Hari Ini, yang telah lalu dan yang akan datang

| Juni 21, 2009 | Sunting

Hari Ini Milikmu

Wahai masa depan, engkau masih berada di alam ghaib, maka aku tidak akan berinteksi dengan mimpi-mimpi. Aku tidak akan menjual menjual diriku pada ilusi dan bayangan dan aku tidak akan menyegerakan kelahiran yang tiada. Hari esok masih belum ada karena ia belum diciptakan dan masih belum disebut-sebut keberadaannya.

Bahasa Inggris memiliki permainan bahasa yang menarik. Present bermakna 'hari ini' sementara itu present juga bermakna 'hadiah'. Jadi setiap hari baru adalah hadiah dari Tuhan untuk kita! Itulah sebabnya Tuhan Maha bijaksana, kita diminta bangun dengan penuh senyum dan rasa syukur seraya berdoa 'Segala puju bagi Tuhan yang menghidupkanku setelah kematian' Sehingga kita berharap menikmati hari ini dan bergembira dengan apa yang diberikan Tuhan hari ini!.


Masa Depan Akan Datang

Biarlah hari esok datang dengan sendirinya kepada kita. Janganlah kita tanyakan berita-beritanya dan jangan kita tunggu-tunggu kedatangannya karena kita sendiri memiliki keseibukan dengan urusan hari ini. Marilah kita belajar dari Thariq bin Ziyad, pahlawan Islam di Spanyol. Beliau tidak pernah mau meoleh kebelakang, Beliau pun tak mencemaskan apa yang terjadi pada masa depan. Beliau maju terus karena itulah tugasnya!

Bila kamu sedang menaman sebenih kurma dan besok akan kiamat... teruslah menamam!!


Demam Masa Lalu

Yang paling jauh didunia ini adalah Masa Lalu, saking jauhnya kita tidak pernah bisa mendatangi kembali. Siapapun orangnya, dengan apapun caranya, tak satupun yang mampu kembali kemasa lalu!

Selamatkanlah kita dari bayangan menakutkan masa lalu. Apakah kita akan mengembalikan arus sungai ke hulunya, matahari ke tempat terbitnya dan mengembalikan bayi keperut ibundanya dan mengembalikan air mata ke dalam rongganya? Sesungguhnya terjebak pada masa lalu akan mengakibatkan kesusahan, mengerikan dan mengejutkan.

Terimalah masa lalu sebagai masa lalu tanpa mengingkarinya atau melupakannya. Kenanglah ia, tetapi jangan menghukum diri sendiri karenanya atau terus menerus menyesalinya. Jangan terjebak didalamnya!!!

Jangan menyesali kesenangan yang luput dari tangan kita. Dan jangan sesali susu yang sudah tumpah ke tanah

Soe Hok Gie: Kisah Seorang Mahasiswa

| Juni 21, 2009 | Sunting
Enam belas Desember seribu sembilan ratus enam puluh sembilan, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru bersama seorang pendaki lain: Idhan Dhavantari Lubis. Rudy Badil, karib Gie, mencoba menuliskan ulang apa yang ia ingat tentang karibnya itu.
"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman Onesimus Lantang, mantan pimpinan pendakian Semeru 1969, yang masih amat bugar.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. 

Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru. Perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu. Begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran" yang diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Batu dan cemara

Gie di Puncak Pangrango
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru. 

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru serta semburan uap hitam yang menghembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan'. Batu yang berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs Recopodo.

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco, bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama Recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan. Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat... sebanyak mungkin!

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: "...Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru..."

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: 
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar:
"Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya.
Gie (Nicholas Saputra) dan jaket kuningnya - Mirles

Arief berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian."

Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".

Arief pun menulis kenangannya lagi: ...Di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu. 

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Pandangan dan keyakinan Gie, pengaruh berbagai buku dan pemikiran yang dibacanya

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: ...Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan... Bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, ...Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ...Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: ...Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru. 


Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun. Namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Soe Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembalui
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan cita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
*) Dari tulisan yang tersebar di milis mediacare. Beberapa istilah tahun saya hapus.

Sekat di Antara Manusia

| Juni 21, 2009 | Sunting
Kita, para manusia
Kalau kita mau menyadari kehidupan ini dan mau dengan jujur melihat masyarakat di sekitar kita, seringkali antara manusia yang satu sulit untuk bergaul dengan manusia yang lain. Apakah yang menjadi penghalang? Pemisah atau penyekatnya itu memang tidak kasat mata, tidak mampu dideteksi dengan mata, tetapi mampu memisahkan manusia yang satu dengan yang lain. 

Apakah "pemisah" itu? Yang kadang-kadang amat jahat dan mungkin amat pekat untuk diterobos, yang mengalahkan persaudaraan, mengalahkan budi baik, hubungan baik, mengalahkan yang lain-lain; sehingga membuat kita sulit untuk bergaul dengan yang lain.

Pemisah atau penyekat itu tidak lain adalah predikat-predikat atau status yang kita punyai.

Kalau saya menyebutkan bahwa saya umat beragama A maka saya membuat penyekat dengan umat beragama lain. Saya dari umat beragama A dan kamu umat beragama B, saya biarawan dan kamu umat awam, saya murid dan kamu guru, saya orang mampu dan kamu bawahan. Sangat banyak! Kalau kita menuliskan predikat-predikat ini, mungkin lebih tebal dari buku telepon yang kita punyai. Saya ibu, saya ayah, saya anak, saya karyawan, saya majikan, saya pimpinan...sedangkan kamu bukan ! Begitu saya menyadari bahwa saya adalah saya dengan predikat beda, maka saya menganggap Anda berbeda dengan saya.

Memang predikat-predikat itu diperlukan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Tetapi, untuk kepentingan batin kita, untuk pembentukan mental kita yang sehat, kalau suatu saat kita mau menyingkirkan semua predikat itu untuk sementara, apakah yang kita lihat? Kalau kita mau sesaat menyingkirkan predikat-predikat yang merupakan pagar, yang merupakan penyekat yang dahsyat itu, maka kita akan melihat akar yang sama pada setiap orang. 

Apakah itu? Tidak lain bahwa kita semua adalah manusia. Saya adalah manusia, demikian juga kamu, pimpinan kita adalah manusia, kamupun manusia. Kamu yang menjadi pimpinan adalah manusia dan yang Kamu pimpin juga manusia seperti kamu.

Kesadaran akan hakikat kita sebagai manusia inilah yang kadang-kadang dibungkus dan masih ditambah lagi dengan sekat yang berupa bermacam-macam predikat. Kalau kita sudah maju dan sukses, berhasil menjadi pimpinan, mempunyai jabatan tertentu-merasa atau menjadi peran tertentu, maka kadang-kadang kita berpikir seolah-olah kita sudah bukan manusia lagi, bahkan mungkin kita memandang yang lain menjadi bukan manusia lagi.

Berharap Ahmadinejad

| Juni 16, 2009 | Sunting
Ahmadinejad, dari akademisi ke kantor Presiden
Pemilihan umum sebentar lagi, mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki pemimpin seperti sosok ini. Amin. Bukan secara fisik dan misi ataupun pandangan politiknya, tapi dari kesedehanaannya.

Mahmoud Ahmadinejad adalah Presiden Iran yang keenam dan memperoleh 61.91% suara pemilih pada pilpres Iran tanggal 24 Juni 2005. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3 Agustus 2005. Ia pernah menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 waktu ia terpilih sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang sangat loyal terhadap nilai-nilai Revolusi Islam Iran, 1979. Demikian laman Wikipedia menuliskannya.

Suatu ketika Ahmadinejad, diwawancarai oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?" Jawabnya:

Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran.

Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan. Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Lesehan
Ia juga mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler, untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu. Di banyak kesempatan ia juga terlihat bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. 

Di bawah kepemimpinannya, ia meminta menteri-menterinya menandatangani sebuah kontrak berisikan arahan-arahan darinya, terutama arahan untuk tetap hidup sederhana. Juga disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat jabatan mereka berakhir, mereka dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. 

Begitu ia terpilih menjadi presiden, ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun sebelumnya di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknyapun bersaldo minimum. Satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas senilai US$ 250. 

Sebagai tambahan informasi, Ahmadinejad masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya seorang presiden dari negara yang penting - baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya. 

Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang audah dilakukan. Ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi.

Meringkuk di lantai
Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar, karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden? Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawal yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk Amerika. 

Sepanjang sholat, dapat dilihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka.Ia duduk membaur dengan jamaah lainnya. Orang yang tidak mengenal Ahmadinejad mungkin tidak akan menyangka bahwa orang berkemeja putih ini adalah presiden. Bahkan tak jarang, ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.

Tuhan dimana-mana
Tahun lalu dia menikahkan putranya, Alireza. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum biasa. Seorang blogger Iran, Javad Matin, berkisah:
Pada hari Kamis, sekitar pukul 9 malam, saya pergi ke gedung budaya kantor kepresidenan. Dari luar, semuanya terlihat biasa saja sehingga saya sempat terpikir jangan-jangan saya salah tempat. Tidak terlihat sama sekali sedang ada pesta pernikahan seorang anak presiden sedang digelar di sana.
Saya lalu memasuki ruangan. Beberapa meja terlihat kosong karena para tamu tengah pergi sholat. Buah-buahan dan kue, air mineral, serta sejumlah piring dan pisau sudah tertata rapi rapi atas meja.
....
Kepala kantor, Mr. Kheirkhah, menceritakan padaku betapa the doctor memperhatikan setiap detail resepsi. Ia hanya memesan satu jenis makanan. Iapun membayar sendiri biaya resepsi sebesar 3.5 juta toman (sekitar USD 3500).
Jumlah tamu laki-laki yang diundang adalah 180. Tidak banyak pejabat pemerintah yang datang bahkan.
Pelit? Irit?



Selain sifatnya yang sederhana ia dicintai karena lebih mementingkan memperbaiki ekonomi negara ketimbang bidang-bidang lain dan memperjuangkan setiap pendapatan minyak bumi agar jatuh ke meja makan rakyat Iran.
Saya tidak akan berhenti hingga semua rakyat biasa di Iran dapat makan.
Sebagai warga negara, yang amat cinta dengan negara , aku juga berharap akan dipimpin oleh figur seperti Mahmoud Ahmadinejad. Terlepas dari faham ataupun prinsip yang dijalaninya, kesederhanaan dan totalitas kepemimpinannya adalah barang langka di republik bernama Indonesia ini. Yah, aku berharap 'Ahmadinejad'. 

Sumber foto dan informasi: www.rferl.org

Beratnya Memulai

| Juni 14, 2009 | Sunting
Suatu waktu ketika air laut pasang disertai dengan angin kencang yang menghempas ombak dengan kerasnya, suatu peristiwa yang menakjubkan terjadi. Puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kura-kura terdampar pada hamparan pasir laut di sebuah pantai. Kura-kura itu terhempas jauh dari laut dalam berbagai macam keadaan yang sulit. Lebih dari setengah jumlahnya terbaring dengan tubuh terbalik di atas pasir tandus yang diterpa panas matahari siang. Sebagian lagi dengan tubuh tertanam dalam tumpukan pasir yang bahkan hanya menyisakan kakinya di permukaan. Beberapa dari mereka tertindih tubuh kawan-kawan mereka yang lain, dan sementara yang lain dengan tertatih-tatih berusaha merangkak menuju laut yang kini tampak sangat jauh untuk mereka rengkuh. Hari semakin siang dan matahari semakin kuat memancarkan sinarnya.

Satu-demi satu orang berdatangan ke pantai itu, dan bak reaksi rantai, semakin lama semakin ramai kerumunan di sana. Mereka yang pada awalnya datang untuk melepas kepenatan dan bersenang-senang, seketika itu juga terperanjat seraya memandang pantai dengan penuh kejut. Mereka hanya berdiri dengan kaget dan menatap hamparan pantai mereka dipenuhi dengan ribuan kura-kura di atasnya.


Mereka tertegun sambil sesekali berceletuk, “Bagaimana mungkin kita mengembalikan puluhan ribu kura-kura ini ke laut? Sementara jumlah kita sangat sedikit dibanding jumlah kura-kura di sini.”

Sementara yang lain menjawab, “Tentu kita hanya akan melakukan hal yang sia-sia Bung.”

Mereka hanya terdiam sambil menggelengkan kepala, sementara kura-kura di sana dengan susah payah menghentakkan kakinya langkah demi langkah dengan semua sisa-sisa daya yang dimiliki untuk kembali ke laut biru yang ada jauh di depan mata mereka. 

Mungkin pantai ini kini menjadi medan perang bagi kura-kura itu, tidak sedikit kura-kura yang “berjuang” di sana telah terkapar terpanggang panas matahari yang menyengat tubuh mungil mereka. Mungkin para kura-kura itu juga sempat sesekali berpikir penuh tanya, “Benarkah ini hanya sia-sia? Bisakah kita mencapai laut itu untuk tetap hidup di sana?”

Tetapi sekali lagi, mereka tetap dengan gigih berupaya menuju air kehidupan mereka. Sementara manusia-manusia di sana hanya terpaku bisu tanpa melakukan apa-apa. Memang, berusaha mengembalikan kura-kura itu adalah sesuatu yang sia-sia tampaknya. Orang-orang itu mungkin berpikir hanya tinggal menunggu waktu tempat ini akan menjadi kuburan massal bagi para kura-kura malang itu.

Tiba-tiba dari kerumunan orang-orang itu tadi majulah seseorang memecah keheningan. Dia mendekat ke arah pantai dan menuju ribuan kura-kura itu. Dia angkat satu ekor kura-kura di tangan kirinya, dan satu lagi dengan tangan kanannya lantas menuju laut dan dengan menundukkan badan dia melepaskannya. Dia kembali mendekat ke arah kumpulan kura-kura itu dan sekali lagi membawa 2 ekor kura-kura dari timbunan pasir dan membawanya ke laut untuk dilepaskan. Dia kembali berdiri, dan lagi-lagi menuju ke tempat yang sama dan membawa 2 kura-kura lagi untuk dilepaskan ke laut.

Peristiwa itu terjadi terus-menerus hingga orang-orang di sana meneriakinya, “Hei apa yang kau lakukan? Itu perbuatan sia-sia Bung. Kau hanya akan mendapat lelah, sementara kura-kura itu tetap akan mati di sini. Tidak ada cukup waktu untukmu mengembalikan mereka kembali ke laut.” Memang seolah-olah tidak berkurang jumlah kura-kura yang ada di pantai meskipun telah beberapa kali orang tadi melepaskan kura-kura ke laut.

Namun, dia hanya diam dan terus mengambil dan mengembalikan ribuan kura-kura di sana. Entah apa yang dipikirkannya, ketika orang-orang lain terdiam dan terpaku bisu, dia malah merelakan tubuhnya berpanas-panasan dengan terik matahari demi melakukan usaha yang tampaknya hanya sia-sia. 

Hal mengejutkan kembali terjadi, kini 2 orang keluar dari kerumunan dan menuju ke pantai ke arah kura-kura. Mereka angkat beberapa kura-kura secara bersamaan dan mereka bawa ke laut untuk kemudian dilepaskan. Mereka kembali lagi, dan secara terpisah kini mereka bawa beberapa ekor kura-kura lagi untuk dilepaskan lagi ke laut. 

Lalu… Beberapa orang lagi kini keluar dari kerumunan dan menuju pantai. Mereka angkat, dan mereka bawa kura-kura itu untuk dikembalikan ke laut lepas. Dan,Tidak beberapa lama, kini hampir semua orang yang ada di sana menuju hamparan pasir itu dan dengan cepat berusaha mengembalikan para kura-kura “pejuang” itu ke laut.

Tak beberapa lama, pantai yang tadi dipenuhi ribuan kura-kura, mulai kosong dan terlihat bersih kembali. Memang belum semua kura-kura dapat dikembalikan ke laut, namun setidaknya ada sebuah hasil yang ternyata tidak sia-sia untuk dilakukan. Orang-orang tadi yang semula berpikir bahwa itu adalah perbuatan yang sia-sia, akhirnya degan niat dan keinginan mereka sendiri melakukan hal itu, meski sebelumnya mereka yakin bahwa itu adalah perbuatan tanpa guna. Mereka bersama-sama melepaskan kura-kura itu ke laut, meski mereka tahu bahwa mungkin ini adalah hal yang sia-sia untuk mereka. Namun mungkin mereka juga berpikir bukankah setiap peristiwa besar selalu diawali dengan hal yang kecil yang tampaknya sia-sia untuk dikerjakan. Mungkin juga mereka teringat, bahwa bukankah setiap perbuatan kecil menurut mereka bisa jadi merupakan bantuan luar biasa bagi orang lain di waktu yang sama.

Dan, bukankah seikat lidi akan lebih kuat dan lebih bermanfaat daripada sebatang lidi rapuh yang bahkan patah dengan hanya ditekuk menggunakan dua jari kecil kita. Tidak semua hal sulit itu ternyata sesulit kelihatannya. Dan mungkin hal tersulit dalam melakukan suatu karya besar dalam kehidupan kita adalah Proses Mengawalinya.

Memulai untuk merintis hal baru di mana tidak semua orang dapat melakukannya dengan lancar sesuai keinginannya. Seperti cerita di atas, terkadang kita memang membutuhkan seorang pelopor yang berjiwa besar untuk menunjukkan cara memulainya kepada kita. Memulai sesuatu dari yang tampaknya hanya sia-sia belaka. Memulai sesuatu yang mungkin akan diawali dengan sebuah kegagalan. Tetapi ingatlah, bahwa hal itu mungkin kelak akan ditutup dengan sebuah keberhasilan besar yang indah.

Rumah di Tengah Ilalang

| Juni 14, 2009 | Sunting
Ilalang yang Buana babat dengan sebilah arit seakan tak pernah habis. Selalu muncul tunas baru keesokan harinya. Dan ilalang itu tumbuh merata mengelilingi rumah sewaan yang dia tempati tiga hari lalu bersama Dinda, wanita yang dinikahi secara siri. Mereka memutuskan tinggal bersama di kampung itu tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Kehidupan mereka bak ilalang. Mereka belajar hidup jauh dari orang tua dan keramaian. Orang tua mereka yang berseteru, sama-sama tidak tahu dimana anak-anaknya kini berada.

Padahal dua sejoli ini merasa bangga memiliki orang tua yang cukup berpengaruh di pemerintahan. Orang tua mereka sama-sama menyandang gelar sebagai ketua umum partai besar yang punya begitu banyak massa. Dikarenakan misi kedua orang tua mereka berseberangan, akhirnya sering timbul perseteruan di panggung politik. Meskipun begitu, tidak ada atau belum terjadi adu massa yang dimiliki kedua belah pihak tersebut saling bentur di bawah. 

"Politik itu kotor dan jahat. Kita harus menghindarinya," kata Buana sebelum mereka memilih kabur dari perseteruan kedua orang tua mereka yang tak habis-habisnya itu.

Dinda menyetujui. Jalan pintas akhirnya mereka pilih. Nikah siri mereka jalani sebagai syarat agar dapat diterima tinggal bersama di tempat lain. Karena didasari oleh cinta yang suci sejak mereka duduk di bangku SLTP, dan terus berlanjut sampai lulus SMU, mereka sepakat untuk terus bersatu. Mereka sadar, mereka adalah harapan kedua orang tua, mestinya tak perlu harus kawin muda. Akan tetapi, di dalam hidup ini apapun bisa saja terjadi. Ada saja karakter dari tokoh yang harus mereka perankan. Entah sebagai tokoh apa. Tapi yang penting mereka harus berbuat sesuatu meski apapun bentuknya.

Ilalang terus tumbuh di pekarangan. Kapas yang bersemi di pucuk tangkainya berlepasan ditiup angin. Satu demi satu terbang di udara. Dinda kadang harus berlari kecil menangkap kembang ilalang yang beterbangan itu.

Di mata Buana, Dinda tampak semakin cantik berada di tengah ilalang yang menjulang tinggi. Sesekali gumpalan kecil kapas yang tercerabut dari tangkai ilalang oleh angin itu, hinggap di rambut Dinda. Buana mencabutinya satu demi satu kembang ilalang yang tersangkut di kepala dambaan hatinya itu.

"Apa tidak lebih baik dibakar saja?" seru Dinda sambil memperhatikan seekor anak belalang bertengger di pucuk ilalang yang terayun dimainkan angin.
"Dalam musim panas begini, amat riskan membakar ilalang, Dinda…"
"Tapi ilalang seperti ini bakal tumbuh lagi nantinya."
"Tidak apa, asal tidak sampai menutupi rumah kita."
***
RUMAH-rumah di perkampungan itu tak ada yang rapat. Di kanan-kiri rumah penduduk itu terdapat lahan yang ditanami tanaman merambat. Selain dibatasi oleh lahan yang ditanami ubi jalar, dibatasi juga oleh rumput ilalang yang tumbuh subur di tanah yang tak ditanami apa-apa. Akhirnya, Buana hanya membabat habis ilalang selebar jalan yang menuju pintu rumahnya.

Sebagai warga baru, mereka menyempatkan diri bersilaturahmi ke beberapa tetangga terdekat. Mereka tidak menceritakan kalau mereka anak siapa. Mereka hanya mengaku sebagai pengantin baru yang butuh suasana baru. Itu saja.

Dinda yang mahir berbahasa Inggris, bersedia memberi les bahasa tersebut secara gratis kepada para murid sekolah yang rumahnya berdekatan dengan rumah tinggalnya. Sedang Buana yang mahir melukis, menawarkan jasa untuk melukis wajah para orang tua yang anak-anaknya ikut belajar bahasa Inggris pada Dinda di rumahnya secara gratis pula. Buana juga memberi pelajaran dasar melukis kepada para remaja setempat yang berminat ingin bisa melukis seperti dirinya.

Dari cara mereka memperkenalkan diri, akhirnya para penduduk kampung mau menerima kehadiran mereka berdua secara baik. Bahkan para tetangga terdekat merasa kagum dan berterima kasih atas kemurahan hati mereka yang mau menurunkan ilmunya kepada anak-anak kampung yang sangat terbelakang akan seni dan budaya.

Musim kemarau tampak masih akan bertahan lama. Dan kehadiran mereka telah memasuki bulan ketiga tinggal di kampung yang cukup jauh dari kota itu. Ilalang masih terus memunculkan tunas-tunas baru yang siap menyejajarkan diri dengan ilalang yang sudah tinggi sebelumnya.

Di bulan keempat, Dinda sudah tidak mens lagi. Dia dinyatakan hamil oleh bidan yang memeriksanya. Kini Buana lebih bersemangat meladang di lahan yang terdapat di belakang rumah yang menyorok ke tepi sungai. Selain bercocok tanam seperti umbi-umbian, Buana juga merawat pohon-pohon yang tumbuh di lahannya seperti, pisang, papaya, dan beberapa pohon kelapa.

Buana tak menyadari kalau dirinya telah menjadi seorang petani. Jika pagi tiba, Buana membawa hasil ladang itu ke pasar untuk dijualnya. Hasil penjualannya dia belikan beberapa liter beras dan keperluan lainnya. Ketika malam datang, mereka bercengkerama tentang masa depan anaknya yang tengah dikandung. Bila si jabang bayi lahir, Buana akan bekerja sebagai sopir angkot yang routenya melewati jalan di depan rumahnya. Tujuannya adalah sambil mencari uang, Buana bisa mengawasi atau melihat kedua buah hatinya saat angkot yang dikemudikannya melintas di depan rumahnya.
***
MANDIRI adalah sebuah keharusan untuk menanggulangi kehidupan yang mereka tempuh. Tak ada kata menolak untuk kebaikan bersama. Buana tak perlu melihat dirinya anak siapa. Begitupun Dinda. Untuk hidup mandiri tak perlu melihat siapa orang tua mereka, yang harus dilihat, didukung dan dijaga adalah jalan hidup yang mereka ambil. Sekecil apapun yang didapat harus hasil dari tangannya, bukan kucuran atau subsidi dari orang tuanya yang kaya raya itu. Begitu mereka bersikap.

Di rumah itu mereka tak punya pesawat televisi, kecuali sebuah radio saku. Bila malam tiba, sesekali mereka duduk-duduk di teras depan rumahnya. Memandangi bulan purnama dari sela-sela ilalang yang tinggi menjulang. Bintang-bintang yang muncul mengelilinginya mereka coba hitung bersama. Jumlahnya selalu tak pernah sama. Mereka akan tertawa bila keganjilan itu mereka temukan.

Mereka jarang pergi jauh. Rotasi langkahnya hanya dari rumah ke ladang, dari ladang ke rumah atau sebentar melihat pemandangan di tepi sungai lalu kembali ke rumah. Pernah sekali waktu mereka pergi berdua menghadiri undangan perkawinan di kampung sebelah. Hiburannya waktu itu menampilkan musik jaipongan. Saat ngibing berlangsung, terjadi tawuran antarpemuda desa. Suasana tiba-tiba jadi kacau. Dinda terpisah dari Buana. Jerit ketakutan para pengunjung wanita membuat suasana semakin tak terkendali. Dinda lari masuk ke rumah penduduk. Sedang Buana menghindari tawuran lari menuju ke arah rumahnya.

Tiba di rumah Buana bingung karena Dinda belum sampai di rumah. Buana khawatir akan keselamatan istrinya. Namun satu jam kemudian, Dinda muncul diantar oleh sepasang suami-istri pemilik rumah yang dimasuki Dinda malam itu.

Sejak kejadian yang cukup mengerikan itu, mereka tak pernah lagi mau menonton hiburan malam di luar rumah.

Di pentas politik, kedua orang tua mereka masih terus berseteru. Saling cemooh, saling mengaku bahwa misi partainyalah yang benar. Dan negara akan ambruk jika lepas dari konsep mereka. Juga dari dua kubu tersebut mulai berkembang persoalan baru atas hilangnya anak-anak mereka. Mereka saling tuduh telah menculik anak mereka masing-masing. Dari dua kubu itu juga, selain polisi, diperintahkan juga para bodyguard untuk mencari anak-anak mereka yang belum kembali ke rumah masing-masing.

Di dalam rumah yang dikelilingi ilalang yang tak pernah habis dibabat, Buana sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Bidan kampung didatangkan. Para tetangga bahu-membahu membantu kelahiran anak pertama pasangan Buana dan Dinda.

Seiring kapas-kapas kembang ilalang yang beterbangan dibawa angin, si jabang bayi itu lahir ke dunia. Sehat, putih, gemuk, dan berkelamin laki-laki. Doa syukur dipanjatkan. Tali ari-ari dibenamkan ke bumi.
 ***
AKHIRNYA rumah di tengah ilalang itu semakin terbenam bila malam tiba karena Buana sudah jarang membabatnya setelah kehadiran anak pertamanya lahir. Buana bahagia sekali. Siapa pun tak ada yang bisa melihat bahwa ada kebahagiaan di tengah area ilalang yang berjuntai-juntai ditiup angin.

Namun, entah siapa yang membawa api dendam ke tengah-tengah ilalang itu. Di malam yang pekat, di saat udara dingin mengulum perkampungan penduduk, justru ilalang yang tumbuh di sekitar rumah sewaan yang ditempati oleh kedua anak tokoh politik itu tiba-tiba terbakar. Lidah api yang dibawa angin begitu cepat menjilat ke sekeliling. Kobaran api dari ilalang yang terbakar tampak seperti tangan raksasa yang muncul dari belahan bumi mencengkeram segala yang ada di sekitarnya termasuk rumah yang dihuni oleh ketiga anak manusia yang berada di dalamnya.

Buana pernah menyampaikan kepada Dinda kalau politik itu kotor dan jahat, sekarang terbukti. Dan ilalang yang selalu tumbuh di tempat yang sunyi itu, kini telah jadi saksi atas kematian mereka.

*) Cerpen Endang Supriyadi

Membela Ambalat dengan Nasionalisme Cerdas

| Juni 14, 2009 | Sunting
Kasus perbatasan bukan barang baru bagi Indonesia. Berlokasi di antara dua benua dan dua samudra menjadikan posisi Indonesia sangat strategis sekaligus rawan di tengah lalu lintas dunia.

Karena posisi geografisnya, Indonesia berbatasan dengan sepuluh negara: India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Isu seputar perbatasan sepertinya tak pernah sepi dari pemberitaan.

Di awal tahun 2005, negeri ini gempar oleh kasus Ambalat. Ketegangan tidak saja tercermin dari pemberitaan media tetapi juga dari reaksi masyarakat. Ada yang mendaftaran diri siap berperang, ada yang membubuhkan tanda tangan darah, ada pula yang meneriakkan "Ganyang Malaysia". Foto artis cantik Siti Nurhaliza yang tak berdosa juga kena getahnya, dibakar dalam berbagai demonstrasi masa. Kala itu, sengketa antara Indonesia dan Malaysia perihal kepemilikan Ambalat mencuat tinggi. Setelah empat tahun lebih peristiwa itu berlalu, bangsa ini dikejutkan lagi oleh kata yang sama "Ambalat".

Masih jelas dalam rekaman media, terjadi berbagai kesalahan dalam memahami kasus Ambalat ini. Tidak sedikit yang mengira bahwa Ambalat adalah pulau atau wilayah daratan. Sesungguhnya Ambalat adalah blok dasar laut yang dikenal dengan landas kontinen. Menurut hukum laut internasional, Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), sebuah negara pantai seperti Indonesia, berhak atas laut teritorial (12 mil laut), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif, ZEE (200 mil laut) dan landas kontinen (350 mil laut atau bahkan lebih). Lebar masing-masing zona ini diukur dari referensi yang disebut dengan garis pangkal (baseline). Pada laut teritorial berlaku kedaulatan penuh (sovereignity) seperti di darat, sedangkan pada zona di luar itu berlaku hak berdaulat (sovereign right). Pada kawasan hak berdaulat, suatu negara tidak memiliki kedaulatan penuh, hanya hak untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya.


Tumpang tindih penyebab sengkarut
Jika ada dua negara yang berdekatan maka tidak mungkin bagi keduanya bisa mengklaim semua zona maritim tanpa adanya tumpang tindih dengan tetangganya. Misalnya, dua negara saling berseberangan pada jarak kurang dari 400 mil laut, maka akan terjadi tumpang tindih ZEE dan landas kontinen. Jika jaraknya sangat dekat, kurang dari 24 mil laut seperti Indonesia dengan Singapura, maka yang tumpang tindih adalah laut teritorial. Dalam hal ini, dua negara tersebut harus menyepakati suatu garis yang membagi zona maritim yang tumpang tindih tersebut. Proses inilah yang disebut delimitasi batas maritim. Kedaulatan atau hak berdaulat masing-masing negara atas wilayah air dan dasar laut selanjutnya dibatasi oleh garis hasil delimitasi ini. Jika ada dua negara yang mendiami satu daratan/pulau, seperti Indonesia dan Malaysia di Kalimantan (masyarakat Internasional mengenalnya dengan Borneo), maka batas maritimnya adalah garis yang diteruskan dari ujung akhir batas darat untuk membagi kawasan laut di sekitarnya.

Meski sudah sering diberitakan, rasanya tetap perlu untuk sekali lagi mengingatkan bahwa Ambalat adalah blok dasar laut yang berlokasi di sebelah timur Pulau Borneo. Sebagian besar atau keseluruhan Blok Ambalat berada pada jarak lebih dari 12 mil laut dari baseline sehingga termasuk dalam rejim hak berdaulat, bukan kedaulatan.

Secara keseluruhan, Pulau Borneo berhak atas laut teritorial, zona tambahan, ZEE dan landas kontinen. Di sebelah timur, Borneo bisa mengklaim 12 mil laut teritorial, 200 mil laut ZEE dan seterusnya. Persoalannya adalah mana yang merupakan hak Indonesia, dan mana jatah untuk Malaysia. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa laut di bagian selatan adalah hak Indonesia dan di utara adalah hak Malaysia.

Garis batas darat antara Indonesia dan Malaysia di Borneo memang sudah ditetapkan. Garis itu melalui dan berhenti di ujung timur Pulau Sebatik, sebuah pulau kecil di ujung timur Borneo, pada lokasi 4? 10? lintang utara. Idealnya garis tersebut diteruskan ke arah laut di sebelah timur sebagai batas maritim yang harus disepakati kedua belah pihak. Garis inilah yang hingga kini belum ada dan sedang dirundingkan. Pada kawasan yang belum jelas garisnya inilah Ambalat berada. Dari perspektif ini, status hak berdaulat atas Ambalat sejatinya memang belum jelas. Belum ada garis batas maritim yang menetapkan kewenangan kedua negara.

Sipadan dan Ligitan bagaimana perannya?

Kasus Ambalat ini sering dikaitkan dengan dua pulau legendaris: Sipadan dan Ligitan. Benarkah ada kaitan antara kedua pulau ini dengan Ambalat? Sipadan dan Ligitan berada di Laut Sulawesi di sebelah utara kawasan dasar laut Ambalat. Perlu diperhatikan, Sipadan dan Ligitan tidak pernah secara formal menjadi bagian dari Indonesia, tidak juga Belanda. Dalam hukum internasional dikenal istilah uti possidetis juris yang artinya negara baru akan memiliki wilayah atau batas wilayah yang sama dengan penjajahnya. Tidak diklaimnya Sipadan dan Ligitan oleh Belanda menyebabkan kedua pulau tersebut bukan bagian dari Indonesia sebagai "penerus" Belanda.

Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim Sipadan dan Ligitan yang kasusnya berujung di Mahkamah Internasional (MI). MI memutuskan bahwa Malaysia yang berhak atas keduanya karena Inggris (penjajah Malaysia) terbukti telah melakukan penguasaan efektif terhadap kedua pulau tersebut. Penguasaan efektif ini berupa pemberlakuan aturan perlindungan satwa burung, pungutan pajak atas pengumpulan telur penyu dan operasi mercu suar. Perlu diingat, Indonesia dan Malaysia bersepakat bahwa penguasaan efektif ini dinilai hanya berdasarkan tindakan sebelum tahun 1969. Jadi tidak benar bahwa Malaysia mendapatkan pulau tersebut karena telah membangun resort/hotel di tahun 1990-an.

Diberikannya kedaulatan atas Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia oleh MI pada tahun 2002 melahirkan potensi berubahnya konfigurasi baseline Indonesia dan Malaysia. Oleh Indonesia, hal ini telah diakomodir dalam dalam PP no. 37/2008 tentang garis pangkal. Akibatnya, klaim zona maritim juga bisa berubah. Sementara itu, Sipadan dan Ligitan secara teoritis bisa mengklaim zona maritim ke arah selatan. Tentu saja perlu kajian secara legal dan spasial, seberapa luas klaim ini ke arah Ambalat. Di sisi lain, Indonesia akan berargumen bahwa pulau kecil seperti Sipadan dan Ligitan semestinya tidak diberi peran penuh (full effect) dalam hal klaim dan delimitasi maritim. Seberapapun kecilnya, Sipadan dan Ligitan yang menjadi milik Malaysia dapat memengaruhi klaim maritim di Laut Sulawesi. Artinya, opsi garis batas maritim juga akan terpengaruh. Tergantung dari negosiasi antara Indonesia dan Malaysia, garis batas ini yang akan "membagi" dasar laut di Laut Sulawesi. Apakah Ambalat juga akan terbagi? Hal ini sangat tergantung proses negosiasi.

Faktor non teknis

Perundingan tentang batas maritim ini sedang berjalan. Pakar-pakar kita dari Deplu dan instansi teknis seperti Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut, dan badan terkait lainnya sedang menjalankan tugasnya. Memang kenyataannya tidak banyak yang bisa didengar tentang kemajuan proses ini karena memang tidak semua hal bisa dijadikan konsumsi publik. Di sisi lain, reaksi masyarakat yang sedimikian rupa dan ketidakakuratan informasi di berbagai media adalah juga indikasi kegagalan penyebaran informasi yang konstruktif.

Seeperti diberitakan, bisa dimengerti para prajurit TNI siap bersabung nyawa untuk tanah air. Meski demikian, kita tentu sepakat bahwa kedaulatan dan hak berdaulat bangsa harus dibela tidak saja dengan peluru tetapi juga pengetahuan. Pekerjaan rumah untuk Malaysia dan Indonesia adalah menyepakati garis batas maritim secapatnya, sebelum bisa menyatakan terjadinya pelanggaran kedaulatan atau hak berdaulat. Indonesia adalah bangsa beradab dan negara kepulauan yang terbesar di dunia. Kita tidak perlu kehilangan percaya diri dan bereaksi berlebihan menanggapi suatu perkara. Mari membela tanah air dengan nasionalisme yang cerdas dan terhormat.

catatan I Made Andi Arsana

Thailand Berubah Menjadi Indonesia, Begitu Juga Sebaliknya

| Juni 09, 2009 | Sunting
Aku membaca tulisan yang dimuat di Sydney Morning Herald ini pertama kali melalui milis Mediacare. Walau tidak sempat mengartikannya kata per kata, tetapi aku sudah dapat tersenyum karenanya. Senyumku semakin lebar begitu menemukan terjemahannya di blog GNFI. Terima kasih banget kepada si Pian - Sofyan Hadi, atas infonya tentang blog ini. Seperti komentarmu, blog ini benar-benar menjadi inspirasi untuk kembali memupuk optimisme kita sebagai sebuah bangsa. Dan tentunya juga jaya terus untuk Good News For Indonesia. Berikut saya salinkan tulisan yang saya maksud.

Thailand berubah menjadi Indonesia, begitu juga sebaliknya.
Trairanga, sang tiga warna
Orang Thailand gemar menyebut Thailand sebagai tanah penuh senyuman. Dan untuk sementara, setelah kebangkitan demokrasi di tahun 1992, sebutannya ini sepertinya sesuai menjadi semboyan pemerintah. Demokrasi tumbuh di Thailand. Bahkan ketika Asia mengalami krisis ekonomi di tahun 1997, jenderal-jenderal militer Thailand tetap berdiam di baraknya. Thailand terus tumbuh. Turis-turis membanjiri Thailand dan kaum investor bisa tersenyum karena sudah memetik keuntungan di Thailand.

Sebaliknya di dunia berbeda yang disebut Indonesia, gambarannya sungguh mengerikan, Semboyan Negara, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua, kelihatannya hanya menjadi sebuah sindiran. Keragaman yang dimaksud hanya disatukan oleh rasa ketakutan terhadap diktator militer, Soeharto. Ketika krisis ekonomi Asia menghantam Indonesia, Soeharto dipaksa turun dari kekuasaannya di tahun 1998 dan gambaran Indonesia semakin lama semakin suram

Ekonomi Indonesia hancur. Islam bangkit dari tidur panjangnya dan bangkit menurut caranya sendiri. Keragaman Indonesia ditekan oleh hegemoni Islam sebagai agama mayoritas.Prospek Indonesia menjadi semakin buruk. Teroris membom para wisatawan di tempat tujuan wisata yang Indah di Bali. Sebuah golongan dari Islam Indonesia sepertinya tumbuh menjadi virus baru untuk membuat islam menjadi lebih keras dan ekstremis. Investor memberikan label hitam pada Negara ini.

Jika Thailand disebut-sebut sebagai cahaya Asia Tenggara, maka Indonesia muncul sebagai mimpi buruk dari kawasan tersebut.

Tapi itu dulu. Sekarang kita melihat kedua negara secara luar biasa berganti peran. Thailand sekarang menjadi runtuh, menderita akibat krisis konstitusional, aturan darurat yang diberlakukannya dan menjadi pukulan bagi semua investor.

Bangkok Post mengatakan bulan lalu ; “Bagaimana bisa Lumbung beras Asia, tempat transit, perdagangan, Macan Asia dan “Amazing Thailand” (Thailand yang luar biasa) sesuai dengan slogan pariwisata kita, bisa berubah menjadi sebuah Negara yang gagal?”

Indonesia, di sisi lain, berubah menjadi Negara yang stabil dan toleran dalam kepemimpinan yang bersih dan dewasa, dan memiliki prospek untuk tumbuh lebih baik dibanding semua Negara di kawasan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat menganggap Indonesia untuk pertama kalinya sebagai satu-satunya Negara bebas dan demokratis di kawasan Asia Tenggara.

Andrew MacIntyre dan Douglas Ramage mengatakan dalam makalahnya untuk Australian Strategic Policy Institute: " Indonesia di tahun 2008 adalah sebuah Negara yang stabil, demokratis, dengan system pemerintahan desentralisasi, negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dibawah kepemimpinan yang nasional yang kompeten, dan memiliki peran yang cukup penting di komunitas internasional maupun regional."

Sementara Indonesia semakin cemerlang dengan keberhasilan mereka menjadi tuan rumah perwakilan 189 negara di dunia dalam konferensi perubahan Iklim di Bali, Desember 2007, Thailand di sisi lain harus dipermalukan bulan lalu ketika Thailand harus memulangkan 16 pemimpin Negara dalam pertemuan ASEAN Summit .Tentara Thailand tidak kuasa lagi dalam membendung para pemprotes berbaju merah di Pattaya, pemimpin China dan Jepang terpaksa harus dievakuasi dengan helicopter, sedangkan pesawat pemimpin lain terpaksa harus berbalik arah di tengah perjalanan menuju Thailand. Hal ini sangat memalukan dan menurunkan kredibilitas Thailand, yang tidak mampu menjadi tuan rumah sebuah pertemuan regional , dan tidak bisa melindungi pemimpin dunia bahkan di tanah airnya sendiri.

Kemudian mari kita lihat titik yang sama pada minggu lalu.

Ketika 20.000 ribu pemprotes berbaju merah memboikot jalan di Bangkok untuk berdemonstrasi secara anarkis melawan pemerintahan Thailand yang tidak dipilih secara demokratis tersebut, Indonesia malah sedang mengumumkan hasil Pemilu legislatifnya yang berjalan dengan relatif aman dan damai.

Apa yang terjadi, Bagaimana bisa 2 negara kunci di Asia tenggara ini berganti tempat secara dramatis?

Kondisi Thailand berubah ketika terjadi kudeta pemerintahan untuk menjatuhkan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang pertama kali dipilih di tahun 2001 dan kembali terpilih pada tahun 2005.

Thaksin yang merupakan pelaku bisnis sekaligus milyuner ini memiliki 2 kubu yang pro dan kontra dengan dirinya. Dia sangat popular di kalangan rakyat kecil dan kaum pekerja, tapi sayangnya sangat ditentang oleh kaum urban dan militer.

Keputusan untuk mengirim tentara untuk menjatuhkan dia datang dari pihak kerajaan.Terakhir kali Raja mengintervensi di dunia politik adalah untuk mengakhiri krisis konstitusional yang terjadi di Thailand, sekarang malah Raja yang memprovokasinya.

Pihak militer dan kerajaan mebuat rezim baru yang tidak demokratis di Negara tersebut, tetapi berjanji untuk mengadakan pemilu di waktu yang akan datang. Tapi pendukung Thaksin berusaha untuk membuat perang sipil yang tidak berkesudahan yang mencerminkan ketidakpatuhan. Thaksin sendiri, yang didakwa melakukan tindak korupsi, memimpin perlawanan terhadap pemerintah dari luar negeri. Analis asal Thailand berkata sangat sulit untuk melihat resolusi apapun mengenai Thailand. Dua kubu yang berlawanan sama2 memiliki kedudukan yang kuat, dan Pemilu sepertinya tidak akan memecahkan masalah tersebut, mereka berkata.

Indonesia di sisi lain mengganti kepemimpinannya secara demokratis dengan memilih Susilo Bambang Yudhoyono, lebih dikenal di Indonesia sebagai SBY. Mantan Jenderal ini terbukti cukup bijaksana dan popular sejak mengambil kekuasaan di tahun 2004. Dia pro-bisnis dan pro barat, dan juga anti terhadap terorisme dan korupsi. Bahkan, dia memasukan besannya sendiri ke penjara karena terlibat kasus korupsi.

Partai Politik Islam di Indonesia tetap moderat, tidak menjadi radikal.

Indonesia sekarang memiliki pers yang bebas serta pengadilan hukum yang berkembang. Demokrasi menjadi lebih solid,umum dan para Kompetitor bertanding untuk mendapatkan kekuasaan dengan menggunakan kotak suara, bukan di jalan. SBY sepertinya merupakan salah satu presiden favorit untuk pemilhan presiden bulan Juli mendatang, jika dia diperbolehkan untuk menjadi calon.

Kawasan Asia Tenggara kali menderita krisis financial global, Tapi sementara Asian Development Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Thailand akan jatuh dari 2,6 persen menjadi minus 2 persen tahun ini, Indonesia malah diprediksi terkena dampak krisis global lebih ringan, dengan pertumbuhan ekonomi 6,1 persen menjadi 3,6 persen tahun ini.
Perbedaan mendasar antara Thailand dan Indonesia adalah bahwa elit politik Indonesia secara umum menghargai demokrasi yang ada di Indonesia sedangkan di Thailand tidak. 
Dan sumber utama arogansi anti demokrasi sudah terbukti berasal dari raja Thailand. Jadi bisa diambil kesimpulan, bahwa Indonesia bangkit menjadi model sebuah Negara, yang membuktikan bahwa Islam dan Demokrasi dapat hidup dan tumbuh secara bersama-sama. Keragaman Indonesia disatukan oleh demokrasi bukan karena ketakutan oleh rezim tertentu.sedangkan Thailand berubah menjadi otokrasi yang menyedihkan. Senyuman Thailand sepertinya berubah menjadi sebuah seringai.

* Tulisan Peter Hartcher, Editor Herald.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine