakso lumayan kang sabar. berdasarkan pada catatan sejarah bakso kang sabar ini baksonya dibuat sendiri, maknyus. dipadu ama bumbu yg pas, kluwaknyapun terasa, namun aaah ternyata tutup!!! piye ki jal? perutku sudah melilit lilit. kemana neh?

saya terus ke barat, menurut agen FBI, banyak warung mie ayam di sepanjang jalan. tetapi entah karna ni hari sabtu kliwon atau apalah, sebagian besar tutup :(

duh, padahal perutku udah bener2 laper, orkes dang-dutnya sudah keras banget. dah laper neh, napa seh gak ke kfc tau mcd aja? pasti qan ada tempat, dan aku gak tersiksa kaya gini, apalagi pelayannya cantik2 lho, kurang lebih gitu gerutuan perutku yg aku sadap dengan teknologi CG01. 


aku terus mengayuh sepedaku, hingga sampai depan puskesmas kalicangak kepalaku sudah pusing banget, perut sudah ga bisa kompromi. ydh, akhirnya masuk warung nasi depan puskesmas pesen indomie rebus.  tahu kalo gini mau gawe dhewe.

Indomie rebus

KEPLAYU

| Desember 10, 2008 | Sunting
:kanggo koruptor
lamun kowe isa mlayu,
supaya ora mlebu pakunjaraning,
panggonan kang tentrem ora bakalan tinemu,
amerga ngendi-ngendi ana pakunjaran
dhuwit saka kas negara bakal dadi kuburanmu,
tanpa kenanga,
tanpa dupa
lan putra putrimu bakalan bingung milih doa kanggo siro,
amerga siro pancen wis ora pantes nggayuh swargaloka
saupama arep mertobat,
wis kebacut wareg mangan dhuwite rakyat,
dosamu uga mring rakyat
kang kuwasa ra duwe hak paring pangaksama
ora ana gunane kowe mlayu apa minggat,
utawa malih rupa kanthi operasi.
amerga playumu tetep ing salumahing bumi.
ben wengi bakal klisak-klisik ing turu wengimu
mula ora susah keplayu,
luwih becik tetep ing omahmu,
amerga kabeh palu wus bisa katuku,
pakunjaran uga wis kebak karo kanca-kancamu
***

geguritan adalah puisi jawa yang biasa digunakan untuk menyampaikan petuah-petuah hidup. namun perkembangan zaman menjadikan geguritan lebih fleksibel - seperti puisi modern pada umumnya. beberapa tokoh geguritan misalnya: 
  • J.F.X Hoery, menerbitkan buku kumpulan geguritan bertajuk PAGELARAN pada tahun 2003 lalu. 
  • Turiyo Ragil Putro, baru saja dapatkan kusal Rancage, berkat antologi Bledheg Segara Kidul-nya. 
  • A. Aminoedhin, buku terbaru tokoh dari jawa timur ini adalah Tanpa Miprat. 
selain tokoh-tokoh tersebut, banyak tokoh geguritan lain yang tersebar di di berbagai wilayah di pulau Jawa. Ditambah lagi, ada beberapa media yang masih peduli terhadap warisan budaya ini dengan dengan slot khusus untuk geguritan. Sebut saja Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Mekar Sari, hingga majalah khusus berbahasa Jawa semacam Jayabaya, Jaka Lodhang dan Panyebar Semangat.

geguritan diatas adalah refleksi hari anti korupsi, 9 desember kemarin. apalagi dengan budaya korupsi yg dah bak jamur di musim hujan.. para abdi negara pada gengsi kalo ampe selama ia mengabdi blom pernah korupsi, ck,ck. bahkan korupsi berani juga merambah kursi penegak hukum, kaya pak hakim, pak jaksa gitu dengan mau nerima sejenis uang pelicin gitu, padahal tuh kalo dah terlalu licin mreka bisa pada kepleset, nah lo!!

ga kasian pa ma rakyat? mereka pada kelaparan sampai makan sandal, bantal, bahkan aspal!!! apa perlu juga BI nambah tulisan di lembaran uang :JANGAN DIKORUP haha. duh pada ga bisa bayangin pa kalo itu dosa? amit2 dah.

bang becak, jangan malu, lebih tinggi harga dirimu daripada para koruptor itu, Kalian makan dg duit halal. para pemulung, tubuh kalian gak lebih bau dari BB koruptor (walau ketek mreka dah pake deodoran),

koruptor: KE LAUT SANA, isin pak, bocah tuwa ra pareng nakal lhoo.

Empat Sajak Sapardi

| Desember 07, 2008 | Sunting
Sapardi, Februari lalu. Foto milik Gieb

Layang-layang

Layang-layang barulah layang-layang jika ada angin memainkannya. Sementara terikat pada benang panjang, ia tak boleh diam — menggeleng ke kiri ke kanan, menukik, menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain. Sejak membuatnya dari kertas tipis dan potongan bambu, anak-anak itu telah menjanjikan pertemuannya dengan angin.

“Kita akan panggil angin Barat, bukan badai atau petir. Kita akan minta kambing mengembik, kuda meringkik, dan sapi melenguh agar angin meniupkan gerak-gerikmu, mengatur tegang-kendurnya benang itu.” Sejak itu ia tak habis-habisnya mengagumi angin, terutama ketika siang melandai dan aroma sore tercium di atas kota kecil itu.

Dari angkasa disaksikannya kelak-kelok anak sungai, pohon-pohon jambu, asam jawa, bunga sepatu, lamtara, gang-gang kecil, orang-orang menimba di sumur tua, dan satu-dua sepeda melintas di jalan raya.

Ia suka gemas pada angin. Ia telah menghayati sentuhan, terpaan, dan bantingannya; mungkin itu tanda bahwa ia telah mencintainya. Ia barulah layang-layang jika melayang, meski tak berhak membayangkan wajah angin.

Iklan

Ia penggemar berat iklan. “Iklan itu sebenar-benar hiburan,” kata lelaki itu. “Siaran berita dan cerita itu sekedar selingan.” Ia tahan seharian di depan televisi. Istrinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang kacang atau kentang goreng untuk menemaninya mengunyah iklan.

Anak perempuannya suka menatapnya aneh jika ia menirukan lagu iklan supermi — kepalanya bergoyang-goyang dan matanya berbinar-binar. Anak lelakinya sering memandangnya curiga jika ia tertawa melihat badut itu mengiklankan sepatu sandal — kakinya digerak-gerakkannya ke kanan-kiri. Dan istrinya suka tidak paham jika ia mendadak terbahak-bahak ketika menyaksikan iklan tentang kepedulian sosial itu — dua tangannya terkepal dan dihentak-hentakkannya.

Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang terakhir diucapkannya sebelum “Allahuakbar” adalah “Hidup Iklan!” Sejak itu istrinya gemar duduk di depan televisi, bersama anak-anaknya, menebak-nebak iklan mana gerangan yang menurut dokter itu telah menyebabkannya begitu bersemangat sehingga jantungnya mendadak berhenti.

(Hingga teringat ia omongan suaminya beberapa hari berlalu: "Monyet-monyet itu ngomong Kem!")

KATA, 1

Matahari, yang akhir-akhir ini jarang sekali kauperhatikan, pagi ini menerobos celah-celah jendela kamar sampai ke wajahmu.

“Jam berapa ini?” Sudah pagi. Masih juga belum kautemukan kata sambung itu. Kau kenal betul setiap kata yang ada dalam kamus itu, karena ikut menyusunnya dulu: yang, karena, dari, atas, terhadap — tetapi bukan semua tu.

Akhirnya kauperhatikan juga matahari itu, dan kau seperti bertanya sejak kapan ia berada di sana, sejak kapan ia seperti suka menyalah-nyalahkan kita, sejak kapan ia  menyebabkan kau bertanya, “Jam berapa ini?”

Masalahnya, belum juga kautemukan kata sambung itu. Apakah kami berhak mengatakan padamu, “Sudahlah!”?

KATA, 2

“Ada sepatah kata bergerak ke sana ke mari jauh dalam dirimu; biarkan saja, ia tak punya bahasa.”

Tapi ia suka membangunkanku.

“Biarkan saja. Ia toh akhirnya akan menyadari bahwa bukan yang kaucari, dan akan mengembara lagi jauh dalam dirimu jika kau terjaga dan tenang kembali.”

Tapi aku tak bisa lagi terjaga.
— Empat puisi ini merupakan bagian dari Kumpulan Puisi, Ayat-ayat Api. Bentuk paragraf sama sekali berbeda dengan aslinya. Tulisan bercetak tebal pada puisi Iklan adalah tambahan pribadi. :)

Persahabatan

| Desember 06, 2008 | Sunting
Kemarin malam, setelah Maghrib begitu tepatnya, telepon genggamku bergetar. Ada SMS masuk.
Innalillahi wainna illaihi rajiun, telah pergi meninggalkan kita semua, Rizal Andianto, 05 Des 2008..
Deg. Siapa coba yang tidak cemas begitu membaca pesan semacam itu? Kalimat Innalillahi wainna illaihi rajiun, lalu diikuti nama teman kita. Ya Allah, kenapa Rizal harus pergi secepat ini?, pikirku.

Setelah sekian lama pertemanan kami, saat itulah kurasakan betapa teman-teman memiliki tempat tersendiri di sanubari. Kemarin hari ketika ayah teman meninggal saja tidak terlukis sedihnya, apalagi sekarang teman sendiri? :( 

Kami tiap hari bertemu, ngobrol - apalagi ia duduk tepat di depan tempat dudukku. Ah, nangis.

Langsung aku forward pesannya ke teman-teman. Walau ternyata mereka juga sudah mendapatkan kabarnya. Tapi, balasan Guruh - ketua kelas kami, malah sedikit berbeda, "Mung teror iku, diwoco nganti ngisor Bas. Aku wis arep nangis, nanging bulane... Ah, wacanen dhewe Bas."

Akhirnya kubuka ulang pesannya. Benar ternyata. Pesan tadi belum selesai. Ada spasi berratus kali yang memisahkannya dari penutup pesannya, _untuk hijrah ke London nemenin the Changcuters.

Humm... Diisengi oleh teman sendiri itu rasanya.. Awas kowe Zal.

Lalu bagaimana respon teman-teman kelas pagi tadi?

Alfian rasanya yang paling geram nih, marah banget dia. "Cah kok.. Oooo.." Yuli, cewek paling gila di kelas ngomong, "Aaah Ical, pintar banget membuat hatiku mau jatuh!" Didik, benar bahwa kullu nafsin zaikotil maut Zal. Tapi gak usah buat teman sport jantung.. Eddy, "Aah sorry Zal, aku wingi ora nglayat. Aku lagi latihan band!"

Sahabat selamanya
Yah, demikianlah bukti kebodohanku dan teman-teman. Tapi ada hal yang rasanya harus digaris bawahi dan ditebalkan di sini: ada hal-hal tertentu yang ternyata membuat kita merasakan betapa indahnya persahabatan.

Dan... Inilah kabar terakhir dari Rizal: Ini adalah layanan IM3 Friendship. Pelanggan nomor 085647535*** meminta ANDA u/ tdk melupakannya, menyayanginya sebagai seorang sahabat dan maafkan segala kesalahannya. Terima Kasih.

Catatan Acak

| Desember 04, 2008 | Sunting
03:40 pagi. Sudah sampai jam segini belum juga bisa tertidur lagi. mata inginnya jelalatan melulu ngelihatin yang kagak penting. huuh
- ada cicak di dinding
- ada nyamuk terperangkap di kelambu
Dan sebangsanya yang jenis dan bentuknya bermacam-macam, aneh-aneh.

Bahkan akhirnya aku ingin sekali berteriak. Berteriak di tengah malam, (enggak aahh, bisa-bisa dikira lolongan anjing di ujung malam nanti). Akhirnya aku menuntaskan hasrat untuk berteriak, dengan bernyanyi sajalah.

Tapi karena dasarnya pikiran sedang ngelantur, akhirnya malah kepikiran yang lain-lain juga. Mau nyanyi pelan atau keras ya? Kalau pelan-pelan nanti dikira rintihan kuntilanak yang tak sengaja dikencingi orang, tapi mau keras-keraspun nanti dipikirnya orang gila yang baru pulang klayapan. 

Jadi, akhirnya memilih yang sedang-sedang sajalah. Lalu mau nyanyi apa hayo? Bingung nih ditambah pilihannya tidak hanya satu: kepompong, kucing garong, terima kasih cinta, walau habis terang sampai sedari dulu.

Pusing.

Sehingga akhirnya saya malah memilih untuk mendendangkan Kisah Cintakunya Peterpan. Lagu yang ceritanya diaransemen ulang dari lagi Chrisye. Dan... Mulailah konser ujung malamku. 
Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri tiada yang menemani
Akhirnya kini kusedari
Dia telah pergi tinggalkan diriku
Adakah semua 'kan terulang
Kisah cintaku..
Yang seperti dulu
Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang
Takkan pernah hilang bayangan dirimu
Mengapa terjadi kepada diriku
Aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah kupergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu
Humm.. Akhirnya nangis juga hamba-Mu ini ya Allah :'( Siapa coba yang mau bertanggung jawab telah membuat anak orang nangis malam-malam begini? Pada lupa ya, warung permen belum ada yang buka? 

Bagi yang merasa atau mengetahui siapa yang sudah buat anak ini menangis. mohon hubungi polsek terdekat ya. Kasihan nanti Mamaknya soalnya. Tolong juganya, jangan diulangi lagi.

Keajaiban Gema

| Desember 03, 2008 | Sunting

Suatu hari, ketika tengah berjalan menuruni bukit selepas  mencari jambu mete, kakiku terpeleset. Aaaahh. Terang saja aku memekik keras. Kaget. Meski tidak sampai terguling, pantatku terhunjam ke tanah.

Belum juga hilang kagetku, aku mendengar pekik dari kejauhan. Aaaahh. Kulihat sekeliling. Sepi. Tidak ada siapapun kecuali pepohonan. Hari memang sudah cukup sore, para penggarap ladang pasti juga sudah pulang.

Siapaa? Aku berteriak. Hening beberapa saat, sebelum kumendengar teriakan serupa dari jauh. Siapaa? Aku mengernyitkan dahi. Sebelum kusadari bahwa itu tadi ternyata pantulan suaraku sendiri. Gema.

Aku jadi teringat nasihat seseorang. Bahwa hidup manusia tak ubahnya seperti konsep gema. Apabila kita menyerukan segala hal yang baik, maka hal baik pulalah yang akan kembali ke kita.

Pun sebaliknya, ketika kita merutuki diri sendiri dengan berbagai umpatan, maka umpat pulalah yang akan kembali ke diri kita.

Sehingga jangan pernah bermain-main dengan apa yang kita suarakan. Pikirkan juga bahwa apapun itu, akan ada imbas gema yang kita terima. Kita tak ingin menerima imbas gema yang buruk bukan?

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine