Anak-anak yang Memanggul Senjata

| Agustus 30, 2009 | Sunting
Johnny Mad Dog
Johnny Mad Dog dan para tentaranya
Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari para militer tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***
Tentara Johnny Mad Dog
Bahasa senjata tentara Johnny Mad Dog
Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di Festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. 

Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.


Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. 

Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.
***
Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. 

Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.
***
Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi sebulan silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. 

Masa usia anak-anak dan remaja memang sangat unik dan lugu, sehingga amat rentan dan mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

Tulisan Vincent Hakim | Foto milik jeuxactu.com

Suket

| Agustus 30, 2009 | Sunting
Ya rumput, ya suket.
Secara harafiah, suket dalam bahasa Jawa berarti rumput alias tanaman liar, yang bisa tumbuh di mana saja. Teman abadinya adalah tanah, air, dan siraman cahaya matahari. Ketika tersedia lahan kosong, ketika air dan cahaya matahari membelai benihnya penuh kasih, maka suket pun akan tumbuh dan berkembang sebebas-bebasnya. Bahkan, ketika ada tangan-tangan jahil membabati tubuh kurusnya, maka ia tidak akan pernah putus asa dan mati kekeringan. Tapi, ia akan bangkit kembali dan mencoba menjangkau langit. Pada hakekatnya, ia tidak membutuhkan pot atau vas. Ia juga tidak membutuhkan rumah-rumah kaca untuk melindunginya. Tempat seburuk apa pun akan menjadi surga baginya. Tekadnya hanya satu, ia hanya menunjukkan identitas kefloraannya. Sehingga, warna hijaunya mampu memberikan “warna” bagi sekelilingnya.

Suket adalah perlambang kesabaran. Dengan hakekatnya yang selalu di bawah dan dianggap tanaman liar, ia harus tetap teguh menyambut embun di pagi hari. Ia harus tetap tabah menerima hangat matahari. Dan, ia juga harus tetap pasrah, meski tubuhnya diinjaki oleh makhluk atau benda di atasnya. Ia tidak perlu mempedulikan kehadiran anggrek yang berbinar-binar di sekitarnya, lantaran senantiasa dirawat oleh pemiliknya. Karena ia percaya, anggrek tetaplah anggrek. Hakekatnya adalah tanaman benalu.

Ia juga tidak perlu mempedulikan keberadaan pohon jati. Karena, kodrat memang membentuknya menjadi pohon terperkasa. Kesederhanaan raga membuatnya harus sadar bahwa ia memang di bawah keperkasaan sang pohon jati. Dan, buah dari kesabaran itu adalah rasa syukur nan terhingga atas limpahan rahmat dan hidayahNya.

Suket merasa bersyukur. Karena, dengan keterbatasannya, ia masih mandapatkan belaian embun dan hangat matahari pagi. Dengan kesederhanaan fisiknya, ia begitu mudah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Artinya, Yang Mahamengatur memang melimpahkan perlindungan dan perawatan nan tak terkira untuk kelangsungan tumbuh dan kembangnya. Karena itu, ia harus terus bersyukur dengan kodratnya sebagai tumbuhan rendahan. Ia juga harus tetap bersyukur atas predikatnya yang identik dengan kekumuhan dan ketidakteraturan. Ia juga mesti bersyukur karena terus-menerus menerima terpaan alam dengan panas atau hujan.

Ia tidak serta merta menjadi lunak laksana wortel yang digodok di dalam wajan berisi air panas. Ia juga tidak dengan otomatis menjadi keras laksana telur yang direbus di dalam kuali. Ia tetap rangkaian rumput, yang berkeinginan menghijaukan sekelilingnya. Prinsifnya adalah memberi dan terus memberi, tanpa berpikir soal pamrih.

Pada tahap berikutnya, suket pun akan memperlihatkan kepasrahannya yang sempurna. Ia berbuat tanpa berpikir pamrih. Tapi, semuanya dilakukan atas nama keridhaan dan keikhlasan. Karena itu, jika dikaitkan dengan hasil atau imbalan, maka ia pun memasrahkannya kepada Yang Mahamemberi. Singkatnya, ia telah berhasil melampaui tahapan be yourself dan know yourself – tahapan “menjadi diri sendiri” dan “mengenal diri sendiri”. Ia memang telah menjelma menjadi sosok yang “ingin selalu memberi” atau berada dalam tahapan give yourself.

Dalam terminologi psikologi, khususnya menyangkut pengenalan potensi diri, dikenal tiga tahapan itu. Be yourself adalah tahapan awal seseorang untuk menjadi diri sendiri. Tahapan ini menuntutnya untuk berjuang memahami keberadaan dirinya atau aktualisasi, lalu membangun keyakinan tentang keberadaan dirinya itu. Diri pribadi yang mandiri, yang tidak tergerus pengaruh, yang tidak tergoda menjadi orang lain, apalagi mengekor nama besar orang lain. Ia tidak merasa kecil karena keterbatasannya. Ia tidak rendah hati dengan kekurangannya. Karena, ia merasa yakin, ia akan menjadi “seseorang” dengan menjadi dirinya sendiri itu.

Keyakinan yang telah terbangun itu, pada akhirnya akan mengarahkan diri untuk makin mengenal diri pribadi yang sesungguhnya. Know yourself. Siapa sesungguhnya diri ini? Bagaimana plus-minus yang ada di dalamnya? Atau, apa kelebihan dan kekurangannya? Bagaimana potensi untuk berkembang dan menapaki seluruh kehidupan ini? Sesungguhnya, yang paling mengetahui diri pribadi ini adalah kita sendiri dan Yang Mahapencipta. Karena itu, kejujuran pikiran dan kejernihan hati akan menghadirkan jawaban terampuh untuk mempertanyakan diri kita yang sesungguhnya.

Puncak dari pembangunan identitas untuk menjadi diri sendiri dan memahami diri pribadi itu sendiri adalah give yourself. Saatnya untuk berbagi. Senantiasa berbagi. Kebajikan dan segala kebajikan. Diri pribadi yang sudah terbangun dan tercerahkan memberikan kesadaran baru bahwa ia adalah kepanjangan tanganNya. Ia adalah utusanNya untuk menebar kasih sayang sebagai pengejewantahan sifat rahman dan rahimNya.

Dengan kepasrahan yang sempurna itu, maka tergambarkanlah kenyataan bahwa suket merupakan perlambang kepasrahan diri atau tawakal. Kata “tawakal” cenderung lebih popular untuk menggambar pencapaian batin yang telah menyerahkan segala situasi atau masalah sebagai keputusanNya.

Pada satu titik, di mana perjalanan rohani tersebut makin menguat dan melahirkan tekad untuk terus beristiqomah menjalankan ketawakalan itu, maka suket akan memperlihatkan bagian bangunan hatinya yang lain. Yakni, kesediaan diri untuk mengatur jarak dengan persoalan-persoalan duniawi. Intinya, menghindari hawa nafsu yang selalu mendorong dan merongrong keinginan. Pada bagian ini, suket telah bermetamorfosis kembali sebagai perlambang kezuhudan.

Ibarat potongan-potongan sebuah bangunan; bersabar merupakan pondasi, bersyukur merupakan dinding, bertawakal merupakan atap, dan berzuhud merupakan pintu dan jendela. Kelak, penutup lubang-lubang itulah yang akan menyaring benda apa pun yang masuk ke dalam bangunan tersebut. Kebaikankah atau keburukankah? Maka, pintu dan jendela yang menjadi penyaring atau penyeleksinya. Bahkan, sekaligus penghalang, bila benda itu tidak pernah kita kehendaki.

Lalu, bagaimana dengan perlengkapan atau isi di dalam bangunan itu?

Bangunan yang kosong tentu saja belum menjadi rumah ideal bagi pemilik atau penghuninya. Pondasi yang kokoh, dinding yang tegar, atap yang kuat, serta pintu dan jendela yang keras, jadi belum memberikan kenyamanan, bila bangunan itu belum memiliki isi. Maka, pemilik atau penghuni bangunan pun akan berbelanja atau bersabar untuk mengumpulkan uang, agar bisa mengisi bangunan yang masih kosong itu.

Perjalanan batiniah yang telah semakin menjauh, tentunya perlu diimbangi dengan penyerahan diri secara penuh kepada Yang Mahakaya. Berserah diri atau bertaslim menjadi perlengkapan rumah tangga, yang akan menyemarakkan bangunan tersebut. Sekaligus, membuat kehidupan berlangsung dengan sempurna bagi pemilik atau penghuninya.

Dengan demikian, suket pun bisa menjadi keyakinan bahwa ia merupakan perlambang penyerahan diri secara penuh kepada Yang Mahamemberi. Setiap detak waktunya hanya untuk beribadah dan berzikir. Setiap hembusan nafasnya hanya untuk membagikan kebajikan untuk sekelilingnya. Sehingga, aura atau energi kemuliaan itu pun tersebar secara merata ke suket-suket atau tanaman lain.

Di setiap lingkungan, pastinya ada yang menjadi pohon jati, anggrek, dan juga rumput. Silahkan saja menebak-nebak, Anda menjadi bagian dari kelompok apa. Dan bila saat ini kita termasuk komunitas suket, ada baiknya tidak buru-buru berpikir menjadi anggrek, melati, mawar, apalagi pohon jati. Biarlah kita tetap menjadi rumput.

Suket diperhitungkan oleh tumbuhan lain karena daya tahannya yang luar biasa. Karena, ia bisa hidup dan berkembang dalam kondisi apa saja. Di lapangan golf atau sepakbola, rumput mendapat tempat terhormat. Bahkan, dalam film anak-anak “Teletubbies”, rumputlah yang membangun keindahan tempat bermain Tinky Winky dan kawan-kawan. Artinya, masih ada porsi mulia untuk para suket.

Dengan posisi “sadar diri” itu, kita harus mengambil ancang-ancang untuk bangkit dan tidak membiarkan diri tertinggal jauh “peradaban”. Apalagi, bila keadaan itu membuat kita terkucil di tengah gemerlapnya pesta. Sebaliknya, bangun kembali semangat dan optimisme, untuk menghijaukan sekeliling kita. Jadikan dongeng suket di atas sebagai inspirasi. Pahami tahap-tahap pembentukan jati diri dan pendirian bangunan hatinya. Lalu, segeralah melakoni perjalanan batin itu dengan kelapangan pikiran dan kejernihan hati. Tapaki kehidupan baru dengan lebih bergairah. Sehingga, masa depan yang lebih cerah bisa songsong dengan penuh kegemilangan.

Syaiful Halim

Hormati Gunung

| Agustus 21, 2009 | Sunting
Kokohnya Semeru, dengan kepulan asap dari kepundannya.
Bagi kebanyakan orang puncak gunung yang senantiasa tersapu angin dan terpencil tetap dianggap sebagai tempat angker. Lengkingan suara gas yang keluar dari gunung berapi sering dianggap sebagai suara roh-roh yang menderita karena penyiksaan yang luar biasa.

Pada saat cuaca cerah, hanya sedikit tempat di Jawa yang gunungnya tidak dapat dilihat. Para penjelajah lautan dulu mengenali pulau Jawa dari gunung-gunungnya. Semua gunung yang ada berupa gunung berapi, meskipun beberapa diantaranya sudah tua. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake ketika melihat gunung Slamet segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.Sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa, puncak-puncak pegunungan yang tertutup hutan dianggap sebagi tempat kediaman para Dewa dan tempat bersemayam roh-roh orang mati.


Menarik sekali bahwa gunung Semeru, pusat dari “kosmos-hindu” dipercaya sebagai sebuah gunung tinggi yang dikelilingi oleh empat atau delapan gunung lainnya yang yang memiliki puncak lebih rendah.


Bentuk gunung Penanggungan, di sebelah selatan kota Surabaya, dahulu memiliki bentuk menyerupai deskripsi tersebut. Berlusin-lusin candi, kuil dan tempat-tempat suci lainnya dibangun disini, 81 diantaranya masih dapat dikenali.

Lebih dari seribu tahun yang lalu pengaruh agama Budha kemudian Hindu di Jawa saling bercampur dan memperkuat satu sama lain, membangun kepercayaan mula-mula tentang adanya Dewa-Dewa penguasa alam, roh-roh, hantu, setan, bidadari, dan para mahluk halus (lelembut). Di tempat yang subur mendukung terpenuhinya perlengkapan candi, tempat-tempat suci, kependetaan, dan upacara-upacara.


Candi sering ditempatkan dilokasi yang menurut adat istiadat dianggap suci misalnya di gunung. Sejak itu gunung-gunung sering didaki oleh para pejiarah-pejiarah Hindu. Beberapa patung di tempatkan di puncak gunung Salak, gunung Malabar, tempat penyembahan di gunung Argapura, sejumlah candi di bangun di gunung Penanggungan.


Masyarakat Jawa menganggap laut sebagai tempat yang “Jahat”, terutama laut selatan berada dibawah kekuasaan seorang Ratu-Roh yang sangat berkuasa Nyai Roro Kidul, yang juga sebagai perwujudan “Dewi Laut” dalam kepercayaan Hindu. Orang yang tenggelam di laut selatan dipercaya bahwa mereka dijadikan hamba dalam kerajaannya.


Hutan dipandang sebagi tempat yang gelap yang dihuni oleh makhluk halus, jembalang, jin, peri, gendruwo, wewe, dan tukang sihir, yang dapat menimbulkan sakit bagi yang sering menjelajah hutan. Segala gangguan terhadap makrokosmos dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan umat manusia.


Hutan juga dipandang sebagai tempat kediaman manusia bijaksana yang menyepi dan hidup sebagai pertapa. Banyak kaum bangsawan pemberani datang meminta nasehat dan berlatih meditasi dari mereka. Gua-gua dalam hutan digunakan untuk meditasi dan berdoa. Orang yang berani memasuki hutan dianggap sebagai seorang pemberani atau sinting.


Rasa takut telah melindungi beberapa hutan dari gangguan manusia, diantaranya hutan-hutan di gunung Halimun yang angker, gunung Slamet yang angker, gunung Penanggungan yang suci, dan gunung Batukuha, dibandingkan hutan lainnya yang tidak dianggap angker. Hutan di gunung Pancar di dekat Citeureup-Bogor dibiarkan tidak terganggu karena adanya pemakaman suci, sehingga sekarang masih dihuni 60 jenis burung dan sekelompok lutung Jawa.


Perasaan ngeri dan takut berada di tengah hutan adalah sesuatu yang alami. Apalagi dengan berbagai kepercayaan tradisional, tetapi bisa juga disebabkan oleh rasa hormat terhadap suasana lingkungan yang liar, yang berkembang menjadi penghargaan dan perhatian terhadap lingkungan.


Banyak penduduk kota yang berpengatahuan, mengatakan bahwa mereka tidak percaya pada dunia roh dan upacara-upacara tradisional seperti pemberian sesajen untuk roh-roh penjaga ditempat suci/angker sudah mulai berkurang. Sangatlah keliru bila kita menganggap rendah nilai penting spiritual tradisional yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa dan Bali.


Sesajen dalam bentuk kemenyan, bunga, makanan dapat ditemukan di gunung-gunung, terutama gunung yang memiliki arti mistik tertentu. Masyarakat sekitar gunung Merapi pun masih sering mengadakan upacara pemberian sesaji untuk gunung Merapi. Upacara Yadnya Kasada oleh masyarakat tengger, yakni pemberian korban sesaji untuk gunung Bromo.


Masyarakat Jawa yang beragama Islam maupun Kristenpun masih tersusupi berbagai kepercayaan kebatinan tradisional. Pengaruh Hindu juga masih dapat ditemukan dalam berbagai hal, seperti nasi gunungan (nasi tumpeng) yang melambangkan Gunung Mahameru.


Panembahan Senopati yang muslim pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang di Prambanan melawan kerajaan Pajang, dengan memohon bantuan Nyai Roro Kidul dan Jin penguasa gunung Merapi yang meletus menewaskan pasukan Pajang.

Sejak jaman dahulu gunung begitu dihormati dan dianggap suci , sudah selayaknya kita pun para pendaki menghormati gunung, pohon, alam, angin, sungai, batu, hutan, binatang dan segala ekosistem yang ada di gunung. Begitu juga dengan pantangan-pantangan yang dipercaya masyarakat setempat harus kita hormati. Penghormatan kita kepada alam, setidaknya dengan tidak merusak atau mencemari agaar tidak "kuwalat".


*) Disalin dari sini

Columbus dan Telur

| Agustus 21, 2009 | Sunting
Patung Columbus di Santo Domingo, Dominica
Dulu, orang Eropa hanya mengetahui hanya ada satu jalan menuju ke negeri-negeri asing, Cina dan India, yaitu ke arah timur. Mereka bisa mencapai kedua negeri itu melalui jalan darat, melalui celah bernama Khyber Pass, yang berada di antara Pakistan dan Afghanistan sekarang. Nah, Columbus-lah yang membuka jalan, dan membuka mata orang-orang Eropa bahwa Asia atau India pun (anggapan orang saat itu Columbus mencapai negeri India) bisa dicapai dari arah lain, dengan berjalan menuju barat lewat laut. Karena dia pula, Magellan beberapa puluh tahun kemudian menjadi orang pertama yang berhasil mengelilingi dunia.

Karena keberanian dan keberhasilannya itu, Columbus diberi penghargaan oleh Ratu Isabella, ratu Spanyol saat itu.. Konon, menurut cerita yang beredar, dalam sebuah acara perjamuan kerajaan, ada seseorang yang tidak terima dengan keberhasilan Columbus. Ia berbicara sinis tentang Columbus. Orang itu merasa yang dilakukan Columbus sebenarnya bukan apa-apa.


”Lihatlah Columbus. Hanya dengan berlayar ke arah barat saja dan sampai India, dia diberi segalanya. Apa hebatnya? Toh, negeri India dari dulu juga sudah ada! Siapa saja yang berlayar ke arah barat, pasti akan menemukan negeri itu!”

Perjamuanpun ribut, sebagian besar menolak ucapan itu. Tapi ada juga yang bergumam menyetujui.


Mendengar itu, Columbus dengan tenang membalasnya,”Memang aku bukan menemukan India, tapi aku sudah membuka mata kalian bahwa dengan berlayar ke arah barat kita bisa tiba di India, suatu hal yang sebelumnya kalian tidak berani lakukan. Begini saja mudahnya...!”


Columbus mendekati meja hidangan. Diambilnya sebutir telur ayam lalu berujar, ”Siapa yang bisa menaruh telur ini di atas meja dalam keadaan berdiri, aku akan berikan semua hadiah yang telah aku terima. Namun jika kalian tidak sanggup, kalian harus akui, bahwa aku memang berhak atas semua itu.”


Kembali suasana menjadi gaduh. Orang-orang yang hadir di situ menunjuk-nunjuk orang yang tadi memulai keributan. Merasa terdesak, ia hampiri meja Columbus, lalu berusaha untuk dirikan telur itu. Sekali dia mencoba, telur itu jatuh. Begitu terus. Hingga ia akhirnya menyerah. ”Tidak bisa. Ini tidak mungkin dilakukan!” teriaknya.


Orang-orang lain lantas ikut mengambil telur-telur yang ada di hidangan dan mencobanya masing-masing. Nihil hasil.


Cara Columbus mendirikan telur
Columbus pun mengambil lagi sebuah telur dan dengan sekali gerakan dia bisa menaruh telur itu diam di atas meja dalam posisi berdiri! Orang-orang bersorak-sorai. Umumnya terkagum dan gembira.

"Apa-apaan itu! Kalau begitu saja, semua orang juga bisa!" teriak orang yang tadi protes begitu melihat Columbus menjawab tantangannya sendiri. Telur itu dengan mudah bisa diberdirikan, hanya dengan sedikit mengetukkan bagian bawah telur itu ke permukaan meja, sampai ujungnya menjadi rata, karena retak

"Oh, ya? Kamu bisa melakukannya? Kenapa kamu tidak melakukannya tadi?" kembali Columbus menangkis serangan kata-kata orang itu.


"A..a...aku ...tidak tahu kalau telurnya boleh sedikit dipecahkan!" dengan muka memerah orang tadi menjawab. "Dengarkan! Siapapun bisa memberdirikan telur itu seperti caraku. Akan tetapi, siapa yang tahu sebelumnya dengan cara seperti itu? Kalian bisa melakukannya setelah aku menunjukkan caranya," Columbus menjelaskan.


"Sama juga dengan keberhasilanku dan kawan-kawanku menemukan jalan baru ke Asia. Siapapun memang bisa mencapai Asia seperti caraku, dengan berlayar ke arah Barat. Tetapi, siapa yang membuktikan pertama kali hal itu? Siapa yang berani menanggung resiko kalau terjadi sesuatu, karena selama ini kita lebih percaya bahwa bumi kita ini datar? Siapa?"


"Columbus!...Columbus!...Columbus!" teriakan bergemuruh.


Keberanian Columbus untuk pergi ke Asia dengan berlayar ke arah barat dan mencapainya telah mematahkan kepercayaan orang Eropa saat itu bahwa bumi berbentuk datar seperti meja. Anggapan inilah yang membuat orang takut untuk berlayar terlalu jauh dari daratan karena takut akan jatuh ke jurang dalam.

Demikian juga pada awalnya Columbus mengemukakan idenya untuk pergi ke Asia melalui arah barat, semua orang menertawakannya. Namun berkat ketekunan dan kesabarannya, disertai kemampuannya mengemukakan idenya itu di depan Ratu Isabella, Sang Ratu tertarik untuk membiayai pelayaran Columbus.

Columbus adalah satu di antara sedikit orang pada saat itu yang percaya akan teori bahwa bumi itu bulat,. Makanya dia bertekad membuktikan, jika bumi bulat maka dia bisa berangkat ke Asia lewat jalan barat melalui laut tidak seperti biasa lewat jalan timur melalui darat.

Sayangnya, meskipun tiga kali berlayar ke daerah yang dianggapnya India itu, Columbus hingga meninggalnya tidak pernah menyadari bahwa daerah yang dicapainya adalah sebuah benua besar lain. Benua Amerika! Disebut benua Amerika, karena ada seorang petualang sekaligus ahli ilmu bumi yang menulis mengenai daerah baru yang ditemukan oleh Columbus itu. Petualang itu sadar bahwa daerah yang ditemukan oleh Columbus bukanlah India ataupun Asia, melainkan sebuah benua baru. Dari namanyalah, Amerigo Vespucci, nama benua Amerika berasal.

SANG MERAH PUTIH

| Agustus 21, 2009 | Sunting

Tanggal 17 Agustus sudah lewat, tapi suasana perayaan kemerdekaan RI masih terasa. Di mana-mana kita masih bisa melihat bendera merah putih yang masih terpasang, berbagai umbul-umbul, spanduk, gapura, dan hiasan-hiasan lain mewarnai setiap sudut lingkungan kita. Bendera merah putih! Ya, itulah bendera negara kita. Sederhana, hanya terdiri dari 2 warna, merah dan putih. Merahnya di atas dan putihnya di bawah. Buat sebagian orang, mungkin bendera kita terlalu sederhana, tidak keren dan kurang membanggakan.Tapi anda, juga saya, tidak boleh beranggapan begitu!Bendera itu ada dan tegak berdiri di tanah ibu pertiwi karena ada yang memperjuangkannya. Tidak terhitung berapa banyaknya tetes air mata, banjir keringat, tumpahan darah dan hilangnya nyawa rakyat dan bangsa Indonesia yang telah berkorban untuk menegakkan bendera merah putih itu.

Saya ingat waktu di SD dulu, ibu guru saya menerangkan bahwa bendera pusaka kita dijahit sendiri oleh istri pemimpin kita saat itu, yaitu Ibu Fatmawati Soekarno. Bendera itu memang berasal dari 2 kain yang berbeda warna, merah dan putih, dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. (Ingat ya, itulah perbandingan ukuran panjang lebar bendera kita, 2 banding 3). Saya ingat juga bahwa bendera pusaka itu sewaktu zaman revolusi kemerdekaan dibawa-bawa oleh para pejuang kita agar tidak jatuh ke tangan tentara Belanda yang saat itu bermaksud menjajah kembali Indonesia. Sampai-sampai bendera pusaka itu pernah disembunyikan di pucuk pohon kelapa, ibu guru sejarah saya saat itu. Memang, bendera pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan musuh, karena itulah menjadi simbol kemerdekaan negara RI. 

Lalu ada peristiwa heroik ketika para pejuang kita merasa kehormatan negara kita tidak dianggap oleh bangsa lain, yaitu beberapa waktu setelah tentara Sekutu memasuki wilayah tanah air kita. Saat itu, di bulan September 1945, di sebuah hotel bernama Yamato, atau Hotel Orange (nama Belandanya) di Surabaya, berkibarlah bendera merah putih biru. Ya, merah putih biru! Berarti bendera Belanda!”Apa-apaan orang Belanda mengibarkan seenaknya benderanya di wilayah kita!”Mungkin itulah pikiran para pemuda dan pejuang kita saat melihat bendera merah putih biru dengan angkuhnya bertengger di tiang menara hotel tersebut. 

Akhirnya beberapa pemuda dengan beraninya memprotes kepada tentara Sekutu dan seorang pemuda memanjat gedung hotel itu untuk mencapai tiang di mana bendera itu dipasang. Dan dirobeknyalah bagian biru dari bendera itu, sehingga yang ada tinggal merah putihnya.Berkibarlah benderaku! Merah Putih. Sang Dwi Warna.(Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela!)

Jadi, bendera kita itu sangat bersejarah, dan warna merah putih itu bukan asal memilihnya. Makanya kita tidak boleh sembarangan menggunakan, atau memodifikasi bendera itu (Ingat kan pernah kejadian ada grup band musik yang menampilkan logo grupnya di atas bendera merah putih? Bagaimana tanggapan anda?)

Warna merah dan putih itu sangat filosofis, yang secara simpel berarti bahwa bangsa kita sangat menjunjung tinggi keberanian (merah) atas dasar kebenaran/kesucian (putih). Sehingga warnanya merah di atas putih. Bukan sebaliknya, putih di atas dan merah di bawah. Filosofi ini dipakai oleh para pendiri negara kita (founding fathers) sewaktu menentukan desain dan warna bendera yang akan dijadikan bendera negara.

Bahkan, Bung Karno sempat mengutarakan pemikirannya, seperti yang dituangkan dalam otobiografinya BK Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Bahwa warna merah dan putih itu sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Budaya pembuatan bubur merah bubur putih setiap ada peristiwa penting. Lalu konsep getah (putih) dan getih (merah), cairan kehidupan, yang membuat tumbuhan, binatang dan manusia hidup. Penggambaran surya (matahari) dan chandra (bulan) pun dengan berupa kedua warna tersebut. Surya digambarkan sebagai warna merah dan chandra putih. 

Mr. Muhammad Yamin lebih dahsyat lagi. Beliau menyatakan dalam bukunya yang berjudul ”6000 Tahun Sang Merah Putih”, bahwa warna merah dan putih sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman prasejarah dulu. Di gua-gua yang dihuni manusia zaman dulu, dapat ditemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa warna merah dan putih sudah digunakan sejak dulu dan menjadi warna penting dalam kehidupan masyarakat. Di zaman kerajaan Nusantara, umbul-umbul berwarna merah dan putih tercatat digunakan pertama kali pada saat pemerintahan Raja Kertanegara di kerajaan Singosari.Ada lagi, pada rumah-rumah dulu, sewaktu dibangun, pasti dipasangkan kain merah putih pada kayu suhunan atap rumah. Saya ingat di rumah tempat tinggal saya sewaktu kecil, karena sering main ke ruang atap rumah, saya melihat ada bendera membungkus di kayu suhunannya. 

Sehingga memang beralasan sekali mengapa merah dan putih ini menjadi warna bendera kebangsaan Indonesia, dan ditetapkan secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam UUD 1945.

Tulisan Ceppi Prihandi, dengan perubahan seperlunya

Indonesia: 64 Tahun

| Agustus 21, 2009 | Sunting
Negeri kita semakin tua, 64 tahun sudah umurnya, dihitung semenjak kita diakui merdeka (walaupun menurutku sampai sekarang negeri ini belumlah merdeka). Lalu apa yang ada di benakmu kawan tentang negeri kita tercinta ini? Apakah negeri yang semakin tua dan renta? Yang serba membingungkan kebijakan pemerintahannya? Sekaligus orang-orangnya? Ataukah negeri asyik yang ibaratnya surga?

Sungguh miris bila mengingat kemarin dulu, sensasi dukun cilik Ponari yang membuat masyarakat histeris hingga antri berkilo-kilo meter hanya untuk menyentuh air yang dicelubkan dengan “batu sakti” dan habis disentuh sang dukun cilik. Pengobatan “normal” sepertinya benar-benar tidak terjangkau bagi masyarakat kita, tarif dokter yang melambung, harga obat yang terus semakin tinggi. Antrean panjang di rumah Ponari adalah bukti tak terbantahkan. Sebegitu banyakkah saudara-saudara kita yang sakit hingga begitu banyak yang ingin berobat? Atau memang masyarakat kita benar-benar “sakit”? Entahlah.

Fenomena di negeri ini sepertinya sudah di luar nalar. Golput haram, Jaipong dianggap pornoaksi. (Haloo.. Kenapa baru sekarang?). Mentalitas bangsa kita yang sepertinya sakit. Tapi betulkah?


Aku tidak ingin tertarik dalam pusaran tak bernalar, aku ingin kita hidup rasional, meski tantangannya tidak gampang.. Aku berusaha untuk menjadi pendengar bagi negeriku, karena terlalu banyak orang yang berbicara. Mendengar dan menyerapnya seperti spon menghisap air, lalu memerasnya untuk mengambil yang baik dan membuang yang busuk. 


Sepertinya sederhana.

Tapi, cobalah kau tengok sekitarmu sejenak, pernahkah kamu menjadi telinga dari orang-orang sekitarmu tentang kehidupan mereka? Adakah tujuanmu bekerja selain hanya untuk mendapatkan gaji tanpa mengenal lingkungan sekitarmu? Atau kamu hanya terjebak target penjualan yang menyebabkan kamu tidak bisa mengendalikan hidupmu sendiri? Menjadi pendengar yang bijak dan tidak berbicara tanpa berpikir, karena sudah banyak orang yang sakit karena mereka terus berbicara tapi tidak ada yang mendengar.

Ayolah, sekali-kali cobalah untuk berbagi dengan orang lain, berbagi waktu dan ruang dengan orang terdekatmu. Bila kamu punya buku, baca dan sebarkan pengetahuanmu tentang buku yang sudah kamu baca. Jika kamu punya ilmu yang berguna, janganlah pelit untuk kau bagi dengan orang lain..


Apalagi?
Berbagi-berbagi-berbagi.
Andai di negeri ini banyak orang punya semangat berbagi, tak akan ada lagi korupsi. Yang kaya berbagi pada yang miskin, yang cendikia berbagi ilmu pada yang kurang padai. Ah, lagi-lagi hanya andai.
***
Yah, 64 tahun sudah. Jika negara ini adalah orang, maka tentunya dia sudah lumayan senja meski belum pantas disebut sepuh, dan kita sepertinya berpredikat sebagai cucu, mungkin anak, yang pasti bukanlah sebaya. Jika negeri ini adalah seorang kakek atau nenek, sebagai cucu sepantasnya kita menaruh hormat pada beliau. Pun jika ia adalah bertaraf ayah atau ibu, sebagai anak, maka penghormatan pun tentu saja masih merupakan haknya.

Semarak perayaannya yang menyeruak di segala penjuru, di gang-gang kecil, di kolong jembatan, di pos ronda, di pasar tradisional pun di pusat perbelanjaan, di jalan raya, di perkantoran, di Senayan (hmm, berapa meter kain merah putih yang dipakai tuk membungkus seluruh pagar “rumah para wakil rakyat yang terhormat” ini) dan menyelusup dalam berbagai perlombaan, yang diikuti oleh segenap khalayak mulai dari batita sampai manula.

64 tahun sudah status merdeka itu ada dalam genggaman. Dahulu kala, pilihannya mungkin hanya dua : Merdeka atau Mati. Dan meskipun “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, namun tak disangsikan lagi bahwa penjajahan memang masih ada di muka bumi, meski dengan modus ‘terselubung’, sebab dijaga oleh para peri (hwa…)

Tapi kata siapa kita belum merdeka, toh sekarang ini dengan segenap kebebasan kita bisa menulis, berbicara, berlaku sepuasnya, meski kadang ada yang bebas menerobos saja apa yang dinamakan norma dan etika berperilaku, bahkan dengan saena’e dhewe for breaking the rule. (Plis deh. Kalau ada tanda Dilarang Merokok, jangan merokok dong. Kasian orang-orang yand ada di sekitarnya)

Kembali ke topik ---> merdeka atau mati

Apabila kita sebagai cucu / anak yang baik, maka pantas sajakah untuk menghujat, mencaci maki negara yang sudah tua ini, karena tidak memberi kita apa yang kita inginkan? Maka terselip dimana dahulu kata-kata “jangan tanya apa yang diberikan negara untukmu, tapi tanya apa yang telah kau beri untuk negaramu” - Kennedy? Tersembunyi dimana semangat kepahlawanan orang-orang yang telah mendahului kita (Hening cipta… Mulai…) Jika yang kita bisa lakukan kini hanya mencerca, menghina dina segala kebobrokan yang ada, apakah tidak sama saja kita menambah hal yang tidak benar itu dengan ketidakbenaran yang baru ?

Come on, be realistic lah…
Jika kita senantiasa menuntut hak dulu baru kewajiban, maka yang bernama lingkaran kesetimbangan alam itu akan senantiasa berputar mundur ke belakang. Jika yang bisa kita bilang hanya berkata “hal itu tidak benar” tanpa memberi solusi yang benar itu apa, atau bagaimana.

Para abdi negara, yang melakukan pekerjaan sebagai suatu keharusan, bukannya keinginan (ppsst… toh rajin atau TIDAK bakal terima gaji juga). Maka dimana lagi kalimat “kerja adalah cinta, yang mengejawantah”?


Orang-orang sakit, yang menginginkan pengobatan gratis, hmmm, wahai, Apa yang mereka lakukan untuk menjaga diri agar tidak sakit? Menciptakan pola dalam alam bawah sadar mereka bahwa “tak apa jika saya sakit sebab berobatnya bisa gratis”


Orang-orang bersekolah, yang ingin pendidikan gratis, wahai. Apa yang mereka lakukan agar para guru tak mesti bersusah payah untuk mencerdaskan mereka? Apakah mereka belajar? Hwa… hanya segelintir,, termasuk juga aku,, hehe


Tapi sudahlah, masih banyak kok yang bisa kita lakukan, selain hanya menggerutui negara ini, men’tidak-syukuri segala nikmat ini sebab kita tinggal di Indonesia dan menjadi bagian dari Indonesia Tanah Air Beta tercinta ini.


PADAMU NEGERI… KAMI BERJANJI
PADAMU NEGERI… KAMI BERBAKTI
PADAMU NEGERI… KAMI MENGABDI
BAGIMU NEGERI… JIWA RAGA … KAMI ….

Jika

| Agustus 09, 2009 | Sunting
Terlelap, berpikir
Kalau aku? Kira-kira gimana yah reaksi orang-orang kalau aku dijemput sang malaikat maut? (mikirin ini membuat aku merinding) Apakah kalian bakal kehilangan, menangisi kepergianku? (bilang iya,,,bilang iya,,,,!) Atau kalian bakal bikin syukuran potong tumpeng 7 hari 7 malam untuk merayakan musnahnya diriku dari muka bumi ini? Akankah komentar-komentar seperti: “aku sedih dengan kepergian dia”, “kita kehilangan orang yang kita sayangi”, “dunia berduka atas kepergiannya” bakal mengiringi kematianku?

Ataukah justru testimon: “akhirnya…metong juga tuh orang, gw udah menantikan saat-saat seperti ini datang” “dunia damai tanpanya” “sial..duitku belum dibalikin main mati aja tuh orang,,bilang-bilang dulu kek” yang nantinya mengisi atmosfer kematian gw? Yah.. We’ll see.

Kematian itu biasa, tapi bagaimana kita membuat yang biasa itu menjadi sesuatu yang meninggalkan kesan mendalam?

Dari penghujung bulan Juli sampai awal bulan Agustus ini aku disuguhi dengan beberapa berita kematian orang-orang yang cukup punya nama. Dari sang legendaris pop, Jacko. kemudian seniman eksentrik Mbah Surip, yang kemudian disusul dengan terbangnya sang karib, si Burung Merak WS Rendra. sampai yang terakhir dan juga yang tengah menjadi bahan pembicaraan di pelbagai tempat yakni Noordin M.Top.

Ke-empatnya memang sama-sama tutup usia, sama-sama menjadi berita, tetapi orang-orang berbeda dalam menanggapi keepergian mereka.Kebanyakan dari kita tentu kehilangan dengan perginya Jacko dan sepasang sahabat Mbah Surip dan WS Rendra, akan tetapi apakah kita juga kehilangan dengan tewasnya Noordin M.Top?? Kalau ternyata benar yang selama ini diberitakan bahwa dia itu teroris, aku sih bersyukur banget dia bisa tewas. Atau kalau perlu dibikin syukuran atas tewasnya dia, sang-pengacau-keamanan. Dengan kata lain, kematian Noordin M.Top sangat amat diharapkan sekali.

Tangan-tangan Kokoh yang Telah Hilang

| Agustus 09, 2009 | Sunting
Siang itu, sepulang sekolah, telah kutemukan dahan-dahan pohon munggur besar itu dalam potongan-potongan kayu kecil di halaman. Sementara daun-daunnya sudah lenyap. Kiranya para tetangga telah memintanya untuk pakan ternak. Sedangkan beberapa orang saudara masih sibuk menggergaji potongan dahan-dahan besar. Beberapa lainnya menghilangkan kulit kayu agar nantinya bisa cepat kering.

Yah, itulah awal yang pahit bagiku. Dahan-dahan besar nan rimbun yang menaungiku selama bertahun-tahun, bahkan pohon itu telah ada sebelum diriku ini lahir, ternyata pada akhirnya nasibnya harus berakhir begitu saja sebagai kayu bakar. Yah, “gawe mantu” Pakde telah memaksaku kehilangan tangan-tangan raksasa yang selama ini mengirimkan sejuk ke dalam hari-hariku.

***

Masih lekat dalam ingatanku, suatu malam di hari yang telah lau. Umurku kira-kira baru sekian tahun waktu itu. “Pohon besar itu adalah jelmaan raksasa jahat yang sewaktu-waktu akan kembali ke wujudnya bila kamu nakal. Ia akan menangkap anak-anak nakal yang suka menangis di waktu malam. Ataupun anak-anak yang tidak mau makan. Lihatlah, tangan-tangan besarnya akan menangkap dan memeluk kamu kalau kamu susah makan. Kamu mau?” Begitulah ibu mendeskripsikan raksasa besar itu untuk memaksaku agar mau makan. Dan kenyataannya kemudian aku mau makan. Dan begitulah, bertahun-tahun pohon munggur itu tetap menjadi raksasa penunggu halaman rumahku yang sewaktu-waktu akan bangun untuk menangkap anak-anak yang nakal. Sehingga membuatku untuk selalu berkelakuan manis dan tidak lagi bandel.

Di lain waktu, ibu berkata pula, “Kau harus manjaga dan merawat raksasa tidur itu. Jangan samapai ia marah dan kemudian pergi. Semua orang akan kalang kabut kalau sampai ia terbangun dan marah. Ia akan menyerap sumber-sumber mata air hingga kamu tidak bisa mandi. Tidak bisa minum.” Aku diam sejenak, hingga kemudian bertanya, “Raksasa itu belum pergi, ia juga tidak marah. Namun kenapa setiap tahun air tetap saja pergi Bu?” “Ssstt… Dengarlah, raksasa penunggu rumah kita memang tenang-tenang saja. Namun lihatlah raksasa-raksasa di tempat lain. Orang-orang telah merusak dan menebangi mereka, padahal ddi kaki-kaki raksasa yang besar-besar itu tersimpan air. Sehingga jangan ditanya kalau ada kalanya air menghilang. Bayangkan saja kalau sampai semua raksasa musnah dari muka bumi ini, mungkin bumi kita akan menjadi gurun yang panas. Kamu tak bisa lagi mendapatkan air dengan mudah. Badanmu akan menjadi bau, kering!!!”

Itulah yang kemudian membuatku takut untuk melakukan hal-hal yang kiranya dapat membangunkan raksasa yang tengah tidur itu. aku seolah menghormatinya seperti aku menghormati para tua. Setiap kali melewati kaki pohonnya ku bungkukkan punggungku sedikit. Begitulah, kulakukan terus hingga ku mengerti apa maksud ibu dengan raksasa itu. Yah, dapat kau bayangkan persepsi seorang anak yang belum banyak asam garam kala itu.

Raksasa itu juga yang menaungi aku dan teman sepermainanku seharian selama kami bermain gundu. dan diam-diam kusebarkan apa yang dikatakan oleh ibu kepada mereka, sehingga tak ada seorangpun dari teman-temanku yang berani berbuat hal-hal yang aneh kepada "raksasa tidur itu". Pernah satu waktu, seorang temanku tanpa sengaja kencing di balik pohon besar itu. Sontak setelah mengingat apa yang pernah aku katakan, ia cuci batang pohon itu hingga bersih. Hehe, lucu memang. Tetapi baru kemudian ku tahu bahwa mitos yang dikatakan ibu memang benar. Pohon adalah penampung air dalam tanah yang akan terus menjaga siklus air sehingga pada musim-musim jarang hujan sumur tidak akan kehabisan air karena masih ada stok di dalam tanah berkat manfaat pohon.

***

Namun, kini raksasa itu telah takluk pada gergaji-gergaji mesin yang mengoyak tubuhnya dan kemudian memotongnya menjadi potongan kecil. Tak ada yang tersisa dari tubuhnya yang sedari dulu ku hormati. sama sekali tidak. Tangan-tangan kekarnya seolah hanya diam saja, menerima yang telah orang-orang lakukan atas dirinya.

Yah, kini aku hanya bisa berharap, raksasa itu tidak benar-benar marah seperti yang dikatakan ibu. dan hanya doa yang kini tiap hari terus terucap, semoga raksasa itu tak membawa pergi air yang ada diharibaannya. Karena aku tak bisa membayangkan sesulit apa nantinya bila sekarang saja air sudah menjadi barang yang langka di daerahku. Di daerah kering berbatu di sudut utara Gunungkidul.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine