(Bukan Sekadar) Perpustakaan

| Desember 18, 2013 | Sunting
I have always imagined that Paradise will be a kind of library. ― Borges
Perpustakaan utama IIUM
Saat ini saya tengah duduk di sudut Dar al-Hikmah, perpustakaan kampus kami. Duduk. Yah, duduk. Tanpa aktivitas yang berarti. Apalagi perut saya mulas sedari tadi. Oh ya, saya memutuskan pergi ke perpustakaan karena tempat ini memiliki fasilitas tandas paling nyaman, hehe. Bersih, lampunya terang. Ini adalah tempat yang seringkali menjadi tempat keluarnya berbagai macam inspirasi. Dan begitulah, keinginan untuk menulis ini pun datang begitu saja ketika saya sedang jongkok di atas lubang kakus. Beberapa dari kalian mungkin menjadi sadar kenapa saya suka berlama-lama di perpustakaan ketika sedang banyak tugas! Bukan karena saya membaca bertumpuk-tumpuk buku ataupun mengulak-alik jurnal, tetapi karena saya suka berlama-lama di toilet, mencari inspirasi.

Perpustakaan adalah tempat yang begitu familiar bagi saya. Perpustakaan yang pertama saya kenal adalah perpustakaan SD saya, SDN 1 Tancep, Ngawen, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Ketika itu, perpustakaan menempati sebuah ruang kelas di sisi timur sekolah. Isinya, sebagaimana lazimnya perpustakaan di masa itu, adalah beberapa lajur rak buku dan juga beberapa lemari kayu yang kami sendiri tidak tahu apa isinya karena selalu dikunci. Di atas lemari berjajar beberapa piala ataupun plakat yang sudah demikian berdebu!

Koleksi buku didominasi oleh buku paket (buku pendamping pelajaran, saat itu semua buku masih dipinjami oleh sekolah), diikuti buku cerita rakyat semacam Asal-usul Banyuwangi, Sangkuriang dan juga buku-buku keterampilan. Saya ingat saya pernah membaca buku cara bertanam tomat, cara bertukang dan juga buku cara membuat mesin penetas. Sayangnya, perpustakaan SD kami tidak buka setiap hari. Seringkali bahkan perpustakaan dibuka karena kami mengendap-endap mengikuti guru yang masuk perpustakaan untuk mengambil buku saat jam istirahat.

Tidak ada meja baca di perpustakaan SD kami. Kami hampir selalu duduk di lantai ketika membaca. Oh ya, juga tidak ada sistem peminjaman yang jelas karena waktu itu tidak ada satupun petugas yang menjaga perpustakaan. Begitulah, perpustakaan SD kami adalah layaknya room-requirement-nya Harry Potter. Ia ada ketika memang dibutuhkan saja. Meski begitu, perpustakaan ini tetaplah bagian penting selama masa SD saya. Di sanalah saya menemukan kumpulan peta Indonesia secara lengkap untuk pertama kalinya - yang lantas membuat saya begitu mencintai peta. Di sana pula saya menemukan buku koleksi kebudayaan terbitan TMII yang menyuguhkan ragam budaya dari seluruh Indonesia. Pemantik keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang jauh, juga untuk pertama kalinya.

Perpustakaan lain yang mengisi masa kecil saya adalah perpustakaan masjid. Bukan benar-benar perpustakaan sebenarnya, hanya sebuah lemari kecil yang berisi majalah-majalah Islam, buku khutbah dan beberapa buku keagamaan lainnya. Di lemari itulah saya membaca cerita bersambung Ketika Mas Gagah Pergi di An-Nida. Juga begitu menyukai salah satu rubrik di majalah Ummi yang memberitakan aktivitas dakwah di pelosok-pelosok Nusantara. Perpustakaan masjid kami pulalah yang membuat saya membaca Habis Gelap Terbitlah Terang! Saya sendiri sebenarnya juga masih bagaimana ceritanya kumpulan catatan harian Kartini ini bisa sampai di lemari masjid, tetapi sudahlah.

Buku penting lain yang juga saya baca dari perpustakaan masjid adalah sebuah buku kecil dengan sampul pink gelap terbitan Mizan yang saya sendiri lupa judulnya. Intinya buku ini memaparkan peran Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Betapa bapak Kimia ternyata adalah ilmuwan Islam, betapa konsep pesawat terbang pertama kali dicoba oleh cendekiawan Muslim dan lain sebagainya.

Saat itu, perpustakaan seolah menjadi kerajaan pribadi saya karena memang bukan tongkrongan favorit teman-teman sebaya saya. Semuanya berlanjut hingga saya masuk SMP. Bedanya, perpustakaan SMP saya di Bayat, Klaten, Jawa Tengah memiliki pengunjung yang lebih banyak - walaupun tetap sedikit bila dibandingkan dengan jumlah murid. Tidak seperti perpustakaan SD kami yang menjadi satu dengan lajur ruang kelas, perpustakaan SMP kami, SMPN 1 Bayat, menempati satu bangunan terpisah di sisi selatan lapangan sekolah.

Perpustakaan SMP kamipun lebih luas. Selain itu, ia juga memiliki beberapa pustakawan - di antaranya yang saya ingat adalah Bu Marta dan Bu Sri Rejeki. Selain itu juga memiliki sistem peminjaman yang lebih jelas, ada buku pengunjung dan juga menyediakan meja baca. Rak buku menempel ke dinding. Menyisakan ruang di bagian tengah untuk membaca. Koleksi buku perpustakaan SMP kami sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perpustakaan SD: dominasi buku paket, buku cerita dan buku keterampilan. Bedaya, juga ada koleksi novel teenlit (yang tidak pernah saya jamah), buku sejarah dan buku-buku lainnya. Meski demikian, koleksi perpustakaan yang paling banyak "dibaca" adalah... BUKU TAHUNAN!


Jangan bayangkan buku tahunan ini adalah buku tahunan keren yang sudah terkonsep sedemikian rupa. Bukan! Bentuknya adalah kertas folio, ditempel foto 3x4, kemudian diketikkan identitas si pemilik foto di sampingnya. Setelah itu dijilid dan diperbanyak. Sehingga seringkali fotonyapun hanya terlihat hitam. Meski begitu, murid-murid SMP saya begitu menyukainya. Membuka lembar demi lembar, tertawa cekikikan, berpindah ke halaman lain, tertawa lagi, begitu seterusnya!


Gempa yang melanda Yogyakarta dan Klaten pada Mei 2006 membuat Perpustakaan SMPN 1 Bayat saya berubah total. Sekolah kami hampir rata dengan tanah karena digoyang gempa. Buku-buku perpustakaan lama kami, kata mbak Rini - istri tukang kebun sekolah, sebagian besar dijual ke tukang rosok (pengumpul barang bekas). Nah, Titian Foundation bersama ROTA , donor kami, membangun kembali sekolah yang sudah rata tanah, mereka turut membangun sebuah perpustakaan paling yang sangat nyaman.

Meja Sibuk - Perpustakaan SMPN 1 Bayat :D

Perpustakaan  baru kami kala itu memiliki lebih dari 2000 koleksi dengan tajuk yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Perpustakaan baru yang memperkenal saya dengan Pramoedya, N.H Dini, Putu Wijaya, Romo Mangun, hingga penulis-penulis manca semacam J.K Rowling, Han Nolan, Khaled Hossaeni hingga Harper Lee. Juga membuat saya membaca buku-buku dongeng bergambarnya Hans Christian Andersen. Ataupun seri kocaknya Roald Dahl. Perpustakaan baru inilah yang lantas membuat saya betah di sekolah karena jam bukanya yang sampai sore. Perpustakaan yang lantas juga merombak mind-set bahwa perpustakaan itu harus sepi, bau buku yang khas, sedikit gelap dan horor!

Bagian terpenting perpustakaan baru ini adalah pustakawan yang penuh dedikasi. Donor kami memperkenalkan sistem perpustakaan yang lebih terstruktur dengan bantuan teknologi, sehingga tenaga-tenaga baru lantas direkrut. Mereka yang lebih dari sekadar menjaga perpustakaan mereka juga menjadi teman, guru dan saudara kami: mbak Ning, mbak Ratih, mbak Sungsang dan bu Marta (pustakawan lama kami). Juga tentunya Bu Naning, koordinator (sepanjang masa) perpustakaan SMPN 1 Bayat :) Saat itulah kali pertama saya menemukan ada komunitas dongeng di perpustakaan, ada komunitas menulis di perpustakaan hingga nonton film bareng di perpustakaan! :) 

Di perpustakaan baru ini pulalah saya diperkenalkan dengan kerja-kerja sukarela. Perpustakaan memberi kesempatan siswa untuk menjadi sukarelawan perpustakaan, membantu pustakawan menjalankan tugasnya. Menata buku, melayani peminjaman, membantu pengunjung untuk mencari buku sampai menghias perpustakaan! Di mading perpustakaan juga puisi-puisi dan tulisan saya dimuat untuk pertama kalinya, huhu *ini bagian yang paling saya rindukan :")*

Yah, begitulah, perpustakaan lantas menjadi bagian dari keseharian saya semenjak perpustakaan baru SMP itu berhasil mengubah mind-set saya. Ketika saya SMA misalnya, walaupun kondisi perpustakaannya sama dengan perpustakaan kebanyakan, tetapi saya bisa menggali sisi-sisi menyenangkannya. Mulai dari seni berburu buku-buku lawas semacam Max Havelaar dan Sitti Nurbaya (yang seringkali sudah tidak lengkap halamannya), mencuri-curi baca novel-novel bertema kasur karya Fredy S, hingga bagaimana menjalin hubungan persahabatan dengan petugas yang nyatanya sangat bermanfaat!

Pustakawan SMPN 1 Bayat: Mbak Sungsang, Mbak Ratih, Mbak Ning

Dan sampai sekarang, perpustakaan bisa dibilang adalah dermaga yang paling banyak saya singgahi. Bukan untuk melulu membaca - apalagi akhir-akhir ini saya lumayan malas membaca - tetapi juga membuka keran-keran ilmu dari berbagai hal yang saya temui di sana. Mari mencintai perpustakaan :)

Indonesia Merajai Global Ummatic Festival 2013

| November 21, 2013 | Sunting
Gemuruh suara pendukung Indonesia langsung pecah begitu Indonesia diumumkan menjadi the Best Cultural Performance dalam Global Ummatic Festival 2013 di International International Islamic University Malaysia, Rabu (20/11) malam. Dalam closing ceremony yang digelar di Cultural Activity Centre IIUM, Indonesia berhasil mengalahkan 4 negara lain yang masuk 5 besar: Singapura, Thailand, Bangladesh dan tuan rumah Malaysia.

Indonesia, yang mengangkat tema Mutiara Nusantara, menggebrak panggung dengan permainan perkusi ember dan botol yang mengiringi lagu Indonesia Pusaka. Baru setelah itu sambung menyambung disuguhkan lagu dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi keragaman budaya. Lima orang penari Papua lantas menghentak panggung dengan permainan lompat bambu dan tari Sajojo. Harmonisasi lagu dan tari yang apik berhasil menyihir lebih dari seribu pengunjung yang memadati lokasi acara, termasuk Rektor IIUM Prof. Datuk Seri Dr. Zaleha Kamaruddin dan 10 perwakilan negara di dunia.
Penampilan tim Indonesia
Global Ummatic Festival merupakan perhelatan tahunan yang sudah berlangsung sejak 8 November lalu. Selain 5 negara utama yang melaju ke final, turut berpartisipasi pula negara-negara seperti  India, China, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Yaman, Irak, Yordania, Somalia, Nigeria hingga Palestina. Setiap negara menghadirkan stan-stan informatif tentang negaranya. Meski demikian, pertunjukan budaya - yang lantas dimenangi oleh Indonesia, tetaplah menjadi bagian yang selalu ditunggu-tunggu.

Indonesia, yang diwakili oleh Persatuan Pelajar Indonesia IIUM, melaju ke putaran final berkat gelar budaya Indonesia bagian timur yang berhasil memukau khalayak pada putaran pertama Jumat (16/11) lalu. Penonton yang kebanyakan merupakan mahasiswa internasional sama sekali tidak mengira bila Indonesia mempunyai budaya semacam itu. “Saya pikir rumbai-rumbai hanya dipakai oleh suku-suku di Afrika. Tetapi Indonesia ternyata juga punya. Cool!”, ungkap Maha, mahasiswi asal Syiria.

Pesona Indonesia di babak pertama inilah yang lantas mengalirkan dukungan dari negara-negara yang gagal melaju ke final. Tak heran, meski pendukung Indonesia terkonsentrasi di sudut kiri ruangan tetapi teriakan dukungan meluncur pula dari sudut-sudut lainnya. “Begitu Indonesia diumumkan menjadi juara, saya langsung berdiri dan ikut berteriak gembira, Rasanya seperti negara saya sendiri yang menang!” ungkap Mohammed Balfaqih, mahasiswa Engineering asal Palestina.

Kemenangan Indonesia di sesi pertunjukan budaya berhasil melengkapi 3 buah medali yang didapatkan dari sesi olahraga pada perhelatan yang sama. Dimana Indonesia menyabet medali emas di cabang sepak bola dan bola basket putri, serta satu perunggu dari cabang bola basket putri. Prestasi ini tentunya menjadi berita baik di tengah berbagai miring, mulai dari karut marut dunia sepakbola hingga korupsi yang ada dimana-mana. Semoga semangat mahasiswa tidak pernah lelah mengukir cerita-cerita bahagia selanjutnya.
Ya Tuhan kudengar bisikmu di kesyahduan suara seruling, kala malam yang hening. Menggugah jiwaku, menyadarkanku senantiasa setia mengabdi berbakti dan aku pun berseru: cinta, cinta, cinta Indonesia. (Guruh Soekarno Putra)
Pengunjung stan pameran Indonesia

Warna-warni Idul Adha di IIUM

| Oktober 16, 2013 | Sunting
Berbeda dengan sepinya malam takbiran, Idul Adha di kampus saya lumayan ramai dan berwarna-warni. Idul Adha - juga Idul Fitril menjadi sebuah alasan kuat bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk menggunakan pakaian tradisional masing-masing. Saudara-saudara kita dari daratan Timur Tengah dan Afrika biasanya paling heboh dalam hal busana. Mahasiswa Afrika biasanya menggunakan busana tradisional berwarna cerah menyala dengan berbagai bentuk hiasan kepala (semacam topi). Sementara mahasiswa Afghanistan dan sekitarnya mudah dikenali dengan rompi tenun tradisional yang mereka pakai. Oh ya, satu lagi yang khas: Idul Adha adalah hari dimana berbagai macam parfum berlomba masuk ke dalam lubang hidung kita - sesuatu yang lantas membuat saya mabuk dan tepar!
Warna-warni Idul Adha
Sholat Ied dimulai pukul 8:30 dan masjid kampus kami yang berkapasitas sekitar 9000 jamaah lumayan penuh. Sebagian besar jamaah adalah mahasiswa Internasional yang tidak pulang kampung - sebagaimana juga saya dan juga masyarakat umum dari sekitar kampus. Sementara, mahasiswa asal Malaysia sebagian besar pulang kampung, hanya beberapa yang tidak. Khotbah Ied disampai oleh seorang dosen dari Department of General Studies, KIRKHS, yang menggaris bawahi tentang korelasi ibadah dan inner-peace. Jamaahpun lantas tumpah ruah di area masjid selepas Ied, bersalam-salaman, foto bersama ataupun sekadar ngobrol. Saya sendiri memilih pulang setelah berbincang dengan beberapa kawan dan menyalami sebagian jamaah karena serbuan berbagai aroma parfum yang tidak bersahabat seperti yang saya tulis di awal.
***
Hari Idul Adha dan paling tidak 3 hari setelah Idul Adha (Tasyrik) adalah hari berlimpah makanan di IIUM. Banyak organisasi yang mengadakan open house dan membagikan makanan gratis. Salah satunya adalah Forum Tarbiyah (Fotar), satu dari belasan perkumpulan mahasiswa Indonesia di IIUM. Bertempat di tepi sungai Aikol, acara nyate bareng dimulai selepas Dzuhur. Semerbak bumbu sate yang menetes ke bara arang seolah menari-nari dibawa angin, mengirimkan sinyal lapar ke otak. Apalagi, selain sate juga disiapkan gado-gado, enaknya...

Untuk menyemarakkan Idul Adha 1434 H kali ini, Fotar menyediakan sekitar ... kg daging yang dibeli dari donasi berbagai pihak. Total ada sekitar 300 tusuk sate yang disiapkan oleh tim keputrian untuk kemudian dibakar oleh para lelaki siang kemarin. Pembakarannya sendiri dilakukan dengan sangat sederhana, memanfaatkan benda-benda di sekitar area acara. Karena lupa membeli minyak ataupun briket, akhirnya menggunakan plastik bekas untuk daden (menghidupkan bara arang). Karena lupa menyiapkan kipas akhirnya menggunakan piring Styrofoam untuk mengipasi satenya. Karena catering-nya lupa membuatkan bumbu sate, akhirnya kami membuatnya sendiri - on the spot. Hehe. Walaupun begitu, karena dilakukan bersama-sama dan dengan hati riang, alhamdulillah semuanya lancar. Hehe.

Ini adalah penampakan calon sate yang menunggu untuk dibakar. Calon sate dilumuri dengan bumbu yang terdiri dari kecap, bawang merah, cabai dan jeruk nipis terlebih dahulu, sebelum dibiarkan sebentar agar bumbunya meresap.
Calon sate
Baru setelah itu calon disate dikirim ke atas pembakar. Biarkan bara yang keluar dari arang di bawahnya membakar setiap inci calon sate tersebut. Pastikan bahwa api membakarnya secara merata, kecuali kamu mau melahap sate setengah matang. Tapi, juga pastikan bahwa api tidak menggosongkannya, kecuali kamu mau makan sate arang, hehe. Setelah sate-sate tersebut cukup matang, segera angkat! 
Sate dalam proses
Nah, selepas Ashar hidangan sudah siap sedia. Sate yang masih lumayan hangat disajikan bersama lontong dan gado-gado untuk kemudian disiram bumbu kacang, ditaburi bawang goreng. *saya menulis bagian ini sambil menelan ludah* Mantap! Oh ya, sebenarnya juga ada es buah yang nikmat sekali, tetapi karena kami terlanjur lapar sehingga tak ada satupun yang ingat untuk mendokumentasikannya, hehe. Syukur sekali semua senang, semua kenyang. Berkah Ied banget! :)
P.S: Selain Fotar, PPI IIUM, KMNU, IKPM dan beberapa perkumpulan mahasiswa lainnya juga biasa mengadakan open house di IIUM. Dari pihak kampus, International Student Division setiap tahunnyapun menggelar open house. Sehingga jangan khawatir: ada banyak kesempatan untuk merasakan rahmat Ied :')
Senangnya makan sate bersama :)
Salam hangat dari seberang. Sateee..

Sumber gambar: #IIUM Instagram, Sosmas Fotar, jepretan pribadi

Malam Takbiran di Negeri Jiran

| Oktober 15, 2013 | Sunting
Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, semarak mungkin adalah kata yang terlintas dalam benak begitu mendengar Idul Fitri atau Idul Adha. Meskipun biasanya Idul Fitri terasa lebih semarak karena dibarengi dengan prosesi mudik, tetapi bukan berarti budaya perayaan menyambut Idul Adha sepi-sepi saja. 

Keduanya menyajikan sensasinya masing-masing. Idul Fitri seringkali identik dengan prosesi mengunjungi rumah tetangga dan sanak saudara untuk bermaaf-maafan, juga kebiasaan memasak ketupat ataupun kue apem. Sementara, semarak Idul Adha ditunjukkan dengan prosesi penyembelihan hewan kurban yang kadang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. 

Di desa saya, pada hari penyembelihan, kawasan masjid sudah ramai sejak pagi: ada yang menonton prosesi penyembelihan hewan, membantu prosesnya, hingga menunggu pembagian daging.
Takbir Keliling - Jogja
Namun, di atas itu semua, kedua hari raya ini sama-sama identik dengan Malam Takbir. Pada malam hari sebelum perayaan kedua hari raya ini, umat Muslim bersama-sama melantunkan takbir dan shalawat-shalawat pujian dari pusat-pusat ibadah. Dari prosesi turun temurun ini lantas lahirlah berbagai variasi lain: arak-arakan bedug ataupun lampion, takbir keliling hingga lomba takbir. Semuanya dilakukan sebagai wujud rasa syukur dan bahagia karena bisa kembali merasakan datangnya kedua hari suci tersebut. 

Malam-malampun lantas menjadi lebih semarak dengan kembang api ataupun terkadang petasan. Terlepas dari dalil-dalil yang sering kali diperdebatkan, bagi saya semarak tersebut sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia dalam menyambut kedua Hari Raya. 

Dan semarak semacam itulah yang selalu membuat dua malam Hari Raya saya selama di Malaysia (Idul Adha tahun ini dan tahun lalu), menjadi mellow berbau drama. Saya sendiri setuju bahwa semangat Hari Raya seharusnya lebih pada semangat batiniyah, bukan lahiriah. Tapi, hidup jauh dari rumah membuat saya merasa bahwa semangat Idul Adha juga merupakan semangat lahiriah yang ditunjukkan dengan parade beduk, takbir keliling ataupun duduk bertakbir di masjid semalam suntuk. Dan itulah yang tidak bisa saya temukan di Malaysia. Suasanaalam takbir bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan malam-malam biasa. Suara takbir hampir tidak terdengar. Di beberapa kawasan yang banyak ditinggali oleh orang Indonesia - seperti kawasan Chow Kit, sih katanya tradisi takbiran masih ada, namun itupun cukup jauh dari kampus dimana saya belajar dan tinggal. Sehingga sayapun memilih memutar video takbir dari Youtube.

Beberapa kawan Malaysia yang saya tanyaipun tidak bisa memberikan jawaban apa-apa kecuali gelengan kepala ketika saya tanya perihal takbiran pada malam hari raya. Beberapa menambahi jawabannya dengan, "Memang dari dahulu selalu begini kok (selalu sepi)!" Bandingkan dengan apa yang ada di tanah air, tak jarang momentum Idul Adha menjadi ajang kompetisi televisi-televisi untuk meraup rating dengan berbagai acara berbau Idhul Adha ataupun Idhul Fitri.

Sepinya suasana malam takbiran di Malaysia itulah yang menurut saya membuat banyak orang Indonesia yang memilih untuk berliburan ke negera ini di libur hari raya. Kalau tidak percaya, coba saja mengunjungi pusat keramaian seperti kawasan Bukit Bintang atau KLCC di "malam takbiran", akan begitu mudah mata kita untuk menangkap tanda-tanda keberadaan pelancong Indonesia di sana. Saya sendiripun baru saja pulang dari acara ngumpul bersama beberapa kawan, yah... ngumpul haha hihi di malam takbiran!

Selamat Idhul Adha... Salam rindu untuk tanah airku, semoga ini adalah pengorbananku untuk selalu membuatmu bangga dan tertawa. :')

Kisah Sepenggal Siang: Syukur

| Oktober 10, 2013 | Sunting
Entah kenapa pagi ini kumulai dengan perasaan penat. Kelas pukul 08:30 kudatangi dengan langkah gontai, malah sedikit terlambat. Ada hal yang sebenarnya sudah kuselesaikan semalam, namun seseorang mengacaukannya sehingga aku harus mengulangnya dari awal. Terang saja aku sebal. Dan perasaan ini terbawa ke kelas, kemana-mana.

Selepas kelas aku memutuskan untuk pulang ke kamar, sekitar pukul 12:30. Pikirku bisa tidur dulu sebelum melanjutkan kelas pukul 15:30. Berharap perasaanku akan membaik begitu aku bangun. Namun, keluar dari kelas aku malah mampir ke tempat jualan seorang kawan. Dan tentu saja kemudian kami malah ngobrol. Obrolan baru selesai ketika azan berkumandang, seorang karib mengajakku tunaikan kewajiban.

Perasaanku sudah sedikit lebih baik ketika aku akhirnya melangkahkan kaki ke mahallah. Namun, Sang Pembuat Rencana ternyata sudah merencanakan sesuatu yang lain. Tak biasanya dari kampus aku memilih jalan memutar menuju ke kamar. 

"Leee... Leee...", terdengar suara memanggilku. Aku yang bingung dari mana asalnya suara hanya melihat sekeliling. Panggilan kembali terdengar, kini disertai tepukan tangan. Ternyata dari bawah tangga asrama. Aku mendekat. Ternyata ada Ibu-ibu petugas kebersihan asrama yang tengah beristirahat siang. Di hadapan mereka terhidang aneka rupa buah-buahan.

"Kene... Kene.. Rujakan... Mari... Mari.. Makan rujak!" Yah, Ibu-ibu tadi tengah membuat rujak. Ada mangga, kedondong, jambu, juga nanas. Aku melepas alas kakiku, duduk bersama mereka. Adegan selanjutnya sudah jelas tentu saja: makan rujak bersama.
Mak - Full team
Oh ya, sebagian besar petugas kebersihan asrama adalah orang Indonesia, salah satunya pernah kuceritakan di sini. Dan sejak awal masuk IIUM, aku lumayan akrab dengan beberapa dari mereka. Saking akrabnya aku bahkan memanggil mereka dengan panggilan "Mak", panggilan yang selama ini hanya kugunakan untuk memanggil Mamak, ibu saya. 

Kami kadang-kadang makan siang bersama, sambil ngobrol ngalor ngidul membicarakan berbagai hal. Kami semakin akrab karena kesamaan bahasa: bahasa Jawa. Awalnya aku masih menggunakan bahasa Jawa halus ketika berbicara dengan mereka, tanda hormat kepada yang tua. Tapi, lama kelamaan aku malah ditegur dan disuruh untuk menggunakan bahasa Jawa ngoko saja, tingkatan bahasa Jawa yang salah satunya digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya. "Seperti ngomong sama siapa aja pakai bahasa halus!", ujar mereka.

Ibu-ibu tadi terkadang juga mengirim makanan: kerupuk, pisang, rempeyek bahkan pernah juga rendang dan bakso. Mereka pun tak canggung meminta pertolongan apabila memang sedang perlu: mengisikan MP3 ke handphone, mengirimkan surat ke Indonesia, mengartikan surat ataupun edaran berbahasa Inggris dan pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Namun karena satu hal yang terlalu rumit untuk saya cerita, kawan akrab saya tersebut dipindah tugaskan ke tempat lain. Dan karena itulah intensitas pertemuan kami berkurang - tapi beberapa kali mereka bermaksud memberi makanan tapi karena tidak berjumpa akhirnya diberikan seorang kawan. Sehingga, bisa dibilang pertemuan tadi siang adalah semacam reunian :')

Saya duduk begitu saja bersama mereka di lantai. Meski sebenarnya seharian belum makan, tetapi begitu melihat potongan-potongan mangga muda di atas piring, saya langsung lahap. Sambil makan, seperti biasa, kami ngobrol. Atau lebih tepatnya saya mendengarkan berbagai cerita mereka, ada terlalu banyak hal yang sepertinya ingin mereka ceritakan sepertinya. Mulai dari seorang petugas kebersihan yang sudah melahirkan, permit kerja yang tidak kunjung keluar, mesin semprot yang rusak hingga "kehidupan" yang lebih baik di tempat kerja yang baru. 

Jadi, ceritanya, mereka ini sebenarnya adalah semacam petugas kebersihan teladan. Di bawah kendali mereka, saya bisa mengatakan bahwa blok asrama di mana saya tinggal adalah blok paling bersih di antara asrama-asrama lainnya. Kamar mandi kami paling mengkilat! Toilet kamipun kinclong! Area asrama juga asri, dipenuhi berbagai macam tanaman. Dan dengan kerja yang jempolan akhirnya mereka mendapat perlakuan khusus dari kantor asrama. Dan sejak saat itulah banyak pekerja lain yang iri, termasuk team leader-nya. Sehingga berbagai intrikpun berjalan yang akhirnya berujung pada pemindahan Mak petugas kebersihan asrama kami :'(

Di satu sisi saya senang ketika mereka terbuka dengan kehidupan mereka, karena tandanya mereka nyaman dengan saya. Tapi, di sisi lain, dengan cerita yang demikian saya jadi kasihan. Dan itulah yang seringkali terjadi: orang-orang yang aktif kerja seringkali terkalahkan oleh mereka yang aktif bicara - termasuk di antaranya menebar fitnah.

Tapi sudahlah, mereka sudah menemukan kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru. :) Bahkan mereka berusaha merayu saya untuk ikut merasakan kehidupan yang lebih baik tersebut dengan mengusulkan untuk pindah kamar saja ke kompleks asrama dimana mereka sekarang bekerja, hehe.

Sang Pembuat Rencana ternyata telah menyiapkan rencana terbaiknya. Dan menghabiskan siang bersama Mak-mak tadi berhasil menjadi mood-booster saya. Apalagi tadi siang adalah hari gajian, sehingga mereka memiliki lebih banyak bahan obrolan.
Menghitung Gaji
"Duit wolungngatus ringgit, telungatus dikirim kat Indon! Isih limangatus, sik rongatus dinggo arisan. Isih telongatus. Utang ke Kak Tinah, tujuh puluh, isih rongatus telungpuluh. Bayar pulsa sepuluh, rongatus rongpuluh! Yah, lumayan iso mlebu celengan!"

Terjemahan: (Dapat) gaji delapan ratus ringgit, tigaratus ringgit dikirim ke Indon! Masih limaratus ringgit, yang duaratus untuk arisan. Masih sisa tigaratus. Untuk bayar hutang ke Kak Tinah tujuhpuluh, masih duaratus tigapuluh. Untuk bayar pulsa sepuluh ringgit, masih ada sisa duaratus duapuluh. Yah, lumayan bisa ditabung!

"Koseeekk. Duit klambi seket urung dibayar. Duit emas satus rongpuluh. Hayoo!"

Terjemahan: Sebentar. Uang membayar jahitan baju belum dibayar, limapuluh ringgit. Uang emas, seratus duapuluh ringgit. Hayooo!
Membayar Hutang
Oh ya, uang emas yang Mak-mak ini maksud bukan uang untuk membeli emas, tetapi biaya menitipkan emas! Akhir-akhir ini pemerintah Kerajaan Malaysia sedang gencar melakukan razia pekerja asing tanpa izin. Mereka yang tertangkap biasanya langsung dideportasi, sehingga akhirnya mereka menitipkan harta benda mereka ke seseorang dengan membayar sejumlah uang. Dan akhirnya, uang delapan ratus ringgitpun bersisa limapuluh ringgit! Tapi, mereka tetap saja tertawa, dengan begitu bahagia.

Sepenggal siang yang benar-benar mengembalikan mood saya. Saya merasa begitu senang. Apalagi di akhir perjumpaan mereka mengundang saya untuk ikut santap Jum'at besok pagi. Horee.. Dan, menunya.. Tebak apa coba? Menunya katanya bubur sumsum! Aaaa, pelepas rindu banget!

Yah, konklusi saya: hidup kadang memang terasa begitu sulit. Namun, ada banyak hal yang seharusnya membuat kita lebih banyak bersyukur. Orang-orang yang jauh dari tanah kelahiran. Orang-orang yang bekerja di bawah rasa takut. Orang-orang yang menerima gaji untuk kemudian habis sekali waktu. Orang-orang yang masih bisa tertawa meskipun seharusnya mereka bisa saja memilih untuk menangis ataupun mengeluh. Semoga kita menjadi makhluk yang senantiasa bisa bersyukur :')

Anies Baswedan: Saya Pilih Ikut Nyalakan Lilin

| September 12, 2013 | Sunting
Anies Baswedan
Assalamualaikum wr wb dan salam sejahtera.

Semoga email ini menemui Saudara dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif.
Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya mulai renungkan kembali tentang bangsa kita, tentang negeri ini. 

Para pendiri republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negawaran. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap  turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna politik dan politisi terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari 3 kali lipat dalam waktu kurang dari 8 tahun? Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Coba kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan bersih baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun motifnya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di partai-partai lain.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekadar kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer? Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekadar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggung-jawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera Merah Putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Repubik ini berdiri. Mereka berjuang menaikkan Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun, bukan sekadar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia mem-forward sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya Ketuhanan Yang Maha Esa diubah jadi keuangan yang maha kuasa dan seterusnya. Lalu Ia tuliskan, Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan 'gain' apa. Sebuah tamparan keras.

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederatan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah jembatan menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nekek kita, bahwa tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan bersih baru ikut turun tangan?
Saya pilih ikut ambil tanggung jawab, tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas: mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.
Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekadar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut pada apa kata sejarawan yang di kemudian hari akan menulis soal pilihan kita: diam atau turun tangan.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila di 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya bawa misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.
Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.
Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum jadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf­- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan sekadar soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan siap untuk berwarganegara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus. Istri mengatakan, yang penting jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita. Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi ibu lalu katakan, jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya. 

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, insyaAllah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Semoga kita masuki proses ini dengan kepala tegak, insyaAllah harus bisa jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza Azamta Fatawakkal Alallah ...  bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa ...

Semoga Allah Swt selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga makin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan

Bu Risma: Saya Tidak Punya Ambisi Politik

| September 03, 2013 | Sunting
Surabaya. Di kota terbesar kedua Indonesia ini, legenda berkisah tentang pertempuran dahsyat antara Sura, hiu putih raksasa dan Baya, si buaya. Berjumpa di sebuah sungai, keduanya bertempur dengan sengit demi memperebutkan supremasi kerajaan animalia. Tempat dimana pertempuran itu terjadi lantas dikenal sebagai luas Surabaya, kota hiu dan buaya. Perlambangan yang sama kemudian juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana kolonial (baca: para hiu dan buaya) mengendalikan kota tersebut selama berabad-abad.
Ibu Risma | Foto oleh Majalah Swa
Terletak di bagian utara pantai timur pulau Jawa, Surabaya sudah menjadi pelabuhan utama dan pusat perdagangan di Asia Tenggara sejak akhir tahun 1200 dan diperebutkan oleh berbagai pihak, sebelum akhirnya dikuasai oleh Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) selama tiga abad. Belanda kemudian menyerah kepada tentara Jepang pada 1942, yang kemudian menguasai Indonesia sampai mereka menyerah pada sekutu pada tahun 1945.

Pasca Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pergolakan antara pejuang kemerdekaan dengan pasukan Sekutu yang kembali ke Indonesia untuk mengambil tahanan perang kembali terjadi. Kematian Mallaby dalam baku tembak membangkitkan amarah Inggris untuk membumihanguskan kota. Pertempuran itulah yang kini diperingati sebagai titik balik perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang sama membuat masyarakat Indonesia menyebut Surabaya sebagai “kota Pahlawan”.

Hari ini, Surabaya memiliki pahlawan baru: walikota yang memberi nafas perubahan pada kota, Tri Rismaharini. Lebih dikenal sebagai Bu Risma, Walikota Surabaya ini adalah bagian dari generasi baru pemimpin Indonesia, pasca penerapan desentralisasi pemerintahan di seluruh Indonesia. Keberadaan orang-orang seperti Bu Risma bahkan disebut siap untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan nasional.

Sejak pukul 5.30 pagi, kerap kali Bu Wali sudah terlihat memunguti sampah di pinggiran jalan. Di siang hari, ia bermain bola dengan anak-anak di taman dan mengingatkan mereka untuk belajar giat. Saat malam datang, ia berpatroli ke taman-taman untuk menegur remaja-remaja yang keluyuran malam. Pun ketika lalu lintas macet, ia seringkali keluar dari mobilnya dan berinisiatif untuk mengatur lalu lintas. 

Risma juga masih sempat mendengarkan keluhan-keluhan warganya melalui sebuah program di radio. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan seputrar penggusuran, saluran air yang tersumbat bahkan kadang pertanyaan-pertanyaan yang kurang pantas.

Sebagai lulusan Teknik Arsitektur, Risma mengawali karirnya sebagai kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan di tahun 2005. Dan dibawah kendalinya, ia mengubah Surabaya, yang oleh seorang novelis Belanda disebut "kota kotor yang penuh pretensi dan kerakusan” menjadi Surabaya yang bersinar.

Di bawah pemerintahannya, kompleks pelacuran diubah menjadi Taman Kanak-Kanak. Bekas-bekas SPBU diubah jadi taman bermain. Spanduk-spanduk berisi himbauan untuk membuang sampah di tempat semestinya juga tersebar di penjuru kota. Semua itu membuat Surabaya memenangkan lusinan penghargaan sebagai pelopor kota ramah lingkungan. Dan di saat yang sama, kepemimpinannya juga berhasil menginspirasi warga kota untuk turut turun tangan merawat kotanya. Tahun lalu Surabaya meraih penghargaan sebagai kota dengan tingkat partisipasi publik terbaik di Asia Pasifik.

Tak hanya soal taman, Risma mempunyai program pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat kurang mampu – sembari merampingkan birokrasi untuk menekan inefisiensi. Putri seorang pedagang kecil ini juga rajin menimba ilmu dari kota lain. Mulai dari mengadopsi sistem lampu kota dari Berlin hingga teknik pengajaran yang lebih baik dari Seoul.

Salah satu target utamanya tidak hanya mengembangkan infrastruktur dan ekonomi kota, tetapi juga mengembangkan SDM kota Surabaya melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran publik yang menghabiskan 35 % dari APBD Surabaya untuk pendidikan, 15% lebih tinggi dari standar nasional.

“Saya tidak benar-benar memahami politik praktis,” ungkap Risma – sesuatu yang mengejutkan bila melihat pencapaiannya. Tetapi itu bisa jadi benar mengingat ia pernah hampir dimakzulkan saat awal masa jabatannya. Kala itu ia berencana menaikkan pajak reklame dan mengurangi tarif iklan bagi UKM.

Ketika ia menjabat sebagai Kepala Pengembangan Bangunan Kota, Risma dan keluarganya bahkan sampai mendapat ancaman pembunuhan karena gebrakannya mengimplementasikan sistem e-procurement. Melalui ini,  proses pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi lebih terbuka. Penekenan kontrakpun langsung dilakukan antara penyedia barang dan jasa dengan panitia pengadaan, sehingga menekan "kebocoran". Sistem tersebut bahkan berhasil menghemat 20-25% anggaran sehingga bisa dialihkan ke pembangunan jalan, jembatan dan area pedestarian.

Risma juga menjalin hubungan intensif dengan sektor swasta dan dengan cerdas mengendalikan birokrasi. Dua hari pasca pelantikannya, Risma menghadap wakil presiden untuk membahas proyek pembangunan pelabuhan yang telah terbengkalai selama beberapa dekade. Meskipun berulang kali disuruh pulang, Risma menolak sampai diteken kesepakatan untuk memulai pembangunan.

Peletakan batu pertama pembangunan pelabuhanpun dilakukan seminggu kemudian. Pembangunan ini berhasil meningkatkan lalu lintas kapal hingga 200%. Dan mendorong efisiensi dan peningkatan kapasitas pelayanan pelabuhan sebagai pintu gerbang ke provinsi-provinsi di Indonesia.

Risma juga bertemu dengan pemerintah Belgia untuk membahas potensi “sister city" antara Surabaya dan Antwerp, salah satu pelabuhan terpenting di Eropa. Kerja sama ini rencananya akan mengembangkan satu sistem yang membuat kapal kargo tidak perlu berlabuh di Singapura. Otomatis ini akan mengurangi biaya pengapalan antara dua pelabuhan dan membuat kedua kota tersebut menjadi lebih kompetitif.

Ide-ide kreatif semacam itu  telah mendorong pertumbuhan ekonomi Surabaya menjadi 7,5 persen sejak Risma menjabat pada tahun 2010 silam – sekaligus membuatnya meraih penghargaan bergengsi Woman Leader Award 2012 dari Globe Asia.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kemampuan dan kepemimpinan Risma adalah model kepemimpinan yang paling dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini? Majalah TEMPO pernah menulis misalnya, ...mungkin solusi permasalahan Indonesia selama ini sebenarnya ada pada sosok yang malah tidak pernah menghiasi halaman depan media nasional dan berada di wilayah yang jauh dari gemerlapnya Jakarta.
"Saya tidak punya ambisi politik," tegas Risma. "Menjadi walikota, gubernur atau bahkan presiden merupakan amanah yang luar biasa. Bukan hanya soal menyelesaikan masalah banjir atau semacamnya. Tetapi juga bagaimana bisa membantu masyarakat berdaya, agar mereka sukses."
Saat dia berbicara, saya teringat simbol kota Surabaya – hiu dan buaya yang tengah bergelut. Sebagai walikota, Ibu Risma tentu telah belajar untuk menjinakkan berbagai konflik kepentingan. Apa lagi yang mungkin bisa dia lakukan untuk Indonesia?

Artikel ini pertama kali dimuat di Huffington Post dan terjemahan pertama oleh Amalia Ayuningtyas.

Lentera Jiwa (2-Habis)

| Maret 18, 2013 | Sunting
Steve Job
Khafilah berlalu ...
Ketika seseorang bertanya bagaimana caranya menjaga kebugaran agar selalu tampak segar dan bersemangat, maka sebenarnya jawaban terbaik ada pada menyala atau tidaknya lentera jiwa seseorang. Di rumah, kala saya sedang mengalami tekanan psikologis, istri saya selalu mengatakan "wajah saya sudah berubah menjadi seperti pak dosen". Lama saya tak mendengar lagi kalimat itu, tetapi saya pernah memikirkannya.

Rupanya ia tak mau wajah suaminya menjadi mirip rata-rata dosen yang kata dia "menjadi lebih tua dari usianya". Saya baru menemukan jawabannya ketika suatu waktu Najwa Shihab mempertemukan saya, Prof Emil Salim dengan Ninik L Karim, dosen Fakultas Psikologi UI untuk menyambut mahasiswa baru. Di atas panggung auditorium UI, kami bercerita tentang kehidupan kami bagaimana meniti karier dan menembus tembok-tembok kesulitan sepanjang masa. Saat jeda, saya sempat bertanya pada Ninik, apakah sosok seperti dia lazim berada di kalangan dosen? Apakah tidak mengalami masalah dengan pola karier seperti ini?

Di luar dugaan saya, pemain teater yang pernah meraih beberapa kali piala Citra di layar lebar itu justru bertanya balik ke pada saya.  Saya katakan, justru itulah saya bertanya, karena sesungguhnya saya ingin tahu apakah orang seperti saya di fakultas lain juga mengalami hal serupa?  Selain mengajar, Ninik dikenal sebagai selebritas, dan dulu sering muncul di layar lebar.  Kalau sekarang anda menyaksikan akademisi menjadi pengamat dan sering masuk TV adalah biasa, tidak demikian sepuluh-dua puluh tahun lalu.

Ninik bercerita panjang lebar bagaimana ia dianggap aneh oleh komunitasnya. Bahkan yang lain bercerita, mereka seperti digunjingkan, tak diinginkan oleh komunitasnya. Tetapi Ninik kemudian mengatakan, "Tetapi saya bahagia Mas, saya lakukan semua ini karena panggilan jiwa saya.  Sementara ada ratusan dosen yang melakukan profesinya bukan karena panggilan jiwanya”. Maka layaklah mereka menjadi dosen killer, mudah tertekan, cepat tersinggung, sulit mengungkapkan mau hatinya, bahkan sulit berprestasi optimal.  Padahal, seorang guru sejati bukanlah orang yang senang marah, mempersulit orang lain, mengatakan orang lain tak mutu, bahkan mengatakan hanya dirinya yang bisa bernalar.  Bagi saya semua ini hanyalah cerminan dari tak menyalanya lentera jiwa.  Mereka bahkan the caged life (perangkap jiwa) atau bahkan sudah comfortable life (mempertahankan kenyamanan).

Pertanyaan Jiwa

Maka sampai di usia 30-40 an, seorang yang sedang meniti karier perlu bertanya pada jiwanya dan pertanyaan itu adalah cermin dimana ia berada. The Caged Life, kata Brendon Burchard, akan selalu diwarnai perasaan-perasaan takut setiap menyaksikan perubahan apa saja. "Apakah saya bisa survive"? Dan fokusnya hanya pada "aman atau tersakiti".

The comfortable life sebaliknya akan bertanya, "Apakah saya akan diterima dan berhasil"? Dan fokusnya pada penerimaan. Sedangkan pemantik lentera jiwa akan bertanya, "apakah saya telah menegakkan kebenaran dan mengaktualiasikan potensi diri saya? Apakah saya telah menjalankan hidup yang inspiratif dan menginspirasi orang lain".

Bagi saya, maaf, percuma saja berteriak kejujuran dan etika, bila diri sendiri menjalani hidup yang terpenjara. Orang yang terpenjara tidak hidup dalam apa yang ia inginkan, ia banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang sulit ia jawab sendiri. Sementara bagi pemantik lentera jiwa, credo yang dianutnya asalah, " ask not what you are getting from the world but, rather what you are giving to the world".

Orang yang kariernya dijalani dalam the caged life berpotensi menjadi komplainer, dan tidak bahagia melihat orang lain bahagia.  Mereka justru berbahaya bila menjalani karier sebagai auditor, wartawan investigator, penulis, penegak hukum, atau bahkan bila ditempatkan ke dalam dewan etika sebuah lembaga.

Maka, mereka tak pernah merasa keletihan karena setiap hari selalu menyaksikan hal-hal baru.  Ini berbeda dengan The Comfortable Life yang selalu menjalani rutin dengan kebosanan.  Bagi pemantik lentera jiwa, "life is magical and meaningful". Mereka tak takut menghadapi gelombang-gelombang ancaman, mereka hanya peduli" apakah ini benar atau tidak" dan "apakah ini meaningful".  Selamat menyalakan lentera jwa masing-masing...

*) Tulisan Rhenald Kasali, founder Rumah Perubahan, dimuat di Jawa Pos 11 Maret lalu. Tulisan bagian pertama yang bisa dibaca di sini.

Lentera Jiwa (1)

| Maret 17, 2013 | Sunting
Di STM (sekarang namanya SMK) 6 Kramat Raya tahun 1970-an akhir ada seorang siswa yang senangnya membuat puisi dan karikatur. Meski lulus sebagai juara kelas dan dapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke IKIP Negeri Padang, ia justru memilih kuliah di sekolah jurnalistik. Kalau ia mengambil opsi pertama, ia tentua sudah menjadi guru STM. Tetapi meski tak punya biaya untuk bayar kuliah sendiri, hatinya berkata lain.

Setelah lulus, ia magang di sebuah majalah berita dan dilatih melakukan investigasi berita dengan prinsip “tak ada tokoh yang tak punya kesalahan”. Dengan bekal itu, setelah bertahun-tahun menjadi reporter, di sebuah stasiun TV, pada awal reformasi ia menjadi host talkshow politik yang sarat konflik. Tokoh-tokoh yang berseberangan ia pojokkan sehingga tak berkutik dan saling menyalahkan. Tontonannya sangat menarik, ratingnya tinggi. Tetapi setelah beberapa tahun menjalankan peran itu ia bertanya: “apakah ini yang saya cari dalam hidup saya?". Ia merasa ada yang salah telah ikut menaburkan kebencian dan permusuhan.

Berawal dari pertanyaan itulah ia berhenti dari seluruh kegiatannya dari talkshow politik dan mengundang orang-orang biasa, pejuang perubahan sosial yang inspiratif. Anda mungkin tahu siapa yang saya maksud. Ya, itulah Andy Noya dengan Kick Andy show-nya. Sewaktu saya gali untuk program TV yang saya asuh di TVRI, Ia mengatakan “Saya seperti tengah bercermin. Saat tamu-tamu itu bercerita, saya seperti melihat diri saya sendiri di sana”.

Chef Seno

Apa yang dilakukan Andy agak mirip dengan sahabat saya di UI yang suskses menjadi direktur keuangan di sebuah bank. Sebagai akuntan senior ia punya semuanya: Keluarga yang harmonis, rumah yang besar, anak-anak yang sehat dan karir yang bagus. Tetapi setelah krisis moneter berlalu dan ia selamat, Ia justru meminta pensiun dini dan lama menghilang.

Akhirnya tahun lalu secara tak sengaja kami bertemu di sebuah lorong pertokoan di depan sebuah restoran Jepang di kawasan Takapuna, dekat Auckland, New Zealand. Delapan tahun yang lalu ia berimigrasi kesini dan memulai profesi baru. Ia mengambil kursus memasak selama 2 tahun, membeli alat-alat, dan memulai kariernya sebagai tukang masak dari restoran-restoran kecil. Sekarang Chef Seno sudah menjadi koki di sebuah hotel terkenal dan menemukan lentera jiwanya.

Saat kami diundang makan malam Saya melihat ia begitu piawai memotong dan menyajikan hidangan. Karakter masa lalunya sebagai akuntan yang kritis mulai tak kelihatan. Memasak adalah kecintaannya sejak kecil, namun sepertinya tak begitu macho bila dijalankan oleh pria, apalagi bila anda mengatakan itu adalah cita-citanya di tahun 70-80an. Ini mirip dengan Harland Sanders yang sudah gemar menggoreng ayam sejak usia kecil, namun setelah mendapat julukan kolonel, di usia 40-an Ia baru menggoreng ayam dan usahanya baru meledak saat usianya 60-an dengan nama KFC. Chef Seno dan Harland Sanders bukan memasak seperti ibu-ibu yang dipaksa nilai-nilai masyarakat berada di dapur: buku resep, kumpulkan bahan-bahan lalu masak. Mereka bisa memasak tanpa resep, mengikuti naluri dari bahan-bahan yang ada di dapur.

Sekolah STM bagi Andy Noya, menjadi akuntan bagi Chef Seno, atau menjadi tentara bagi Harland Sanders bukanlah lentera jiwa mereka. Brandon Burchard menyebut fase itu sebagai “The Cage” (kurungan jiwa). Di seluruh dunia, hampir semua kaum muda kesulitan menyalakan lentera jiwanya dan hidup terkurung menjalankan kehendak orang lain.
Lentera jiwa
Saya juga melihat di usia dewasa, ribuan orang yang berkarir ternyata juga terperangkap dalam hidup yang sama. Bahkan ada yang masuk ke fase ke dua: The Comfortable life seperti yang dirasakan Chef Seno saat menjadi direktur keuangan, atau Andy Noya saat menjadi pemimpin redaksi dan Wakil Pemimpin Umum di Media Indonesia dan Metro TV. Mereka beruntung mempertanyakannya: Inikah yang saya cari?

Hidup dalam The Cage membuat manusia patuh dan menjalankan sesuatu atas ekspektasi dan kehendak orang lain sehingga sulit sekali mencapai prestasi tertinggi karena selalu terjadi pertentangan jiwa. The Caged life hidup dalam kotak “belief” yang sempit yang banyak membatasi hidupnya. Ia membangun hidup dari sesuatu yang didiktekan orang lain, dan tak pernah berani keluar dari garis-garis maya yang mem- batasinya, untuk meng- eksplorasi dunia baru. The Caged life sangat takut bertentangan dengan aturan yang dibuat masternya, meski itu hanya ada dalam pikirannya. Sebegitu dalamnya peran “sang master” sehingga bila dilanggar, merasa “sangat berdosa”.

Lantas bagaimana keluar dari ke 2 fenomena itu? Tentu saja diperlukan upaya massif,  sebuah revolusi kehidupan seperti kembali ke titik nol dengan menghidupkan lentera yang oksigennya mungkin sudah ada. Saya akan lanjutkan di Lentera Jiwa 2, tetapi anda bisa menyaksikan pergulatan-pergulatan itu setiap Selasa malam di TVRI dengan tamu saya Andy Noya atau tamu-tamu inspiratif lainnya. Kalau kita bisa menghidupkan lentera jiwa kita masing-masing, maka bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Bahkan saya percaya, iri, dengki, saling menghujat akan jauh berkurang. Artinya Persatuan Indonesia akan lebih ideal kita rasakan.
*Tulisan Rhenald Kasali, founder Rumah Perubahan, dimuat di Harian Jawa Pos 4 Maret lalu. Bagian dua bisa dibaca di sini.

Aceh, Mozaik Kisah dari Berbagai Sudut Dunia

| Februari 16, 2013 | Sunting
Di Yogyakarta, saya berkawan akrab dengan Natsir, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga asal Takengon, Aceh Tengah yang selalu bersemangat menceritakan hamparan kebun kopi yang menarik hati di kampung halamannya - di pelukan pegunungan Gayo. Dengan detail ia ceritakan bagaimana rasanya menginap di pondok petani kopi, ikut memetik buah kopi tua dari pucuk pohonnya, mengeringkannya, hingga kemudian memprosesnya menjadi bubuk kopi harum yang rasanya memikat lidah. "Menikmati secangkir kopi Gayo yang baru saja dididihkan di atas perapian itu rasanya tidak terkira Bas! Kopi buatan bapakmu yang selalu kau suguhkan itu kalah jauh!", ungkapnya dengan bersemangat.
***
Di Jakarta, saya bersua dengan Hambari, seorang fotografer lepas pada suatu sore di sudut Taman Ismail Marzuki, Cikini. Saya sedang khusyuk menekuri buku fotografi bawah laut di kedai buku Jose Rizal Manua kala itu, tidak menyadari kehadirannya. Saya baru tersadar ketika putra asli Sabang ini membisiki saya, "Kalau mau melihat yang begituan, datanglah ke kampung saya, di ujung barat negeri, di Sabang!" Saya yang masih sedikit terkejut saat itu hanya terdiam. "Iyah, di Pulau Weh, ujung Aceh! Perkenalkan, saya Hambari!", tangan kami bertaut. Dan sejurus kemudian, kami sudah berpindah tempat ke salah satu kedai makanan laut di dekat pintu masuk TIM.

Dari sosok Hambari, yang baru saya kenal itu, saya dapatkan cerita tentang Pantai Gapang. Lautnya masih biru, pasirnya putih menentramkan, ombaknya memang sedikit keras namun itulah ombak laut lepas, demikian Hambari menuturkan. Saya hanya melongo karena memang tidak begitu tahu tentang Sabang dan Pulau Weh. Selama ini Wakatobi, Bunaken, hingga Mentawai sudah cukup memanjakan 'keanehan saya'. Aneh? Yah, saya ini takut air, tidak bisa berenang, namun begitu senang melihat keindahan lautan. Hambari terkekeh. Di Gapang, di bawah matahari sisi utara katulistiwa, kehidupan bawah lautnya tak kalah keren! Dari permukaan air sudah bisa kelihatan gugusan karang dengan ikan-ikan kecilnya yang lalu lalang, tak usah takut tenggelam!, Hambari menggodaku. Ah, dasar.
***
Di tengah kokoh berdirinya gedung-gedung pencakar langit di Kuala Lumpur, Zulhilmi, ketua Persatuan Pelajar Indonesia IIUM yang asli Aceh sering mengejek saya. "Sepelemparan mata saja dari Kuala Lumpur. Keterlaluan kalau dikau tak sempatkan untuk berkunjung ke Tanah Rencong!". Sosok Zulhilmi yang pekerja keras dan tulus menjalankan amanah perlahan mengikis kata orang yang sering saya dengar, "Orang Aceh itu malas-malas!".
***
Di Hong Kong, saya bertemu dengan Randy, bukan orang Aceh, namun orang Betawi, kuliah di UGM Jogja, dan menyimpan mimpi besar untuk bisa mengunjungi Aceh. Aha, akhirnya saya dapatkan rekan!, batinku.

Kamipun lantas berjanji, akan kunjungi Aceh suatu hari nanti, bersama-sama. Yah, dua orang Indonesia, pengagum Indonesia, pecinta Indonesia, berjanji berdua di tengah dinginnya udara Hong Kong di bulan Januari untuk bersama mengunjungi Tanah Rencong.
***
Yuk, ke Aceh
Pagi tadi, seseorang mengirimkan informasi tentang satu lomba menulis pada saya. Dan, begitu saya susuri informasinya, hati saya langsung meronta untuk ikut. Saya kabarkan informasi yang sama pada Randy!

"Ada komunitas, namanya @iloveaceh, yang tentu saja peduli pada Aceh dan berusaha mempromosikan Aceh melalui media maya. Mereka mengadakan lomba menulis, hadiahnya ke Aceh mas!. Saya tidak menjamin lomba ini akan menjadi penjawab mimpi-mimpi kita untuk ke Aceh bersama. Namun, bukankah tidak ada salahnya untuk mencoba kan kawan?"
"Ah, gila! Deadline sudah hampir datang!"
"Berlomba dengan deadline itu menyenangkan mas! Apalagi untuk sesuatu yang kita cinta dan kita pinta dalam setiap doa, agar suatu saat kita bisa ke sana: Aceh!"

Yah, bismillah. Aceh, aku (kami) datang!

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine