Pengabdian Tanpa Balas Wartati

| November 24, 2009 | Sunting
Wartati (45) tak pernah ingin meninggalkan Kampung Laut. Hatinya sudah tertambat pada perkampungan di wilayah laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Perempuan itu bertekad akan terus mengajar anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan bekerja bersama warga Kampung Laut, sampai tak bisa lagi melakukannya. Itu bukan pilihan mudah! Kampung Laut tidak menawarkan pekerjaan enak, pendapatan besar, dan kenyamanan hidup.Di sana hanya ada lahan luas yang basah pada musim penghujan; pepohonan rimbun; gua-gua alam; air jernih yang merembes dari tanah Pulau Nusa Kambangan, perairan luas dengan kepiting, kerang dan aneka jenis ikan; serta nelayan dan petani ramah beserta anak-anak mereka yang butuh sekolah.
Kelas ibu guru Wartati
Lokasinya juga tidak mudah dijangkau. Dari Cilacap, orang yang hendak pergi ke Kampung Laut harus naik "compreng"--perahu motor bermesin diesel dengan daya angkut sekitar 20 orang plus sejumlah barang, termasuk dua unit sepeda motor-- dari Dermaga Sleko dan menempuh perjalanan selama sekitar dua jam sampai di pemberhentian perahu Ujung Alang. Selanjutnya orang harus naik "jungkung", perahu motor dengan mesin tempel- untuk menjangkau "grumbul"--kelompok pemukiman-- di kampung yang sebenarnya merupakan kecamatan dengan empat desa itu. Jarak antar "grumbul" tidak dekat.

Dari rumahnya yang berada di "grumbul" Batu Lawang, Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Wartati harus naik "jungkung" selama sekitar satu jam untuk menjangkau tempat dia mengajar di sekolah filial SD Ujung Alang I yang berada di "grumbul" Pasuruan di dusun yang sama.


Namun Tatik jarang naik "jungkung" ke sekolahnya, sebuah bangunan seluas 30 meter persegi dengan dinding terbuat dari anyaman bambu tua dan lantai tanah yang berlubang di sana-sini dan baru-baru ini ambruk akibat terpaan angin dan hujan. "Ongkosnya Rp 20 ribu sehari, jadi tiap minggu harus keluar Rp 60 ribu untuk ongkos, kalau sebulan sudah Rp 240 ribu. Tinggal Rp 10 ribu honor bulanan saya kalau begitu," katanya tertawa.

Ibunda Nella Vita SW dan Cornellis Wisnu Wardani itu memilih berjalan kaki, menapaki jalanan tanah yang becek pada musim hujan dan berdebu pada musim kemarau sepanjang kurang lebih tujuh kilometer.


"Saya biasa berangkat pukul 06:30 WIB, sampai sekolah pukul 08:00 WIB, kadang kurang. Tapi untuk yang tidak biasa jalan kaki jauh, saya tidak tahu berapa lama untuk jalan ke sana," kata perempuan yang tidak tampak lelah atau mengeluh sakit kaki dan pinggang setelah berjalan sekitar lima kilometer itu.


Dulu, perempuan yang sejak 13 tahun silam bekerja sebagai guru honorer di Kampung Laut itu mengajar kelas I, II dan III SD dengan sekitar 48 siswa sendirian, tapi sekarang bebannya berkurang, ada tambahan seorang guru honorer yang diperbantukan di sekolahnya. Sekarang, dalam sepekan Tatik hanya harus mengajar selama tiga hari, Senin hingga Rabu. Sesudah itu kegiatan belajar mengajar di sekolah filial diambil alih oleh guru honorer yang lain.


Anak-anak SD Filial Ujung Alang I sebelumnya belajar dalam satu ruang yang dipisahkan menjadi tiga bagian dengan papan tulis. Namun sesudah bangunan sekolah ambruk, mereka menumpang di rumah penduduk untuk belajar.


"Tapi itu juga jadi masalah. Ada yang tidak mau lagi memberi tumpangan karena anak-anak bikin ramai dan kotor. Sekarang anak-anak belajar di rumah Pak Sugeng, guru honorer yang bergantian dengan saya mengajar di sana. Tidak tahu harus pindah kemana lagi selanjutnya, mana lokal untuk sekolah belum bisa diperbaiki," tuturnya.


Tatik sudah berulangkali mengajukan permohonan pembangunan bangunan dengan dua ruangan untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah filial yang ada di Pasuruan itu ke Dinas Pendidikan setempat namun instansi tersebut tidak mengabulkan permohonannya.


"Katanya jumlah siswanya kurang, jadi sekolah tidak bisa dibangun. Sekarang sedang menunggu bantuan untuk perbaikan lokal lama yang roboh," katanya.


Ia mengatakan, karena masalah itu, tak lama setelah sekolah ambruk ia sempat tidak berangkat ke Pasuruan untuk mengajar selama beberapa hari karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Namun guru honorer lain memberitahu dia bahwa anak-anak ingin kembali belajar dan menunggunya di sekolah.


"Saya pikir, apa yang membuat saya tetap berdiam diri di sini sementara di sana, anak-anak umur enam sampai tujuh tahun yang sudah berjalan kaki berkilo-kilo meter tidak bisa belajar karena saya tidak datang," kata Tatik.


Dan lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Yos Sudarso Cilacap yang hanya mengenyam pendidikan keguruan melalui kursus mengajar Taman Kanak-Kanak (TK) selama tiga bulan di Solo tahun 1989 itu pun akhirnya kembali mengajar siswa sekolah filial di "grumbul" Pasuruan. Ia mengajar dengan metode sederhana, kadang membacakan buku, atau menulis isi buku pada papan tulis dan menyuruh para siswa menyalinnya ke dalam buku tulis mereka.


Fasilitasnya pun ala kadarnya, hanya bangku dan kursi kayu, papan tulis hitam, kapur tulis dan beberapa buku panduan mengajar yang dia dapat dari Dinas Pendidikan setempat.


"Kadang `geregetan` sama mereka itu, meski sudah masuk SD tapi susah sekali diajari pegang pensil dan menulis. Soalnya mereka tidak ada TK. Orang tua juga mungkin kurang memperhatikan, dan anak-anak kadang malas," ujarnya.


Namun itu tak membuat Tatik mengendurkan semangat. Dia tetap berjalan kaki tujuh kilometer ke sekolah setiap hari Senin, Selasa dan Rabu, untuk membantu anak-anak itu belajar supaya bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah Induk Ujung Alang dan kemudian ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. "Kalau lagi saya ada tamu atau keperluan, saya titip minta Pak Sugeng menggantikan, begitu juga sebaliknya," katanya.

Sumber: Antara

Mbah Minah dan Tiga Biji Kakao

| November 21, 2009 | Sunting
Mbah Minah di kursi pesakitan, PN Purwokerto
Tiga biji kakao telah memasukan mbah Minah ke dalam penjara. Dengan segala kesederhanaannya, mbah Minah menerima putusan yang disampaikan oleh majelis hakim. Ironis memang, tapi itulah hukum. Hukum memang tidak kenal kaya atau miskin, besar atau kecil, kota atau desa, laki atau perempuan. Hukum hanyalah untuk hukum, ia bersifat universal. 

Tak mbah Minah, bukan juga Anggoro Widjoyo, atau yang lainnya. Semua orang memang harus patuh dan tunduk pada hukum. Namun demikian, sebuah kejadian melawan hukum harus juga memperhatikan faktor sosio-antropologisnya. Untuk kasus besar yang memberikan dampak sangat besar, tentu tak bisa diabaikan. Tapi, bagi kasus yang hanya melibatkan tiga butir kakao haruskah berurusan dengan pengadilan. Apa kesalahan seperti itu tak bisa dimaafkan? 

Lagipun yang disebut pencurian tiga buah kakao tersebut sebenarnya juga belum sempat dibawa pulang. Tak bisakah perkara tersebut diselesaikan dengan cara kekeluargaan, apalagi motif pencurian tersebut hanya untuk dijadikan bibit? Atas perbuatannya itu, pengadilan menghukum mbah Minah 1,5 bulan. Dengan segala kepasrahaannya, mbah Minah menerima hukuman tersebut.
 
Ada satu pelajaran menarik yang patut kita ambil dari kasus ini, mbah Minah mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada perusahaan kakao tersebut. Hal ini sangat jarang sekali terjadi dilakukan oleh para petinggi kita yang sudah jelas berbuat salah. Para petinggi tersebut yang umumnya pemimpin, selalu berusaha mengelak tuduhan yang diberikan. Walapun sudah jelas-jelas mereka yang bersalah. Namun, dengan segala daya upaya mereka mengelanui hukum dan aparat penegak hukum agar mereka terbebas dari jeratan hukum. Sebuah contoh yang sangat memalukan dari para pemimpin kita.

Hukum adalah hukum, dan kesalahan tetap kesalahan. Sekecil apapun kesalahan itu harus diselesaikan secara hukum. Demikian pula dengan tindakan pencurian. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah balasan hukum adalah menghukum. Apakah cara-cara penyelesaian kekeluargaan juga bukan termasuk penyelesaian hukum? Kita memang tidak membela tindakan pencurian yang dilakukan oleh mbah Minah tapi proses yang dilakukan oleh penegak hukum haruskan selalu berakhir dengan pengadilan. Tidak bisakah penyelesaian kasus seperti yang dialami oleh mbah Minah dilakukan dengan cara-cara yang lebih sederhana dan mudah, serta tidak harus dilimpahkan ke pengadilan.

Hukum memang terkadang aneh, pada suatu saat ia tajam ke bawah, dan pada saat lain tajam ke atas. Namun yang paling sering adalah tajam ke bawah seperti pisau. Bagi masyarakat kecil, lemah, dan sederhana, penegakkan hukum sangat mudah. Tapi bagi orang yang kuat, berpengaruh, dan pemimpin hukum seakan mandul. Padahal hukum tidak kenal status, pangkat dan jabatan, kekuasaan, harta dan kekayaan. Hukum mengikat semua manusia, ia berlaku bagi semua orang, baik yang berbuat salah ataupun tidak. Perlakuan hukum tak bisa dibedakan, apalagi bagi orang yang mengerti hukum. 

Menjadi pencuri ataupun sejenisnya bukanlah pilihan, apalagi bagi masyarakat kecil. Maksud baik belum tentu ditanggapi baik. Mungkin perusahaan yang diambil buah kakaonya oleh mbah Minah merasa rugi, apalagi dengan niat mbah Minah yang akan menjadikan buah tersebut sebagai bibit. Mungkin perusahaan itu akan berpikir, bila mbah Minah berhasil menjadikan buah kakao itu lebih banyak lagi maka perusahaan mereka tersaingi nantinya. Dari pada nanti tersaingi lebih baik menghukum mbah Minah agar tidak bisa membibit tanaman kakaonya.

Mungkin maksud perusahaan tersebut untuk memberi pelajaran kepada masyarakat yang lain, bahwa dengan mencuri kakao tiga bijipun mereka bisa dihukum. Betul memang, tapi kita juga perlu bertanya, apakah selama ini perusahaan tersebut telah membina masayarakat disekitarnya? Apakah kejadian tersebut telah terjadi berulang kali, atau bahkan kebun perusahaan tersebut hancur lebur karena dicuri masyarakat?

Tragedi buah kakao yang menghukum mbah Minah memang menjadi pelajaran bagi penegakkan hukum di negeri ini. Dengan proses yang demikian cepat, diharapkan semua perkara hukum di negeri kita ini dapat dilakukan secara adil. Jangan hanya keadilan itu berlaku bagi orang kecil atau orang besar saja. Tapi diharapkan semua proses hukum harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kasus ini merupakan contoh bagi aparat penegak hukum, bahwa sebesar dan seberat apapun sebuah kasus tidak boleh di rekayasa demi kepentingan pribadi dan golongannya.

Nando Parrado, Keajaiban itu Ada

| November 14, 2009 | Sunting
Pesawat Uruguay yang bernomor 571 yang jatuh di pegunungan Andes
12 Oktober 1972. Pesawat Uruguayan Air Force Flight 571 meninggalkan bandara Carrasco di ibukota Uruguay, Montevideo. Turut dalam pesawat carteran tersebut adalah 5 orang kru bersama 40 orang pemain dan pengurus tim rugby Old Christians. Turut serta pula teman dan anggota keluarga para pemain. Mereka akan terbang ke Santiago, Chili untuk sebuah pertandingan.

Cuaca buruk memaksa mereka bermalam di kota kecil Mendoza, Argentina sebelum melanjutkan perjalanan keesokan siangnya. Awan tebal yang menyelimuti angkasa pegunungan Andes dan juga angin yang cukup kuat membuat perhitungan yang dibuat awak pesawat kurang tepat sehingga pesawat jenis Fairchild tersebut malah menabrak salah satu puncak pegunungan Andes dan terjatuh.

Lima orang meninggal di tempat, sementara tujuh lainnya hilang. Dan saat itulah perjuangan 33 orang yang tersisa - sebagian di antaranya terluka, dimulai. Dengan persediaan makanan seadanya tentu saja. Juga dingin yang menggingit. Belum lagi campur aduk perasaan bingung dan sedih karena hilangnya teman dan keluarga.

Keadaan menjadi semakin biru begitu mereka mendengar berita bahwa pemerintah Uruguay (bersama dengan Argentina dan Chili) memutuskan untuk menghentikan proses pencarian korban, 11 hari setelah kecelakaan. Melalui radio transmitor yang mereka temukan, tim pencari memprediksi sudah tidak ada lagi penumpang yang selamat dalam kecelakaan itu. Mereka sangat terpukul tentunya dengan berita tersebut.

Ketika tak ada lagi perbekalan makanan yang bisa mereka makan, satu-satunya sumber makanan adalah daging para korban yang telah meninggal, tubuh dari teman-teman mereka sendiri. Namun begitulah, demi bertahan hidup, korban yang selamat akhirnya memberanikan diri untuk memakannya.

Di sisi lain, tak semua korban selamat dapat bertahan. Beberapa jatuh sakit dan meninggal. Sebagian bahkan meninggal karena terkena longsoran salju saat mereka masih terlelap.

12 Desember

Enam puluh satu hari setelah kecelakaan, 12 Desember 1972, 3 orang yang selamat memutuskan untuk memulai perjalanan keluar dari lautran salju tersebut. Itupun melalui perdebatan yang cukup alot - terutama karena terbatasnya bekal dan kondisi badan mereka sendiri yang lemah. Tetapi begitulah, dengan bekal seadanya dan juga kantung tidur yang mereka buat sendiri dari berbagai macam kain yang ada, mereka memulai perjalanan. Ketiganyanya adalah Nando Parrado, Roberto Canessa dan Antonio Vizintin.

Di hari ketiga perjalanan, diputuskan bahwa Vizintin harus kembali ke lokasi kecelakaan karena sisa bekal yang semakin sedikit. Sementara Parado dan Canessa melanjutkan perjalanan. 

Beberapa hari setelah itu, Parado dan Canessa mulai menemukan sungai. Dari sungai inilah mereka lantas mulai yakin bahwa mereka akan keluar dari Andes. Mereka mengikuti alur sungai tersebut hingga mereka benar-benar menapak tanah, bukan lagi salju.

Bermula dari sanalah keduanya lantas mulai menemukan tanda-tanda kehidupan. Dimulai dari sisa-sisa kemah gembala, hingga mereka benar-benar melihat kawanan sapi pada hari ke sembilan perjalanan.

Di tempat itu keduanya memutuskan untuk beristirahat. Dan Canessa-lah yang kemudian melihat laki-laki berkuda di seberang sungai. Awalnya ia berpikir itu hanyalah semacam halusinasi, tetapi kemudian muncul 3 orang lainnya. 

Mereka lantas meneriaki para gembala itu, berusaha menceritakan kondisi mereka. Derasnya air sungai yang memisahkan mereka membuat komunikasi tidak begitu jelas. Namun, keduanya mendengar jelas salah seorang dari gembala itu berteriak, "Besok!" Saat itulah mereka mulai yakin akan selamat.
Nando Parrado dan Roberto Canessa, bersama dengan Sergio Catalan, sang gembala penyelamat
Keesokannya, si lelaki berkuda kembali datang dengan makanan. Dari seberang sungai ia juga melemparkan kertas dan pena yang diikatkan pada sebuah batu. Barulah setelah Parrado menuliskan catatan di kertas, si gembala paham. Ia memacu kudanya ke desa terdekat, sebelum menumpang truk untuk melapor ke kantor polisi. Di saat yang sama, teman si gembala berhasil membawa Parrado dan Canessa ke Los Maitenes, sebuah kawasan kamp.

Sementara Parrado dan Canessa mencari pertolongan, mereka yang bertahan di lokasi kecelakaan juga berusaha untuk mencari tubuh mereka yang hilang. Sesekali mereka menghidupkan radio, kalau-kalau ada berita tentang Parrado dan Canessa. Pagi hari, 22 Desember, berita yang mereka tunggu-tunggupun akhirnya muncul di radio. Siang harinya dua buah helikopter penyelamat datang, bersama Parrado sebagai penunjuk.

Hari itu, enam orang korban selamat diangkut dari lokasi kecelakaan. Delapan orang lainnya harus kembali bermalam di lokasi kecelakaan bersama anggota tim penyelamat. Baru pagi harinya, 23 Desember 1972, mereka semua berhasil diangkut, untuk kemudian dibawa ke Santiago, Chili untuk perawatan.

Tubuh para korban yang meninggal dikuburkan dengan layak kemudian, sekitar 80 meter dari lokasi jatuhnya pesawat. Tumpukan bebatuan dan salib diletakkan sekitar kubur mereka, sebagai tanda dan pengingat kecelakaan tersebut.

***
Selama kurang lebih 3 bulan mereka hidup di pegunungan Andes, berselimut salju dan kemudian bertahan dengan daging tubuh teman-temannya sendiri. Itu semua mereka lakukan dengan satu semangat untuk tetap bertahan hidup. Juga demi teman-teman mereka yang meninggal. Dan bagi Nando Parrado itu semuanya bisa terjadi karena kekuatan cintanya kepada sang Ayah yang selalu menyemangatinya untuk bisa bertahan hidup.

Kini Nando Parrado dan sebagian temannya yang masih hidup berusia sekitar 50-an tahun. Setiap tahun mereka mengadakan reuni ke pegunungan Andes untuk mengenang masa-masa perjuangan dulu. Puluhan judul buku dan filmpun diterbitkan. Termasuk catatan Nando Parrado sendiri, Miracle from the Andes - yang juga menjadi sumber utama tulisan ini.

Nando Parrado dan teman-temannya menunjukkan pada kita bahwa miracle is achievable! Keajaiban itu bisa kita raih dengan usaha sungguh-sungguh. Semangat pantang menyerah dan tak kenal putus asa. Akan lain ceritanya, jika mereka saat itu hanya pasrah menunggu maut datang menjemput di atas Andes misalnya. 

KPK vs Polri Versi Orang Awam

| November 14, 2009 | Sunting
Polisi baik - koleksi Kepak Garuda
Kalau membicarakan tentang polisi Indonesia, saya teringat candaan mantan orang nomor satu di Indonesia, K.H. Abdurahman Wahid, yang pernah mengatakan, “Polisi yang baik itu cuma dua. Pak Hugeng almarhum - mantan Kapolri dan polisi tidur."

Polisi katanya melayani dan melindungi masyarakat. Melayani artinya pelayan kan? Itu artinya, masyarakat tuannya bukan? Tapi yang terjadi di “lapangan”, berapa banyak polisi yang mau enaknya sendiri? Polantas contohnya (bagian dari kepolisian yang paling sering berhubungan langsung dengan masyarakat). Saat jalan macet, panas siang hari, apa yang dilakukan para polisi itu? Ngadem, ngobrol di pos jaga yang ada TV-nya. Bukannya turun ke jalan mengatur lalu lintas. Memang, gak semua gitu, tapi itulah yang terjadi pada sebagian besar oknum berseragam coklat itu. Nanti kalo terjadi kecelakaan, polisi itu baru turun ke jalan, basa-basi tanya ada apa (lha wong sudah tahu kecelakaan masih tanya). Dan ujung-ujungnya, orang yang tabrakan itu dibawa ke pos untuk dimintai keterangan. Terus? Suruh bayar uang perkara. Padahal yang tabrakan sudah damai, polisinya masih saja membuat perkara (mungkin biar ada ongkos lelah sudah mau berpanas-panasan). Tapi kan mereka dibayar pemerintah untuk di jalan, bukan untuk duduk ngobrol di pos?

Itu baru contoh kecil saja. Masalah tilang juga. Apa ada hukumnya polisi kasih pilihan mau ditilang atau bayar uang yang katanya “ntar mau dititipin ke pengadilan” (jadi biar pelanggar gak perlu sidang). Sampai-sampai di masyarakat polisi itu mempunyai banyak singkatan. Ada yang bilang Pol-pol e ngapusi (ujung-ujungnya bohong), atau Perkara Orang Lain Itulah Sumber Income (POLISI). Mungkin ada yang punya istilah lain?

Ada yang bilang juga itu semua buat nutup modal masuk kepolisian. Bukan rahasia lagi, kalau mau masuk akademi kepolisian harus siap uang banyak kalo gak punya koneksi. Sebut saja 50 juta, 60 juta, atau berapa… tergantung nanti setelah lulus mau jadi Polantas, Brimob atau yang lain. Semakin “basah” lahannya nanti, uang masuknya juga makin besar. Lhah? Bibit, bobotnya saja sudah gak jelas begitu, gimana mau menghasilkan polisi yang berkualitas?

Jadi, yang dilakukan para polisi itu ya cari duit sebanyak-banyaknya buat balik modal, yang mana sesuai kenyataannya kalau hanya dari gaji saja kurang. “Gaji polisi itu cuma buat hidup sampe tanggal 10, 20 hari selanjutnya ya turun ke jalan” kata seorang Polantas tanpa malu di sebuah warung burjo. Mungkin karena itu ya, kalau tanggal 10 lewat banyak ‘cegatan’ alias pemeriksaan kesalahan di jalan?

Jadi arti melayani (mengabdi) itu kurang dipahami. Sebagai orang Jogja, saya tahu beberapa cerita tentang kehidupan abdi dalem keraton Jogja. Saya pernah mendengar ada yang hanya digaji 4000 rupiah sebulan. Tapi bapak itu nyatanya senang-senang saja. Beliau melakukan itu bukan karena masalah uang, karena senang… damai… tentram melakukan itu semua. Bisa hidup juga nyatanya. Keluarganya juga gak menuntut, toh beliau masih punya istri yang setia. Tidak ninggalin dia karena hanya dinafkahi 4000 sebulan, walaupun karena itu istrinya yang bekerja.

Jadi, masihkah polisi itu disebut mengabdi atau melayani? Dengan gaji mereka yang beratus-ratus kali lipat dari abdi dalem tadi, kurangkah untuk hidup mereka? Atau para polisi itu memang gak mengenal kata cukup alias nggragas? Selalu saja kurang. Padahal dia juga sudah tahu tugas polisi itu mengabdi dan melayani, kok ya gitu? Kok ya kalau sudah tahu gitu masih mau jadi polisi? Tapi gak bisa ngerasa cukup. Apa jargon polisi tentang melayani masyarakat itu sekadar obsesi?

Sampai-sampai untuk membuat laporan kehilangan KTP saja harus bayar “uang ketik”. Lha terus, tugas polisi itu apa dengan gaji tiap bulan yang mereka terima kalau ngetik surat kehilangan aja bayar, buat ngambil barang bukti aaja bayar, sampai minta surat keterangan kelakukan baik saja bayar? “Mas, sekarang kencing aja bayar… hahaha” begitu tanggapan seorang polisi ketika ditanya kenapa buat surat kehilangan saja mesti bayar. Kedengeran seperti omongan orang yang tidak makan bangku sekolah ya?

Melindungi masyarakat… Apa ada gitu polisi yang rela melindungi sesuatu karena merasa itu tugasnya? Yang ada, butuh bantuan polisi berani bayar berapa? Mengawal uang, melindungi toko dari amuk massa, menjaga bank, dll pasti harus bayar polisi kan? Tapi, bukankah itu tugas polisi? Melindungi masyarakat. Atau itu juga sekadar obsesi aparat berseragam itu?

Dan masih banyak catatan buruk polisi yang lain, yang mungkin bisa dibuat sebuah buku setebal cerita Harry Potter.

Dan sekarang yang lagi hangat beritanya: KPK vs Polisi. Jelas sudah mengapa kebanyakan orang jadi mendukung KPK. Lha wong citra polisi di mata masyarakat sudah jelek, sudah pasti masyarakat langsung membela KPK. Lembaga hukum yang terkenal karena berhasil menyelamatkan uang negara bermilyar-milyar. Kalau polisi? Lembaga hukum yang terkenal karena berhasil menghabiskan uang negara bermilyar-milyar untuk menggaji orang yang mau duduk-duduk di pos perempatan jalan. Sekali lagi, ini karena citra masyarakat yang sudah terbentuk dari zaman dulu. Dan polisi gak pernah mau memperbaiki citra buruk itu. Kalau dengar cerita tentang lelucon polisi, mereka malah tertawa. Bukan merenung mengapa lembaga kepolisian sedemikian buruk citranya, sampai hampir semua orang di negeri ini punya lelucon untuk menyindir polisi.

Lelucon yang paling saya ingat selain lelucon Gusdur tadi adalah saat pihak kepolisian datang ke sekolah, berceramah tentang pembuatan SIM gratis (ada-ada saja). Teman saya bercerita, suatu hari ada anak yang menulis surat pada Tuhan minta uang 200 ribu untuk biaya berobat ibunya. Karena bingung, tukang pos memberikan surat itu ke pos polisi. Setelah dibaca, akhirnya polisi yang ada di pos itu mengumpulkan saweran. Ada yang memberi 10 ribu, 20 ribu, 50 ribu. Dan terkumpullah uang 150 ribu. Kemudian, salah seorang polisi itu mengantarkan uang itu ke alamat anak tadi. Setelah melihat suratnya dikabulkan oleh Tuhan, anak itu kemudian berdoa "Ya Tuhan, terima kasih ya uangnya. Tapi Tuhan, lain kali nitipinnya jangan sama pak polisi, jadinya kurang 50 ribu deh uangnya."

Apa moral cerita itu? Sebaik-baiknya polisi, tapi karena citra buruk itu gak pernah lepas dari mereka, apapun yang mereka lakukan jadi terlihat buruk di masyarakat (baik yang niatnya menolong atau yang memang berniat nyolong).

Bagaimana Pak Polisi yang perutnya makin berisi, mau mengubah citra itu? Atau jargon "Melayani dan Melindungi Masyarakat" sekadar ilusi?


V. Hasiholan, dengan perubahan seperlunya 

Di Tepi Awan, Pinggir Hujan, Tengah Pelangi

| November 14, 2009 | Sunting
Rumah Pelangi - Roni Delmonico
Rumah itu selalu ada di sana
di tepi awan, di pingir hujan,
di tengah-tengah pelangi
dengan nafasnya yang merdeka
jendela-jendela yang terbuka
dan pintu yang tersenyum ramah tamah
undakan anak tangga menuju ke terasnya
mengundangku untuk melompat kijang
dan menghantarkan hatiku dengan bernyanyi
sebuah lagu kanak-kanak yang kukenal sangat
namun tak terlafalkan dilidah, hanya di hati

berdengung lembut di telinga sanubari
dan menetap di sana.
Mari masuk, minum teh secawan,
lahaplah pisang goreng hangat
dengan mentega dan gula
mereka dan aromanya
hantarkan sebuah kehangatan di pusat jiwa
tepat di tengah-tengah raga yang fana
mempertemukannya dengan sentrum yang baka,
titik itu namanya: b a h a g i a
yang begitu sederhana dan mudah
tidak berbelit tidak berkelit
hanya seadanya, seperti itu
seakan segala sesuatu memang begitu,
tak perlu dipertanyakan.
Rumah itu selalu ada di sana.
Di tepi awan, di pinggir hujan,
di tengah-tengah pelangi.
Dia ada. Tak perlu dipertanyakan
atau dijelaskan atau diperdebatkan.
Tanpa perbantahan.
Aku tahu: dia ada.

Akhirnya, Malaikat dan Hujan Turun di Kampung Kami

| November 14, 2009 | Sunting
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis 
(Surat Cinta, WS Rendra)
Menunggu antrean
Hujan tak pernah turun sejak beberapa bulan lamanya. Saya tinggal di sebuah desa kecil di bagian utara kabupaten Gunungkidul, sebuah kabupaten di Yogyakarta yang sejak lama memang terkenal kering . Gunungkidul utara yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Sukaharjo adalah sebuah wilayah yang kering, tandus dan berhawa panas. Bagi sebagian besar warga, kemarau adalah petaka, terutama bagi petani yang menggantungkan hidupnya pada sawah tadah hujan. Bagi sebagian lainnya, kemarau berarti air bersih yang susah untuk dicari. Bagi hewan peliharaan seperti sapi, kerbau atau kambing, kemarau berarti paceklik pakan karena rumput-rumput gering dan mengering. Dan kemarau betul-betul terasa seperti petaka, terlebih selama bulan puasa seperti sekarang ini. Siang hari, jalanan kampung yang biasanya ramai menjadi sepi. Matahari seperti hendak memanggang siapa saja yang berada di bawah teriknya.
Mereka yang berpuasa lebih memilih tiduran di rumah atau mendinginkan tubuhnya di lantai masjid atau mushola sembari menunggu sore tiba. Sawah juga sepi, karena para petani memilih bekerja menjelang senja. Sesekali angin mengoyak debu-debu kering dan membuatnya seperti pusaran tornado kecil. Jika tidak hati-hati, butiran debunya memedihkan mata atau masuk ke mulut dan menyumbat tenggorokan. Beberapa hari lalu ketika terik mencapai puncaknya, ayam-ayam bahkan memilih berteduh di bawah pohon ketimbang berkeliaran mengais makan.

Seringkali tidak hanya menunggu giliran,
 tetapi juga menunggu air terkumpul
Kemarau panjang mengingatkan saya pada masih kanak-kanak. Kemarau berarti waktunya bermain bola sepuasnya di lahan persawahan yang kering kerontang. Lumpurnya mengeras, retak-retak menganga seperti kulit buaya. Orang desa menyebutnya lungko. Ketika duduk di bangku SMP, kemarau malah menguntungkan saya karena sawah yang kering bisa digunakan sebagai jalan pintas menuju ke sekolah. Jarak ke SMP yang biasanya ditempuh selama 30 menit melalui jalan biasa bisa ditempuh menjadi setengahnya dengan berjalan lurus menyeberangi persawahan. Malam hari di musim kemarau juga menjadi malam menyenangkan bagi anak-anak di kampungku. Mereka mencari jangkrik yang banyak bersembunyi di retakan-retakan lungko di persawahan. Kalau musim mencari jangkrik tiba, lahan persawahan seperti ada pesta karena penuh dengan puluhan kerlip lampu senthir atau oncor yang dipakai anak-anak untuk mencari jangkrik. Lalu di siang harinya seusai sekolah, sudut-sudut kampung menjadi ramai dengan sorak sorai anak-anak yang mengadu jangkrik hasil tangkapannya. Beberapa anak yang ‘berinsting bisnis’ menjual jangkrik atau membuat rumah jangkrik dari batang bambu untuk menambah uang jajan.

Musim kemarau di kampungku juga berarti musim pertengkaran dan perselisihan. Penyebabnya apalagi kalau bukan rebutan air. Saluran irigasi yang ada tidak cukup untuk menggemburkan lahan yang kering kerontang. Lahan persawahan di kampungku sendiri begitu luas, sementara air juga harus dijatah ke ke puluhan desa lain yang juga mengalami hal yang sama. Air hanya mengalir beberapa hari sehari, itupun tidak lama. Apalagi banyak warga menggunakan air irigasi untuk keperluan sehari-hari karena sumur-sumur desa juga berhenti mengeluarkan airnya.

Jumat ini menjadi awal yang baik bagi kampungku. Selepas dhuhur, guruh menggelegar berkali-kali, tetapi pasti suaranya seperti musik yang merdu bagi para petani. Di langit, awan hitam bagaikan ibu hamil tua yang sewaktu-waktu siap menumpahkan semua isi perutnya. Orang-orang menengadahkan wajahnya dengan senyum mengembang. Beberapa bahkan membuka telapak tangan atau mulutnya, seperti hendak menadah atau meminum hujan yang baru beberapa tetes saja.

Memang, hujan tidak turun deras. Hanya gerimis yang singgah sebentar, tetapi sudah cukup membuat lungko-lungko menganga di sawah itu hilang dahaganya dan rumput-rumput terbangun dari tidur panjangnya. Seusai tarawih, di mushola dan masjid-masjid, orang-orang memperbincangkan pertanda baik yang dibawa hujan dengan nada kegembiraan dan kebahagiaan. Rencana demi rencana pun di susun. Setelah ini, lumpur kembali menjadi gembur. Setelah ini, orang-orang tidak akan berebut air lagi.

Hujan pertama setelah kemarau panjang memang selalu membawa harapan dan kebahagiaan. Dan semuanya itu diawali dari hal sederhana: bau harum debu kemarau saat disentuh tetesan hujan….
S. Amsa, dengan perubahan seperlunya. Foto: Antara

Kenapa Mengeluh?

| November 11, 2009 | Sunting
Mengeluh! Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktikkan langsung - baik secara sadar maupun tidak sadar. Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, tentunya Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang berpikiran positif bukan ?

Menjadi seorang yang suka mengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.
Kenapa mengeluh?
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realita yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda.
  1. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh. Try it now
  2. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
  3. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini. 
  4. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda. 
"Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."

Jejak Korupsi di Indonesia

| November 09, 2009 | Sunting
Setinggi-tinggi gaji pejabat...  
Korupsi tak mati-mati. Kliping media massa membuktikan perang melawan korupsi berlangsung sejak dulu, dan belum usai hingga kini yang saya cuplik dari blog ndorokakung.

INDONESIA, 1970.
Korupsi mulai ramai dibicarakan di media massa. Dalam sebuah pidatonya pada 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto berkata, “Tidak perlu diragukan lagi. Saya memimpin langsung pemberantasan korupsi.” Dua tahun sebelumnya (1968), Pemerintah membentuk TIm Pemberantasan Korupsi. Kemudian awal 1970 didirikan pula Komisi IV di bawah Wilopo yang bertugas memberikan pertimbangan kepala pemerintah tentang pembasmian korupsi.

INDONESIA, 1973
Menteri Penertiban Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas, Dr J.B Sumarlin, mengadakan jumpa pers di Gedung Pola, Jakarta. Ia mengatakan, “Korupsi, kebocoran dan pemborosan selalu ada dalam sistim pemerintahan yang belum membaku (established).” Belum seminggu setelah ucapan “Napoleon” dari Bappenas itu lenyap dari udara, datang tanggapan dari gedung Bina Managemen di Menteng Raya. Dalam percakapannya dengan wartawan, Direktur Lembaga Pendidikan & Pembinaan Managemen Dr A.M. Kadarman menyangsikan berhasilnya cara Sumarlin memberantas korupsi di Indonesia, “selama tidak ada aparat yang diberi wewenang menyelidiki, menindak dan menjatuhkan sanksi terhadap para koruptor”.

Seorang pejabat tinggi yang dekat dengan Menpan mengibaratkan bahwa “Sumarlin hanya akan menyentuh pinggir-pinggir borok korupsi.”

INDONESIA, 1981.
PRESIDEN Soeharto memberi petunjuk kepada para menteri untuk mengumumkan penyelewengan yang telah ditindak di departemen masing-masing pada setiap apel bendera tanggal 17. Sekalipun pengumuman tentang penyelewengan itu tidak bakal menyebutkan nama-nama para pelaku, kecuali tindakan kejahatan yang dilakukannya, sebagaimana dikatakan Menpan Sumarlin masyarakat dengan dag-dig-dug menunggu saat penting yang mungkin bisa dianggap babak baru dalam sejarah pemberantasan korupsi. Tetapi harapan yang menggelembung itu segera kempes lagi. 

Karena pada tanggal 17 Oktober ternyata hanya Kejaksaan Agung dan Departemen Perdagangan dan Koperasi yang mengumumkan tentang penindakan terhadap pegawai yang dianggap bersalah. Banyak instansi lain yang malahan tidak menyelenggarakan apel bendera dengan berbagai alasan. Dalih yang banyak dikemukakan: instruksi untuk melaksanakan itu belum diterima.

INDONESIA, 1983.
BEKAS Ketua DPR, Daryatmo, menyamakan perbuatan koruptor dengan penodong yang membunuh korbannya. “Sadisnya sama, tapi macam perbuatan yang dilakukan lain,” katanya. Sekretaris Fraksi Persatuan Pembangunan DPR Ali Tamin berharap para koruptor suatu saat akan menjadi sasaran “penembakan misterius” seperti yang dilakukan terhadap para residivis. Ia menyarankan agar sebelum penembakan itu dilakukan, ditentukan lebih dulu kelas para koruptor tadi. “Berdasar itu, tentunya koruptor kelas kakaplah yang seharusnya menjadi sasaran penembakan misterius,” katanya pada pers. 

Jaksa Ismail Saleh membantah. “Negara kita ini kan negara hukum. Karena itu kita akan menyelesaikan kasus korupsi sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Tidak akan dilakukan penembakan terhadap para koruptor,” katanya.


Benarkah hukum yang lebih keras, hukum mati, misalnya, bisa menyetop korupsi? Seorang ahli mengenai korupsi, Prof. Hussein Alatas, menyangsikannya. Hukum yang keras, menurut pendapatnya, mengakibatkan kekuasaan yang semakin besar. “Saya khawatir ini akan menjadi sumber korupsi baru. Kerasnya hukum itu tidak menentukan. Yang menentukan itu yang menjalankan. Jadi lebih baik hukum yang wajar, tapi betul-betul dijalankan,” katanya. 

Di Indonesia, Hussein Alatas dikenal dengan bukunya yang telah diterjemahkan: Sosiologi Korupsi. Sebenarnya ia telah banyak menulis buku. Antara lain, Modernization and Social Change, Thomas Stanford Raffles, Intelectual in Developing Societies dan Reflexions on the Theoy of Religions. 


Kepada Hussein, waktu itu, seorang wartawan Tempo bertanya, “Apakah dapat dikatakan, jika di suatu masyarakat korupsi merajalela berarti pemimpin masyarakat itu kurang baik?”
 

Hussein menjawab, “Begini. Seandainya para pemimpin betul-betul secara serius anti-korupsi dan menempatkan masalah pemberantasannya pada prioritas utama, maka korupsi pun akan berkurang. Tetapi kalau mereka sendiri justru memelopori korupsi, maka korupsi pun akan meluas ke mana-mana. Jadi faktor pemimpin ini penting sekali.”

................... Tigapuluh-sembilan tahun kemudian

INDONESIA, 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi yang menjadi seperti lembaga superbody. “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar, power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati,” kata Presiden Yudhoyono.

Gambar: Ya Gitu Deh Korupsi

Kesejahteraan itu...

| November 08, 2009 | Sunting
Suara parau dari Sidoarjo
Tidak mudah menorehkan nilai paling tepat dalam lajur bidang Kesra untuk Kabinet Indonesia Bersatu. Selain menyangkut pasokan data yang teramat bejibun, juga dihadang kekhawatiran soal obyektivitas. Sehingga, harap dimaklum, bila pada akhirnya saya memilih fakta “terpopuler” di mata pembaca sebagai alasan penilaian.

30/10/2010: Menko Kesra, Agung Laksono, mengungkapkan, "Jika pada 2004 tingkat kemiskinan masih 16,7 persen, maka pada 2009 turun menjadi 14,1 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka yang pada 2004 sebesar 9,9 persen, maka pada 2009 turun menjadi 8,1 persen."

Menurutnya, dalam upaya penaggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran ini, pemerintah telah menetapkan kebijakan percepatan penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja yang menitikberatkan pada upaya optimaisasi dan harmonisasi penanggulangan kemiskinan. Upaya ini dikukuhkan dengan diterbitkannnya Peraturan Presiden No 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, yang mengkoordinasikan program-program tersebut ke dalam tiga kelompok prgram. Kelompok program tersebut adalah bantuan dan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kelompok program pemberdayaan usaha mikro dan kecil.

Pada kelompok program bantuan dan perlindungan sosial upaya yang dilakukan adalah meningkatkan akses rumah tangga sasaran (RTS) terhadap Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), beasiswa untuk siswa miskin, dan beras bersubsidi bagi keluarga miskin (raskin).

09/09/2009: Menko Kesra Aburizal Bakrie dijadwalkan bertemu Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam kunjungan kerjanya ke Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua. Menurutnya, pertemuan itu bukan agenda utama karena kunjungan kerjanya ke Enarotali adalah untuk meresmikan dimulainya pembangunan permukiman terpadu tahap I di kampung Madi, Enarotali.

Dengan pendekatan itu, Ical berharap, mereka mau turun kembali ke kampung halamannya dan membaur dengan masyarakat lainnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu bakti yang sangat bernilai bagi Ibu Pertiwi adalah menjaga keutuhan “keluarga besar” ini agar terus menyatu dalam bingkai Negar Kesatuan Republik Indonesia. Porsi ini pernah dilakukan oleh mantan Menko Kesra M. Jusuf Kalla untuk “mendinginkan” konflik di Poso, sulawesi Tengah. Namun, hal itu dilakukan dengan perencanaan dan konsep yang matang. Sehingga, Pertemuan Malino tidak sekadar usaha basa-basi untuk mendongkrak popularitas. Hasil nyata yang ditunggu dari pekerjaan itu dan tidak sebatas wacana di media massa.

Dengan perencanaan yang tidak matang dan hasil yang jaug dari harapan, maka ide brilian itu harus bergulir sia-sia dan tidak menjadi credit point bagi Bidang Kesra dalam Kabinet SBY.

07/09/2009: Aburizal Bakrie membantah pemberitaan kelaparan di Kabupaten Yahukimo, Papua. “Jadi tidak ada korban karena kelaparan. Tapi kalau ada yang meninggal, setiap hari pasti ada. Di Jakarta, setiap hari juga ada orang meninggal,” ujar Ical. Sementara Wakil Gubernur Papua Alex Hasegem juga mengaku, belum menerima laporan dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo, terkait adanya bencana kelaparan di wilayah tersebut.

Sebelumnya, sejumlah media massa melansir laporan dari Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia (Yakpesmi) yang menyatakan sejak Januari hingga Agustus 2009, sedikitnya 113 warga Yahukimo tewas akibat kekurangan asupan gizi. Kebanyakan korban berasal dari tujuh distrik, yaitu Distrik Langda, Bomela, Seradala, Suntamon, Pronggoli, dan Heryakpini.

Menurut Koordinator Yakpesmi, Izak Kipka, penyebab kelaparan yang menimpa Kabupaten Yahukimo ini karena tingginya curah hujan yang turun sejak empat bulan terakhir. Akibatnya sejumlah jenis tanaman yang dijadikan makanan pokok masyarakat mengalami gagal panen.

Yakuhimo adalah satu daerah yang memiliki kasus kemiskinan paling menonjol di Tanah Air. Sejak krisis moneter melanda negeri ini pada 1997, angka kemiskinan — yang juga diikuti kelaparan — tidak pernah memberikan perkembangan angka yang menggembirakan. Parahnya, angka pastinya pun selalu berubah-ubah. Sumber-sumber data dari lembaga yang berkompeten untuk urusan ini seakan tidak mampu menghadirkan angka paling benar. Baik Biro Pusat Statistik atau Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan kader-kader di seluruh pelosok daerah.

Kalau soal data pun semrawut, bagaimana pula mencari solusi terbaik untuk mengentaskan kemiskinan? Buah yang dipetik dari kemiskinan itu bukan hanya kelaparan. Tapi, juga kesempatan memperoleh pendidikan yang layak, kesehatan yang terjamin, dan masalah sosial lain. Bahkan, ancaman generasi yang hilang (the lost generation) juga tidak bisa diabaikan.

Bayangkan, generasi macam apa yang bisa dihasilkan dari daerah miskin, dengan anak-anak yang kekurangan gizi, tidak bersekolah, tidak pernah memeriksakan kesehatan, dan tidak mendapatkan haknya sebagai anak-anak! Dan, itu bukan hanya milik Yakuhimo. Daerah-daerah miskin di setiap pulau, dengan problem yang seragam, juga tidak sedikit. Semoga lembaga-lembaga pemasok data bisa bekerja kembali dan menghadirkan angka pastinya.

Maka, nilai apa yang layak diberikan untuk “cacad-cacad” nyata yang bisa ditangkap mata telanjang ini?

06/09/2008: Aburizal Bakrie mengatakan bantuan untuk korban gempa di Jawa Barat, belum bisa menjangkau seluruh titik karena ada kendala dalam pendistribusian bantuan. “Pemerintah daerah harus segera mengatasi masalah ini,” kata Ical.

Bencana bukan cerita baru untuk negeri ini. Terlebih bagi pemerintahan SBY. Bencana bertubi-tubi datang dan membuat Kementerian Sosial harus bekerja keras menuntaskannya. Seiring dengan itu, kendala selalu saja datang dan menghambat pekerjaan besar itu. Padahal, korban bencana bukan hanya menunggu, tapi tengah mengitung durasi ketahanannnya.

Pada bagian ini saya harus mengatakan, Kementerian Sosial dengan pengalaman dan record kinerjanya yang luar biasa, kok masih saja dililit berbagai kesulitan dalam penanganan masalah. Bencana di negeri ini bukan sekali atau dua kali terjadi. Tapi, departemen ini selalu menjadi “pendukung” di balik kinerja relawan asing atau relawan dalam negeri. Perhatikan saja sejak peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan bencana-bencana berar lain.

Idealnya,  Kementerian Sosial harus berada di garda terdepan. Sedangkan tenaga-tenaga lain, baik dari militer, relawan, atau warga lain, tetap di barisan belakang. Selain itu, strategi jitu juga harusnya sudah ada dan tidak yerkukung birokrasi.

Pendistribusian yang terhambat hanyalah salah satu contoh kasus penanganan korban gempa yang masih gagap. Di luar itu, mata telanjang kita bisa sama-sama saksikan, dan tidak memungkinkan untuk menjadi nilai bagus untuk bidang ini.

27/07/2008: Aburizal Bakrie di Blitar, Jawa Timur, Senin (27/7), mengatakan, pemerintah berencana meninjau ulang pemberian ganti rugi bagi para korban luapan lumpur PT Lapindo Brantas. Menurut Aburizal, pemerintah akan memberikan kebijakan khusus bagi desa-desa yang baru terkena dampak lumpur. Besarannya sama dengan warga korban lumpur yang sudah masuk dalam peta berdampak

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat munculnya semburan gas yang disertai lumpur, kawasan Siring Barat, Porong, Sidoarjo, Jatim, sudah tidak layak huni. Sebab, puluhan rumah warga retak-retak. Bahkan, di rumah warga muncul semburan baru disertai bau gas yang menyengat. Warga berharap mereka segera mendapatkan ganti rugi meski kawasan ini tak masuk dalam peta terdampak

Penanganan korban lumpur Lapindo adalah kasus paling memalukan dalam kabinet SBY jilid satu. Rumah hancur, lingkungan ikut hancur, hidup jadi tidak teratur, ganti rugi belum membaur, masa depan makin tak terukur. Bahkan kekuatan pemerintah pun tidak sanggup melunakkan hati pemilik perusahaan, untuk selekasnya menunaikan kewajiban.

Maka, di tengah gemerlap pesta demokrasi dan berbagai kegiatan politik dalam negeri yang menghamburkan banyak uang, warga korban lumpur Lapindo harus jadi penonton paling merana. Jerita mereka, jelas, menjadi cacad bagi rapor Bidang Kesra.

22/05/2008: Aburizal Bakrie mengatakan, pemerintah tidak bisa memaksa warga agar mau menerima bantuan langsung tunai (BLT). “Ini uang negara yang diberikan kepada rakyat. Apabila rakyat menerima atau tidak, itu hak mereka,” kata Menko Kesra yang biasa disapa Ical.

BLT diberikan kepada warga miskin sebagai kompensai kenaikan harga BBM yang tidak bisa dikompromikan lagi. Pada era sebelumnya, program ini dijalankan dengan label Jaring Pengaman Sosial (JPS). Meski “sukses” secara pemberian, dengan bocor di sana-sini, namun masalah kemiskinan belum teratasi.

Namanya saja kompensasi. Barangkali maksudnya, kompensasi untuk tidak sakit hati atas naiknya harga BBM, melambungnya harga-harga sembako, dan nilai BLT tidak bisa mengejar daya beli. Akhirnya, ya tidak bermakna.

Lucunya, JPS menjadi inspirasi bagi pengguliran BLT. Termasuk, dengan aroma “carut-marut”nya. Parahnya lagi, kali program digulirkan berdasarkan data kemiskinan yang masih diragukan validitasnya. Tidak heran masalah ini pun menjadi topik segar selama masa kampanye lalu. Meski warga tidak goyah akan “provokasi” selama kampanye, toh fakta di lapangan membuktikan bahwa hal itu bukan solusi terbaik untuk menjawab angka kemiskinan.

Entah skenario apa di balik pengguliran program BLT? Yang pasti, program ini tidak layak mendapat apresiasi. Apalagi poin!

02/11/2006: Aburizal Bakrie mengusulkan pemerintah membeli pesawat bom air BE-200 dari Rusia. Pesawat seharga Rp 400 miliar itu dapat diandalkan untuk memadamkan kebakaran lahan dan hutan yang setiap tahun mengancam Indonesia.

Kebakaran hutan, ancaman pandemi flu burung dan flu babi, penyelenggaran pendidikan murah, pelaksanaan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin, penyelenggaraan ibadah haji, pengembangan pariwisata, pemberdayaan perempuan, dan banyak lagi program dari sejumlah departemen dan kantor kementrian, saling meramaikan wacana. Di tingkat wacana dan perencanaan sangat bagus. Tapi, begitu hingga di tingkat pelaksanaan, masih saja tersendat-sendat.

Kebakaran hutan masih saja terjadi. Bahkan menjadi rutinitas. Tapi, penangananannya tidak pernah berhasil. Hari ini kebakaran, besok dipadamkan. Lusa kebakaran lagi, lalu dipadamkan lagi. Dan seterusnya. Ada apa di balik sulitnya memecahkan masalah ini?

Dana Biaya Operasi Sekolah (BOS) menarik di layar televisi dalam bentuk public service advertisment (PSA) tapi tidak oke di tingkat mayarakat. Sekolah gratis dan bermutu masih mimpi. Kalau ingin mendapat pendidikan bermutu, maka sediakan juga dana tambahan dari orangtua siswa. Lho?

Jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin, ya sebatas Puskesmas atau rumah sakit umum di kelas ecek-ecek. Bila setuju untuk menikmati layanan itu, maka bersiap-siaplah menyiapkan surat miskin dan sabar mengantre saat mendapat perawatan. Semoga kaum miskin tidak pernah sakit parah.

Persoalan pernyelenggaraan ibadah haji selalu saja berputar di antara kuota, pelayanan di dalam negeri, maktab, catering, dan berbagai kesulitan, yang haris dimaklumi. Karena sejak di Tanah Air, hal itu harus diyakini sebagai ujian dari Yang Maha Kuasa. Sehingga pembenahan pun selalu berjalan di tempat dan tidak maju-maju. Beruntung, para tetamu Allah itu sudah beristiqomah untuk bersabar, ikhlas, dan tawakal menerima apa pun.

Dari masing-masing kategori, entah nilai apa yang pantas diberikan? A, B, C, D, atau E? Barangkali Anda memiliki catatan-catatan positif yang memungkinkan pemerintah SBY layak mendapat nilai tinggi untuk kategori-kategori tertentu. Itu hak Anda.

*) Sumber: Liputan 6

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine