Gerhana Matahari Cincin

| Januari 27, 2009 | Sunting
Gerhana matahari cincin, terlihat di Teluk Manila
Senin, 26 Januari kemarin sebuah fenomena langka telah melewati depan mata ribuan orang di Indonesia yakni Gerhana Matahari Cincin, yang menurut BMG dapat dilihat oleh warga Jakarta, Banten, Lampung, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi Tengah. 

Namun sayangnya, cuaca yang tidak memungkinkan membuat gerhana kali ini tidak dapat dilihat dengan jelas, tidak seperti pada gambar yang yang diambil di Teluk Manila di atas, tidak kayak di Indonesia yang hanya seperti ini:

Gerhana matahari, dari Lampung

Andai Aku Terlahir Palestina

| Januari 24, 2009 | Sunting
Seorang gadis Palestina, di hadapan Masjid Al Aqsha
Sungguh berdesir darah ini pada yang telah kerap kali terpampang dalam berita yang pada akhirnya membuatku mengukir sekedar perandaian. Palestina, ya, Tuhan andaikan saja aku terlahir di sebuah tanah bernama Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing pluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.

Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira…

Ibuku, pasti tersenyum saat aku lahir ke dunia, meski aku yakin, ia tak akan menampakkannya saat melalui lorong kematian di rumah sakit yang penuh sesak dengan gelimpang korban anak Palestina. Ibuku, pasti menangis jua, meski tertahan sesak di dada.

Ayahku, saat itu tak ada, kelak aku tahu bahwa saat aku memandang dunia, dia tengah memandang kematian dengan sekedar batu melawan tank dan tentara yang membabi buta, menyerang menggila. Aku beruntung, masih bisa bertemu ayahku, meski pada akhirnya aku harus rela, ayahku kelak juga terbujur di tengah deru pesawat tempur yang memuntahkan bom kemana saja, di kota yang kucinta.

Gaza, itu tercatat dalam buku kelahiranku, aku terlahir di Gaza. Masa kecilku, kulalui dengan mainan senjata dan perang-perangan, ya, bagaimana tidak. Kotaku dikuasai pasukan asing bersenjata. Sesekali kulihat senjata itu menyalak, memuntahkan isinya, ada gas air mata, dan tentu ada yang peluru tajam meminta nyawa, warga Palestina, dan tak jarang anak Palestina.

Aku melihat anak Palestina seusiaku, sudah berani melawan pasukan asing meski hanya dengan ketapel kecil berisi sejumput batu yang tak berarti apa jika mengenai tameng tentara atau besi kendaraan lapis baja. Mereka berani tampil ke muka hingga ke dekat moncong senjata. Aku tak tahan, akhirnya akupun ikut jua.

Aku senang, karena aku merasa sebagai pejuang, alias jagoan. Aku tak takut, bukankah anak Palestina lain juga tidak takut?

Aku belum berusia remaja sampai suatu saat kelak aku kehilangan kawanku yang kulihat kerap melempar batu dan melontar ketapel tak lelah-lelahnya, ya kelak ku tahu itu bernama Intifada. Kawanku menjadi korban Intifada.

Lama kelamaan aku menjadi terbiasa, melihat dan mendengar kawan, saudara, kerabat ataupun orang tak kukenal yang hilang atau tak tentu semesta, kabarnya dibawa pasukan asing dimasukkan ke penjara gelap gulita, atau tewas tak bernama. Aku terbiasa mengalami kehilangan, aku terbiasa melihat dan merasakan derita, aku terbiasa melihat airmata dan pasti aku terbiasa melihat warna merah mengalir dimana-mana.

Kata semua orang, kini kau sudah menjadi anak Palestina !

Baru kutahu, anak Palestina berarti anak terjajah, yang harus membebaskan negeri dari cerita kelam negeri yang terlunta. Dan baru kutahu, Israel adalah negara yang dahaga atas tanah Palestina. Aku mulai merasa, bahwa aku bermakna dan bangga menjadi anak Palestina.
***
Kini, di penghujung tahun, kudengar lagi deru mesin tempur berseliweran di langit kotaku, kudengar dentuman membahana di sudut-sudut wilayah permaiananku, kutatap kilatan cahaya mematikan menyilaukan pandangan mataku disertai bunyi sirene di segala penjuru.

Pagi, siang dan malam terus berlanjut tak menentu, deru itu, dentuman itu dan kilatan cahaya itu menyergap seluruh sisi hidupku. Kulalui hari dengan berlari, berlindung dan bersembunyi dari serbuan tak menentu.
Jagoan-jagoan kecil Palestina
Aku tak tuli, kudengar tangisan dimana-mana, kudengar jerit teman sebaya, Ibu-ibu Palestina menggendong anak dan orang tua paruh baya yang terpaksa harus terpapah tanpa daya. Dan kudengar lenguh terakhir nyawa di dada.

Aku tak buta, kulihat luka, kulihat jasad dimana-mana, kulihat merah itu ada dan tak terkira, kulihat kotaku tak lagi indah mempesona. Dan harapan itu sepertinya sirna.

Aku tak menangis, meski ayahku menjadi jasad tersisa di tengah gempuran melanda kota. Tak ada lagi tangis, aku sudah terbiasa, seperti juga anak Palestina lainnya.

Waktu itu tiba, kata orang mulai ada perang kota!

Aku berlindung dibalik reruntuhan bangunan rumah ibadah, yang hancur oleh tembakan serdadu nista, aku lihat, ada orang Palestina bersenjata, dengan tutup wajah dimuka, kutahu juga ada remaja Palestina memanggul senjata. Mereka sigap, lincah, berlari ke sudut-sudut tak terjamah, melawan pasukan asing yang menyerbu kedalam kota. Aku tahu, mereka siap mati di tanah tercinta.

Ah, seandainya aku bisa melalui hari-hari ini, tanpa sebutir peluru mengenai dada, tanpa pecahan bom menerpa kepala, mungkin aku tak-kan lupa, ini catatan kelam manusia di tanah terjajah, Palestina.

Tuhan, perkenankan aku menjadi remaja, agar aku bisa berlari membawa bendera Palestina, berikat kepala, bolehlah juga bersenjata, apa adanya, melawan pasukan Israel sampai tetes terakhir itu tiba.
Kalau kau berbaik hati Tuhan, ijinkan aku menjadi dewasa, agar aku mengikat keras bendera Palestina di tiang dan sisa bangunan menjulang ke angkasa. Kulekatkan ikat kepala, selekat jiwa dan raga, senjata, apapun bisa kuguna, melawan hingga gelora di dada sirna bersamaan dengan hembusan nafas yang tersisa.

Aku anak Palestina, selamanya Palestina, darahku, merahnya Palestina..

Gaza dalam Rembang Petang

| Januari 19, 2009 | Sunting
Kupu-kupu empat warna


DUNIA ini notabene dihuni sekitar tiga miliar manusia. 12 Juta di antara dari mereka-kurang dari setengah persen-diklasifikasi sebagai bangsa Yahudi (Israel). Secara statistik, mereka sebenarnya hampir tidak teramati. Tetapi bangsa Israel justru betul-betul dikenal, di luar proporsi dengan jumlah mereka yang kecil. Tak kurang dari 12 persen dari semua hadiah Nobel di dalam bidang fisika, kimia dan kedokteran telah jatuh ke tangan orang-orang Israel. Kontribusi Israel pada daftar nama-nama besar dunia di bidang agama, sains, sastra, musik, keuangan, dan filsafat amat mencengangkan.

Sederet nama-nama besar dan dimuliakan dunia juga telah dihasilkan bangsa ini. Semisal Karl Marx, yang dengan Das Kapitalnya yang legendaries. Albert Einstein, matematikawan paling kesohor hingga saat ini, yang menghantarkan kita ke zaman atom dan membuka jalan bagi manusia menapakkan kakinya di bulan, adalah berkat teorinya. Sigmund Freud, dengan psikoanalisanya, telah merevolusi pikiran manusia tentang dirinya sendiri, serta tentang hubungan antara pikiran materi. Tak ketinggalan Baruch Spinoza, yang membebaskan filsafat dari mistisisme dan membuka jalan bagi rasionalitas sains modern, adalah bukti luar biasa kehebatan anak-anak Israel.

Yang pasti, bangsa Israel memang sudah menyita perhatian dunia sejak zaman dahulu. Yakni sejak pada suatu hari, 4.000 tahun silam, ketika seorang laki-laki bernama Abraham (Ibrahim) mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dan memperkenalkan diri sebagai Yahwe (Jehovah), yang merupakan awal dialog Yahudi dengan Tuhan. Lewat tradisi Ibrahim kita mengenal tradisi (agama) semetik terbesar di dunia (Yahudi, Nasrani dan Islam). Sehingga banyak ajaran Ibrahim sampai sekarang masih tetap lestari. Baik dalam tradisi Yahudi, Nasrani maupun Islam. Hari raya terbesar dalam Islam, (Idul Adha), tak lebih ubahnya napak tilas kisah (tradisi) Ibrahim. Bahkan Masjidil Haram (Ka'bah) dan Masjidil Aqsa-dua nama masjid yang ditulis dalam Alquran--notabene pertama juga dibangun Ibrahim. Ironisnya, prestasi besar itu, dewasa ini sangat paradoks dengan perilakunya. Invasinya yang membabi-buta ke Jalur Gaza dewasa ini, sungguh merupakan ironis sejarah dan kemanusiaan yang tak terlupakan. Ia tak ubahnya Hitler dengan Nazi-nya.

Sehingga dari sudut pandang apapun, agresi biadab Israel ke jalur Gaza, adalah kejahatan sejarah, peradaban dan kemanusiaan yang tak terperikan. Terlebih jika dipandang dari sudut agama dan kemanusiaan. Kejahatan Israel atas penduduk sipil -utamanya perempuan dan anak-anak -- adalah bentuk kejahatan sempurna, lebih dari kejahatan yang pernah dilakukan iblis sekalipun. Sekeji-kejinya iblis, makhluk yang notabene karena kejahatannya distigmakan bakal menjadi penghuni neraka jahanam, dalam catatan sejarah, tak pernah membantai orang sedemikian masif dan sistemik demikian.

Maka manakala mengkaji konsep, setan (iblis) dalam pandangan Islam yang notabene terdiri dari jin dan manusia, perilaku biadab Israel tak ubahnya ikon langsung tak langsung dari iblis yang senyatanya. Yakni iblis yang berasal dari golongan manusia itu. Hanya orang-orang yang sakit jiwanya (skyzofrenia) saja yang mampu mentolerir tindakan biadab yang ada di depan mata itu, yang hingga hari ke-19 belas telah menewaskan nyawa mendekati angka seribu jiwa. Sementara lima ribuan lainnya harus menderita luka-luka dan cacat secara permamen. Sebuah angka fantastis dari tindakan keji bangsa manusia yang hampir menyamai angka kurban bencana alam misalnya Gempa Yogya-Jateng pada 27 Mei 2006. Sehingga orang waras, bahkan yang ateistik sekalipun, akal sehatnya tentu tidak akan mampu mencerna tindakan pembantaian ribuan jiwa manusia yang bersifat permanen dan sistemik tersebut.

Untuk itu, hemat kami menghadapi tindakan keji demikian, kita harus mengubah paradigma tentang bantuan yang hendak kita berikan. Jika selama ini kita terpikir untuk segera menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obat serta sarana dan prasarana vital lainnya ke Jalur Gaza. Paradigma dunia mestinya diubah. Yakni hentikan dahulu peperangan. Kalau perlu dengan segala cara. Barulah jika perang berhenti, kita memberikan bantuan kemanusiaan tersebut. Sekaligus melakukan renovasi dan rekonstruksi dan rehabilitasi kemanusiaan serta kebudayaan.

Sebab jika paradigma dunia tidak segera diubah, Israel toh, nyata-nyata telah gelap mata. Karena bangsa Israel, pada dasarnya bangsa yang skyzofrenia, mereka meyakini sebagai bangsa "pilihan Tuhan", Mereka merasa, menjadi pewaris sah dunia. Sehingga bangsa atau orang-orang lain, dianggap tak layak hidup dan menghuni dunia yang telah mereka warisi. Karena watak skyzofrenianya ini, bangsa Israel, seakan bisa berbuat apa saja, yang menurut mereka benar, sehingga mereka akan meremehkan siapa saja. Kecuali mitra bebuyutannya yang selama ini terus menyokongnya. Yakni Amerika. Sehingga resolusi PBB sekalipun tak digubrisnya.

Maka menghadapi watak demikian, satu-satunya cara hanyalah berbuat yang serupa, Yakni sebagaimana seruan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, dengan kekuatan senjata. Hanya saja, jika hal itu terjadi, maka masa depan dunia akan benar-benar di rembang petang. Perang dunia ketiga seperti sudah berada di depan mata. Apalagi jika, niat mereka didasari atas nama motif agama. Dan Wilayah Palestina, yang diyakini menjadi ikon suci dari tiga Agama Semit, sangat memungkinkan sekali untuk itu. .

Maka jika perang itu dianggap sebagai perang agama, kejadiannya pasti akan lebih dahsyat dari apa yang kita kira. Sebab sebagaimana diungkap Roger Shinn, Profesor etika sosial, Union Theological New York, "perang atas nama agama cenderung lebih ganas. Jika orang memperebutkan suatu daerah untuk kepentingan ekonomi, mereka akan mencapai suatu titik dimana pertempuran dianggap merugikan dibanding biayanya dan kemudian berkompromi. Jika penyebabnya adalah agama, kompromi dan perdamaian dianggap suatu kejahatan"

Senada dengan Shinn adalah apa yang diungkap oleh Blaise Pascal (1623-62), menyatakan bahwa "manusia tidak pernah melakukan kejahatan dengan begitu utuh dan penuh sukacita seperti bila mereka melakukannya karena keyakinan agama". Sebab "manusia akan bergumul demi agama, menulis demi itu, bertempur demi itu, mati demi itu; berbuat apa saja kecuali hidup demi itu... apabila agama yang sejati mencegah suatu kejahatan, agama-agama palsu membuat dalih untuk ribuan kejahatan" Ungkap Charles Caleb Colton. Padahal menurut sejarawan Inggris Arnold Toynbee, menyatakan bahwa "tujuan yang sebenarnya dari agama lebih luhur adalah untuk menyebarkan nasihat-nasihat rohani dan kebenaran yang menjadi dasarnya kepada sebanyak mungkin jiwa yang dapat dicapainya, agar setiap jiwa tersebut mampu memenuhi tujuan manusia yang sesungguhnya. Tujuan manusia yang sesungguhnya adalah memuliakan Allah dan memiliki Dia selama-lamanya"

Persoalannya, jika Israel terus saja berbuat nekat, maka aras ke arah perang agama itu bukan hal yang mustahil. Meski menurut hemat saya, motif utama invasi Israel, bukanlah motif agama. Yakni bentuk dari kefrustrasian para pemimpin Amerika-sekutu utama Israel-dalam menghadapi krisis ekonominya yang kian akut. Sehingga bentuk kefrustrasian itu dialihkan dengan perang, dengan harapan untuk mendongkrak kembali harga minyak yang kian terpuruk, serta sekaligus produksi persenjataan mereka menjadi laku. Itulah sebabnya, untuk tidak memperkeruh masalah setiap bangsa, juga siapapun-utamanya para pemimpin-- harus sangat arif dan hati-hati menghadapi masalah ini, sambil tetap mencari cara, bagaimana membuat Israel jera dan menghentikan kejahatannya.

Tulisan Otto Sukatno

Kado Awal Tahun

| Januari 17, 2009 | Sunting
2009 perlahan telah melewati purnama pertamanya, yang berarti sebesar itu pula umur tahun ini kini. yah masih sangat muda, bahkan rasanya juga baru kemarin tahun ini datang, tetapi tak sedikit cerita yang telah tergelar arungi setiap detik dan menit sesuai laju arus waktu. namun, entah kebetulan atau memang demikianlah kuasaNya, tahun ini, seperti juga tahun lalu, telah dibuka dalam balutan duka atas bencana yang terus melanda. tahun lalu, tepat di awal tahun, pesawat adam air hilang setelah jatuh tak terlacak dalam pusaran laut selat makassar. dua ratus-an jiwa melayang ikut terbawa oleh bangkai adam. 

dan tahun ini, di awal tahun pula, bahkan di tempat yang sama, di laut sekitar majene sulawesi barat, kapal motor teratai prima yang sedianya akan menyeberang dari pare-pare ke samarinda dengan lebih dari 200 penumpangpun karam akibat terhempas oleh ganas badai yang menerjang. beritanya semakin cepat bergulirdengan berbagai dugaan akan kaitan peristiwa yang terjadi ini dengan apa yang tersiar setahun silam. bahagia perayaan tahun baru mungkin tak lebih dari gemuruh terompet dan kalender baru, karena air mata perlahan kembali berleleran membasahi sanubari. 


tiada yang tahu tentang apa yang harus segera dilakukan kecuali hanya doa yang teralun dalam balutan harapan akan hari yang lebih cerlang. semoga pula semua bencana dan musibah tahun ini adalah seperti kata pepatah bahwa bersakit-sakit dahula, bersenang-senang kemudian. oh tuhan, rengkuh rahmat dan barokahmulah yang kami harap tuk bersanding dengan kami, tetapi apabila kami memang lalai, ingatkanlah kami dengan sentuhan kasihmu. dan biarkan musim itu berlalu, pun matari berganti, hingga badai segera pergi berlalu.

Sepanjang Jalur Gaza

| Januari 13, 2009 | Sunting
Bukanlah Tuhan sesuatu yang paling dekat di kota ini, namun adalah kematian, tuan!
Kabar apa yang lebih menakjubkan ketimbang berita duka? Hari-hari di kota ini, adalah hari-hari neraka yang tak bisa lepas dari derita. Dentum roket yang menghantam permukaan kota, derak suara pesawat di setiap sudut cakrawala, tangis anak-anak, jeritan seorang ibu, itulah neraka yang Tuhan   sediakan sebelum akhirat menjelang, tuan. Maka setiap hari aku menatap asap yang menggumpal seram itu. Tujuh hari sudah, dan asap itu tetaplah asap ledakan roket yang menyeberangkan beberapa penduduk menuju kematian: ayahku, (ah, ayah, tak akan kuucap sesuatu apapun, kecuali: “Tuhan memberkatimu selalu”), adikku Hussen, (boneka beruangmu masihlah tertinggal di antara reruntuhan bangunan, adik), Fayyad, (di akhirat, kita pasti bisa bertemu lagi, kawan. Kita habiskan hari-hari bahagia kita dengan segala macam permainan).

Dua bocah dibalik dinding koyak
Cobalah tuan perdalam pikir jernih yang tuan miliki, bahwasanya dendam yang tuan-tuan simpan, --yang katanya hanya akan menghancurkan sekelompok tertentu, dan tidak membuat lecet sesentipun kulit penduduk-- telah mengundang duka yang mendalam. Mungkin tuan sulit mempercayai perasaan kami. Dan terlalu biasa tuan menganggap sebuah kematian.

"Bukankah negara ini memang wilayah yang seorang malaikat pencabut nyawa terlalu sering mendatanginya?"

Betul, tuan! Negara ini telah menjadi bidikan utama malaikat Tuhan. Seperti juga bidikan utama sekelompok tak tahu perasaan. Sekelompok yang hanya peduli dengan dendam: Yahudi.

Aku lalui setiap bangunan. Kubaca reruntuhan kaca. Bangunan yang kemarin berdiri kokoh, ah, terlalu hebat sedetik ledakan itu membinasakan keindahan kota ini. Ya, kota ini memang indah. Tuan akan merasakan deru angin yang menerbangkan debu-debu, dan itulah tiupan angin (yang sekalipun terasa gersang) namun membuat setiap orang merindu persaingan. Angin itu, bila aku bermain bersama beberapa kawan, maka bisa menerbangkan baling-baling setinggi yang kami mau.

“Lemparkan dengan keras, Fayyad!” Baling-baling terbang, rianglah seluruh kawan mengejar.

Seraya kita tunggu baling-baling itu jatuh, kadang aku dorong tubuhmu, Fayyad! Kau tersungkur, tertawalah kita. “Hidungmu, hai, Fayyad, tak ubahnya seorang badut,” begitu celetuk Yasmin, satu-satunya gadis di antara kita-kita yang jantan. “Fayyad... Fayyad, kau tampak lucu manakala hidungmu yang mirip paruh rajawali belepotan dengan    debu.”

Rafah, inilah kotaku, tuan. Kota yang ‘terima kasih’ tuan telah mengubahnya sedemikian rupa. Bila datang sebuah pertemuan, rasanya ingin kupukul muka tuan-tuan. Akan kutendang tubuhmu, tuan. Akan aku kerahkan seluruh tenagaku untuk melempari kepalamu yang layaknya batu dengan kerikil-kerikil Rafah. Itulah bukti kelapangan batinku, bukti ucapan ‘terima kasih’ atas kebengisan tuan sekalian.

Jalur Gaza..... Jalur Gaza..... Jalur Gaza..... Jalur Gaza..... Jalur Gaza!
Jalur kematian..... Jalur kematian....... Jalur kematian.... Jalur Kematian!

Ah, mengapa aku selalu mencium aroma kematian di sini. Jalur ini, betapa pantasnya bila kusebut jalur kematian saja. Jalur yang sebagai pembatas antara hidup dan mati, bukan pembatas antara dua kubu yang saling berseteru.

Di jalur ini, suatu sore, ketika senja rebah di ufuk barat, aku bersama seorang ibu sedanglah berjalan. Perjalanan yang nikmat, ibu memperlihatkan kepadaku, (juga kepada Hussen yang beliau dekap dalam gendongan) keindahan bangunan-bangunan kota. Seraya berjalan, diceritakannya kepadaku hikayat-hikayat masa lalu. Tentang Jerusalem, tentang sabda sang Nabi yang mengatakan bahwa selamanya negeri ini tak akan sepi dari keriuhan dendam.

“Hussen, Khudz hadzil li’b!” Ambil boneka ini, adik! Maka diremaslah boneka beruang yang kuberikan. Hussen, adik kecil berambut keriting sepertiku. Berkulit putih, bermata tajam layaknya bulatan mata ayah. Bila mendengar dia mengeluarkan sepatah kata, rasanya aku ingin memaksa kedua mulutnya untuk berucap sepatah kata lagi. “Menggemaskan sungguh kau, Hussen!”
“Rasul sudah mengatakan bahwa negeri ini tak mungkin lepas dari serangan Yahudi?” tanyaku terhadap ibu.
“Benar sekali, anakku. Namun ada masanya dimana kita akan merasa tenang.”
“Kapan itu, wahai ibu? Kapan kita bisa lepas dari suara-suara ledakan?”

Ibu diam. Mengelus pipi Hussen. Dan bisa kau bayangkan sendiri, betapa riangnya seorang anak menunggu jawab tentang kedamaian. Maka kutunggu kedua bibir ibu bergetar mengucap kata: “Itulah masa ketika malaikat Isrofil meniupkan terompetnya!”

Ternyata kiamat yang akan mengakhiri perseteruan ini. Dan mulai hari itu, dalam kepalaku tak kutemukan sebuah kerinduan kecuali kiamat. Sebab telingaku terlalu bosan dengan tangis anak-anak, dengan jerit seorang ibu di sudut Rafah. Sebab senja itu juga, terdengarlah derit pesawat-pesawat angkasa. Terdengarlah ledakan dahsyat yang berakhir tangis kedua mataku, tangis ibuku.

Tuan tahu, di mana aku dan ibuku mencari Hussen? Aneh sekali Tuhan menulis skenario. Mengapa harus anak kecil yang belumlah sanggup memanggil ayah-ibu? Mengapa harus perpisahan menjadi ujung dari pertemuan?

Aku mencari Hussen. Aku masuki gumpalan asap. Ledakan bom itu menggetarkan bumi Rafah. Mungkin Hussen terlepas dari pelukan ibu, sejurus ibu yang juga terguling-guling di atas debu.Namun apa yang aku dapat, tuan? Aku menginjak beberapa jasad manusia. Hitam, suram, tak bisa laju nalarku mengenali. Bila kutemui sekujur tubuh mungil, maka bersiaplah kedua mataku mengucurkan air mata yang panjang. Ah, bukankah nyata-nyata kedua mataku berguguran air mata. Sampai keesokan hari, dan tak kudapati kabar seseorang yang menyebutkan selamatnya anak usia tiga tahunan di antara robohnya kota.

Aku, ibuku, berlarilah menapaki jalan menuju rumah. Dan tidaklah kami berjalan sendirian, tuan. Derak kaki seluruh warga menebarkan debu-debu. Pergerakan kaki yang terburu-buru. Seolah ada yang sedang mereka cari. Ya, mereka memang sedang mencari. Kepala mereka dipenuhi bayang-bayang ketakutan yang kemudian membentuk bercabang pertanyaan: bagaimana keluarga di rumah? Bagaimana seorang kawan di sepanjang jalur Gaza? Bagaimana sahabat yang barulah usai melemparkan baling-baling? Bagaimana nasib Rafah esok hari, ketika asap kematian tak bisa hilang; ketika negeri dirundung ledakan.

Dan ketika itulah kutemui seluruh bangunan rumahku hancur. Tempat di mana aku teduhkan tubuhku sehabis bermain. Tempat yang... ah, detak jantung ini terlalu menyimpan banyak kenangan untuk diceritakan.

Ibuku mencari ayah. Bisa kau menjawab kalimat ibu yang memanggil-manggil ayah? Lihatlah seorang perempuan yang meraup reruntuhan bangunan. Bergulung. Merayap. Berteriak. Mengacak-acak rambutnya. Sebelum kemudian datang seorang anak sebelas tahun merangkul pundaknya. Dan bocah kecil yang juga tak bisa lepas dari air mata itu adalah aku.

Aku eratkan rangkulanku. Kucium aroma ibu yang berkeringat. Kudapati pada setiap angin yang menebarkan bau keringatnya, aroma duka yang dalam. Aroma duka seorang ayah yang (jelas) tertimbun di antara reruntuhan bangunan. Ayahku, adalah ayah yang tak pernah menelusuri jalan. Ayahku adalah suami yang menaruh ketergantungan pada sebentuk alat bernama kursi roda.

“Sudah ibu katakan kepadaku, kematian adalah perihal biasa di negeri ini. Baik kiranya, jikalau ibu mendiamkan senggukan tangis ini!” mendengar kalimatku, berhentilah ibu meraup-raup reruntuhan.

Cerita sore itu, aku kesudahi dengan kematian ayahku. Dengan kematian Hussen.

***

Semoga tuan tidak menganggapku seperti kemarin hari. Aku hari ini, bukanlah aku yang terlalu mudah menitikkan air mata. Sengaja aku dan ibuku menelusuri sepanjang kota Rafah. Batu-batu berserakan, sama halnya ketakutan yang hinggap pada setiap jiwa. Duduk sebentar di sini, telingamu tentu menangkap banyak ancaman yang tak sekadar ancaman, tuan: gema tangis manusia, seruan takbir, dan lebih seramnya lagi derak pesawat yang masih menghantui pikir.

Maka di sepanjang jalan Rafah, aku berbisik dengan batinku, “jangan menangis! Sebab tangismu tak akan berubah apa-apa. Kecuali penyesalan sebentuk luka.”

Berhentilah ibu di samping tiang listrik. Tiang yang sedikit condong, dan kabel yang menggelantung lemah. Bila seseorang tak hati-hati, tentunya akan menghantam kabel tersebut. Lantas bisa tuan perkirakan sendiri apa akibatnya: kabel putus, mengeluarkan aliran listrik yang ganas. Ah, tidak-tidak. Aku salah berucap. Kota ini telah terputus dari aliran listrik. Namun jangan dibayangkan bermalam di sini, tuan berada dalam kegelapan. Di sini, sekalipun tak ada nyala lampu kota, masihlah ada setitik cahaya: itulah sisa nyala api yang membakar gedung-gedung kubus.

Tiang listrik yang condong ini, kudapati di atasnya burung-burung dara. Kelabu, seperti warna langit sekarang. Datanglah pada tempat ini, tuan. Pertemukan wajah tuan dengan burung-burung di atas. Pertemukan batin tuan dengan sisa nyala api di pinggir-pinggir jalan. Lantas bicarakan kepadaku, perasaan apa yang tuan dapat?

“Ketika kau menapaki jalan yang menurun, Jangan kau terburu-buru tersenyum, anakku! Sebab kelengangan kemarin hari adalah pertanda keriuhan esok. Dan di hadapan kita, nampaklah tanjakan yang panjang.”

Aku mendengar kalimat itu. Telah kutanam, dan tak mungkin hilang dalam ingatan. Ayahkulah yang mengajariku akan hal itu. Mungkin, ajaran tersebut juga tertanam dalam benak semua anak Rafah. Kota yang berdiri di atas jalur kematian: Gaza.

Di sepanjang jalan Rafah, di sebuah lorong kecil, lorong yang penuh dengan tulisan Harrik Yadak, Harrik Yadak! Allah Fiina, Allah Fiina - Gerakkan tanganmu, gerakkan tanganmu. Allah menyertai kita, Allah menyertai kita., bisa aku kisahkan kepada tuan, bahwasanya tempat itulah lahan yang paling mengasyikkan buatku bersembunyi. Ketika hitungan seorang kawan sampai pada angka ke tiga, larilah aku menuju lorong itu. Dan bisa dipastikan Fayyad, Yasmin, atau kawan yang lain tak bisa menemukanku. Kecuali ketika aku lelah bersembunyi, maka bergeserlah aku sedikit keluar. Dan, “Hadzil asra, hadzil asra!” berteriaklah Fayyad mengatakanku sebagai tawanan.

Sudah kukatakan, tuan. Kota ini terlalulah dekat dengan kematian. Maka hendak kuundang dirimu pada hari kematianku. Tunggu saja suatu hari dimana kupersembahkan darahku untuk pertempuran. Sebab perjuangan rakyat Rafah adalah percuma, sebab Rasul sendiri telah mentakdirkan kemenangan Jerusalem di ujung hari yang manusia sebut kiamat.

Dan janganlah kau bilang Gazaku sekadar derita, sebab tuan akan menemukan banyak kisah berupa darah. Di sini!

Cerpen Naqib Najah

Lima Puisi untukmu Palestina

| Januari 13, 2009 | Sunting
Puisi-puisi berikut ini adalah karya Aguk Irawan MN, dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat 2008. Penulis ini berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Ia menghabiskan masa sekolahnya di Lamongan dan Tuban sebelum kemudian melanjutkan kuliah ke Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan Aqidah dan Filsafat.

Sebuah Pencarian

Kucari kamu
Kucari kamu dalam mimpiku, tapi aneh, kau justru lebih terlihat dari aku, dan aku semakin sembunyi, bahkan saat sepi menghimpitku, kau kurasakan bertambah besar, besar dan besar.. hingga aku merasa ganjil dengan wujudku.

Kau adalah airmataku sendiri saat menyaksikanmu melawan peluru dengan batu, saat menemukan luka lain dari luka yang sudah berlapis-lapis di tubuhmu, saat batas tanahmu direbut lalu kau berkemas diri entah mau kemana?

Negeri Terbakar

Beribu-ribu mayat tergeletak bercampur batu-batu panas dan tanah-tanah padas. kota itu jadi riuh sepi, kulihat tubuh-tubuh berjalan hilir mudik berantakan.

Jangan kalian kira hanya dua biji mata burung di awan kelam yang melihat peristiwa terselubung kabut musim dingin. akupun melihatnya mesji terpagar tujuh lapis langit dan bumi. Sebab di atas sana udara panas. karena rumah-rumah padat penduduk, gedung-gedung, kantor-kantor, pasar-pasar, terbakar.

Sengatan apinya itupun terus terkobar, hampir membubung ke separo batas langit dan bumi. bergulung-gulung turuni padang dan ladang memanjang di cuaca malam di atas gelombang angin binal.

Jangan kalian kira hanya dua biji mata ikan di laut yang melihat peristiwa penggeseran perbatasan itu. akupun melihatnya, walaupun terpagar tujuh lapis badai dan ombak. Sebab jauh di samudera sana laut panas, menjalar sampai ke desa-desa, sawah-sawah, rumah-rumah, bocah-bocah mendidih.

Jangan pernah mengira kami menutup mata dan menyumpal telinga.

Pelangi Duka

Di lembah Gaza wajah-wajah bocah berbaris di tangah tentara yang bengis seperti boneka yang terbuat dari karet dan besi saling unjuk gigi meringis dan menangis. Dengan sebatang lilin menyala, kulihat kota di remang cahaya, pemukiman tinggal kerangka. Deru huru-hara rontokkan sejarah. Atap-atap putih dan merah mulai merendah. Bendera duka berkibar pongah.

Sebuah Pengharapan

Langitnya gelap oleh darah dan jinah, di atasnya asap terus menyemburkan ratapan. ruang yang semula bisu dan bernafsu, kini runtuh berderak oleh desing peluru dan mesiu, hingga cuaca di sepenggal akhir tahunpun memerah.
Tatapan penuh harap





O, negeri menara dan mercusuar cinta, yang disana bersarang Haikal Sulaiman dan berlimpahan tanaman sejarah suci dan puluhan nabi, sampai kapan engkau akhiri jenaka ini?

O, sudahlah-sudah kalian bersandiwara untuk ciptakan kobaran api dan bermain nyawa dengan kebohongan-kebohongan ocehan. Lihat negeri yang kotanya alpa dari peta dunia itu kini sekarat dan terbakar sudah, sungai-sungai mampat air mata sudah, tanah-tanah berkeping tumpah debu sudah. Damailah dan sembunyikan apa yang gemerlap dalam dada dan tutup saja tumpukan-tumpukan mulut kalian yang penuh amarah ke dalam almari yang sudah renta usia. Kisahkan lagi tentang cerita indahnya negeri damai, sambil memandang jauh ke arah pintu nirwana.

Ya Allah, setelah rumah-rumah mereka rata dengan tanah, mereka akan berteduh di rimba raya mana? Setelah makhluk-makhluk-Mu yang jahil membombardir mereka di tiap tikungan, dan sebentar lagi kabar terdengar: mayat lagi, mayat lagi, kemudian tersusul ratusan orang berjingkrak. sungguh dada ini sesak.

Tapi kenapa Engkau biarkan mereka terus bertikai dengan saling menyebut keras asma-Mu, entah untuk apa?

Monyet Perajam

Sungguh pada mereka, monyet-monyet perajam dada yang tengah mencekik leher wanita-wanita salehah itu aku telah muak. Monyet-monyet perajam itu perlahan merenggut kepala wanita-wanita itu. Kemudian menentengnya untuk kemudian dibuat menutup nikmatnya surga atas mereka.

Seloroh Angin Duka

| Januari 11, 2009 | Sunting
sungguh sangat memilukan kala tahun ini kita didera duka saat bulan belum juga beranjak dari januari. yah, terang tak menegur, bergeser agak ke samping ketika kita mencoba berburu cahaya.

udara bergoyang perlahan mengurai lingkaran malam dan gerat-gerit dingin untuk kabarkan bahwa bencana sudah datang silih berganti. menjadi dagangan laris di koran-koran dan layar kaca.

angin pagi mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas, seolah tak ingin mengusik hening hari yang tinggal kerangka. angin hanya berdebum kecil tuk sekedar hantarkan doa agar alam terselamatkan dari haru biru yang meragi dalam sumsum. bergeser sedikit demi sedikit dalam bangkai waku agar tak membawa aroma anyir darah yang tertumpah, tergelegak dalam hitungan yang tak terhitung oleh cangkir. mungkin inilah apa yang dikatakan oleh para juru nujum tentang golek keramat yang patah bersimbah darah.

angin seakan berjingkat ketika melewati tenda rombeng yang berisi anak-anak kecil tengah meringkuk kedinginan dengan secuil kain lusuh membungkus tubuhnya (ataukah hanya tersangkut pada sejengkal tubuh mereka?) inilah angin yang telah menebar tolerir, iba juga bahkan karna bagaimanapun tak mungkin tega mereka membuat anak-anak itu mati dalam tubuh kaku biru mati karna kedinginan. sehingga sungguh pantang mereka menerobos dinding kusam berlubang-lubang karena mereka tak dibutuhkan disana. lebih baiklah mereka menyambangi rumah-rumah gedongan para penggede, karena disana angin lebih dibutuhkan untuk dinginkan pikiran mereka atas rasa lelah mereka pikirkan kasus penggelapan uang rakyat, bahkan juga uamg atas anak-anak yang tengah meringkuk di kolong dipan itu dari kantung dana belajar.

pun sang angin tak pernah lelah membawa rintihan kaum tertindas ke 'atas' sana, walau kemudian karna hanya 'kabar angin' tiadalah digubris berita yang datang dari relung jiwa yang lara. itulah sang angin yang kemudian menjadi perantara tanpa biaya. tapi tak ingin sedikitpun mereka dipajang di halaman depan koran-koran lokal, karna sungguh hanya tak inginlah mereka menjadi pongah dan seperti angin ribut teman mereka

:PEMORAK PORANDA

Risalah Hujan

| Januari 09, 2009 | Sunting
hujan
hujan adalah pabrik kenang-kenangan yang menghempaskanku pada takjub kebisuan. dari gemuruhnya yang rancu, tegak kembali masa laluku : renungi celanaku kecil yang koyak itu, tertawa renyah menatap jalang gelembung-gelembung air yang disihir sang angin menuju ruang-ruang yang jauh.

celana kecilku itu tlah lumat oleh waktu, mungkin telah jumbuh didasar lautan. tapi ia kini diusung kembali ke benakku bersama tawa renyahku dan gelembung-gelembung air itu.ah hujan!!! memang sialan.

dari kertap-kertap hujan lahirlah setumpuk album kusamku yang sanggup menjinakkan sang waktu. dan, engkau yang didera bimbang: lihatlah gambar-gambarku yang rapuh itu maih lantang menampik kemusnahan yang dilempar oleh siang dan malam.

maka setiap kali aku mengunyah hujan, nasibku kan menolak dihardik kemarau. lalu rona dewasaku kan kembali ke tempatnya dan sia-sialah ia menanti tuaku. sebab hujan memang setia memegang janji untuk selalu bertandang ke rumahku.

barangsiapa mencintai hujan sejatinya ia akan takzim pada asal-usulnya sendiri. sebab darinya ia bangkit sebagai prasasti dan keabadian waktu.

lantaran itulah seringkali kubaca hujan lewat jendela atau genting kaca: aduhai jarum-jarum air itu tampil dengan aneka warna dan cerita purba.

"tetapi hujan itu ciptakan petaka melalui amuk banjir dan gelombang petaka yang aruskan air mata" kata orang-orang bingung mencari pondasi rumah mereka.

ketahuilah, bahwa banjir itu semata lahir dari batin mereka yang ambrol, sungguh!

adakah yang lebih kuat menghubungkanku dengan jiwa-jiwa ketimbang hentakan-hentakan hujan? di kebun dermanya yang jingga kupetik ribuan harpa hingga seluruh jagad raya menari-nari sampai gila.

pepohonan tumbuh oleh hujan, jiwa-jiwapun mekar oleh hujan. kepada siapa pun yang sodorkan sangsi akan kutunjukkan bahwa hujan itu adalah air mata para nabi yang berkhalwat di puncak sinai yang paling sunyi.

Baginda Raja dan Si Narapidana

| Januari 06, 2009 | Sunting
Ini adalah cerita yang aku dapat dari Pak Joko Purnomo, guru matematikaku. Sebenarnya beliau bukan tipe guru yang banyak bercerita. Beliau lebih suka berkutat pada hitungan dan rumus-rumus yang kadang juga membuat pusing. Retapi sekali bercerita, walaupun  ceritanya terkesan biasa-biasa saja malah ada sesuatu yang membekas dalam benakku. Mungkin kamu sudah pernah mendengar atau bahkan ibumu sudah pernah menceritakannya waktu kamu kecil. Izinkan saya menceritakannya kembali

Dahulu, (yah, kayak beginilah awal sebuah cerita pada umumnya) ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif. Suatu hari beliau menemui seorang narapidana yang telah di tetapkan akan dihukum mati karena suatu kasus pencurian (kalau itu di Indonesia pasti hanya pencuri ayam, bukan koruptor kakap). Maka berkatalah sang raja pada narapidana tersebut

"Hai kau yang telah menunggu ajal, untuk terakhir kalinya kuberkata denganmu, kuperintahkan kau untuk menebak sesuatu yang akan terjadi dalam sehari ke depan. Dan segera laporkan apa tebakanmu. Apabila benar kau akan kuhukum pancung, tetapi apabila salah kamu akan kuhukum gantung!!"

Hah? Kok opsinya sama-sama sulit? Kukira apabila prediksi si narapidana benar dia akan dibebaskan, hehe. Tapi pada akhirnya si narapidana menjawab.


"Yang terhormat baginda raja yang agung dan bijaksana, hamba menebak bahwa, BESOK PAGI JAM DELAPAN AKU AKAN DIHUKUM GANTUNG!" Yah, begitulah jawaban si narapidana. Lalu bagaimana respon sang raja "Duhai kau yang akan segera menemui ajal, kuputuskan bahwa kau memang sungguh seorang yang arif. Kuperintahkan kau menggantikanku menjadi raja!"

Pahamkah kamu dengan apa yang diputuskan sang raja? 

Tradisi Suronan Tak Lekang oleh Zaman

| Januari 05, 2009 | Sunting
bulan suro dalam penanggalan jawa atau muharram sesuai kalender islam adalah bulan pertama tahun qomariah yang oleh masyarakat jawa sendiri dikenal sebagai candra purwakaning warsa atau bulan pembuka tahun. pada masyarakat jawa sendiri bulan suro dianggap sebagi bulan keramat, gawat, dan penuh bala. sesuatu yang biasa tentunya pada masyarakat jawa yang masih sangat memperhitungkan apa itu hari baik dan hari buruk (semua ini terlepas dari perspektif agama tentunya).

saking keramatnya bulan ini dimata masyarakat jawa, secara turun temurun masyarakat jawa mempercayai bahwa pada bulan suro tidak boleh diadakan pernikahan, khitanan, dan pembangunan rumah karena dianggap hanya akan membawa bala bencana bagi para pelakunya. bahkan, pada sebagian orang tua mereka akan sangat was-was apabila anak mereka ada yang waktunya melahirkan di bulan suro. konon bayi yang akan lahir itu bakal diambil oleh batara kala dan akan dibuang ke istana durga di setra gandhamayit. 

yah sudah tak heran tentunya apabila ini ada dalam masyarakat jawa karena memang masyarakat jawa adalah komunitas yang penuh klenik dan membagi dunia menjadi bagian bagian yang tak terlihat dan yang terlihat.tetapi terlepas dari semua itu, bulan suro tetaplah bulan keramat yang sangat diagungkan dalam konteks penghormatan terhadap bulan ini. berbagai prosesi digelar di bulan ini. prosesi bulan suro dimulai sejak permulaan bulan, yakni pada malam satu suro. tradisi seperti "kungkum" atau berendam dalam air mungkin sudah sangat populer di masyarakat dengan tempat favorit kayak pertemuan kali oya dan kali opak di jogja. selanjutnya prosesi bulan suro tuh diikuti ama tradisi "grebeg ageng suro" utamanya di kraton jogja dan solo, dan umumnya di beberapa daerah lainnya. selain kedua di episentrum tampuk pemerintahan tersebut juga acap kali di gelar di dua episentrum pendulum alam, yakni di merapi dan pesisirselatan, seperti bakti pisungsum jaladri dan larung ageng merapi.

dari berbagai tradisi tersebut, kita dapat melihat dan menyimpulkan bahwa tradisi suro sudah sangat mengakar dan bahkan menjadi sebuah identitas masyarakat yang tak lekang oleh waktu. lalu kira-kira mengapa hal ii bisa terjadi apalagi mengingat akan gencetan sekularime dan globalisasi yang terbukti manjur mendesak paham ketimuran?

yang pertama pastinya adalah masih adanya ketaatan masyarakat jawa atas tradisi ini dengan berbagai alasan. dan yang kedua adalah tradisi suronan sangatlah fleksibel. mengapa saya bilang demikian? berikut ini buktinya:


dari gambar tersebut kita dapat melihat betapa salah satu tradisi yang berkembang dalam masyarakat, yakni kenduri pada tanggal 5 atau 10 suro, tidak seperti upacara-upacara lain yang terkesan tertutup bahkan juga menakutkan karena dilakukan pada malam hari. terlihat diadakan dalam ruang yang terang. dan yang lebih penting adalah anak-anakpun diperbolehkan mengikuti setiap detik dalam jalannya upacara karena ini tentu dapat mengenalkan budaya kepada mereka sejak kecil. karena bagaimanapun bukankah menanam sebuah pohon lebih bagus apabila ia ditanam sejak kecil, bukan ketika sudah tua dalam arti mencabut pohon yang sudah besar untuk ditanam kembali??

Nasionalisme Para Penjaga Tapal Batas

| Januari 04, 2009 | Sunting
Indonesia - Rupiah Ringgit
Warga Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, yang berada jauh dari Jakarta, merasa menjadi orang asing di negeri sendiri. Tak heran, mereka lebih familiar dengan segala sesuatu yang berbau Malaysia ketimbang Indonesia.

Sehingga jangan salahkan warga yang tinggal di wilayah perbatasan seperti Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur apabila mereka lebih memilih menjual hasil buminya ke Tawau, Malaysia, ketimbang di negaranya sendiri. bahkan ampir semua hasil alam, mulai kakao, pisang, hingga padi, mereka kirim ke Tawau. Mereka tak peduli meski akhirnya harga pun dimonopoli para cukong Malaysia. "Ya, memang warga di sini menjual seluruh hasil pertanian, perkebunan, dan semua barang ke Tawau. Lebih lakulah," kata Mansyur, ketua RT 04 Desa Aji Kuning, Sebatik Barat.

Mengapa mereka lebih suka menjual barang ke Malaysia? "Mau tak mau, itu memang harus dilakukan. Memangnya di Indonesia terdapat pabrik atau pengusaha yang mau membeli atau menampung hasil pertanian warga?" lanjutnya.

Dalam masalah perbatasan dengan Malaysia, Pulau Sebatik merupakan salah satu yang menjadi sorotan. Puncaknya pada awal 2005 lalu, ketika Malaysia berani mengklaim memiliki Blok Ambalat yang berjarak hanya beberapa mil dari Sebatik. Pulau Sebatik sendiri memang terbagi dua. Separo masuk wilayah Indonesia dan sebagian yang lain milik Malaysia. Di sini juga berdiam penduduk dari dua negara. Total, ada sekitar 30 ribu jiwa yang tinggal di pulau ini.

Ketegangan saat ini memang sudah mereda. Tapi, yang tersisa justru sesuatu yang lebih menyedihkan. Ketimpangan ekonomi kini menjadi persoalan baru. Sebatik yang menjadi wajah dua negara, kondisinya sangat kontras. Di sepanjang kawasan perbatasan yang ditandai dengan pilar, pos perbatasan, pepohonan, dan pagar pembatas, kondisinya jauh lebih buruk ketimbang tetangganya yang masuk wilayah Malaysia.

Bangunan rumah warga masih kumuh, jalanan hanya sebagian mulus, dan sebagian besar bergelombang. Sementara, Tawau (wajah Malaysia) terlihat seperti kota megapolitan. Gedung-gedung menjulang tinggi, jalanan tak ada yang tidak mulus, padatnya arus kendaraan juga menandai roda perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya jauh lebih baik.

Kendati demikian, bangsa Indonesia tidak perlu mempertanyakan nasionalisme mereka. Perbedaan mencolok itu tak sedikit pun melunturkan semangat warga Sebatik dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.


"Itu yang tak dimiliki warga di luar sana (di luar Sebatik, Red)," sahut Junaidi, camat Sebatik Barat. Dia mengakui, Sebatik sering mendapat kunjungan pejabat dari Jakarta. Bahkan, tak jarang pejabat setingkat menteri. Namun, kelanjutan dari kunjungan itu tak jelas juntrungnya.

"Warga di sini sudah bosan dikunjungi pejabat pusat. Tak ada solusi, tak ada tindak lanjut. Mau diapakan pembangunan di daerah ini? Tak ada kemajuan," kata Junaidi.

"Indonesia juga yang rugi. Hasil bumi berupa pertanian, perkebunan semua dibawa ke Malaysia untuk dijual. Secara tidak langsung, kami-kami ini sudah menjadi warga Malaysia," sambung Mansyur sedikit risau.

Mansyur sendiri sepekan sekali membawa pisang untuk dijual ke Malaysia. Dia minta pemerintah Indonesia segera membangun infrastruktur yang memadai. Selain jalan, yang juga sangat diperlukan adalah pabrik kelapa sawit, pabrik kakao, dan sarana penunjang lain. Tentu tak hanya membangun, tapi juga mampu mengakomodasi seluruh hasil pertanian dan perkebunan penduduk setempat.

"Pemerintah tak menyadari, mestinya sengketa Blok Ambalat itu menjadi pelajaran. Tapi, sampai saat ini tak juga ada program nyata untuk membangun infrastruktur. Yang berbeda hanya pada saat peringatan upacara 17 Agustus di lapangan sepak bola, Sungai Nyamuk. Agustus lalu, bahkan yang menjadi inspektur upacara adalah Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga," ucap Mansyur.

Akhirnya, yang tampak waktu itu justru warga yang berbondong-bondong menyaksikan pejabat pusat menjadi inspektur upacara. Ribuan warga dikerahkan hanya untuk mengikuti upacara.

Yang juga sangat dikeluhkan warga adalah masalah air bersih. "Warga di sini masih mengandalkan air hujan untuk mandi dan mencuci, bahkan air minum. Sesekali mengambil air sumur untuk minum yang lebih terjamin kualitasnya," kata Mansyur.

Hal yang sama dikatakan Suaib yang sejak 1983 tinggal di wilayah Malayasia. Karena kesulitan air bersih, dia mengumpulkan drum bekas untuk menampung air hujan. Kendati demikian, dia bersyukur. Meski sering menggunakan air hujan, keluarganya tetap sehat.

Mayoritas warga Sebatik memang bergantung pada Tawau, kota di wilayah Malaysia yang berjarak 15 menit perjalanan laut dari wilayah RI. Wajar jika nelayan, petani, hingga pedagang menjual hasil mereka ke Tawau. Padahal, transaksi jual beli di Tawau tidak menguntungkan. Warga tetap melakukannya karena terpaksa.

Menjual hasil bumi ke Tawau, kata Suaib, untung yang didapat tak seberapa. Menjual pisang dengan harga RM 3, untungnya hanya sekitar 50 sen. Sedangkan keuntungan menjual kakao seharga RM 4 per kilogram juga tak seberapa. Mereka juga terbiasa melakukan transaksi menggunakan dua mata uang. Rupiah dan ringgit Malayisa.

Ditulis ulang dari Jawa Pos

Mengapa Palestina?

| Januari 04, 2009 | Sunting
Seorang anak Palestina dan Ibunya 
Sungguh miris dengan apa yang saya lihat pada halaman depan sebuah surat kabar pagi ini yang menggambarkan seorang ibu yang duduk meratapi rumahnya yang hancur sambil merangkul anak laki-lakinya. namun tak hanya itu saja, aku juga melihat tentang kekejaman sebuah negera monyet yang telah berkali-kali di kecam oleh Tuhan dalam Qur'an bernama Israel atas sebuah negara suci yang di dalamnya berdiri sebuah masjid suci yang pernah menjadi kiblat umat islam. 

yah tiada yang tahu kapan pertumpahan darah akan berakhir di bumi yang luka itu, apalagi ketika keadaan kembali memanas akhir tahun lalu yang kemudian diikuti sebuah tragedi memilukan yang memakan korban hingga retusan jiwa selama berhari-hari. hari-hari layaknya hanyalah mesiu, molotov, bedil, meriam, dan juga darah yang anyir dalam jangkauan indera. yah aku tak tahu bahkan untuk dapat membayangkanpun sangatlah sulit bagaimana bisa menusia dapat menghancurkan sesamanya. yah sungguh payah tentang pengetahuan mereka tentang hak asasi manusia. bahkan untuk sekedar membuka hati nurani mereka saja tak mampu.

kuncup-kuncup bunga layu dan menunggu luruhnya ke atas tanah. bulir-bulir air mata perlahan menghujani bumi dalam leleran darah yang meliputi tubuh-tubuh yang bergimpangan tanpa nyawa. bendera duka berkibar di antara cekaman cemas akan mesiu dan peluru yang mengancam teknguk mereka untuk segera tiarap menyelamatkan jiwa mereka.

anak-anak kecil sang malaikat surga tanpa dosa juga mendapatkan sebuah kisah kelam yang seharusnya tak terekam dalam perkembangan jiwa mereka karena memang sungguh tidak bagus pada perjalanan hidup mereka ke depannya. para ibupun pastilah sudah tujuh keliling pusingnya memikirkan masa depan anak mereka di atas bumi yang luka dan remuk karena rangkaian kekejaman dan kebiadaban tingkah polah manusia yang tak lagi menusiawi.

yah, peristiwa manusia adalah peristiwa saling mengalahkan, ataupun saling membunuh dan menikam. akankan dunia manusia telah memakai sistem rimba dimana mereka saling menikam dan menghancurkan untuk kepentingan perut? tetapi sungguh ini sangatlah lebih biadab dari semua yang ada di dalam belantara, karena disini manusia memakan sesamanya denga lebih kejam meskipun status hukum manusia lebih "manusia".

tahun-tahun belakangan ini dunia kita ini menggeliat dengan cara yang super aneh. bumi tak lagi selapang dahulu, karena betapapun yang diklaim israel atas pelestina selama ini hanyalah sepetak tanah yang iaa sendiri tak tahu mengapa mereka diperebutkan dengan kejam.bangsa-bangsa berdiri untuk mempertegas identitas dan menambahkan semangat patriotisme. setiap orang lahir dengan identitas sebagai warga negara apa dan dengan takdir yang bagaimana.

apa yang sebenarnya dimaui sebuah negara dengan mempertahankan identitasnya? saya merasa dunia selalu bergerak, tak ada yang abadi. dan peta yang memuat skala yang runut sekali pun pada periode-periode tertentu selalu berubah. tidak ada yang tetap. negara tumbuh dan berkembang, ras-ras, identitas, suku, agama memiliki cara tersendiri untuk menyatakan keberadaan mereka.apakah manusia sadar, dia akan terlahir jadi bangsa apa dan di mana?

Kisah manusia di zaman post kolonial sama saja. Darah dan darah. Dalam hukum rimba, sekali lagi, mereka, para binatang itu, membunuh, dikarenakan naluriah dan rasa lapar, sementara manusia yang berakal, dan bertuhan itu membunuh dengan dalih-dalih yang rumit. Sebagian orang membawa agama sebagai alasan, sebagian yang lain membunuh karena alasan kedaulatan, sebagian yang lain membinasakan suatu kelompok dan bangsa untuk menguasai segala sesuatu di dalamnya.Yang kuat yang berkuasa. Apa yang membedakannya dengan hukum rimba?

seandainya ada sebuah akhir tahun pembantaian dan pembunuhan, barangkali tempatnya adalah “kiamat” sebagaimana yang dipercaya orang-orang beragama. dan?? manusia sudah memulainya. alam semakin terekspoitasi dan nyaris habis sumber alamnya, manusia punah dengan cara yang sederhana dibunuh oleh alam dan sesama.saya berpikir, hidup adalah sebuah balas dendam yang terus menerus dan rutin. kiamat tercipta oleh padanya.

adakah akhir tahun untuk teror dan pembunuhan?

aku mulai memandang dunia dengan cara-cara subjektif, cara pandang yang lama digunaka sekelonmpok orang, di mana kelompok lain memandangnya sebagai pandangan minor dan rusak. bahwa, perang yang paling dominan dan terus hidup adalah perang Tuhan. Perang atas nama agama. lebih jauh lagi, saya ingin menyatakan sebuah alasan konservatif, bahwa, menurut keyakinan saya kini, saat ini, perang salib terus bergaung sampai kini.

Ibrahim, apakah sesungguhnya yang memiliki agama? nyawa ataukah tubuh? apakah nyawa yang terbang sia-sia memiliki agama dan bangsa? apakah tubuh yang bersimbah darah itu dimiliki negara dan agama setelahnya? apa yang tuhan lakukan inginkan dari ini semua? Ibrahim, jangan-jangan keinginanmu untuk “mengorbankan” Ismail atau Ishaq sepenuhnya kesadaranmu naluriahmu (yang terwarisi anak-cucumu) yang tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan, atau Tuhan sedari awal memang menyukai “main-main kemanusiaan” semacam ini dan mewariskan kepada kami, anak cucumu yang terbelah-belah ini?

Dan maut, pesakitan dan eksekutor itu memiliki agama dan bangsa. Atas nama agama dan bangsa. Ia yang mati, ia yang membunuh, sama-sama pahlawan untuk bangsa dan agamanya—setidaknya demikianlah yang dipercaya. Kebenaran tak pernah mutlak, ia ada di tiap sisi, dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Amerika benar, bahwa gerilyawan Palestina jangan menyerang Israel, jangan memancing, karena balasannya satu banding tiga puluh. Dan Ahmadinejad (siapa pun namamu, bagaimana pun susunan huruf untuk menyatakan namamu) salahnya dirimu yang menganggap negara dan bangsa Israel tak ada adalah salah besar. Tetapi apakah Amerika dan sekutunya dan Israel itu, pernah merasa bahwa Irak dan Afganistan setidaknya, memiliki kedaulatan sendiri? Bukankah sebagai sebuah negara mereka memiliki cara sendiri untuk hidup? Oh, ajarkan saya memilah kebenaran Tuan adidaya. Ajarkan bangsa kami bagaimana menjadi “penjajah” bagi orang lain, “agresi” yang bisa disebut ibadah bagi kami!

Jika teror di Mumbai, atas nama kemanusiaan kita mengutuknya sebagai tragedi, apakah di Palestina, tempat tuhan dan para nabi bersemayam itu, kita mengenangnya sebagai tragedi juga? Jika dunia diserbu teror atas nama satu agama, bagaimanakah kita menyebut tragedi pasca natal ini? Teroris, pembunuhan atau semacam alasan membela diri? Aih, apa yang membedakan agama dan bangsa dengan perang dan darah kalau begitu.

Bagiku, perang adalah perang, ia tidak memiliki agama dan bangsa. Perang sepenuhnya membunuh dan dibunuh. Dan tubuh yang bersimbah darah itu sepenuhnya tak memiliki agama, tak memiliki bangsa. Lalu, memiliki agama, pada akhirnya sebuah pilihan untuk mewarisi dendam atau membalaskannya.

Kurasa kiamat benar-benar diciptakan manusia. Jika begini, bisakah kelak, anak-anakku yang belum lahir ini bernegoisiasi dengan Tuhan untuk lahir di sebuah negara yang aman, yang melindungi warga negaranya dari serangan apa pun dan atas nama apa pun?

Surgakah itu? Benarkah “itu” ada?

Saya pikir, kata “teror” dan “tragedi” harus kita defenisikan ulang. Dan catatan saya ini adalah sebuah suara subjektif dari minoritas manusia bodoh yang memandang dunia dengan metode hitam-putih belaka.

Dan pada akhirnya, mengapa negara dan agama membuat orang menjadi pribadi yang merasa paling benar dan rela menghaburkan satu-satunya hidup yang dimilikinya? Jangan-jangan negara dan bangsa adalah sebuah agama, sudah lama menjadi agama, yang memiliki kebenaran tersendiri bagi "penganutnya".


Gambar: Zoriah

Koin Penyok

| Januari 03, 2009 | Sunting
Seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa.Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi keuangan keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih berkutat pada bagaimana cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.


Ketika ia tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.“Oh, hanya sebuah koin yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia tetap membawa koin itu ke sebuah bank. 
Koin Kuno
“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata petugas bank memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si petugas, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 Rupiah.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 Rupiah, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya juga nomor satu. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 Rupiah kepada lelaki itu.


Awalnya terlihat keragu-raguan di mata laki-laki itu. Namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu sebagai ganti. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang menata rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 Rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 Rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 Rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Musim Telah Berganti

| Januari 02, 2009 | Sunting
Suatu ketika aku mendapati bahwa hidupku tak lagi sama. Segalanya berubah dikala aku sebenarnya ingin semuanya sama. Tetapi entah mengapa aku jadi memikirkan hal ini. Benarkah yang aku inginkan semuanya sama, atau hanya sekedar "tampak" sama?

Hari itu aku berjalan di bawah terik matahari pagi. Bumi sudah benar-benar panas. Sekarang tak ada lagi tempat yang sejuk untuk menjadi tempat tinggal atau sekedar tempat bernaung tanpa harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Segalanya menjadi terang bagiku. Tak ada yang tak bisa diperoleh dengan uang. Namun seperti kataku, jika kau tak memiliki uang, mana bisa kau membeli semuanya? Satu batang pohon saja harus kau beli dengan uang jika kau ingin menanamnya, dan batang-batang sampai ranting-ranting terkecilnya pun bisa menghasilkan yang namanya rupiah, bahkan jika kau beruntung tidak tertangkap aparat penegak hukum (yang tentunya bisa kau suap dengan lembar-lembar merah itu), kau bisa mendapatkan dollar, kau jual kepada cukong-cukong luar negeri yang dengan rela hati menadah hasil curianmu pada rakyat.

Seperti planet ini. Dia telah ada miliaran tahun yang lalu, dan bisakah kita berkhayal bahwa dia akan tetap bertahan sampai miliaran tahun lagi? Oke, pikirku, ini mungkin kelewatan untuk kalian. Berkhayal. Astaga. Hanya berkhayal saja salah. Aku tertawa, sedemikian parahnya ini? Mungkin memang sudah saatnya kita punah, karena Bumi ini sudah muak dengan kita, dengan segala perbuatan kita, dengan segala hal yang kita lakukan kepadanya, dan dengan segala tingkah polah kita. Dunia sudah muak, kawan, dengan kita semua yang mengagung-agungkan uang, dan demi uang itu pula kita berbuat tidak senonoh pada Bumi ini, memperkosanya dengan tak henti-henti, dan lihatlah apa yang dia balaskan untuk kita, salah satu teriakan pilu dari tanah yang selalu kita injak-injak dan angin yang selalu kita renggut keperawanannya tanpa mau kita bertanggung jawab terhadapnya: pagi ini panas sekali.

Aku berjalan meninggalkan rumahku yang mungil. Dari dulu aku tidak pernah menyukai rumah yang terlalu besar. Itu hanya akan merepotkanku. Itu hanya akan membuatku menuju histeria dengan pemikiran bagaimana tiap hari aku harus menghabiskan berjam-jam waktuku untuk membersihkan semuanya, dari debu-debu dan polutannya. Ataukah aku harus repot-repot memikirkan berapa banyak lagi perabotan yang harus aku beli untuk mengisi kekosongan ruangan-ruanganku yang malang. Aku hampir-hampir tidak ingin memikirkan bagaimana itu bisa dan mungkin terjadi dalam hidupku. Sekedar mencium aromanya saja aku sudah muak.

Aku berjalan menuju halte bus yang tak pernah dipakai itu, untuk menunggu bus yang tak akan pernah berhenti di sana. Kau tahu, tiap orang berpikir lebih menyenangkan jika bisa mendahului takdir, dan bukankah dengan kita berdiri 500 meter lebih awal dari halte itu (seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang kantoran dan anak-anak yang akan berangkat sekolah), orang-orang itu berupaya mendahului takdir? Benar-benar kasihan mereka semua. Banyak orang ingin hidup lama di dunia dan kalau bisa menunda kematian, tetapi mereka tidak sadar bahwa dari perbuatan mereka sehari-hari yang -tidak-mereka-sadari pula, mereka telah membiasakan diri mendahului takdir.

Aku berhenti di sana, memandang setiap jengkal jalan raya yang padat oleh kuda-kuda dan gajah-gajah besi. Mesin mereka yang terbatuk-batuk meraung-raung memenuhi udara. Kernet bus berteriak-teriak setiap busnya lewat dengan kecepatan yang mematahkan leher, dan benar saja tak ada satu pun bus yang berhenti di depanku. Klakson-klakson merendengi teriakan-teriakan mereka, dengan gusar mencari celah yang bisa dipakai untuk lewat. Tak ada satu pun yang ingin berhenti, atau mengurangi kecepatannya. Tidak ada Bung, ini Indonesia!

Pandangan mataku yang berseliweran ke segala arah akhirnya tertumbuk kepada sebuah sosok cantik yang berdiri di seberang jalan, bersiap-siap untuk menyeberang jalan jika ada kesempatan. Kesempatan yang ada ternyata tidak datang-datang. Ia mulai kegerahan. Cuaca pagi yang panas seperti ini memang menyiksa, apalagi dia hanya mengenakan tank top hitam dan celana jeans pendek ketat yang tentu saja salah digunakan dalam suasana bermandikan cahaya matahari seperti ini. Aku tersenyum geli sebab membayangkan tubuh itu akan melakukan ritual kuno setiap wanita yang takut esensi kulitnya akan menghitam: luluran.

Bagi dunia citra masa kini yang semuanya dituntut sempurna, noda titik sedikit saja pada penampilan seorang wanita, entah itu kotoran di wajahnya, make up yang tidak sempurna, ataupun cuma masalah sepele dengan baju yang digunakannya ternyata tidak matching dengan dirinya, merupakan aib yang mungkin lebih besar daripada kehilangan keperawanan. Semuanya mengaburkan batas-batas manusiawi seseorang. Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang kosmetik, penampilan, baju-baju dan aksesoris lainnya, menganggap bahwa tiada yang lebih penting dari citra diri, dan melakukan aneksasi dan indoktrinasi terhadap setiap wanita di dunia bahwa kecantikan lahiriah lebih penting daripada kecantikan batiniah. Mereka yang bergerak di bidang ini selalu berdalih bahwa tidak semua itu benar, dan mereka muncul dengan konsep putri-putrian, seperti Miss Universe, Miss World, Puteri Indonesia, dan sebagainya, dan banyak yang menarikan lagu-lagu manis mengenai pentingnya konsep Brain, Beauty, Behaviour. Tetapi nyatanya, jika kau tidak cantik, kurus, ataupun berdada besar, kau tidak mungkin jadi Miss Universe. Memangnya aku bodoh?

Wanita cantik itu kemudian tampak tidak sabar lagi. Dia kini nekat menyeberang tanpa menghiraukan bagaimana padatnya kendaraan yang berseliweran dengan kecepatan tinggi. Ia mulai berjalan, dan hampir saja terserempet motor. Sang pengguna motor itupun langsung membunyikan klaksonnya dan memaki-maki. Wanita itu dengan refleks mundur sambil memegang dadanya yang aku tahu pasti berdebar keras. Beberapa kali dia masih mencoba untuk menyeberang, tetapi berkali-kali pula ia mengurungkan niatnya, dan tampaknya dia lelah dan kemudian berpindah tempat beberapa meter, seakan-akan dari sana dia dapat menyeberang dengan aman.

Aku hanya tertawa kecil melihat kenekatan wanita itu, dan kemudian duduk di kursi halte yang sudah rusak. Hanya dua orang yang berada di sana bersamaku. Seorang wanita yang tampaknya pekerja kantoran, berharap bus yang dia maksud segera datang, karena jika tidak, dia akan terlambat dan konsekuensinya logis. Di dekatnya duduk seorang anak SMA dengan dandanan menor dan sekilas kalau aku tidak melihat seragamnya tadi, pasti aku sudah salah sangka dia adalah pemain ketoprak yang kepagian mau datang ke venue.

Aku merogoh ponselku, dan kemudian mencoba menghubungi sebuah nomor. Aku ada janjian dengan seseorang yang akan menjemputku di tempat ini, tetapi dia belum juga datang. Atau aku yang kepagian? Dia memang tidak kusuruh untuk langsung ke rumah, sebab tidak enak menyambut seseorang ketika rumahmu sedang dalam perbaikan total, dan betapa tidak menyenangkannya kemudian kalau kau menyambut sang tamu dekat berbagai kantong semen yang memenuhi ruang tamuku. Ya sudah, kuputuskan untuk menyuruhnya menjemputku di tempat ini dan kami akan pergi ke suatu tempat dimana kami dapat berbicara dengan enak.

"Halo." Suara di seberang terdengar berisik, mungkin dirinya sudah di jalan raya. "Bentar, aku hampir sampai."
"Oke." Aku mematikan ponselku, dan mengalihkan pandanganku ke arah lain. Sejenak kemudian aku melihat ke arah kedua wanita dan akan SMA itu tadi, tetapi keduanya sudah menghilang. Kini aku terkesiap ketika wanita cantik yang mau menyeberang tadi duduk di sebelahku dan hanya kami berdua di sana. Sekilas dia melihat ke arahku, dan mata kami beradu. Lantas kupalingkan mukaku dengan cepat agar aku tidak dikira memperhatikan dirinya dari tadi. Andai dia tahu apa yang kupikirkan tadi tentangnya, tentu dia akan marah-marah kepadaku.

"Tidak apa-apa kok mas, memang habis ini aku sampe rumah langsung luluran kok. Mungkin mas juga perlu pakai."

Aku, yang tidak mengira kata itu muncul, kusangka telingaku salah dengar, atau mungkin telingaku (diriku ini, maksudnya), hanya ingin mendengarkan apa yang ingin kudengar (betapa repotnya semua ini), atau mungkin aku sudah kehilangan kesadaran dan bermimpi? Aku kemudian dengan gerakan lambat menoleh kepadanya. Wanita cantik itu hanya tersenyum, senyum yang bisa menggetarkan hati setiap pria manapun. Aku tergagap, berusaha menyembunyikan kekagokanku, dan kemudian dengan sangat-salah-tingkah aku bahkan tidak berusaha untuk membalas senyumnya.

Suara bus yang menderu terdengar dari kejauhan. Dia kemudian menoleh, dan kemudian dengan bersamaan pun kutolehkan kepalaku ke arah yang dia tuju. Tampak bus yang dia maksudkan, dan kemudian ketika aku berpaling kepada wanita cantik itu lagi, aku tidak melihatnya di sampingku, tetapi dia telah berdiri di dekat jalan raya dan berusaha memberikan sinyal kepada bus itu untuk berhenti. Ajaib (atau mungkin setiap pengemudi bus memang mendahulukan wanita cantik dalam listnya untuk diangkut? Aku tak tahu pasti), bus itu berhenti tepat di dekatnya. Kernetnya turun dan berusaha membantu wanita itu. Tentu saja ini cuma taktik untuk mendapatkan "keuntungan" sesaat darinya karena kulihat wanita itu tidak perlu dibantu apa pun. Sesuatu yang berkilauan kemudian jatuh ke tanah, dan sebelum sempat apa-apa, bus itu berderu lagi. Aku berlari-lari kecil mendekati benda itu. Ternyata itu adalah ponsel, mungkin tidak sengaja jatuh dari kantong wanita itu. Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah bus itu, yang sudah tidak kelihatan lagi. Percuma sekarang aku mencoba mengembalikannya.

Aku lantas kembali ke halte tadi, dan berusaha membuka ponsel itu. Untung saja ponsel itu tidak rusak atau hancur karena jatuh ke tanah tadi, hanya tergores di layarnya saja. Aku sedang mengamatinya dan berpikir siapa yang ada di phonebook-nya yang akan aku hubungi untuk mengetahui di mana rumah wanita itu sehingga aku bisa mengembalikannya ketika deru motor menghampiriku. Temanku telah datang. Segera aku masukkan ponsel itu ke sakuku.

"Menunggu lama? Maaf, benar-benar macet."
"Tak apa-apa," kataku. Aku lantas menghampirinya, dan berjabat tangan dengannya. Sesaat kemudian aku sudah menggunakan helm dan menantang keramaian jalan raya, melupakan sejenak urusan ponsel wanita cantik itu. Nantilah jika aku sempat aku akan kembalikan kepadanya.

Hanya saja, yang aku tidak tahu, bagaimana dia bisa mengerti apa yang aku pikirkan tentang dirinya? Mind reader, begitu? Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, sementara matahari pagi yang panas dan asap kendaraan menyambutku dalam pelukannya.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine