Membaca Sekali Peristiwa di Banten Selatan

| Agustus 23, 2015 | Sunting
Hari ini saya sebenarnya berniat untuk mulai membaca Pemberontakan Petani Banten 1888, buku mendiang Pak Sartono Kartodirdjo. Sayangnya kemudian tersadar kalau pakaian kotor sudah menumpuk. Sehingga pergi ke dobilah saya. Yah, akhir-akhir ini saya jarang mencuci tangan. Sambil menunggu cucian biasanya saya membaca. Buku Pak Sartono tentu terlalu tebal (dan berat) untuk dibaca dalam waktu tak lebih dari sejam. Buku Pramoedya Ananta Toer yang kemudian saya tenteng. Baru dibeli beberapa minggu sebelumnya di Gerak Budaya, Petaling Jaya. Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Seratus dua puluh enam halaman saja.
***
Cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan, tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di panggung. Begitu Pram menulis dalam kata pengantarnya. Selarik kalimat yang kemudian sangat membantu untuk memahami buku ini secara utuh.

Berbeda dengan novel-novelnya yang didominasi oleh paragraf-paragraf panjang, Pram menyuguhkan paragraf-paragraf yang lebih pendek, tak melewati 15 baris, dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Itu pun sebagian besar merupakan percakapan antara tokohnya.

Yah, Pram membangun cerita lewat percakapan-percakapan. Narasi-narasi pendek sekadar digunakan untuk pembuka saja. Atau selingan antar percakapan, untuk menjelaskan latar tempat semisal. Karena saking dominannya percakapan-percakapan antar tokoh, Pram tak lagi membubuhkan tanda petik untuk membuka-tutup percakapan. Dan bagi saya inilah salah satu daya tarik terbesar buku tipis ini.
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis berdasarkan hasil blusukan dan wawancara Pram ke Banten Selatan pada akhir 1957. Wilayah tersebut dikaruniai dengan tanah yang subur. Juga kandungan emas yang diterus dikeruk di Cikotok. Namun ironisnya masyarakat hidup kéré. Keadaan yang sudah sedemikian susah diperparah dengan kekacauan yang dibuat oleh kelompok pemberontak Darul Islam. Pasar kacau. Diobrak-abrik DI. Dengan latar belakang sosial yang demikian inilah Pram lantas memunculkan dua kubu beda kuasa yang saling berseteru.

Kubu pertama adalah sekumpulan petani desa yang lugu. Mereka mewakili salah satu kelas terendah dalam masyarakat. Maskotnya bernama Ranta. Tentang Ranta, ia digambarkan secara singkat:  Ia berumur kurang lebih tigapuluh sembilan tahun. Tubuhnya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makan yang baik. Penggambaran yang sepertinya mewakili kondisi sebagian besar masyarakat saat itu.

Kelompok petani tersebut ditumbukkan dengan kelompok dari kelas yang lebih tinggi, diwujudkan melalui tokoh Juragan Musa si tuan tanah. Dulu dia semiskin aku dan kami semua di sini. Zaman Jepang dia jadi wérek romusha. Barangsiapa pergi, disuruhnya kasih cap jempol. Ternyata cap jempol itu merampas tanahnya. Nah itulah cerita mula-mula dia jadi tuantanah. Dia mengangkat diri sendiri jadi Juragan.

Si juragan dengan kuasanya memperdayai petani-petani miskin itu untuk mencuri bibit-bibit karet onderneming. Namun, begitu kerja itu mereka tuntas, bukan uang yang mereka dapat. Orang-orang si juragan sudah siap sabetan-sabetan rotan, atau sekadar gertakan untuk dilaporkan ke polisi.

Si Juragan ini pulalah yang kemudian diketahui bersekongkol dengan kelompok pemberontak. Dan disinilah Ranta dan teman-temannya dimunculkan sebagai pahlawan yang berhasil mengungkap kebobrokan si Juragan kepada Komandan militer setempat. Titik yang kemudian mengubah nasib Ranta: ia diangkat menjadi lurah. Ia bekerja bahu membahu dengan masyarakat dan militer untuk menumpas pengacau. Semangat gotong royong memang pesan utama novel ini. Mereka yang lebih banyak bekerja yang berhak akan apa yang biasa dinamai bahagia.

Yah, jalan cerita novel pendek ini sesederhana itu. Pram pun seolah keluar dari pakem karyanya yang senantiasa berkubang majas-majas dan permainan kata yang sering kali begitu rumit. Ia terkesan irit eksplorasi. Seolah-olah hanya menyalin ulang hasil wawancaranya dengan para narasumber.

Namun, fakta bahwa novel ini juga diplot untuk menjadi naskah pentas kembali harus diingat. Tak heran pula bila tokoh-tokohnya seolah menghidupkan karakter mereka sendiri-sendiri — melalui percakapan-percakapan, cerita-cerita, yang oleh Pram disebut akan menjadi tantangan para pemain bila kemudian dipentaskan.

Kebijaksanaan Ranta misalnya, diungkap salah satunya melalui orasi-orasi panjangnya. Dengar kalian tak perlu takut. Kalian punya anakbuah. Satu-satunya yang menyelamatkan kita semua cuma persatuan, persaudaraan. Jadi, pulanglah saudara ke tempat masing-masing. Pasang ranjau-ranjau bambu terpendam di tempat-tempat yang bakal dilewati gerombolan. Panah dan sumpit bagikan pada semua orang, laki, perempuan, tua, muda, semua sebaiknya ikut membantu. Nanti sore aku akan datang ke tempat-tempat saudara, ikut mengatur. Nah, sekarang pulanglah. Jangan pikirkan yang lain-lain, selain menumpas gerombolan. Kalau gerombolan dapat dihalaukan dari tempat ini, baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman.

Selain dengan sajian kalimat-kalimat yang lugas, Pram juga keluar dari pakem karyanya dengan menampilkan si tokoh protagonis, Ranta, sebagai pahlawan pemenang. Kalau misalnya dirunut satu-satu dari tokoh Farid dalam Perburuan, Bakir dalam Korupsi, si Gadis dalam Gadis Pantai, bahkan hingga Minke dalam tetralogi Buru, Pram tak pernah sekalipun memberikan kemenangan sempurna pada si protagonis, bahkan mengalahkan mereka.

Hal berbeda terjadi pada Ranta yang berhasil "memimpin" perlawanan dan menutup kisahnya dengan suka cita. Mereka semua bangkit, bergandengan tangan, dan menyanyikan Gotongroyong dengan irama yang cepat, yakit, rianggembira, penuh kepercayaan pada hari depan dan pada rahmat kerja.

Begitulah membaca Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Pram memunculkan sosok-sosok wong cilik sebagai salah satu aktor sejarah bangsa. Sesuatu yang seringkali malah diabaikan oleh mereka yang mengaku sebagai ahli sejarah. Pram membuka ruang untuk mereka bersuara. Bahkan juga kesempatan untuk mengubah nasib.

Tentang the Alchemist

| Agustus 15, 2015 | Sunting
The Alchemist - Paulo Coelho
Ini bukan novel, tapi fabel
Aku pertama kali menuntaskan the Alchemist ketika kemampuan bahasa Inggris masih jongkok. Rasanya ada lebih banyak bagian yang ku reka-reka sendiri maknanya, karena tidak dapat menangkap artinya secara penuh. Kamus Inggris Indonesia karangan Hassan Shadily memang sangat membantu ketika itu. Tetapi, ada saja ungkapan-ungkapan yang terasa begitu janggal bila diartikan kata demi kata.

Meski demikian, buah tangan Coelho ini adalah antara buku berbahasa Inggris yang kubaca tuntas untuk pertama kalinya, November 2008. Aku sempat hampir membaca terjemahan bahasa Indonesianya beberapa waktu kemudian, tetapi kuurungkan karena takut cerita yang sudah terbangun dalam benak malah ambyar.

Buku ini jadi semacam pintu awalku memasuki buku-buku Coelho lainnya  sebagian besar adalah terjemahan bahasa Indonesianya. Dan di antara buku-bukunya itu, rasanya hanya 'Veronika Memutuskan Mati' dan 'Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis' yang tidak begitu ku suka.

Membaca (buku-buku Coelho) adalah proses berjumpa dengan banyak pintu pemahaman baru. Kalau dari the Alchemist yang paling kentara tentu saja pengetahuan tentang kekatolikan. Ada banyak bagian yang ternyata diilhami oleh ayat-ayat Injil. Seorang teman bahkan secara acak membuka the Alchemist dan tak sampai lima menit ia bisa menemukan padanannya di dalam Injil.

Pintu-pintu lain yang turut terbuka karena the Alchemist adalah pintu sejarah. Aku jadi tergerak untuk kembali membaca jejak kejayaan Islam yang pernah menjejas tempat-tempat sejauh Spanyol karena buku ini misalnya.
***
The Alchemist adalah pengembangan total atas salah satu cerita dalam Hikayat Seribu Satu Malam, The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream. Pengembangan total? Yah, dari beberapa lembar cerita lantas di-jlentreh-kan menjadi novel setebal duaratusan halaman. Plot umumnya sama persis. Detail-detail ceritanya saja yang Coelho perkaya.

The Alchemist merupakan kisah tentang seorang anak lelaki yang memutuskan untuk pergi mencari harta karun berkat mimpi yang ia alami. Ia berkembara dari tempat tinggalnya, di Andalusia, menyeberang ke Tangier, Maroko, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke Mesir. Itu pun untuk mendapati bahwa harta yang didambanya nyata malah terkubur di tanah asalnya sendiri.

Ceritanya, di negeri Piramida ia menjadi bulan-bulanan perompak ketika berusaha menggali "hartanya". Para perompak itu memukulinya hingga sekarat, sekalipun ia menceritakan tentang apa maksudnya  mimpi, harta karun. Kepala perompak itu tentu terkekeh dan mengejeknya, "Aku juga bermimpi tentang harta karun yang terkubur di gereja tua di Spanyol. Tapi aku cukup pintar untuk tidak mempercayai mimpi bodoh semacam itu!"

Dari si kepala perompak itulah kemudian si lelaki, oh ya namanya Santiago, pulang ke tanah kelahirannya dan menemukan sekotak koin emas terkubur di halaman gereja tua yang pernah ia kunjungi.
***
The Alchemist mungkin adalah tulisan terbaik Coelho. Aku sudah beberapa kali membaca kembali buku ini. Dan setiap kali pembacaan selalu saja mendapatkan detail baru yang memang sudah aku jumpai sebelumnya, tetapi memberikan rasa tercerahkan yang sama sekali lain. Seolah itu adalah kali pertama aku menjumpainya.

Membaca the Alchemist adalah semacam menikmati perjalanan. Dan perjalanan, seperti yang Santiago alami, nyata merupakan satu proses belajar  belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri.  

Kemana Perginya Orang-orang Resah

| Agustus 12, 2015 | Sunting
Makcik Nurlela IIUM
Rezeki sudah diatur, kita manusia berusaha.
Nilai tukar ringgit terhadap dolar menyentuh angka empat pagi ini. Pun nilai rupiah, terus terpuruk kabarnya, semakin mendekati nilai terendahnya.

Aku berangkat ke kelas dengan riang tadi. Tukang sapu-tukang sapu kampus tengah duduk bersama di tangga besar. Berbagi bubur kacang hijau buatan salah satunya. Tawa mereka terdengar begitu renyah. Mangkuk-mangkuk plastik di tangan mereka hingga ikut terguncang-guncang.

Di kelas, seorang kawan berkisah-kisah. Tentang bagaimana ia harus memutar otak agar tetap bisa berkurban pada hari raya nanti meski ekonomi tengah sulit. Ia berujar sungguh tidak bersyukurnya kita bila dengan apa yang kita punya sekarang, kita tetap saja mengeluh. Bayangkan seberapa keras krisis menghantam orang-orang yang lebih tak berpunya. 

Ada dari mereka itu yang bahkan hanya bisa tahu apa yang akan ia makan beberapa jam lagi. Sementara keadaan esok hari, dan esoknya, sudah lain lagi. Malam terasa semakin dingin pasti karena keterpurukan ekonomi membuat uang yang mereka punya tak lagi bisa membeli cukup makan seperti biasa.

Kawanku itu terus saja bercerita, sementara menunggu dosen datang memulai pelajaran. Aku kembali teringat pada tukang sapu-tukang sapu di tangga besar. Gajinya tak lebih dari tujuh ratus ringgit satu bulannya. Tetapi tawa mereka begitu lebar pagi tadi. Siapakah sebenarnya yang kurang bisa bersyukur?

Klub Buku Taksim

| Agustus 11, 2015 | Sunting
Saya sedang bebersih file-file dalam folder unduhan ketika melihat kembali sebelas foto cerita Klub Buku Taksim karya George Henton. Klub Buku Taksim merupakan bentuk protes terhadap bentrok yang terus terjadi antara polisi dan demostran sejak akhir Mei 2013. 

Protes bermula dari aksi berdiri diam selama delapan jam Erdem Gunduz di Taksim Square, Istanbul pada 17 Juni 2013. Berdiri menghadap bendera Turki di atas Pusat Kebudayaan Ataturk, apa yang dilakukannya lantas menjadi simbol perlawanan di segala penjuru Turki. 

Bersamaan dengan meluasnya aksi perlawanan ini, muncul apa yang disebut Klub Buku Taksim, membaca sambil berdiri sebagai bagian dari protes. Protes buku ini sebenarnya sudah ada sejak demonstrasi bermula pada awal Mei, tetapi lantas melebur dengan aksi berdiri diam yang dikenalkan oleh Erdem.

Buku-buku yang dibacapun beragam. Kebanyakan adalah buku-buku yang memang meneriakkan penolakan pada kekerasan.
Seorang pria dengan buku Marquez, Yaprak Firtinasi - versi Turki dari La Hojarasca

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine