Kisah-kisah dari Suriah

| Agustus 31, 2016 | Sunting
Suriah hari-hari ini | © Diaa Al-Din/Reuters
Hidup di daerah yang jauh dari konflik bersenjata membuatku selalu berpikir bahwa perang adalah duka nestapa yang harus selalu diratapi. Ketika perang Irak meletus tahun 2003, dalam kelas bahasa Indonesia, saya menulis 'surat kepada Presiden Amerika Serikat' agar menghentikan perang karena salah satunya 'cerita seperti apa yang akan dikisahkan anak-anak Irak kepada generasi sesudahnya apabila perang terus berkecamuk'.

Lebih dari satu dekade kemudian saya tahu cerita macam apa yang bisa dirangkai oleh perang. Tangan dingin penulis eksil Irak, Hassan Blasim, mengantarkanku pada semesta yang ternyata tak semata berkalang duka, namun juga penuh cerita lainnya: cinta, canda, juga tawa. Lewat The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq, Hassan menyajikan semacam dongeng pelipur lara, narasi-narasi yang tumbuh dari puing-puing perang. Dalam Pameran Mayat semisal, Hassan bercerita tentang pembunuh bayaran yang diuntungkan oleh kekacauan yang tengah melanda negara. Sementara di cerpen yang lain, Sang Komponis, Hassan berkisah tentang  komponis pro-pemerintah yang kehilangan pekerjaannya setelah pemerintahan yang ia dukung jatuh.

Berawal dari Hassan-lah saya kemudian membaca kisah-kisah lain yang juga menjulur dari remah-remah perang. Salah satunya adalah kisah-kisah dari Suriah yang terhimpun dalam buku Breaking Knees: Sixty-three Very Short Stories from Syria (Garnet Publishing, London: 2016).

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine