Desa-desa Kita: Sepotong Kegelisahan

| Desember 21, 2010 | Sunting
Sebuah desa di perbatasan Klaten - Gunungkidul
Kebencian. Seperti apakah wujud binatang yang satu ini? Hmm... tak ada salahnya kita sejenak menengok deskripsi Paulo Coelho atas kebencian melalui Veronika dalam novel dengan judul yang sama, ”kebenciannya sudah lepas kendali, ia telah membuka pintu menuju neraka pribadinya. Ia membenci kasih sayang yang diberikan kepadanya, kasih sayang yang tanpa pamrih, musykil, menggelikan.

Ia adalah seorang pasien sebuah rumah sakit jiwa. Jiwanya gelisah. Kompleks: cinta, benci, impulsif, dari hari ke hari terus membangun kebencian. Letupan-letupannyapun ekstrem: dari mimpi hingga masturbasi. Ia menggugat dirinya, ”Apa yang membuat orang benci kepada diri mereka?”


Manusia-manusia yang sakit, jiwa-jiwa yang resah, oleh penulis The Alchemist ini diramu dalam pergulatan kesia-siaan, keputusasaan, dan lorong gelisah pencarian untuk bisa membenci setotal-totalnya, atau sebaliknya: menyayangi sehabis-habisnya. Tetapi, bisakah sebuah kebencian dibangun untuk dikelola, lalu dipancarkan sebagai energi positif?


Cinta di Dalam Gelas Andrea Hirata menciptakan nalar kekecewaan, kemarahan, kebencian, dan dendam untuk sebuah energi penaklukan. Maryamah, alias Enong, bertahan dari kesengsaraan batin akibat interaksi sosial yang tak memihak nasibnya. Sebagai anak penambang timah ia diburu oleh otoritas kekuasaan dan premanisme laki-laki, dan sebagai perempuan ia dipurukkan oleh Mataram, simbol kemachoan Melayu yang eksis lantaran rezim permainan caturnya.

Jeritan, pemberontakan, kebencian Maryamah diluapkan sebagai energi pembalasan untuk memurukkan Muhtarom di papan catur. Dan, ia hadir dari sebuah lorong bukan siapa-siapa menjadi simbol kedahsyatan eksistensial...

***
Sepotong pembelaan melekat dari kenangan masa kecilku: tentang dua orang buruh pembangunan SMP di daerahku. Tiap kali, album lama itu seperti kilas balik. Hanya karena kecurigaan dua buruh asal Sukoharjo itu mendekati dua cewek di desa kami, sekelompok pemuda mencegatnya. Hampir saja keduanya dikeroyok, untungnya argumentasi mereka dengan cepat membubarkan massa yang (sebenarnya) memang tidak beralasan untuk mengopinikan kebencian.

Yah, aku sebenarnya hanya ingin mengisahkan tentang pergerakan psiko-sosio-kultural yang entah sejak kapan persisnya, membuat desaku – desa kami kami tepatnya- perlahan berubah.


Apakah alih fungsi lahan, pertambangan liar, penggundulan hutan yang membuat pergeseran cuaca di daerah kami, menciptakan pula perubahan atmosfer karakter yang semula dibalut dinginnya cuaca khas pegunungan?


Yah, betapa mudah percekcokan dipicu oleh kerehtemehan: sepeda motor disalip di jalan, suara klakson, atau sekedar berebut tempat mencuci di sumur bersama. Semua itu, sepertinya, hanyalah dalih pembenaran dari segala bentuk tindakan responsif, yang kadang cenderung anarkis.


Sedang sakitkah desa-desa kita? Ada pergerakan di sana, yang mungkin tak disadari sebagai ekspresi melawan kediaman yang selama ini berlangsung. Ada letupan ”inilah aku” dari sekelompok orang untuk membangun status dari strata tertentu.


Tulisan: Suara Merdeka | Gambar: Paronamio

Sudut Lain Sepak Bola

| Desember 21, 2010 | Sunting
“Sepak bola, tampak olehku, bukanlah sebuah permainan untuk kesenangan dengan menendang bola, tetapi ia hanyalah sebuah spesies dari perkelahian." (George Orwel)
Sepak bola kita | Credit: Henry Damar
Tak hanya penulis fenomenal Inggris ini saja yang berbicara sinis, bahkan sarkatis, tentang sepak bola lewat novelnya, Animal Farm. Lebih dari sekedar rekreasi, banyak pihak menilai sepak bola tak lebih dari sekedar perkelahian.

“Sepak bola terlalu membosankan. Tak pernah saya melihat olah raga yang lebih membosankan dari ini,” ungkap Mike Royko, kolumnis kenamaan Chicago. Dan lebih dari itu, sepak bola bukan hanya menawarkan gegap gempita, pesta extra vaganza, dan fulus triliunan rupiah. Olahraga yang sudah dimainkan sejak tahun 1000 SM di Jepang ini juga menyebabkan banyak tragedi, dan berbagai tindak kriminal lainnya. (Baca: Bonek dan Fanatisme Ugal-ugalan)

Kita tentu tahu benar bagaimana sepak bola dimainkan. Tentang perilaku wasit, pemain, official, dan penonton yang tidak menginadahkan etika serta hokum yang berlaku di dalam stadion. Sebagian dari kita pasti masih sesekali melihat ritual mengenang tragedi besar di Stadion Heysell, Brusels, Belgia, saat laga final piala Eropa mempertemukan Liverpool dan Juventus, 29 Mei 1985. Tak kurang dari 39 orang harus meregang nyawa dan ratusan orang lainnya terluka karena perilaku brutal para hooligans Liverpool, yang membalas serangan publik Italia pada pertandingan tahun sebelumnya.

Tragedi semacam ini sebenarnya sangat panjang riwayatnya. Bahkan sebelum ada perhelatan Piala Dunia, dan dibentuknya FIFA. Bermula pada 5 April 1902 di Sation Ibrox, Glasgow saat berlangsung pertandingan internasional antara Inggris dan Skotlandia. Tribun barat stadion ini runtuh, menewaskan 25 orang, dan melukai lebih dari 500 orang lainnya. Yah, luka yang kemudian terus dibawa oleh sepak bola dalam sejarah tragiknya, tidak sebatas di stadion, namun juga dalam kehidupan yang lebih luas.

Kenangan masa kecilku kembali terbuka. Aku baru saja masuk taman kanak kanak ketika terjadi pemblokiran jalan antara kedua desa yang berawal dari kekalahan di lapangan sepak bola. Selama berhari-hari tak ada yang berani membuka palang kayu dan kawat yang digunakan untuk menutup jalan. Aku masih ingat betapa kelas terasa sepi pada hari-hari itu karena memang murid dari desa lain tidak berani melewati palang.

Sepak bola tidaklah sekadar sebuah olahraga. Ia sudah menjadi ritual tradisional dan modern sekaligus yang mengikutsertakan segenap elemen masyarakat, tanpa batasan usia, agama, ras, atau kelompok sosial. Dampaknya, sekali lagi, begitu keras, bahkan dalam politik. Pelatih Ekuador, yang kelahiran Kolombia, mengatakan bahwa jarak antara sepak bola dan politik di Amerika Latin sangatlah tipis. ”Ada daftar yang cukup panjang dimana pemerintah jatuh atau dikudeta hanya karena tim nasional sepak bolanya mengalami kekalahan.”

Inggris Melarang Sepak Bola

Jepang boleh jadi negara nenek moyang sepak bola, mulai dimainkan di negara ini tahun 1004 SM, bahkan pertandingan internasional pertama pada 611 M yang menggunakan bola kulit yang diisi rambut juga di helat di Kyoto, Jepang, mempertemukan Cina dan Jepang, namun tetaplah Inggris yang tercatat sebagai perintis olah raga ini oleh sejarah modern. Dan, jauh sebelum asosiasi sepak bola Inggris –juga dunia- dibentuk pada 1863, kerajaan Inggris ternyata pernah melarang olahraga ini dengan ancaman hukuman yang keras.

Raja Edward, sejak naik tahta tahun 1307, telah melarang rakyat Inggris memainkannya karena kejahatan yang ditimbulkannya. Ancaman hukumannya adalah deraan dan penjara. Hingga Raja Henry VIII, bahkan Ratu Elizabeth I, bahkan ketentuan ini tetap diperlakukan, bahkan dengan hukuman yang lebih tegas, ” menghukum siapa saja yang bermain bola, dengan penjara selama satu minggu.”

Siapakah yang kemudian menjadi korban? Daftarnya sangat panjang untuk disebutkan. Tak hanya publik dunia yang terbius, jam kerja yang terganggu, produktivitas yang menurun, mereka para korban hooligans, para pemain yang bunuh diri, pelatih yang tercela sepanjang usia, hingga kekuasaan politik yang runtuh karenanya.

Dalam sejarah, tentu gol tangan tuhan Maradona pada pertandingan perempat final Piala Dunia Mexico di Estadio Azteca, Mexico City, 22 Juni 1986 tak akan pernah terlupakan. gol yang seolah membalaskan dendam Argentina atas Inggris setelah kekalahan perang di kepulauan Malvinas empat tahun sebelumnya.

Belum kita harus menyebut bangsa-bangsa yang kesebelasannya harus menderita karena ulah cerdik, licik, bahkan tidak sportif. Seperti yang di alami Irlandia tahun lalu. Mereka harus tersingkir dari Piala Dunia 2010 karena gol hand ball Thierry Henry. Yah, sebuah kesalahan yang bahkan sudah diakui oleh Henry sendiri, bahkan sampai Presiden Perancis harus meminta maaf kepada Perdana Menteri Irlandia atas insiden tersebut.

Sepak bola menciptakan korban di antara anak-anaknya sendiri. Sebagaimana pula kenyataan pahit yang harus diterima kesebelasan AS dalam Piala Dunia lalu, ketika kemenangannya atas Slovenia direbut oleh wasit ketika gol ketiga mereka dinyatakan off side.

Yah, seperti itulah paradoks sepak bula yang menyajikan keindahan serta kejujuran, tetapi di sisi lain memperlihatkan kemunafikan. Di negeri ini sendiri misalnya. Tim sepak bola seolah tak lebih dari sekedar sepah. Dihujat habis-habisan ketika mandul, namun kemudian seolah didewa-dewakan ketika mendapatkan kemenangan. Euforia final Piala AFF yang akan mempertemukan kesebelasan Indonesia – Malaysia, oleh banyak pihak digunakan sebagai media untuk melancarkan balas dendam atas berbagai masalah yang pernah dihadapi oleh kedua negara.

*) Radhar Panca Dahana

Dolananku Bukan Dolananku

| Juli 13, 2010 | Sunting
“Hayo.., Kejar.., Kejar.., Tendang.., Tendang.., Ayo.., Tendang.., Gooooll…!” Riuh rendah, teriakan anak-anak belasan tahun seperti sedang bermain sepak bola terdengar dari sebuah rumah bercat hijau di pinggir jalan antar kecamatan itu petang kemarin, sekira pukul 18.30 WIB. Tetapi kok dari dalam rumah? Tidakkah untuk bermain sepak bola dibutuhkan sebuah lapangan yang luas? 

Aku tergeragap. Ini abad ke dua puluh Bas! Sepak bola tak lagi membutuhkan lapangan berukuran 110 m x 75 m. Tak lagi perlu dua tim kesebelasan. Teknologi sudah berhasil memindahkan permainan sepak bola ke dalam sebuah televisi saja dengan bantuan seperangkat alat bernama Play Station (PS). 

Tak perlu lagi berlarian menggiring bola ke gawang lawan, apalagi berkotor-kotor karena meluncur di lapangan yang becek. Hanya cukup dengan jari-jari cekatan untuk mengendalikan para pemain di layar televisi, dan juga sebuah permainan serupun akan tercipta. Setiap anak cukup membayar. Cukup mahal sebenarnya, apalagi bila dibandingkan dengan lapangan sepak bola yang bisa mereka gunakan secara cuma-cuma. 

Namun, kenyataannya tempat penyewaan PS itu tetap saja ramai. Setiap hari, bahkan terkadang masih lengkap dengan seragam sekolah, anak-anak datang, duduk dengan tenang di depan layar TV dengan joy stick di tangan, dan kemudian larut dalam permainan selama berjam-jam. “Eko, hayo pulang! Sudah malam, Ibu jewer lho nanti! Hayo pulang!” hanya teriakan-teriakan seperti itulah yang bisa membuat anak-anak bubar dan bergegas pulang.
***
Suasana seperti itu mungkin akan menjadi biasa saja di Jakarta, Surabaya, ataupun kota-kota besar lainnya yang memang lahan bermainnya sudah semakin berkurang. Namun, semua itu terjadi di Bayat: sebuah kota kecil, satu jam perjalanan dari Yogyakarta, yang masih memiliki cukup lahan bermain. Lapangan-lapangan hijau terhampar berdampingan dengan permukiman warga. Sawah-sawah juga masih menyisakan tempat untuk bermain. Namun, ternyata lapangan baru dalam PS lebih menarik bagi anak-anak Bayat. 

Yah, mungkin inilah yang disebut sebagai proses globalisasi oleh para pakar dan pemikir. Suatu proses yang kemudian menghasilkan sistem budaya yang global -mendunia- sehingga di belahan dunia manapun kita berada, kita akan terhubung dengan sebuah jaringan besar dan membuat kita semua di seluruh penjuru dunia terlibat dalam sebuah mata rantai, saling mempengaruhi. 

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi misalnya, dapat mempertemukan berjuta orang di dunia dalam sebuah pengalaman yang sama. Anak-anak Bayat contohnya, mereka bermain PS sebagaimana anak-anak di Jepang ataupun Amerika. Bagus memang bila dilihat dari labelnya. Wah, anak-anak Bayat sama seperti anak-anak bule yang berbahasa Inggris di Amerika sana. 

Namun, ada satu yang perlu diingat, segala sesuatu adalah gabungan dari positif dan negatif. Ada bukti perkembangan teknologi di satu sisi, namun ada sebuah kekhawatiran besar di balik proses ini di sisi yang lain. Sekali lagi karena ini terjadi di Bayat, sebuah sentra budaya tempat tumbuh berkembangnya batik dan keramik sejak ratusan tahun lalu. Sebuah tempat yang selama beratus-ratus tahun menempatkan dakon, jamuran, cublak-cublak suweng, betengan, maupun pasaran sebagai media pengkomunikasian ilmu hidup kepada anak-anak.

Dan selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah: ilmu hidup yang seperti apakah yang anak-anak dapatkan ketika semua itu digantikan dengan seperangkat PS?
***
Masih teringat olehku belasan tahun lalu. Masa kecilku aku lalui dalam kesederhanaan. Televisi baru ada ketika aku masuk SD, sehingga segala sesuatu aku dapatkan dari kearifan lokal warisan nenek moyang. Ibu mengajarkan cara berhitung dengan permainan dakon atau yang kita kenal dengan congklak. 

Aku harus bisa berhitung agar aku dapat memasukkan banyak buah dakon, biasanya batu atau jagung, ke dalam lumbungku penyimpananku. Dan memang dari permainan inilah aku mulai pandai berhitung. Dan secara tidak langsung pula aku belajar tentang berbagai ilmu lainnya. Jauh sebelum aku mempelajari apa itu homo economicus di sekolah, aku ternyata telah mempelajarinya dari dakon. Dengan memberikan buah dakon yang sesedikit-sedikitnya aku harus mendapatkan biji dakon lawan sebanyak-banyaknya. Yah, kata ibu dakon adalah bekal awal untuk meniti hidup: harus ada stategi dan juga upaya untuk mensiasati segala sesuatu.

Mayoritas dolanan-dolanan Jawa juga menyisipkan pesan kebersamaan selain berbagai pesan hidup lainnya. Aku masih ingat betapa lapangan volly di depan rumah nenekku akan penuh dengan anak-anak saat malam minggu tiba beberapa tahun lalu. Semuanya larut dalam kebersamaan. Biasanya kami bermain jamuran.Hom pim pah alaihom gambreng... Yah, semuanya dimulai dengan prosesi hom pim pah untuk menentukan siapa yang jaga. Dan, setelah diperoleh satu satu orang yang jaga, permainanpun dimulai. Horreee.... Pertama, anak- anak membentuk lingkaran besar yang disebut pager, sementara yang terkena giliran jaga berdiri di tengah lingkaran, disebut wong gunung. Setelah itu, para pager mulai berputar sambil menyanyikan tembang jamuran yang bunyinya seperti ini, Jamuran ya gegethok. Jamur opo yo gegethok. Jamur gajih bejijih sak oro-oro. Siro bade jamur opo wong gunung? 
Cublak-cublak suweng
Setelah lagu selesai dinyanyikan, barulah kemudian si wong gunung menyebutkan salah satu nama jenis jamur. Dan, para pager berkewajiban untuk mempraktikkan jamur apa yang disebutkan oleh si wong gunung tadi. Misalnya saja jamur bandulan (ayunan), maka para pager harus bersiap-siap untuk mencari pasangan, lalu saling mengaitkan tangan mereka agar si wong gunung dapat duduk. Bisa dibilang, semakin kreatif si wong gunung, maka permainan akan semakin seru. Bayangkan saja kalau misalnya si wong gunung memilih jamur kendil borot, maka para pager harus bersiap-siap untuk kencing, hehe... Saat itu, kami berpikir bahwa yang penting senang bisa bermain bersama, namun ternyata banyak pelajaran yang kami temukan dari permainan ini, dan aku sendiri baru menyadarinya sekarang, setelah belasan tahun berlalu.

Permainan ini menurutku mengasah kecerdasan otak. Mengapa? Ya karena memang setiap bagiannya menuntut para pemain untuk jeli. Kecerdasan dan pemahaman tentang musik kupelajari dari tembang yang kami nyanyikan. Bahkan, ketika aku kelas 1 SMP, guru seni musikku menyuruh murid-muridnya bermain jamuran di dalam kelas untuk menunjukkan bahwa musik sudah kami pelajari sejak kecil. Kemudian, diasah pula kecerdasan kinestesik, kecerdasan yang ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk membangun hubungan yang penting antara pikiran dengan tubuh, yang memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek atau menciptakan gerakan, karena seperti yang telah aku jelaskan, pada permainan jamuran ini kita akan berguling, menari, berlarian, bahkan memanjat pohon. Simpel memang, namun ternyata banyak manfaatnya: meningkatkan kemampuan psikomotorik, meningkatkan kemampuan sosial dan sportivitas, membangun rasa percaya diri dan harga diri dan tentunya meningkatkan kesehatan.

Kecerdasan emosi diasah melalui proses pembuatan aturan permainan karena biasanya ada konflik-konflik karena perbedaan pendapat. Suatu kali pernah ada anak yang mengusulkan agar jamur kendil borot dihapus saja karena dia sedang tidak ingin kencing. Sempat terjadi cekcok mulut beberapa anak, sebelum disepakati bahwa jamur kendil borot akan gugur kalau para pager sedang tidak ingin kencing, namun sebagai konsekuensi maka akan diganti dengan jamur lain. Sederhana memang, namun sepertinya merupakan awal yang baik. Bijaksana, karena dapat mendengar dan memutuskan berbagai usulan. Dan tentunya melatih kejujuran, karena terkadang ada yang sebenarnya mau kencing namun karena malu jadi pura-pura sedang tidak ingin kencing.

Dan tak lupa adalah kecerdasan bahasa yang menurut para ahli sangat mempengaruhi kecerdasan manusia secara keseluruhan. Dari permainan jamuran ini, kecerdasan bahasa dipelajari dari berbagai nama jamur. Suatu kali kami para pager sempat terheran-heran karena si wong gunung menyebutkan jamur pawon. Ternyata kami disuruh untuk menirukan bentuk tungku tradisional dengan membentuk posisi tubuh seperti merangkak tapi diam. Si wong gunung akan berpura-pura sebagai kayu yang masuk di bawah perut para pager, kemudian mengangkatnya. Para pager harus mempertahankan posisi merangkak tersebut kalau tidak ingin menggantikan posisi si wong gunung.
***
Sayang, bisa dibilang saat ini permainan tersebut sudah jarang dilakukan. Televisi, kotak ajaib yang kemudian datang, perlahan menyedot perhatian anak-anak untuk lebih memilih duduk di depan televisi dari pada berkumpul bermain bersama. Apalagi ketika PS mulai ada, permainan anak-anak semakin tersisih. 

Padahal, bila dipikir-pikir efek televisi maupun PS tidaklah terlalu baik. Anak-anak sekarang cenderung mengalami obesitas karena asupan kalori yang masuk dalam tubuh mereka tidak dibakar dengan melakukan gerakan fisik. Anggota tubuh yang bergerak sebatas kepala, bola mata dan tangan untuk memencet remote atau menggeser joystick.

Globalisasi adalah proses yang tidak mungkin kita hindari, namun sebaiknya kita dapat lebih arif dalam menyikapinya. Dan bagaimanapun budaya kita adalah suatu cara yang disiapkan oleh nenek moyang sebagai salah satu pelindung generasi mendatang dan salah satunya adalah dolanan bocah yang dikomunikasikan melalui wujud permainan agar mudah dimengerti. Sehingga sudah kewajiban kita semua untuk berpartisipasi melestarikannya bagaimanapun caranya (saat ini aku sudah memulainya dengan memberikan saran kepada guru play group di desaku agar mulai memperkenal beberapa permaian tradisional kepada anak-anak, dan ternyata ditanggapi secara positif oleh para guru).

Jangan sampai suatu saat permainan-permainan anak itu benar-benar hilang. Dan anak-anak mulai berkata, “Dolananku bukan dolananku. Diciptakan untukku, namun aku sendiri tak mengenalnya sama sekali apakah itu.”

Totto Chan: Perjalanan untuk Kemanusiaan

| Juni 24, 2010 | Sunting
Totto Chan's Children
Anak-anak Totto Chan
Anak-anak Totto Chan merupakan buku kedua dari seri Totto Chan yang ditulis sendiri oleh tukoh utamanya, Tetsuko Kuroyanagi. Bila buku pertama berkisah tentang masa kecilnya, maka di buku kedua ini pembaca akan mengikuti kisah Totto Chan yang sudah beranjak dewasa.

Ia diminta oleh UNICEF, badan PBB yang mengurusi masalah anak-anak, untuk menjadi duta kemanusiaan. Dalam buku inilah Totto Chan mengisahkan 12 tahun perjalanannya bersama UNICEF, sejak 1984 hingga 1996. Ia mengunjungi 14 negara dan menyaksikan sendiri betapa beratnya kehidupan anak-anak korban kemiskinan dan juga peperangan. Dengan penuturannya yang ringan, Totto Chan menceritakan haru biru perjalanannya.

Anak-anak Afrika yang tak pernah melihat gajah

...Tapi bagi sebagian besar anak-anak
Tidak ada kebun binatang, tidak ada televisi
Dan tidak ada buku gambar
Jadi meskipun mereka tinggal di Afrika
Mereka tak tahu apa-apa,
tentang binatang-binatang di benua itu
Namun anak-anak Jepang
Meskipun tinggal sangat jauh
Akan dengan mudahnya menggambar gajah
Dan mereka tahu zebra itu seperti apa
Akankah semua anak Afrika ini
Hidup sepanjang hidup mereka, lalu mati
Tanpa pernah tahu binatang-binatang Afrika?
Sementara anak-anak di berbagai belahan dunia dapat dengan mudah melihat gajah, jerapah, dan hewan-hewan liar lainnya, baik di kebun binatang atau di televisi, banyak anak di Afrika malah tidak tahu binatang-binatang itu.

Binatang-binatang tersebut tidak semuanya hidup dekat dengan kawasan permukiman. Sementara penghasilan orang tua mereka kebanyakan hanya cukup untuk makan, sehingga impian melihat binatang itu, dari televisi sekalipun, adalah mimpi yang cukup mahal.

Anak-anak dijadikan target dalam perang Bosnia - Herzegovina
... segera setelah pertempuran berakhir
Orang-orang kembali ke rumah mereka
Seorang gadis kecil pergi ke kamarnya
Langsung mengambil boneka kesayangannya
"Maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku
Terima kasih sudah menunggu," mungkin begitu katanya
Mengambil mainannya untuk dipeluk
Saat itulah bom meledak
Lalu membunuh anak itu
No war, not our children, not their children
Sampai sebegitu kejamkah? Hingga terbersit pikiran untuk menyimpan ranjau di mainan anak-anak. Benda yang tak mungkin akan mereka hindari, malah akan ia dekati, ia peluk, dan… BUM! Benda-benda yang disimpan ranjau di dalamnya, seperti cone eskrim, coklat, dus jus jeruk, jelas saja anak-anak akan mendekati. Siapa yang memiliki ide iblis semacam itu?

Atau di Haiti, anak usia 12 tahun banyak yang menjadi pelacur, dengan resiko HIV AIDS (72% pelacur Haiti terjangkit HIV/AIDS). Atau kisah di Tanzania, negara dengan curah hujannya hanya 2,5 cm pertahun. Dimana air menjadi barang yang langka, bahkan untuk mengambil air kotor berlumpur saja harus menempuh 6,8 kilometer. Di India, kasus penyakit polio atau tetanus yang menjangkiti anak-anak, ribuan anak meninggal karena tak adanya vaksin, ketidak tahuan, hingga karena masalah kemiskinan.

Membaca buku ini membuatku bersyukur dengan apa yang kualami, masa kecilku. Kutidak harus merasakan perang, hidup benar-benar tanpa air, atau tidak harus menjajakan diri hanya untuk mempertahankan hidup.

Refleksi Piala Dunia

| Juni 13, 2010 | Sunting
Aku bukanlah seorang penggila bola, bahkan disebut penggemar bola pun rasanya belum pantas. Hahaha. Dulu sesekali pernah menendang bola, pernah mencicipi rumput lapangan bola, bahkan pernah menonton pertandingan live di lapangan bola. Namun semuanya hanya sekali-sekali saja, sehingga gelar penggemar dan penggila bola jelaslah bukan buatku.
Warna-warni pendukung Afrika Selatan

Baru saja, tanggal 10 Juni kemarin, FIFA World Cup 2010 resmi dibuka di Johannesburg, Afrika Selatan. Di Indonesia bahkan prosesi ini bisa dinikmati secara langsung lewat layar TV. Meriah, namun bila kita pernah menonton pembukaan Olimpiade China, maka ini jauh dari spektakuler. Bila kita juga pernah melihat launching Visit Indonesia Year tahun lalu di channel yang sama, ini pun tidak spektakuler. Dan memang, spektakuler bukanlah bahan yang ingin aku bicarakan sekarang. Semua pujian yang dilontarkan untuk pembukaan adalah tentang kebersamaan dan persamaan haknya. Walaupun sampai dengan saat ini masih ada sedikit perbincangan mengenai pembedaan suku dimana-mana, bahkan termasuk di Afrika Selatan sendiri, Afrika Selatan disebut sebagai "Rainbow Nation". Mengapa?

Kata-kata ini pertama kalinya dilontarkan oleh Archbishop Desmond Tutu untuk Afrika Selatan setelah pemilu demoktratisnya yang pertama di tahun 1994. Dan oleh Presiden Nelson Mandela yang saat itu terpilih, diungkapkan sebagai sebuah kalimat yang luar biasa
Each of us is as intimately attached to the soil of this beautiful country as are the famous jacaranda trees of Pretoria and the mimosa trees of the bushveld - a rainbow nation at peace with itself and the world.
Sebuah ungkapan yang memang ditujukan sebagai suatu identitas penyatuan yang tadinya terpisah oleh warna kulit yang begitu menyolok.

Afrika Selatan tadi sore memang tidak membuat acara pembukaan yang spektakuler, namun secara "spektakuler" Afsel mampu menunjukkan sebuah identitasnya yang dianggap sebagai "kelebihan" nyata dan "kesuksesannya" yaitu kesatuan
.

Demikian dengan China yang secara jelas bukan hanya menyiratkan kesuksesannya saat pembukaan olimpiade 2008 (tidak terasa sudah 2 tahun lewat ya). Dia menunjukkan "kesuksesannya" dalam ungkapannya
"One World One Dream" dimana menunjukkan satu mimpi untuk satu dunia, yang saat itu merupakan pertunjukkan luar biasa oleh China yang bukan saja hanya Sports Olympic, namun juga "Green Olympics, High-tech Olympics and People's Olympics".

Intinya adalah, dua negara diatas mengambil kesempatannya untuk menjadi eksis didunia. Mengambil kesempatannya untuk unjuk gigi dan menunjukkan kebesaran mereka sebagai juara sejati, baik di bidang olah raga, budaya, kesiapannya dan keamanannya tentunya.


Saya berandai-andai, bilamana pembukaan even olahraga sekelas dunia diadakan di Indonesia, apa yang akan kita suguhkan.
Dibanding Afrika Selatan, negara kita lebih "pelangi" bahkan kita memiliki gradasi warna kulit yang lengkap :) Dibandingkan China, kita juga punya budaya yang spektakuler untuk ditonjolkan. Jadi rasanya bukan masalah bila kita menjadi tuan rumah sebuah even besar.

Dan seharusnya negara kita sudah bisa mengambil kesempatan itu. Karena terakhir untuk even olah raga SEA Games (South East Asian Games) diadakan di Indonesia tepatnya Jakarta, di tahun 1997. Dan untuk Asian Games, Indonesia menjadi tuan rumah di tahun 1962 di Jakarta, tepatnya Asian Games ke-4.


Untuk Miss Universe, Miss World dan sejenis, Indonesia belum pernah menjadi tuan rumah, dan mungkin akan sulit terpilih menjadi tuan rumah dikarenakan peraturan evennya ada yang kurang sesuai dengan budaya Indonesia, kecuali bila diadakan sedikit penyesuaian.


Sebenarnya untuk yang sekelas dunia namun dalam lingkup yang lebih kecil barusan saja diadakan ditahun 2008 Piala Thomas &Uber di Jakarta. Namun gaungnya kalah dibandingkan Olimpiade China yang sudah mempersiapkan diri selama hampir 4 tahun.


Indonesia sebenarnya tidak harus ikut unjuk gigi menunjukkan "ke-spektakuler-an"nya, karena sejak ratusan tahun yang lalu dikenal bahwa Indonesia adalah tanah yang kaya, diperebutkan oleh berbagai bangsa. Diakui pula Indonesia eksotis dengan begitu banyaknya pulau dan keragaman budaya yang ada. Semua tahu Indonesia memiliki masyarakat yang ramah dan saling tolong menolong. Dan semua tahu Negara Indonesia memiliki kedaulatan yang hebat dengan prinsip-prinsip moral yang baik.


Indonesia memang negeri yang eksotik. Mulai dari ujung titik nol (di ujung Aceh) sampai Papua, memiliki budaya dan keindahan alam yang sangat beragam.


Namun saat ini hal-hal tersebut mulai dilupakan dunia. Apalagi selang 10 tahun terakhir begitu banyak pemberitaan yang tidak enak didengar tentang negeri kita tercinta. Mulai kerusuhan, bom, demo anarkis, rusuh sepakbola, dan masih banyak lagi.


Indonesia memang masih eksis, hanya popularitasnya menurun, prestasi dikancah Internasionalnya yang positif menurun. Terlalu banyak berita-berita negatif yang membuat posisi kita jauh dari popularitas dunia. Orang-orang meragukan keamanannya, kenyamanannya dan lain-lainnya.


China mengambil kesempatan berharga untuk menunjukkan kepada dunia tentang negerinya saat Miss World, F1 dan puncaknya saat Olimpiade. Disana ditunjukkan keramahannya, kekayaan budayanya, kekayaan alamnya, bahkan kehidupan warganya yang mapan. (Terlepas dari berita-berita lainnya yang masih tetap menjadi misteri). Saat ini, negeri bambu tersebut menjadi salah satu tujuan wisata terfavorit di dunia. Padahal sebutlah 30 tahun yang lalu, China jauh dari image saat ini.


Kemudian Afrika Selatan "mendapatkan kehormatan" untuk menjadi tuan rumah FIFA World Cup. Dipersiapkannya perhelatan luar biasa untuk menunjukkan pada dunia kebersamaan dan persamaan hak-nya. Ditunjukkan suatu budaya yang unik dan saling menghargai. Dan bila mengingat masa 20 tahun yang lalu tentang negara ini, yang ada dalm bayangan kita adalah negeri yang kurang aman.


Bila hari ini, kedua negara tersebut "berhasil" menunjukkan kepada dunia tentang perubahannya, itu luar biasa.


So, bagiku, perlu bagi kita untuk mengambil kesempatan untuk unjuk gigi dan menunjukkan kepada dunia jati diri kita dan kebesaran kita yang sebenarnya.


Selain yang sudah disebutkan diatas, masih banyak sebenarnya kesempatan kita untuk menunjukkan sesuatu kepada dunia dalam bidang seni dan olahraga serta lainnya.


Bukankah jauh lebih baik kita dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan memiliki prestasi tinggi dibidang olah raga dibandingkan gaung video porno artis Indonesia yang mengalahkan video Justin Bieber versi You Tube, ataupun julukan "negara terkorup" yang berhasil disabet Indonesia, tertinggi diantara 16 negara di Asia Pasifik (dirilis tanggal 8 Maret 2010 oleh Political & Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong Kong dan Transfarency Internasional – Jerman) yang terus meningkat semenjak tahun 2000.


Dan sebenarnya, prestasi yang lebih membanggakan ada dimana-mana, hanya kalah gaungnya. Misalnya Sandhy Sondoro yang terpilih sebagai penyanyi terbaik dalam kompetisi New Wave 2009 yang diadakan di Jurmala, Latvia. Ataupun juga Teguh Sukaryo asal Purwokerto yang merupakan salah satu pianis terbaik dunia?


Nah bila kesempatan itu muncul, apa yang akan kita lakukan? Rasanya jauh bagi kita untuk bermimpi menjadi tuan rumah piala dunia, namun yang lainnya bukan mustahil!

Rachel Corrie, Ia yang Terlindas

| Juni 13, 2010 | Sunting
International media and our government are not going to tell us that we are effective, important, justified in our work, courageous, intelligent, valuable. We have to do that for each other, and one way we can do that is by continuing our work, visibly. - Rachel Corrie
16 Maret 2003. Pada hari itu, Rachel Corrie, seorang wanita Amerika Serikat berusia 23 tahun menjadi tumbal perjuangan hak asasi manusia untuk memperoleh perumahan yang layak. Ketika itu, ia berjuang seorang diri, berhadapan dengan kekuatan raksasa yang menakutkan dunia. Pada hari nahas itu, Rachel terlentang tidur di antara rumah warga Palestina dan deretan buldozer milik Israel, di kawasan Rafah, Jalur Gaza. Wanita ini menentang upaya penggusuran ilegal yang dilakukan Israel kepada rumah-rumah warga Palestina.
Rachel Corrie
Tetapi Israel tak bergeming. Buldozer-buldozer itu pun melindas tubuh Rachel, lalu menggaruk rumah-rumah warga Palestina yang menjadi sasaran utamanya. Rachel meregang nyawa. Tubuhnya remuk, tentu saja. 

Kekejaman ini, sebagaimana kekejaman-kekejaman Israel sebelumnya, seolah terkubur bersama tubuh Rachel. Namanya seolah hilang dari sejarah, meski video yang menggambarkannya tengah meregang nyawa bertebaran di YouTube.

Namun tidak semuanya lupa. The Centre On Housing Rights and Eviction (COHRE) memberikan penghargaan Pembela Hak-hak Perumahan 2003 kepadanya. Rachel dinilai sebagai ikon penentang ketidakadilan Penghargaan itu juga penghormatan atas dedikasi dan keberanian Rachel yang telah menempuh risiko maksimal untuk sebuah perjuangan HAM.

Tujuh tahun kemudian, 31 Mei 2010, iring-iringan enam kapal yang hendak mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza dihentikan tentara Israel. Kali ini belasan nyawa meregang. Misi kemanusiaan itu pun terhenti. Dunia kembali berteriak, meski sejak awal sudah hampir dipastikan Israel akan teguh dengan posisinya.

Tapi, apakah insiden ini membuat asa itu padam? Tidak. Tanpa banyak diketahui publik, sebenarnya ada tujuh kapal yang sedianya ikut dalam rombongan ke Gaza. Namun, kapal ketujuh tertinggal jauh dari rombongan karena kerusakan mesin. Dan kapal itu bernama MV Rachel Corrie, milik pemerintah Irlandia.

Di atas kapal ini, terdapat 15 orang aktivis. Di antaranya adalah Pemenang Nobel Mairead Corrigan-Maguire dan mantan diplomat PBB, Denis Halliday. Meski enam kapal rekannya tak kuat menembus blokade, mereka tetap bertekad melanjutkan perjalanan.

Pemerintah Irlandia sendiri secara resmi meminta Pemerintah Israel agar mengizinkan kapal itu merampungkan perjalanan dan menurunkan pasokan bantuan kemanusiaan di Gaza. Namun, permintaan itu ditiolak.

Tapi, bukan itu yang menarik dari kehadiran MV Rachel Corrie, sebuah kapal dagang yang dibeli para aktivis pro-Palestina. Rachel seorang warga AS, namun adalah aktivis Irlandia yang kemudian dengan bangga memberi nama kapal mereka dengan sosok wanita pemberani itu. Mestinya ini tamparan memalukan bagi AS, yang seolah sudah membuang jauh nama Rachel - warganya sendiri.

Pada dasarnya, AS memang tak pernah menginginkan Palestina menjadi sebuah negara yang berdaulat. Kalaupun AS terlihat ingin membentuk kawasan Timur Tengah yang lebih tenang, itu tak lebih untuk membangun citranya sebagai adikuasa. 

Setelah kemenangannya pada Pemilu AS 4 November 2008 semisal, Obama mengatakan: Fajar baru kepemimpinan Amerika sedang menyingsing. Kepada kalian yang meruntuhkan dunia, kami akan mengalahkan kalian. Kepada kalian yang mencari perdamaian dan keamanan, kami mendukung kalian.

Namun, apa kita lihat saat ini, jelas tak semanis itu. Apa yang dilalukan Israel di perairan internasional terhadap para relawan kemanusiaan dari berbagai negara pada dini hari itu jelas-jelas sudah meruntuhkan tatanan hukum yang dianut dunia internasional. Tapi, yang kita lihat kemudian, Obama tak mampu berkata-kata. Dia hanya buru-buru menelepon Perdana Menteri Turki untuk menyatakan simpati. Sedangkan untuk Israel, tak ada sama sekali kritik atau nada kecewa atas perilaku keji yang diperlihatkan negara itu. 

Pada kesempatan lain, Obama juga berpidato untuk pertama kalinya sebagai Presiden, pada 20 Januari 2009. Dengan nada pelan dia berucap: Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan.

Semua hal-hal negatif yang dia sebutkan, berusaha menanam bibit konflik dan membungkam pihak yang tidak setuju, bukankah identik dengan perilaku yang ditunjukkan Israel? Lantas, kenapa Obama tak memberikan sedikitpun pernyataan bahwa negara yang dilindunginya itu keliru?

*disarikan dari tulisan mas Rinaldo

Adam Hawa, Israel, dan Ariel Peterporn

| Juni 13, 2010 | Sunting
Kenapa Adam Hawa diusir dari surga? Pertanyaan klasik ini nyaris abadi, hampir selalu muncul di benak penganut agama Samawi yang mengakui keduanya  nenek moyang manusia.

Aku sendiri juga tak tahu apa jawaban pastinya, tapi menurut beberapa kajian agama yang lebih luwes, Adam Hawa tidak diusir, tapi disempurnakan oleh Allah SWT untuk menjalani kehidupan sebagai manusia di bumi akibat kelalaiannya. Jadi, sebab pokoknya adalah sifat dasar dan watak Adam Hawa yang lalai.


Entah bagaimana watak ini muncul, yang jelas cerita lanjutannya berhubungan dengan iblis yang dilaknat Allah untuk menggoda manusia. Betul Allah mengabulkan permintaan iblis untuk menjadi penyesat manusia.Umumnya dengan harta, tahta dan wanita.

Kalau dicermati, penyebab terusirnya Adam Hawa adalah karena dua hal. Pertama lalai, kedua sifat yang dieksitasi oleh kehadiran karakter iblis yang mengagungkan 
harta, tahta dan wanita. Kelemahan dan instrumen godaan ini yang sampai hari ini kita lihat.

Mungkinkan Bani Yahudi Itu Alien?

Mengulas perilaku manusia masa kini, mari kita lihat yang jauh dulu. Kejutan pertama terjadi 31 Mei lalu. Israel mengerahkan “pelajar” dan “kapal pesiar” untuk memblokade laju kapal bantuan kemanusiaan Gaza.

Di samping pengelabuan yang licin itu, di berbagai media massa berbagai nama dan istilah pun diwolak-walik. Misalnya operasi bantuan kemanusiaan untuk Gaza di gonta-ganti menjadi bantuan pro-Palestina. Perubahan kata dan makna ini tentu saja menyebabkan perubahan persepsi publik.

Hebatkan? Kalau pun ada yang sadar kalau kelakuan Israel menyerang kapal Mavi Marmara termasuk keji dan melanggar HAM maka ia akan didepak secara halus seperti yang terjadi pada jurnalis veteran Gedung Putih, Thomas Helen.

Israel nampak seperti Alien yang mampu merasuk ke dalam jiwa manusia atau seperti sosok Smith dalam film The Matrix yang diam-diam pandangan-pandangannya menguasai semua orang. Kalau memang demikian, mungkin mereka berasal dari Planet kelima yang sekarang jadi asteroid yang mendarat di Planet Ketiga yaitu Bumi.

Dalam film monumetal the Matrix itu digambarkan sosok bunglon yang mampu menelusup dan mengubah bentuk karakter lain yaitu Smith. Sosok Smith tidak lain adalah sosok yang mewakili simbolisme Yahudi yang telah merasuk kesemua lini masyarakat mulai dari Istana Negara sampai supir taksi.

Ironisnya, meski di kitab-kitabnya selalu didaku bangsa pilihan Tuhan, sudah beribu tahun justru suku bangsa Yahudi sebagai mayoritas penghuni negara Israel itu tak jelas dimana asal usulnya.

Jadi dengan mengacu pada sejarahnya sendiri akhirnya tanah Palestinalah yang dianggap cocok untuk memulai klaim asal usul Yahudi itu. Itupun menurut skenario Victorian dari Inggris. Padahal kalau melihat bagaimana diaspora suku bangsa ini di dunia, suku Yahudi ini mirip pedagang keliling dari satu negeri ke negeri lainnya yang meninggalkan jejak-jejak kehancuran dari negeri yang ditinggalkannya itu. 

Melewati zaman Romawi, Byzantium, Yesus Kristus, bahkan sampai zaman abad pertengahan ketika berkecamuk Perang Salib, kaum Yahudi memang seringkali digambarkan secara negatif atau menjadi buruan.

Sampai Perang Dunia Kedua pun suku ini meninggalkan jejak berdarah-darah meskipun seringkali mereka disebutkan sebagai objek penderita. Simpati sebagai obyek penderita ini menyebabkan Inggris menghadiahikan tanah Palestina sebagai tempat mukim suku Yahudi. Kemudian lahirlah Israel. Tentu saja ini menimbulkan jejak berdarah-darah lagi di tanah Arab di sepanjang tahun 1940-an akhir sampai hari ini.

Terakhir adalah tragedi Mavi Marmara. Dengan arogan tentara Israel memberondong kapal kemanusiaan Mavi Marmara tanpa perikemanusiaan seolah-olah para relawan itu bukan lagi jenis manusia. 

Ancaman Masa Depan Bagi Umat Manusia

Sayangnya di Indonesia, isu Israel dan Palestina mendadak tenggelam dengan isu lokal yang tak kalah panas. Beredarnya salinan video mesum artis-artis idola yang menghebohkan langsung mengaramkan isu-isu  lainnya, baik isu internasional maupun isu lokal. 

Berita ini bukan menggegerkan Indonesia saja, tapi jagat film porno dunia pun ikut geger. Pasalnya trending topic “Peter Peterporn” menjadi nomor satu di layanan Twitter selama beberapa hari. Anehnya, beberapa waktu sebelumnya trending topic yang berhubungan Mavi Marmara, Israel dan Palestina justru membuat Twitter error
Sedangkan trending topic lainnya yang jelas-jelas telah memakan bandwidth besar sekali seperti Ariel Peterporn dengan entengnya masih menjadi buah bibir di Twitter. 

Tapi apapun yang terjadi terjadilah. Kalau kita kembali ke hukum inharmonia progressio, maka beredarnya Ariel Peterporn dengan video-videonya yang sering masih diembel-embeli “mirip” menunjukkan adanya faktor “Black Swan”.


Teori Black Swan di gagas oleh Nassim Nicholas Taleb pada tahun 2007.Teori Angsa Hitam merujuk pada peristiwa langka yang berdampak besar, sulit diprediksi dan di luar perkiraan normal. Kasus Ariel sesuai dengan terori ini karena beberapa hal: muncul sangat mengejutkan, bahkan kemunculannya mampu mengalahkan isu-isu lokal dan internasional yang mulai memanas, mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat, dan kelak akan dijelaskan oleh orang-orang dengan peninjauan ke belakang.


Di Indonesia faktor Black Swan ini makin membesar karena umumnya orang Indonesia ini mau tahu pada hal-hal yang menurutnya layak menjadi tontonan. Tak percaya? Coba kita lihat di jalanan, ketika ada motor srempetan pun jalanan mendadak macet. Orang mau pada nonton padahal cuma srempetan doang. 


Kasus Peterporn adalah antiklimak dari watak sombong yang sama, yang muncul dalam wujud dan rupa klasik, “uang”, “Kekuasaan”, “wanita” dan arogansi “pornografi” yang sekarang diwakili oleh  tayangan “mirip” Ariel Peterporn di Internet. Nongol di Internet artinya nongol di seluruh dunia karena Internet adalah jejaring global yang dapat diakses oleh siapa saja selama tidak diblokir jalurnya.


Apapun akhirnya, Kasus Peterporn membuka mata kita kalau dampak teknologi digital yang sudah merasuk kemana-mana. Baik dampak itu menguntungkan atau dampak buruk yang mengakibatkan efek jera bahkan efek yang tak terbayangkan oleh pelakunya sendiri maupun oleh penyebar video-video mesum tersebut. Yang perlu dilakukan pada akhirnya bukan sekedar memberikan edukasi kepada masyarakat, edukasi kepada keluarga, edukasi kepada siswa-siswi sekolah yang rentan, tapi pemerintah pun harus lebih tegas dalam menentukan penggunaan perangkat digital.

disarikan dari catatan Atmonadi

Dalam Hibernasi

| Juni 13, 2010 | Sunting
bulan juni...
ada banyak cerita yang tercecer selama proses hibernasiku terjadi. yah, hibernasi, demikian kumenyebut kevakumanku dari menuliskan catatan-catatan kecil di blog tercinta ini karena memang ada lebih banyak hal lain yang lebih mendesak dan lebih penting untuk ditulis. mulai dari tugas sekolah, hingga tugas-tugas beasiswa. yah, biasalah akhir tahun, sehingga baru sekarang bisa kembali menulis, mengabarkan kembali kisah yang mungkin terselip. ataupun menyegarkan kembali kisah yang sudah mulai kusam.
apalagi, kata orang.semakin kusam suatu kisah, maka akan semakin banyak pelajaran yang dapat kita ambil darinya yang tidak kita ketelukan ketika kisahnya masih segar.
tetapi, sebelum berkisah tentang keadaan, akan kukisahkan terlebih dahulu diriku pasca tanggal 15 april -kali terakhir postinganku mengudara-.
Buruh gendong Beringharjo
1. hari kartini hari kartini tahun ini? apa yah, sepertinya wanita masih pula mendapatkan tempat nomor dua. memang beberapa wanita berhasil di bidangnya, namun nyatanya lebih banyak wanita yang harus bergelut dengan nasib yang sama sekali tak mengenakkan, wanita buruh bangunan banyak. wanita tukang tambal ban banyak. wanita buruh gendong banyak. begitu pula wanita penambang, juga banyak dalam hal ini mungkin benar, wanita bisa dibilang sudah sejajar dengan kaum pria karena bisa mengerjakan apa yang pria kerjakan. namun apakah ini hakikat dari emansipasi wanita itu sendiri? tidak tentunya, emansipasi yang dimaksud disini tentunya adalah perlakuan yang sama atas wanita dan pria. ketika pria dapat sekolah, begitu juga pria. ketika pria dapat jadi seorang pemimpin, hak yang sama juga diperoleh wanita.

namun, nyatanya arti emansipasi itu sendiri disalahgunakan. misalnya saja, dengan alasan emansipasi seorang suami menyuruh istrinya menggantikan pekerjaannya sebagai buruh bangunan. atau karena alasan emansipasi seorang ibu harus bekerja sambil mengasuh anaknya sekaligus. benarkah seperti kawan? mari kita renungkan.

2. May Day
awal bulan dibuka dengan yang namanya May Day, peringatan hari buruh internasional. untuk tahun ini bisa dibilang peringatannya di Indonesia tenang-tenang saja. tak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini demo-demo menuntut perbaikan kesejahteraan buruh tidak terlalu ramai. entah karena memang kesajahteraan mereka udah membaik, atau malah karena mereka udah capai karena terus menerus demo namun tidak ada langkah nyata pemerintah untuk memperbaiki kesejahteraan mereka?

3. Ulang tahun
bulan mei juga bisa dibilang bulannya ulang tahun.kenapa? ya karena ada yang ulang tahun lah, hehe...yang pertama, tanggal 8 lalu aku baru aja merayakan ulang tahunku yang ke-17. senang sebenarnya karena tidak terasa sejauh ini Tuhan masih memberikan izinNya sehingga aku masih bisa berdiri di bawah bentangan langitNya. namun juga sedikit sedih karena mengingat waktu yang ternyata seperti berjalan tanpa kesan, berlalu tanpa kenangan, huhu.. itulah yang kemudian menjadi refleksiku untuk menjadi lebih baik dan bijak dalam memanfaatkan waktu. 

selain itu, alhamdulillah blogku tercinta ini, juga baru saja genap berumur 2 tahun, terhitung dari postingan pertamanya yang mengudara tanggal 23 Mei 2008. senang juga soal ini, karena setelah aku lihat-lihat tumpukan catatan-catatanku yang udah lalu, catatan-catatanku yang sekarang bisa dibilang lebih berbobot. dari yang awalnya cuma sebagai ajang curhat dengan bahasa yang inggris bukan indonesia bukan seperti ini, sedikit demi sedikit bisa berubah menjadi tulisan yang mempunyai makna, dan insya alloh ada manfaatnya. semoga blog ini dapat terus survive di tengah seleksi alam yang ada yang membuat para blogger berjatuhan satu persatu. amin

Menerima Kekalahan - Akhir LCC UUD 1945 Tahun 2010

| Juni 07, 2010 | Sunting
Peserta LCC UUD 1945 Provinsi Jateng bersama Pimpinan MPR RI
terkadang manusia dihadapkan pada sebuah tembok yang membuatnya tak bisa bergerak.namun, di lain waktu manusia juga seperti seekor kijang yang dibiarkan berlarian di sebuah tanah lapang: bebas.dan sebagai manusia biasa, adalah wajar ketika suatu kali aku dihadapkan pada pilihan pertama: pikiran seolah terhalang oleh sesuatu, padahal tak ada apa-apa. tangan mendadak pula kelu, tak bisa bergerak meski keyboard komputer sudah tersentuh. 

dan yang lebih memperparah lagi adalah otak yang sudah cukup lelah."otak itu seperti manusia, ada waktunya ia kecapaian. sehingga jangan kau peras terus menerus, istirahatkan sejenak agar ia dapat mengisi ulang bahan bakarnya", begitu kata ibu suatu ketika, dulu kala. dengan alasan dan juga masalah itu pula akhirnya kubiarkan, dengan terpaksa, blog ini terbengkalai dalam waktu yang lumayan lama: satu bulan lebih!!! ada banyak cerita yang belum sempat terceritakan selama off, sehingga mungkin inilah waktu yang tepat untuk sekedar bercerita terlebih dahulu.

dalam dunia sepak bola kita sering mendengar istilah underdog, sebutan untuk tim-tim kelas rendah yang tidak dijagokan untuk menang sama sekali. lalu? dalam sebuah kompetisi predikat seperti itu tentunya dapat mengendorkan semangat kita. namun, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapinya. apabila kita menjadikannya sebagai sebuah lecutan untuk maju, maka tidak mustahil predikat tersebut malah menjadi semangat kita untuk menjadi lebih baik. semangat agar kita tak lagi dipandang sebelah mata. hal ini pula yang menjadi bagian dari ceritaku selama off. 

aku ditunjuk oleh sekolah utuk mengikuti sebuah lomba di tingkat karisidenan akhir januari lalu. materinya tak main-main: UUD 1945, dasar negara ini. aku, dan juga 9 anggota tim lainnya berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik, apalagi dari awal kami seolah juga menjadi tim underdog: tim dari sekolah pinggiran yang sama sekali tak terdengar sepak terjangnya. 

sementara tim lain kebanyakan adalah sekolah-sekolah yang sudah bonafit. namun, guliran cerita selanjutnya ternyata berkata lain.dari tim yang bukan apa-apa kami melejit menjadi salah satu tim kuat yang menjebol peringkat dua dari 18 sekolah yang bertanding, dan memberikan kami kesempatan untuk bertanding ke tingkat provinsi.dari sinilah aku mulai sadar dan menyadari bahwa segala sesuatu itu yang terpenting adalah usaha, bukan sekedar gemerlap dan kemilau luar semata.

kamipun bertolak ke provinsi, dengan gelar yan masih sama: tim underdog: satu-satunya sekolah menengah dari kota kecamatan yang nracak ikut kompetisi tingkat provinsi yang diisi oleh sekolah-sekolah kota!!! sekali lagi, badai menerpa tim kami. krisis kepercayaan diri!!! seperti sebuah kapal dapat dibilang aku yang menjadi nakhoda-nya saat itu. berusaha sekuat mungkin untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri anggota lainnya. berulang kali aku berkata,
yang diperhitungkan disini bukan darimana kita berasal, namun seberapa kemampuan kita untuk bisa bersaing dengan sekolah lainnya!!!
entah berapa kali, namun yang pasti, karena terdesak waktu pula anggota yang lain perlahan-lahan dapat njenggelek dan berkata, "betul, kita pasti bisa!!!" senang banget rasanya bisa menumbuhkan semangat orang lain. yah, walaupun pada akhirnya kita juga tidak menang, paling tidak kita sudah berusaha maksimal. dan yang lebih penting lagi, kita juga sudah mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan (penting!!!)

menurutku ini adalah sesuatu yang penting, bukannya pesimis, namun dalam hidup manusia tidak selamanya berjalan mulus, sehingga ketika kita bersiap-siap untuk melangkah, menapaki sesuatu, kita tak hanya menyiapkan: bagaimana kalau kita berhasil? tetapi juga "bagaimana kalau kita belum berhasil?"

Antara Susno dan Mbah Priok

| April 20, 2010 | Sunting
Susno Duadji
Body language-nya tak begitu mengesankan sebagai seorang polisi yang sangar. Cara berbicaranya juga enteng, tanpa beban, dan diksinya dalam berkomunikasi dengan publik juga enak didengar. Hal inilah yang menjadikan pendengarnya betah berlama-lama mendengarkan apa yang ia omongkan. Namanya tiba-tiba melesat bak meteor. Dialah Susno Duadji, pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan, yang akhir kisahnya tengah ditunggu-tunggu banyak orang.

Tetapi, ngomong-ngomong, kenapa ya ontran-ontran Susno berdekatan dengan keberhasilan Polri membongkar jaringan terorisme? Tak juga jauh dari heboh skandal Bank Century? Lalu mengapa pula kasus Mbah Priok sekonyong-konyong muncul di pentas keamanan negeri?

Ada apa ya kok seakan polisi tak boleh menikmati “bulan madu” dari sukses besar menggulung gembong terosris Noordin M. Top. Dunia kepolisian juga seolah digunjing, dicaci dimana-mana oleh masyarakat karena kinerjanya yang sama sekali tidak memuaskan.

Ribuan pasang mata dan telingan memang tengah tertuju padanya, apakah memang ia malaikat juru selamat bagi kepolisian Indonesia? Atau apakah ia hanya manusia biasa seperti yang lain? Ia bisa menjadi kelewat mahal jika omongannya benar, dan “nyanyiannya” menjadi tenaga super power mengubah citra Polri yang memang buruk di sana sini. Sebaliknya, masalah Susno juga menjadi kusak-kusuk jalanan yang memperkeruh keadaan karena ada banyak orang di negeri ini yang kerjaannya memang suka mencari sensasi tanpa berpikir apakah akibatnya.

Berani dan nekat! Itulah yang terkesan dari sosok Susno. Berani karena memang tidak lazim seorang yang berada dalam sebuah korps besar seperti Polri dengan seabrek kode etik yang kudu dijunjung tinggi sekan-akan diacak-acak begitu saja oleh orang yang lama malang melintang di dunia kepolisian. Nekat, karena memang bicaranya tidak bisa direm oleh siapapun. Ia melaju kencang menerjang siapa saja dengan ungkapan-ungkapan yang di satu sisi membuat orang semakin ketar-ketir, namun di sisi lain menarik sebagai tontonan akrobatik yang mendebarkan. Oh Susno, ada apa denganmu kok menjadi sebegitu nekat dan berani?

Mungkin lelaki satu ini masuk dalam spesies manusia langka yang dalam komunitasnya dianggap tak lumrah dan nganeh-nganehi. Untuk popularitas atau panggilan hati atau membayar kekecewaan terhadap kepolisisan yang seolah membuatknya terkatung-katung tak menentu nasibnya setelah dilengserkan November tahun lalu? Entahlah, hanya Susno dan Tuhan saja yang tahu. Dulu, kita mengenal nama Pak Lopa yang juga begitu. Suka berpikir dan bertindak inkonvensional dalam dunia hokum namun begitu cepat dipanggil Yang Kuasa sehingga tak sempat menikmati hasil jerih payahnya yang berhasil membangun budaya hukum yang baik di negeri ini.

Socrates tak akan pernah dilupakan orang ketika memilih meminum racun Hemlock demi mempertahankan kebenaran yang oleh lingkungannya dianggap melanggar norma kepatutan. Ia boleh mati konyol. Tetapi generasi sesudahnya akan mencatat bahwa penguasa sering tak menggunakan nurani dan akal sehat dalam memelihara kebenaran. Mereka lebih mentingin stabilitas ketimbang ikut mencari kebenaran. Lebih mentingin pertemanan daripada mencari kearifan. Namun bagi kelompok orang-orang seperti Socrates juga akan dicatat sebagai seorang yang tidak pandai menyesuaikan diri dengan situasi politik yang melingkupinya. Ia bisa dianggap berani melawan trandisi namun juga bisa dianggap orang nekat yang mengacak-acak tatanan masyarakat.

Kembali ke soal Mbah Priok, di Indonesia ini memang kaya akan cerita aneh, orang yang sudah mati dianggap mampu mempersatukan orang yang masih hidup karena yang pernah berkunjung ke makam itu tak pernah bertanya pada afiliasi politik dan warna bajunya. sebaliknya, ia mampu mengobarkan konflik berdarah-darah kalau ada yang mengusik penggemarnya.

Dalam perspektif ekonomi materialistik apalah artinya seorang Mbah Priok toh bisa direlokasi ke tempat lain yang lebih tenang ketimbang berhimpitan dengan lalu-lalangnya kontainer di pelabuhan. Mereka ini lupa akan harga dari sebuah keyakinan terhadap orang alim yang dianggap dekat dengan Gusti Allah. Pun bangsa ini sudah terlanjur akrab berurusan dengan makam keramat yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai ke Talaud (hehe, kok jadi iklan?). Dari aspek ekonomi, rakyat kecil sering mendatangi makam tersebut dengan alasan akan mendatangkan rejeki. Juga membawa rejeki untuk mereka yang menangkap kesempatan lewat pasar tiban akik hingga minyak Arab ataupun persewaan toilet.

Nanti entah ada masalah apalagi yang menjadi pekerjaan rumah besar untuk negeri ini hingga secara sadar kemudian kita dikelilingi oleh berbagai jenis komoditas asing yang membuat pengusaha lokal perlahan-lahan jatuh kelimpungan. Usaha kecil dan menengah rontok satu persatu karena tak mampu bersaing dengan produk asing. Sumber kekayaan alam banyak yang mangkrak dan kalaupun dieksploitasi itu oleh pihak asing, paling tidak kudu bermitra dulu dengan mereka, seperti Freeport dan Exxon. sebagian besar dari kita hanya jadi penonton saja yang tak kebagian apa-apa. Akankah terus-menurus kita setia menjadi penonton atau harus berusaha menjadi pemain yang bisa mengubah jalan sejarah seperti Susno kalau ia memang tulus?

Satu Siang Berdarah di Priok

| April 15, 2010 | Sunting
Seorang perempuan dan anak lelaki melintasi bekas tempat kejadian | Viva
Hari ini tadi hampir semua media di tanah air menjadikan tragedi Priok sebagai headline-nya. Tragedi ini terjadi kemarin, saat akan dilakukan penggusuran, atau meminjam bahasa aparat: penertiban area makam Mbah Priok oleh aparat Satpol PP. Oh ya, Mbah Priok sendiri diyakini sebagai salah satu ulama penyebar agama Islam di Jakarta.

Mengerikan mungkin menjadi kata yang pantas keluar setelah menyaksikan beritanya di layar televisi. Bentrokan terjadi sepanjang hari Rabu, 14 April 2010 kemarin. Penggusuran yang dilakukan oleh sekelompok Satpol PP dibantu oleh pihak kepolisian ini dimulai sejak pagi hari. Sebetulnya, menurutku, akar masalah tragedi Priok ini sebenarnya bukan dari masalah rencana penggusurannya, namun lebih pada kekurang-bijaksanaan kedua belah pihak, baik dari pihak satpol PP maupun dari masyarakat sendiri.

Banyak pihak menilai Satpol PP dan pihak kepolisian terlalu arogan dalam melakukan proses penggusuran. Tiba-tiba saja pada pagi hari kemarin ratusan petugas berseragam menyerbu wilayah pemakaman Mbah Priok, merangsek gerbangnya. Tentu, bagi warga yang tidak mengerti, apalagi wilayah pemakaman Mbah Priok ini dapat dibilang sebagai sebuah kawasan suci karena seperti dibilang di awal Mbah Priok -konon nama aslinya Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad- merupakan tokoh Islam sekaligus mujahid yang telah berjasa menyebarluaskan agama Islam di Jakarta, akan merespon negatif sikap Satpol PP ini. Akibatnya ratusan warga yang emosi dengan sikap Satpol PP yang menurut mereka tidak bijaksana, mementingkan kepentingan sekelompok orang berduit di PT Pelindo, turun ke jalan dan menghadang petugas.

Ternyata kisah berlanjut semakin keras. Penghadangan warga ini terus meningkat menjadi sebuah tragedi berdarah yang menelan banyak korban, baik dari pihak Satpol PP maupun masyarakat.Ratusan orang mengalami luka-luka, dan dilaporkan pula 2 nyawa telah hilang dengan sia-sia.

Kekerasan terus berlanjut hingga petang menjelang, walaupun konon sempat mereda karena guyuran hujan, dengan beberapa mobil terbakar, kendaraan roda dua milik wartawan juga rusak berat, dibakar, dan kemudian diberedeli bagian-bagiannya. Semakin malam, beberapa oknum masyarakat mulai merangsek masuk kantor PT Pelindo dan menjarah barang-barang kantor yang ada di dalamnya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Apakah motif Satpol PP hingga teganya menggusur tanah bersejarah milik masyarakat? Padahal ada seorang warga yang mengklaim sebagai ahli waris dengan menunjukkan dokumen resmi kepemilikan tanah pemakaman tersebut. Namun di sisis lain PT Pelindo juga menunjukkan dokumen penjualan atas tanah tersebut kepada pihak perusahaan tesebut.

Namun, apa pula motif masyarakat melakukan penyerangan yang demikian keras? Seandainya hanya mempertahankan lokasi yang bernilai agamis dan kultural, mengapa harus sampai membunuh dan menjarah? Atau mungkin ada "oknum" yang memanfaatkan ketegangan yang ada untuk melakukan keonaran?

Dari tayangan televisi aku dapat melihat betapa mencekam suasana bentrokon fisik antara warga yang menolak eksekusi lahan dengan Satpol PP dibantu polisi tersebut. Lemparan batu. Kilatan senjata-senjata tajam. Letupan tembakan. Semprotan water canon. Menjadi senjata utama. Hingga korbanpun kemudian berjatuhan dari ke dua belah pihak. Itulah sekelumit gambaran priok berdarah kemarin. Serem memang, namun ada satu hal yang harus kita cermati. Bahwa pola-pola kekerasan terus menerus menjadi ajang untuk penyelesaian atas sebuah masalah di Indonesia. Mulai dari rakyat jelata sampai dengan anggota dewan, semuanya beradu jotos demi kepentingan masing-masing.

Republik ini memang tengah sakit karena digerogoti penyakit-penyakit dalam yang semakin kronis. Rasa kasih sayang antar sesama manusia semakin luntur, berganti dengaan kebencian yang beranak pinak. Apakah kita akan mewariskan kebencian, kebobrokan. dan kecarut-marutan negara ini untuk anak cucu tercinta kita?

Semoga saja tragedi Priok kemarin dapat membuka mata hati kita semua, mata hati pemerintah, masyarakat, Satpol PP, polisi, dan semua rakyat Indonesia bahwa sebenarnya kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan sebuah masalah. Bahkan, malah akan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih besar.

Dan yang pasti: kita semua berharap tragedi yang memilukan seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Si Penebang Pohon dan Kapaknya

| April 05, 2010 | Sunting
Kapak kayu dalam film Careful with That Axe! (2008)
Suatu masa, hiduplah seorang pemuda yang kuat dan giat bekerja. satu hari, ia berniat untuk mencari uang dengan mengandalkan keahliannya dalam menebang pohon. Maka datanglah ia ke seorang pedagang kayu, hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan: penebang pohon. Sang majikan membekalinya dengan sebuah kapak yang akan membantunya ketika bekerja.

Maka mulailah pemuda itu bekerja. Ia ditugaskan untuk menebang sejumlah pohon. Setelah menunjukkan pohon-pohon mana saja yang harus ditebang, sang majikanpun pulang. Dengan giat si pemuda menebang pohon demi pohon. Sepanjang hari ia mengayunkan kapaknya, hingga senja datang, ia telah berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sang majikanpun senang dan terkesan dengan pekerjaan si pemuda.“Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu." pujinya tulus.


Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.


Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”


“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucapkan terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

“Istirahat bukan berarti berhenti.Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi."Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine