Membaca 2015, Laman-laman Pilihan

| Desember 31, 2015 | Sunting
Tahun ini aku tidak membaca banyak buku. Entahlah, mungkin aku tengah jenuh dengan buku. Banyak buku yang akhirnya hanya aku habiskan beberapa halaman awalnya, sisanya teronggok begitu saja di atas kasur, di atas meja, di kolong kursi, bahkan tersuruk di bawah katil. Tetapi beruntung aku masih bisa menyempatkan diri untuk mengikuti beberapa laman pilihan, menuntaskan hampir semua tulisan yang dikeluarkan sepanjang tahun. Berikut ini beberapa di antara laman-laman itu, sekadar jadi pengingat diri, bahwa laman-laman inilah yang setia menjadi pengisi hati yang sendiri.

Pindai

Akun twitter @radiobuku memperkenalkan Pindai padaku sebagai sumber bacaan bergizi sekitar satu tahun lalu. Tersirat dari namanya, Pindai menampilkan tulisan-tulisan panjang dan mendalam tentang berbagai isu penting yang seringkali malah tidak disentuh oleh media arus-utama. Awal Oktober lalu semisal, ketika media-media seperti Kompas dan Tempo sibuk menurunkan berbagai berita tentang pelarangan beberapa acara peringatan enam lima, Pindai mengulik lebih jauh: betapa enam lima tidak hanya sekadar melarang, tetapi malah menghancurkan gerakan-gerakan intelektual.
Pindai, kritis dan mendalam
Pindai seringkali juga (secara halus) melakukan upaya pelurusan ketika media-media arus-utama gagal menangkap gagasan utama satu peristiwa. Beberapa saat setelah seorang pesepeda membuat geger karena menghadang konvoi motor gede yang tidak taat peraturan misalnya, Pindai menurunkan satu laporan panjang tentang sengketa tanah di Bumi Mataram. Kenapa ku bilang pelurusan? Karena yang mendapatkan fokus media hanyalah secetek: ada pesepeda nyegat konvoi, sudah, padahal ada pesan sosial yang lebih luas yang ingin disampaikan oleh mas Joyo, si pesepeda itu.

Hal utama yang lantas membuat Pindai terasa berbeda adalah kesan dan bahasanya yang hangat dan dekat. Dua hal yang kadangkala malah dikesampingkan oleh media-media yang berniat menjadi pilihan alternatif.

Cinema Poetica

Aku membaca Cinema Poetica sejak lama. Sejak SMA, sekitar awal 2011. Tetapi dulu aku membaca situs ini hanya untuk sekadar "merasa keren". Bingung? Gampangnya semacam ini: aku jarang sekali nonton film - jauh dari bioskop, mengunduh film juga belum menjadi pilihan gampang saat itu. Nah, tulisan-tulisan situs ini menjadi semacam pengisi celah pengetahuanku tentang film. Saat itu, aku merasa bahwa tingkat kekerenanku bertambah bukan saja karena aku tahu film-film yang sedang tayang, tapi juga karena ada banyak hal yang lantas aku ketahui bermula dari ulasan-ulasan laman ini. Buku biografi Ahmad Dahlan tulisan Solichin Salam misalnya, aku baca setelah membaca ulasan film Sang Pencerah.
Cinema Poetica
Kekerapanku mengunjungi situs ini bertambah ketika aku sempat tinggal di Jakarta, dari paruh hingga akhir 2011. Tentu saja karena aku sudah mulai bisa pergi ke bioskop, juga menonton film-film gratis di Kineforum. Situs ini menjadi semacam pembanding, aku akan membandingkan apa yang aku tangkap, dengan apa yang dipahami oleh para pengulas situs ini. Aktivitas yang kemudian terus aku lakukan hingga akhir 2013.

Sepanjang tahun lalu aku tidak seberapa sering mengunjunginya. Baru kemudian tahun ini pertautanku dengan situs ini berlanjut. Setahun tak bersinggungan membuat Cinema Poetica terasa begitu berbeda. Ulasan-ulasannya semakin beraneka ragam. Bahasanya pun semakin ringan. Tetap renyah walau terkadang berhias berbaris-baris catatan kaki.

Eka Kurniawan - Journal

Mengintip dunia Eka
Mengikuti laman pribadi Eka Kurniawan ini sama dengan mengintip sekelumit hidup salah satu penulis terbaik Indonesia saat ini. Menyegarkan, walau seringkali juga mencengangkan. Betapa Eka adalah seorang pembaca yang rajin membagikan buku-buku kesukannya. Bagaimana ia juga mempunyai idola yang membuatnya kikuk kala bersua. Dan banyak hal lainnya.

Oh ya, juga bahwa ternyata Eka Kurniawan adalah penggemar pop Korea. Ia menggemari SNSD alias Girls’ Generation sebagaimana ia menyukai Borges atau García Márquez.

Lebih dari itu, menelusuri catatan-catatan pribadi Eka juga memberikan semacam pemahaman kenapa ia bisa menulis sedemikian bagian. Kenapa kisah-kisahnya serupa sihir.

Jagongan

Jagongan dalam bahasa Jawa memiliki beberapa makna, tergantung lokasi penggunaan kata tersebut. Di daerah Jogja-Solo dan sekitarnya misal, orang yang tengah pergi ke pesta disebut lungo (n)jagong. Adapun jagongan bisa diartikan pesta, juga bisa dimaknai sebagai ngobrol, berbincang-bincang. Sementara di wilayah-wilayah  yang menggunakan dialek Banyumasan, njagong berarti duduk. Lain. Benang merahnya terlihat kan tapi? :)
Jagongan.org
Halaman muka Jagongan.org 
Saya tahu situs ini dari cuitan @vindrasu, salah satu pendiri Pamityang2an, radio daring yang selalu ada di hati pendengarnya. Jagongan adalah situs kroyokan yang diisi berkala oleh beberapa orang penulis. Selain itu terkadang juga penulis tamu.

Terlalu banyaknya media dan terlalu banyaknya tempat membuat kami bingung mencari sarana buat berkumpul, duduk bersama dan ngobrol ngalor ngidul. Demikianlah latar belakang situs ini. Dan titik inilah yang menurutku sangat personal. Aku merasa dunia sekarang ini menjadi semakin kaku. Di facebook misalnya, selarik canda saja bisa berubah menjadi debat tanpa ujung. Semakin sedikit tempat dimana kita manusia dapat membicarakan hal-hal serius tanpa harus menunjukkan urat leher. Semakin sempit tempat dimana kita bisa saling memperolok, juga menertawakan diri sendiri.

Dan Jagongan-lah yang bagiku kemudian berusaha mengakomodasi kebutuhan tersebut. Kebutuhan kita manusia untuk jagongan, untuk ngobrol, nglaras ati. Situs ini semacam pengurang rasa rinduku pada rumah. Tidak ada kebutuhan untuk menjadi kemaki dengan menggunakan bahasa Jakartanan - gue, lu, dan seterusnya.

Seringkali membaca tulisan-tulisan di Jagongan juga membuatku seperti tengah ngobrol dengan Mamak. Jagongan tentang sumbangan, tentang sekaten, tentang umbah-umbah, ahh.

Remotivi

Media selalu saja menarik untuk diikuti. Bukan saja dalam hal konten dan materi yang media sajikan. Tetapi juga berbagai 'permasalahan' yang timbul akibat komersialisasi media itu sendiri, dimana seringkali menempatkan publik menjadi korbannya.
Remotivi
Remotivi, sebuah lembaga studi yang dibentuk tahun 2010, menyajikan berbagai isu tersebut dalam bentuk tulisan dan juga media-media lain seperti video dan infografis yang ringan dan mudah untuk dipahami. Lebih lanjut, kajian-kajian renyah juga dilemparkan ke publik sebagai bentuk edukasi akan hak atas media yang sehat.

Laman ini penting untuk diikuti karena media adalah santapan sehari-hari kita. Jangan sampai kita keracunan hanya karena tidak mengetahui seluk beluknya.

Desember

| Desember 01, 2015 | Sunting
Petang pertama bulan Desember dari jendela kamarku
Desember meringkas waktu menjadi sepenggal tunggu. Ingin cepat pulang menuju malam, hujan, kopi, dan punggungmu.
dari Joko Pinurbo

Pameran Mayat – Hassan Blasim

| November 30, 2015 | Sunting
Potongan lukisan Salvador Dali, Le Sommeil

SEBELUM MENARIK PISAU DARI BALIK JASNYA IA BERKATA, "Setelah kamu pelajari semua berkas klien pertamamu ini, kamu harus menyusun rancangan singkat tentang bagaimana ia akan kau bunuh lalu kau pamerkan tubuhnya di pusat kota. Tapi kamu harus ingat: tidak semua yang kau usulkan akan otomatis diterima. Akan ada ahli yang mengkaji usulanmu itu, bisa saja ia menyetujuinya tapi seringkali ia akan menawarkan ide lain yang hampir pasti tidak mungkin kau tolak.. Sistem ini berlaku untuk semua orang apapun jabatan dia dan di semua tahapan kerja — bahkan setelah kau lulus tes dan masa percobaanmu. Di semua fase kau akan mendapatkan gaji penuh. Tentang itu aku tak mau merincikannya sekarang. Semua akan sedikit demi sedikit aku jelaskan. Intinya setelah kau terima semua klienmu, tidak bisa lagi kamu berisik menanyakan ini itu. Apapun pertanyaanmu harus kau tulis. Kau akan punya arsip sendiri yang isinya ya tetek bengek pertanyaanmu, proposalmu, semuanya. Jangan sekali-sekali meneleponku atau mengirimuku surat elektronik selagi itu urusan pekerjaan. Haram. Nanti kamu akan kukasih formulir khusus untuk menampung ketidaktahuanmu. Dan yang terpenting adalah kamu harus benar-benar mencurahkan waktumu untuk memahami klienmu itu. Jangan sampai ada sedikitpun yang terlewat!

"Misalnya saja kamu gagal di tugas pertamamu ini, posisimu masih aman. Belum pernah ada agen yang dipecat hanya gara-gara gagal mengeksekusi klien pertama. Paling mungkin kamu hanya akan dipindah ke departemen lain. Fasilitasmu, gajimu tetap. Oh ya, mengundurkan diri setelah dapat gaji juga haram hukumnya. Sudah hampir pasti ditolak. Ada aturan-aturan ketat tentang itu. Kalaupun pihak pentadbiran setuju, akan ada seabrek tes yang harus kamu lalui. Kami mempunyai data lengkap tentang para mantan agen. Kalau kamu terpikir untuk mengikuti jejak mereka, bisa saja kutunjukkan pengalaman beberapa dari mereka. Tapi rasanya tidak, kamu tidak akan selemah mereka. Yakin saja bahwa di sinilah kehidupanmu akan berubah.

"Ini, hadiah pertamamu. Tidak usah dibuka. Sekadar gaji pertamamu. Penuh. Kamu bisa pakai dulu untuk membeli koleksi dokumenter kehidupan hewan-hewan buas, nanti kami ganti uangnya. Pelajari benar-benar bagaimana mereka meremuk tulang-tulang mangsanya. 

"Ingat juga ini, bahwa kita bukan teroris yang ingin membunuh korban sebanyak-banyaknya untuk membuat orang-orang takut. Juga bukan pembunuh edan yang membunuh demi uang. Kita juga tidak hubungan apapun dengan kelompok-kelompok garis keras ataupun intel pemerintah. Juga tidak dengan kelompok apapun.

"Aku tahu kau sekarang pasti menyimpan banyak pertanyaan dalam kepala. Tenang saja. Sedikit demi sedikit kau pasti akan mengerti. Dunia ini diciptakan bertingkat-tingkat. Dan tidak semua orang berhasil mencapai semua tingkat itu bersama-sama. Beberapa bahkan mungkin tidak pernah menyelesaikannya. Pun di organisasi kau harus ingat bahwa ada posisi lebih tinggi yang menantimu. Menanti ide-ide segarmu. Ide-idemu bengismu.

"Setiap klien yang berhasil kamu habisi adalah semacam karya seni yang menanti sentuhan akhirmu. Dan ingat: kemampuan memamerkan mayat-mayat itu agar bisa dinikmati khalayak adalah kreativitas utama yang kami cari. Hal itu yang sedang kita coba untuk pelajari dan ambil keuntungannya. Jujur saja aku muak dengan agen-agen yang imajinasinya kering. Ada satu misalnya agen yang nama samarannya Pisau Setan — Satan's Knife. Namanya garang tapi dia bodoh. Aku benar-benar berharap ia segera dipecat. Si tolol ini berpikir bahwa memotong-motong tubuh klien lalu menggantungkannya di kabel listrik di kawasan kumuh adalah  puncak imajinasi dan daya cipta manusia. Sudah tolol, angkuh pula. Aku benci caranya yang kuno, walaupun ia menyebutnya neo-klasik. Bayangkan saja, yang agen kelas teri ini lakukan kemudian adalah mencat bagian-bagian tubuh klien dan mengantungnya dengan tali kecil. Jantungnya dicat biru gelap, usus-ususnya hijau, lalu hati dan buah zakarnya dengan warna kuning. Ia melakukan semua itu tanpa sama sekali paham makna kesederhanaan. Norak.

"Kamu terlihat bingung. Tenang saja, tarik napas dalam-dalam, dengarkan irama alam bawah sadarmu. Biar kuterangkan lagi beberapa hal padamu untuk mengenyahkan kesalahpahamanmu, kalau memang ada. Aku lagi ingin buang-buang waktu juga. Tetapi ingat: ini adalah pandangan pribadiku, anggota yang lain bisa saja punya pandangan yang lain.

"Aku suka segala hal yang ringkas, sederhana, tetapi istimewa. Ambil saja contoh si agen Tuli — Agent Deaf. Pembawaanya tenang, tetapi ia memiliki indera yang tajam. Kerjanya yang kusuka adalah seorang perempuan yang tengah menyusui. Pada satu pagi hujan di musim dingin, para pejalan kaki dan sopir-sopir yang kebetulan melintas, berhenti mengerubuti perempuan itu. Ia telanjang, gemuk, dan anaknya yang juga telanjang tengah menyusu tetek kirinya. Si Tuli meletakkan perempuan itu di bawah pohon palem kering di median jalan utama. Tidak terlihat sama sekali bekas luka ataupun peluru di Ibu-anak itu. Si perempuan dan bayinya terlihat seperti masih hidup. Sosok jenius seperti si Tuli inilah yang hampir tidak kita punyai sekarang ini. Kamu seharusnya melihat sendiri sebesar apa tetek perempuan itu dibandingkan dengan bayinya yang kurus kering. Tak ada seorangpun yang bisa menemukan cara mereka dihabisi. Sebagian berpendapat mereka diracun dengan zat misterius yang belum pernah diklasifikasikan. Tetapi si Tuli menuliskan hal yang sama sekali berbeda dalam catatannya. Kamu harus baca sendiri dan rasakan betapa puitis si Tuli ini. Ia saat ini menduduki posisi cukup penting dalam kelompok ini. Walau sebenarnya masih tidak sebanding dengan kreativitasnya yang menakjubkan.

"Negara ini memang sedang kacau. Tetapi karena itulah kita dapatkan kesempatan langka semacam ini. Mungkin saja apa yang kita kerjakan tidak bertahan lama. Kita harus mencari markas baru segera setelah negeri ini kembali aman. Tapi tidak usah khawatir, ada banyak negara yang bisa menjadi target markas baru kita. Haha.

"Dulu, agen-agen baru seperti kamu ini tidak akan mendapatkan paparan informasi seluas ini. Tetapi kondisi telah berubah. Kita tak lagi bergantung pada perintah. Yang kita perlu sekarang adalah kesegaran imajinasi. Dan mau tak mau kita harus lebih demokratis. Bayangkan saja, dulu aku harus membaca banyak buku konyol yang mendikte tentang bagaimana bekerja secara profesional. Banyak kajian-kajian perdamaian yang harus kulahap, walau sebenarnya aku sendiri sudah mual. Banyak anologi naif yang sama sekali tidak berguna. Satu yang masih kuingat adalah pernyataan bodoh ini: bahwa semua bentuk obat, bahkan odol sekalipun, sudah diujicobakan pada tikus dan hewan-hewan lain terlebih dulu sebelum diproduksi massal. Sehingga, menurut tesis itu, perdamaian di muka bumi akan menjadi mustahil tanpa turut mengorbankan kelinci-kelinci percobaan itu. Gila bukan? Teori-teori kuno semacam itu membuatku frustasi. Generasimu sungguhlah beruntung berada dalam masa penuh peluang. Sekadar seorang artis film menjilat es krim saja bisa menghasilkan ratusan foto dan berita. Dan enaknya lagi itu bisa tersebar cepat hingga ke pelosok paling terpencil sekalipun. Bukan saja berita untuk orang-orang yang kenyang, tapi juga untuk mereka yang tengah kelaparan. Paling tidak yang seperti itulah yang kusebut sebagai nikmat menemukan ketidakpentingan dan ketidak jelasan esensi dunia ini. Perlu berapa banyak lagi hal-hal semacam itu sehingga kita bisa memamerkan mayat dengan kreativitas tinggi di pusat kota. 

"Mungkin aku sudah bercerita terlalu banyak hal padamu. Sejujurnya aku mengkhawatirkanmu, karena orang seperti kamu ini kalau bukan jenius ya idiot, dan itu benar-benar membuatku penasaran. Jika kamu ini jenius, tentu itu akan sangat menyenangkan. Aku masih percaya kejeniusan, meski orang-orang selalu meributkan pengalaman dan praktik. Tapi kalau kamu ini ternyata seorang idiot, aku ingin menceritakan satu kisah pendek sebelum aku pergi. Ini kisah tentang seorang idiot juga yang mencoba bermain-main dengan kita. Aku bahkan tidak menyukai namanya, si Kuku, the Nail. Setelah usulan caranya membunuh klien  dan memamerkan tubuhnya di sebuah restoran besar disetujui, kami tentu menunggu hasil kerjanya. Tetapi orang ini lambat sekali. Aku menemuinya beberapa kali dan bertanya apa sebab keterlambatannya. Dia selalu bilang bahwa ia tak mau mengulangi cara orang-orang terdahulu, ia tengah memikirkan bagaimana membuat inovasi. Tetapi nyatanya tidak begitu. Si Kuku ini adalah pecundang yang telah terinfeksi sentimentil kemanusiaan yang banal dan, sebagaimana orang-orang lain yang terinfeksi, ia mulai mempertanyakan keuntungan membunuh orang lain dan apakah ada semacam Pencipta yang melihat seluruh perbuatan kita. Dan itulah awal dari nerakanya sendiri. Karena,menurut klasifikasi yang dibuat oleh madzab-madzab di dunia yang bodoh ini, setiap anak yang terlahir di dunia hanyalah akumulasi kemungkinan: apakah akan jadi baik atau buruk. Sama sekali berbeda dengan pandangan kami tentu saja: bahwa setiap anak yang terlahir di dunia hanyalah tambahan beban pada sebuah kapal yang sudah hampir karam. Tapi sudahlah, aku lanjutkan saja cerita tentang si Kuku. Ia mempunyai saudara yang bekerja sebagai satpam rumah sakit di pusat kota dan si Kuku terpikir untuk menyelinap masuk ke kamar mayat rumah sakit lalu mengambil mayat dari sana — ketimbang harus menyiapkan mayatnya sendiri, membunuh orang maksudku. Tentu itu mudah saja, ia cukup menyogok saudaranya itu dengan separuh gajinya. Kamar mayat rumah sakit penuh dengan mayat korban aksi-aksi teror (bodoh), mayat-mayat yang koyak akibat bom mobil, dan tentu saja termasuk mayat-mayat tanpa kepala korban kekerasan sektarian, mayat orang-orang tenggelam yang sudah mulai bengkak, dan mayat-mayat lain. Si Kuku menyusup diam-diam ke kamar mayat malam itu dan mulai mencari mayat yang tepat untuk dipamerkan ke publik. Ia mencari mayat anak-anak, karena pada proposalnya ia mengusulkan ide membunuh bocah umur lima tahun.

"Di dalam kamar mayat itu ada banyak potongan tubuh anak-anak sekolah yang menjadi korban bom mobil atau yang terbakar di jalanan, atau malah yang terkena bom yang dijatuhkan ke permukiman. Akhirnya si Kuku memilih mayat seorang bocah yang dipenggal kepalanya bersama anggota keluarganya yang lain karena masalah sektarian. Tubuh si bocah persih dan potongan pada lehernya juga serapi sobekan kertas. Si Kuku berpikir untuk memamerkan tubuhnya di restoran dan meletakkan mata anggota keluarga si bocah di atas meja,disajikan dalam semangkok darah, seperti sup. Mungkin itu adalah ide yang cemerlang, tetapi itu adalah hasil kebohongan dan khianat. Kalau saja ia memenggal sendiri kepala si anak, itu pasti akan menjadi karya seni yang otentik. Tetapi mencurinya dari kamar mayat  dan lantas memula akting yang hina itu tentu saja adalah aib dan juga sikap pengecut. Si Kuku tidak tahu bahwa dunia hari ini terhubung bukan hanya dengan terowongan dan koridor.

"Adalah si penjaga kamar mayatnya sendiri yang menangkap basah si Kuku sebelum ia berhasil membohongi orang banyak. Umurnya kira-kira baru awal enam puluh tahunan, seorang lelaki yang gagah. Pekerjaannya di kamar mayat bertambah banyak setelah bertambahnya jumlah tubuh yang tercerai berai (akibat bom) di negara ini. Orang-orang memintanya untuk mereka ulang tubuh sanak saudaranya. Mereka membayarnya mahal untuk mengembalikan tubuh-tubuh yang koyak bentuk yang selayaknya. Dan si penjaga kamar mayat ini memanglah seorang seniman yang mumpuni. Ia bekerja dengan sabar dan cinta. Malam itu ia mengarahkan si Kuku ke ruangan samping kamar mayat dan mengunci ruangan itu. Ia menyutikkan sebuah obat yang membuat si Kuku lunglai tapi tetap dalam keadaan sadar. Ia membaringkan si Kuku ke atas meja kamar mayat, mengikat kaki dan tangannya, lalu menyumpal mulutnya. Ia menyenandungkan sebuah lagu kanak-kanak yang cantik dengan suara mirip perempuannya yang aneh seraya menyiapkan meja kerjanya. Lagu tersebut berkisah tentang seorang anak yang memancing katak di sebuah genangan darah, dan sesekali ia akan membelai rambut si Kuku dengan lembut. Sambil membisiki telinganya, "Oh, sayangku, oh, kawanku, ada yang lebih aneh daripada kematian — yaitu melihat dunia yang tengah melihatmu, tetapi tanpa isyarat, ataupun pengertian atau bahkan tujuan sekalipun, selaiknya kamu dan dunia disatukan dalam kebutaan, seperti sunyi dan kesendirian. Dan ada yang sedikit lebih aneh dari kematian: laki-laki dan perempuan yang bergumul di ranjang, lalu kamu datang, yah kamu yang selalu salah tulis cerita hidupmu sendiri.'

"Si petugas kamar mayat menyelesaikan kerjanya pagi-pagi buta.

"Di depan pintu gerbang Kementerian Keadilan ada sebuah platform, seperti platform tempat berdirinya patung kota, tetapi terbuat dari daging dan tulang. Di atas platform tersebut berdiri pilar perunggu dan di sana tergantung kulit si Kuku, lengkap dan dikuliti dengan keahlian tinggi tentu, berkibar-kibar seperti bendera kemenangan. Di bagian depan platform kamu dapat melihat dengan jelas mata kanan si Kuku, dipasangkan pada lumatan dagingnya sendiri. Matanya terlihat kosong, kurang lebih seperti tatapan matamu sekarang ini. Tahukah kamu siapa sebenarnya si petugas kamar mayat itu? Dia adalah anggota departemen terpenting organisasi ini. Ia bertanggung jawab atas Departemen Kebenaran dan Kreativitas."

Lalu ia menusukkan pisaunya ke perutku sambil berkata, "Kamu gemetaran."
Diterjemahkah dari cerpen The Corpse Exhibition, karya penulis Irak Hassan Blasim. Bagian dari buku berjudul The Corpse Exhibition: And Other Stories of Iraq yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Jonathan Wright. Cerita Hassan yang lain, Sang Komponis, bisa dibaca di sini.

Misa Arwah dan Katup-katup Kecemasan

| November 23, 2015 | Sunting
Mungkin Akan Ada, bagian dari Misa Arwah & Puisi-puisi Lainnya. Terbitan Indie Book Corner, 2015.
"Apa yang terlintas dalam pikiranmu?", tanyaku padanya. Kami berdua sama-sama mendongak, tercenung pada kain putih-oranye yang menaungi kami. Ia meliuk-liuk ditiup angin. Naik turunnya begitu indah, mengalihkan nikmatnya semangkuk susu kedelai dingin di hadapan kami.

"Apa yang ada dalam pikiranmu?", kembali ku ulang tanyaku, beberapa menit setelah ia tak membalas. Perlahan ia menurunkan kepalanya lalu menatapku sambil tersenyum. "Apa?", tanyaku untuk ketiga kalinya.

"A mind is like a parachute. It doesn't work if it is not open. Frank Zappa!", jawabnya, sambil kembali mendongakkan kepala.

"Minda kita selaiknya payung terjun, berfungsi bila ianya terbuka!", gumamku lirih. Angin rasanya semakin kencang. Kain itu terguncang-guncang seolah akan jatuh. Suaranya seperti suara mesin pesawat terbang yang akan berlepas.

"Apa yang kamu pikirkan. Jangan medhit!", ia mencolek lututku.

"Aku teringat Misa Arwah, halaman empat-puluh dua. Dea Anugrah menulis, 'Ada, namun tidak lagi bisa menggerakkan apa-apa.' di ujung puisinya!"

"Seperti apa lengkapnya? Aku sudi mendengarkan."

"Mungkin akan ada, mungkin akan tidak ada, kerdip cahaya yang lewat pada detik terakhir sebelum ia yang tak bisa dielak menghamburkan pekat miasma ke arah kita..."

"Miasma itu apa?"

"Entahlah. Mungkin semacam gas atau cairan!"

"Ku ulang dari awal ya. Mungkin akan ada, mungkin akan tidak ada, kerdip cahaya yang lewat pada detik terakhir sebelum ia yang tak bisa dielak menghamburkan pekat miasma ke arah kita. Dalam selubung tulah itu, kudengar desahmu untuk terakhir kalinya: Manusia mati dan tak berbahagia… Tapi kepada apa menuntut jawab? Tinggal semesta lekas menguap bak niat baik orang dewasa. Sedang kehendak dalam diri tak lagi bisa— Ada, namun tidak lagi bisa menggerakkan apa-apa."

"Kata Oxford, miasma adalah semacam udara busuk, beracun! Dan entah kenapa kata ini terasa begitu mengintimidasi bagiku."
***
Kami memutuskan pergi ke Ipoh untuk sama-sama menertawakan diri sendiri. Pekerjaan menumpuk hingga mencekik leher. Menyisakan waktu yang begitu terbatas untuk berbagai hal, termasuk diri kita sendiri. Terakhir kali kami keluar bersama adalah beberapa bulan lalu, ketika kami berturut-turut makan sushi lalu dilanjutkan ke pameran buku keesokan paginya. Semenjak itu tidak pernah sekadar sedetikpun kami menyempatkan waktu untuk bersua. Ia, selain dengan seabrek kerjanya, juga sering pergi ke luar kota untuk berbagai agenda. Sementara aku, aktivitas kuliah sudah cukup membuatku seperti dikurung penjara.

Dan ke Ipohlah kemudian kami pergi. Berdua saja. Dari Kuala Lumpur kami menumpang kereta listrik yang berjalan dengan senyap ke utara. Hujan turun cukup deras begitu kami sampai di Ipoh petang itu. Rinyai gerimis turun hingga tengah malam. Praktis kamipun tidak kemana-mana. Duduk berjam-jam saja di meja makan, menghabiskan bergelas-gelas teh panas.

"Aku sedang membaca buku kumpulan puisi. Tipis saja. Tapi itu sudah cukup menguras perasaan. Begitu sampulnya terbuka, sekeliling seolah langsung berubah menjadi sepia. Virus-virus kecemasan berloncatan dari lembar-lembar kertasnya yang ringan."

"Maksudmu rasa cemas yang sama seperti saat kamu berkali-kali tidak bisa menghubungi Ibumu?" 

"Bukan. Ini rasa cemas yang serupa ketika kamu mulai bertanya-tanya apakah apa yang ada dalam kepalamu itu benar. Semacam kebimbangan yang muncul ketika apa yang kau lihat dan yang kau dengar sama sekali lain. Juga mungkin sama dengan ketika kau belum mempersiapkan apa-apa sementara kamu harus segera memulai satu perjalanan."

"Buku semacam itu tidak seharusnya kamu baca. Hidup sudah cukup membuatmu cemas."

"Tapi buku ini beda. Ia memang menghembuskan cemas. Tapi ia juga membuka ruang-ruang yang kemungkinan bisa menjadi penawar. Oh ya, lagi pun ini bukan sekadar buku puisi yang bisa dibaca dengan cepat. Aku harus mengulang beberapa bagian hanya demi memberikan kesempatan kepada otakku untuk berpikir."

"Contoh?"

"Seandainya kutulis sebuah nama pada kulit trembesi atau sebaris frasa di atas bangku taman ini akankah kita abadi?"

"Rasanya aku harus membacanya juga. Apa judulnya?"

"Misa Arwah & Puisi-Puisi Lainnya."

"Siapa penulisnya?"

"Dea Anugrah."

"Oh, pantas. Perempuan memang selalu begitu. Kami diciptakan untuk dapat mengaduk-aduk perasaan semudah mengaduk-aduk sup."

"Dia laki-laki. Bukan perempuan."
***

Direkam dengan telepon genggam, dalam perjalanan kereta listrik dari Ipoh ke KL.

Esok Belum Tiba

| Oktober 20, 2015 | Sunting
Terjaga, ku disentuh lembutnya suria, 
dan siang pun berubah, 
pelangi hidup disambut senja. 
Pabila, kau cuba buktikan pada semua, 
kau bersungguh membina, 
apa yang kan runtuh jua. 
Sedarlah kita, malam mungkin ada. 
Sedarlah, esok belum tiba. 
Kejutkan aku bila kau bersedia. 
Oh bintang setia, menari di angkasa, 
khabarkanlah pada mereka, 
sesungguhnya nikmat didunia, 
itu hanya sementara. 
Berdoalah kita, 
moga terus bernyawa, 
khabarkanlah pada meraka, 
sesungguhnya nikmat di syurga, 
itu kekal selamanya.

Perempuan di Pagi Buta

| Oktober 03, 2015 | Sunting

Jam enam lewat sepuluh. Aku kembali terbangun. Suara pintu kamar kubuka pelan. Berderit. Ku beranjak ke kamar mandi. Suara air mengucur terdengar sayup-sayup. Tiada sesiapa. Seseorang lupa menutup katup keran pasti semalam. Cur. Urin mengucur demikian saja tak terbendung.

Aku kembali ke kamar. Kumatikan kipas angin. Dingin. Terduduk aku di pinggiran ranjang. Lapar. Jendela tiba-tiba saja terbuka. Angin semilir masuk. Tirai merah hati tersibak. Pendar lampu jalanan terpancar. Angin terasa semakin keras. Bau sesuatu yang begitu busuk menusuk hidung sejurus kemudian.

Saat itulah suara gonggongan anjing terdengar. Pendek-pendek saja. Tapi ajeg. Ku condongkan tubuhku ke arah jendela, sambil meraih ujung tirai. Bermaksud menutupnya. Sosok perempuan bergaun putih yang dulu itu sekonyong-konyong melintas. Perempuan yang pernah kuceritakan berjalan menembus kaca jendela. Yah, perempuan yang sama. Aku yakin pasti.

Mereka Ada Dimana? Pulangkan Mereka!

| Oktober 01, 2015 | Sunting
Pulangkan Mereka!
Bulan September dan Oktober seperti menjadi bulan ulang tahun berbagai kasus pelanggaran HAM berat Orde Baru. Bukan karena semua kasus tersebut terjadi pada bulan-bulan tersebut. Tetapi lebih karena bulan kesembilan dan kesepuluh ini adalah gerbang awal rezim tirani yang kemudian secara aktif menginisiasi berbagai macam kekerasan lainnya. Menyitir Frans Hüsken dan Huub de Jonge, dalam pendahuluan Orde Zonder Order: Kekerasan dan Demokrasi di Indonesia 1965 - 1998: Orde Baru Indonesia terlahir dari suatu kudeta dan berikutnya pembunuhan massal yang merenggut nyawa setengah hinggah satu juta manusia. Kekerasan tidak hanya menyertai kepedihan-kepedihan saat kelahirannya, tetapi Orde Baru juga terus hidup dalam praktik kekerasan. 

Tetapi kenapa lantas kekerasan diulang tahuni? Karena pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak pernah benar-benar diselesaikan! Banyak dari korban yang tidak diketahui nasibnya hingga sekarang. Meninggalkan sejuta tanya di benak orang-orang yang ditinggalkan. 

Lantas, pertanyaannya sampai kapan ulang tahun ini akan dirayakan? Sampai kapan kasus-kasus kekerasan tidak dilihat sebagai masalah yang harus diselesaikan? Sampai kapan ketidakpastian menggelayuti hidup orang-orang yang terpapar kekerasan masa silam? Sampai kapan kebenaran didiamkan?

Tidak adanya jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang secara umum melatar belakangi terbitnya buku Pulangkan Mereka! pada 2012. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) merangkum kesaksian korban yang dilepas dan keluarga korban yang masih hilang hingga sekarang. Didukung dengan berbagai data sekunder, narasi kembali ditulis, potongan-potongan memori kembali dilukis.

Ada dua belas esai panjang dalam buku ini, dikelompokan ke dalam 3 pokok bahasan utama: penghilangan paksa pada 1965-1967, penghilangan paksa di daerah konflik, dan penghilangan paksa terhadap kelompok oposisi. Esai-esai tersebut mencakup berbagai macam kasus dari Aceh hingga Papua.

Semua bermuara pada satu tanya: mereka ada dimana?

Pramoedya dan Masa Revolusi

| September 30, 2015 | Sunting
Subuh, karya Pramoedya
Hari-hari ini nama Pramoedya kembali banyak diperbincangkan. Akhir September memang selalu menjadi semacam momen yang pas untuk membicarakannya, paling tidak sekali dalam setahun. Sumbangsihnya pada susastra Indonesia dibahas lagi, kuranglebih seperti yang saya lakukan ini. Sayangnya, pembahasan seringkali bertumpu pada masa-masa pasca 1965. Masa-masa dimana Pram dipenjara tanpa pernah diadili dan dikirim ke Pulau Buru sebagai orang buangan. Masa-masa dimana mahakaryanya, Tetralogi Buru, lahir.

Tak semua orang senang. Sudah tentu. Di antaranya muncul suara-suara sumbang semacam: keberpihakan Pram pada kaum lemah itu karena ketidakadilan yang dialaminya - belum tentu keberpihakan itu ada kalau Pram sendiri bahagia-bahagia saja sampai akhir hidupnya. Konyol. Yah, suara-suara konyol bagi saya. Kenapa?

Pram bukanlah penulis yang lahir karena tragedi 1965. Ia sudah ada jauh sebelum itu. Dan ini yang sering luput dari perhatian: karya-karya Pram sebelum 1965. Terutama tulisan-tulisannya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Cara gampang untuk membuktikan bahwa Pram memang penulis yang anti ketidakadilan dan penindasan dari sononya.

Surabaya Awal Abad Ke-20, Seperti Dikisahkan oleh Hamka

| September 29, 2015 | Sunting
Tuan Direktur, terbitan PTS Publishing House - Juli 2015
Tuan Direktur, terbitan PTS Publishing House - Juli 2015
Sebagaimana yang saya tulis pada awal bulan ini, lima buku Hamka diterbitkan ulang oleh penerbit Malaysia PTS beberapa bulan bulan silam. Salah satu yang saya baca adalah Tuan Direktur, novel pendek yang pertama kali terbit sekitar 76 tahun lalu. Alur ceritanya sederhana saja, khas novel-novel zaman itu. Mengisahkan kehidupan Tuan Direktur, sebagaimana judulnya. Si Tuan ini nama aslinya Jazuli, pemuda Banjar yang berusaha untuk mengubah nasibnya dengan berdagang di Surabaya. Nasib baik, toko emas intan yang dibinanya berkembang pesat. Kehidupannya berubah. Sayang, perangainya pun ikut berganti.

Hamka berusaha menampilkan cerita dengan serinci mungkin meski dalam ruang yang cukup terbatas. Oh ya, sebelum dibukukan, Tuan Direktur adalah cerita bersambung di mingguan Pedoman Masyarakat terbitan Medan.

Salah satu hal yang digambarkan Hamka dengan (agak) panjang adalah latar novel ini: Surabaya. Paparan Hamka melemparkan saya ke Surabaya di awal abad ke-20 — saya sebenarnya ingin menulis 1930an mengingat waktu penerbitan novel ini, tetapi kunjungan pertama Hamka ke Surabaya sendiri terjadi antara tahun 1924-1925 sehingga ada kemungkinan pemaparan tersebut berdasarkan kunjungan tersebut.

Bukan sekadar memantik imaji saya tentang tatanan fisik kota Surabaya masa itu, tetapi juga keadaan sosial setempat. Saya tulis ulang agar saudara-saudara bisa menyertai pengembaraan saya. Kembara lintas masa menuju Surabaya awal abad ke-20. Bersiaplah.
***
Kota yang kaya dalam sebutan, serta menjadi pusat pula dari perniagaan besar dan kecil di Indonesia ini ialah Surabaya. Kaya dalam sebutan sebab tanjungnya orang namakan Tanjung Perak, kalinya Kali Mas dan gunungnya Gunung Ringgit. Surabaya kota perniagaan antarabangsa. Kapal-kapal dagang yang akan ke Hong Kong, sampai ke Kobe sana, demikian juga ke Amerika, senantiasa melalui Surabaya.

Maka pedagang-pedagang dari Maluku Timur Besar, sampai ke Tanjung Banda Neira, berkumpullah ke kota Surabaya. Bangsa Timur asing pun bukan sedikit jumlahnya di kota itu. Bangsa Tionghoa memegang pasaran seluruhnya. Bangsa Arab menjadi tuan tanah yang mempunyai rumah-rumah sewa berpintu, mempunyai vila yang indah-indah di kota Malang, Lawang dan Batu. Tiap-tiap petang hari Sabtu, berduyun-duyunlah auto yang mahal-mahal kepunyaan pedagang-pedagang segala bangsa untuk menghabiskan hari Minggunya di pesanggarahan yang indah-indah di kota Malang, Lawang dan Batu itu. Street-streetnya ramai dan ribut, tram bersilang siur, kenderaan memekakkan telinga. Kali Mas mengalir dengan kotornya, laksana Kali Tjiliwung di Betawi. Kali Tjiliwung di kota Betawi Lama dan Kali Mas di Surabaya, meskipun bagi sesetengah orang disebut suatu cacat yang tidak dapat dihindarkan dari kedua-dua kota itu, tetapi bagi sesetengah ahli fikir, kedua-duanya terpandang ciptaan alam yang tidak boleh dipandang murah harganya.

Pada kali-kali itulah nyata terbentang bahawa manusia tidak berdaya untuk menyembunyikan aib dan cela masyarakat. Di pinggir kali itu lalu dengan cepatnya auto yang mahal, sedang beberapa orang yang tidak tentu rumah tangganya, mandi di bawah dengan tidak memakai kain sehelai kain benang jua. Beberapa perempuan melintas di atas jambatan dengan pakainnya yang indah, di bawah beberapa perempuan lagi sedang menyudahkan kain cucian yang dicucinya dengan diupah. Ada pula manusia, yang lahir ke dunia dalam satu perahu kecil penjual atap di dalam kali itu. Setelah agak besar menjadi penolong ayahnya mengayuhkan perahu atapnya dan kelak setelah besar, dari sana pula mata pencahariannya, dan setelah tuanya di sana dia sakit. Setelah matinya di sana pula dia dimandikan dan dikapankan. Baharulah ditinggalkannya perahunya itu setelah teman-temannya menghantarkan ke kuburan.

Sebab itu bertambah ramai suatu kota, akan bertambah banyak terlintas hasil perjuangan masyarakat yang berjalan sebagai mesin. Mana yang tahan di bawahnya lalu dan mana yang lemah terlempar ke tepi.
***
Demikianlah Hamka menggambarkan kota Surabaya dalam bebuka novel Tuan Direktur. Sekali lagi, singkat saja, tetapi cukup memberikan gambaran umum tentang kondisi kota di masa itu. Saya pun jadi tergerak untuk kembali membuka kajian-kajian sejarah.

Meski terletak di tepian laut, Surabaya ternyata tidak memiliki pelabuhan modern hingga awal 1900-an. Dermaga di tepian Kali Mas memang menjadi pusat niaga yang ramai selama berbilang abad, berkah dari mulut sungai yang lebar dan alirannya yang tenang. Tetapi ini menjadi masalah bagi kapal-kapal besar: mereka tidak bisa menambatkan sauh karena airnya terlalu ceték. Sehingga yang terjadi adalah bongkar muat barang dilakukan di tengah lautan, kemudian dioper ke perahu-perahu kecil untuk dibawa ke dermaga. Proses semacam itu menjadi kurang efektif seiring dengan meningkatnya volume perputaran barang di akhir abad 19.

Dari sanalah muncul ide pembangunan pelabuhan di penghujung tahun 1890-an. Meski demikian pembangunan pelabuhan baru benar-benar terwujud pada tahun 1913, ada juga yang bilang 1916. Di bangun di sisi barat muara Kali Mas, pelabuhan ini dinamai Tanjung Pérak. Pertama kali beroperasi pada tahun 1920. Pada sekitar masa inilah Hamka mengunjungi Surabaya untuk pertama kalinya, dalam sebuah perjalanan satu tahun ke beberapa kota di Jawa.

Dimulainya pengoperasian Tanjung Pérak menjadi semacam penanda mulai meredupnya pamor Kali Mas sebagai pusat dagang. Perahu-perahu masih lalu lalang untuk pengangkutan. Tetapi kegiatan ekonomi mulai berpindah ke Pérak. Yang lantas membawa pelabuhan ini ke puncak jayanya pada dekade 1930-an.
Surabaya di masa lalu. Tanjung Perak (1920-an), Kali Mas (1935), dan trem yang membelah kota (1936) | © KITLV
Dengan posisinya sebagai simpul niaga, Surabaya menjadi kota berbagai bangsa. Di antaranya yang disebutkan oleh Hamka adalah Tionghoa dan Arab. Dahulu, kawasan tinggal mereka berada di sebelah timur Kali Mas, ada kampungnya sendiri-sendiri. Orang-orang pribumi berdiam di sekitar permukiman mereka juga. Sementara orang-orang kulit putih bermukim di sebelah barat sungai.

Orang-orang dari wilayah sekitar pun berdatangan mencari penghidupan. Petani-petani di daerah pinggiran misalnya, tidak lagi dapat bercocok tanam karena lahan-lahan partikelir dijadikan kawasan industri. Ke Surabayalah mereka pergi. Menggantungkan nasib dengan menjadi pekerja rumah tangga. Juga di sektor jasa lainnya, mulai dari jasa pengamanan hingga buruh pelabuhan. Pada titik inilah pengoperasian Tanjung Pérak dan benang kusut kemiskinan bertemu. Dipermudah dengan dikembangkannya moda transportasi massal, salah satunya trem. Buruh-buruh yang tinggal di pinggiran menjadi lebih mudah untuk mencapai tempat kerjanya.

Sementara, kelas-kelas yang lebih sengsara harus berdesak-desakan hidup di gang-gang. Atau yang lebih sengsara lagi ya seperti yang digambarkan Hamka: bertahan di pinggir-pinggir kali, atau di atas perahu-perahu rombeng.

Apakabar Surabaya hari ini?

Indonesian Day PPI-IIUM, Mengingat Ulang Arti Merdeka

| September 19, 2015 | Sunting
"Indonesia sudah merdeka sejak 70 tahun lalu. Tetapi setelah hengkangnya bangsa-bangsa yang menjajah kita, penjajahan terus saja eksis dalam bentuk-bentuk baru. Penjajahan dalam konteks inilah yang akan menjadi tantangan kita ke depan.", ungkap Prof. Erry Yulian Triblas Adesta dalam upacara bendera yang membuka rangkaian cara Indonesian Day PPI-IIUM pagi tadi (19/9). Melalui kegiatan ini diharapkan hubungan masyarakat Indonesia di IIUM semakin rapat. Dan mampu mensinergikan karya bersama bersama untuk Indonesia. Turut hadir pagi tadi adalah para mahasiswa, dosen, alumni, hingga pekerja-pekerja Indonesia di IIUM.
Prof. Erry Yulian Triblas Adesta menyampaikan amanat upacara
Dalam amanat upacaranya Prof. Erry juga menegaskan pentingnya untuk mengingat ulang arti merdeka. Saat ini berbagai masalah mencengkeram negara kita, mulai dari korupsi, rendahnya mutu pendidikan, hingga kemiskinan. Padahal, bila kita mengingat ulang arti kemerdekaan Indonesia, ada janji untuk mensejahterakan rakyat, mencerdaskan bangsa, dan juga perdamaian serta keadilan sosial. Sudah benar merdekakah kita?

Retoris Prof. Erry tersebut lantas seakan diamini oleh Zamila, seorang landscaper asal Bangkalan, Madura. "Merdeka? Ya senang, ya sedih Dik. Senang karena kita hidup di (alam) merdeka. Bisa bekerja. Bisa nyekolahin anak. Tetapi Akak juga sedih kalau ingat saudara di kampung. Nak buat kerja susah. Anak-anak berhenti sekolah. Sampai airpun kadang  kena beli!"

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara Indonesia? Juga sebagai diaspora Indonesia? Pertanyaan ini yang akan dicoba untuk dijawab malam ini oleh Dr. Ali Sophian pada sesi kedua Indonesian Day PPI-IIUM. Dimulai pukul 19:30 di Experimental Hall IIUM.

Jangan lupa datang :)

The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore

| September 17, 2015 | Sunting
Entah dari mana saya mengetahui film ini. Tetiba saja unduhannya sudah ada dalam komputer jinjing saya. Memenangkan Oscar untuk kategori animasi pendek, film ini berkisah tentang petualangan Morris Lessmore disebuah kota mati pasca dihantam badai. Morris seolah menghidupkan kembali kota mati ini setelah secara tidak sengaja menjadi tuan sebuah perpustakaan yang berisi buku-buku magi yang bisa terbang.


Menonton ulang film pendek ini saya teringat pada tulisan mas Bre Redana dalam kolomnya di Kompas Minggu, 3 Mei 2015.  Judulnya Kenangan Membaca, Kenangan Berpikir. Berikut saya tulis ulang renungan yang sangat dalam ini. 

Beberapa kali menerima undangan menjadi pembicara dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk menggalakkan minat membaca, termasuk kalau tak salah minggu depan di Bandung, saya justru berfirasat: jangan-jangan membaca (buku) akan segera menjadi masa lalu kita? Mengingat adanya kaitan penemuan huruf, bahasa, tulisan, buku, dan memori dalam proses evolusi manusia selama berabad-abad, dengan berlalunya kebudayaan membaca, adakah akan berlalu pula kebiasaan berpikir? Membaca dan berpikir, menjadi tinggal kenangan?

Tanda-tandanya sudah tampak kini. Dengan apa yang dikenal luas sekarang dengan sebutan Twitter, orang tak perlu berpikir keras sebelum mengutarakan sesuatu. Cukup secara spontan dan segera: nyeletuk. Yang berkuasa adalah ucapan yang paling banyak, bukan truth, kasunyatan, kesejatian, yang memang sering tak terucap. Tak ada suaranya, seperti angin. Kita hanya melihat kehadirannya lewat daun yang bergerak. Mengutip sajak Darmanto Jatman di masa lalu: ”...seperti lidah, di mulut tak terasa/seperti jantung, di dada tak teraba.”

Dunia kini melulu dikuasai keberisikan, bukan keheningan berpikir. Praktisnya: ngomong dulu berpikir kemudian. Tanda tangan dulu, berpikir belakangan. Kerja, kerja, kerja. Lha, berpikirnya mana....

Jadi ingat, kata-kata para editor koran di masa lalu. Kepada reporter, mereka mengingatkan: ketika kalian pulang ke kantor, tulisan harus sudah jadi.

Maksudnya bukan kami disuruh menyerahkan kertas berisi tulisan yang telah beres begitu sampai kantor, di zaman mesin ketik itu. Melainkan, proses eksplorasi dan pencarian berita adalah proses gagasan. Saat naik bus kota atau mengendarai Vespa pulang ke kantor usai tugas lapangan, hasil wawancara, pengamatan, dan lain-lain telah kami olah dan sintesiskan dalam pikiran kami. Struktur tulisan telah terbentuk di otak. Dengan kata lain, sebelum mengetik, tulisan telah selesai. Kami cepat dan akurat, dalam zaman teknologi yang lelet, lambat, tidak sebergegas sekarang.

Itu pula ironinya. Di zaman dengan teknologi informasi yang memungkinkan orang melakukan segala sesuatu serba cepat—bercinta pun dengan tergopoh-gopoh—berita justru tidak selesai. Bukan saja tidak selesai sebelum ditulis, bahkan belum selesai setelah terpublikasikan. Persis berbagai keputusan yang memiliki implikasi serius terhadap kehidupan publik. Banyak keputusan minus pemikiran. Dalam dunia politik, tak ada lagi pergulatan ideologi. Yang ada perebutan kekuasaan. Kajian politik menyangkut ideologi dan pemikiran digantikan talk show berisi gosip politik. Untung dulu tak jadi susah-susah kuliah ilmu politik.

Terus terang, dengan surutnya kebiasaan membaca buku, saya melulu melihat hal-hal yang bakal hilang, belum menemukan apa yang bakal menjadi gantinya. Proses membaca buku berbeda dengan proses membaca di layar laptop atau berbagai perangkat digital canggih sekarang. Membaca melalui layar komputer, istilahnya hiperteks, berbeda prosesnya di otak dibanding dengan membaca buku, dalam hal ini disebut pembacaan secara linear.

Pada pembacaan hiperteks, orang meloncat ke sana-kemari, tidak fokus ke satu hal. Belum lagi kalau kita bicara cara kerja saraf-saraf sensorik tubuh. Dalam pembacaan dengan teknologi digital, sistem sensor dan kognitif kita berubah karena stimulus yang bersifat repetitif, intensif, interaktif, dan adiktif (membuat kecanduan). Lihat sendiri: kalau pasangan Anda kecanduan peranti digital, susah dia diajak ngomong. Sadarkan dia, bukan buru-buru cari ganti.

Menggalakkan kebiasaan membaca (buku) kini menemukan signifikansi baru. Dia bukan hanya upaya memberantas iliterasi, tetapi juga menyelamatkan otak. Kenangan Desember lumayan, jadi ingat diri penyanyi Arie Kusmiran. Kalau membaca dan berpikir tinggal kenangan, kita kehilangan diri....

Hari-hari Tanpa Matahari

| September 15, 2015 | Sunting
Jerebu menyelimuti IIUM
Jerebu menyelimuti kampus IIUM
Minggu-minggu belakangan ini cahaya matahari adalah barang mahal di Kuala Lumpur. Selasa (8/9) lalu cahaya matahari bahkan hampir tak terlihat sepanjang hari. Kabut asap begitu tebal, menutupi pandang. Dan kian hari kondisi rasanya kian memburuk. Hari ini sekolah-sekolah di 5 wilayah: Selangor, Kuala Lumpur, Putrajaya, Negeri Sembilan, dan Malaka diliburkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Di kampus saya, IIUM, otoritas kampus juga mengumumkan peniadaan kelas untuk hari ini dan esok, 15-16 September.

Hari ini keadaan sedikit lebih terang sebenarnya. Tetapi mata saya terasa lebih pedih dari hari-hari sebelumnya. Sehingga sepanjang pagi tadi saya harus lebih banyak menyipitkan mata.

Kabut asap seolah sudah menjadi masalah tahunan, paling tidak, di tiga negara bertetangga: Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Sebab utamanya adalah praktik pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. Pembakaran hutan biasanya dilakukan untuk membuka lahan perkebunan. Asap menjadi tak terkendali karena pada musim kering seperti sekarang ini, tanah gambut yang memang mendominasi kedua pulau besar tersebut menjadi mudah terbakar. Angin lantas menyebarkan kabut asap tersebut, melintasi batas negara dan wilayah.

Singapura, negara tanpa hutan yang setiap tahunnya terkena imbas, memulai inisiatif pencegahan dan penindakan bencana kabut asap lintas negara dua tahun lalu. Sistem yang diusulkan Singapura akan menggunakan data satelit dan peta konsesi hutan untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan. Data-data ini juga akan digunakan dalam pengusutan yang menuntut mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.

Sayangnya Indonesia dan Malaysia, dua negara penghasil minyak sawit terbesar dunia, masih enggan memberi akses kepada peta konsesi hutan karena ini berkaitan dengan bisnis besar.

Hujan Mengingatkanku Padamu

| September 07, 2015 | Sunting
Hujan
Hujan dari jendela kamarku
Hujan turun begitu deras petang tadi. Bulir-bulir airnya yang mengenai kaca jendela terdengar seperti suara batu kerikil yang dilemparkan oleh anak-anak tetangga suatu ketika dulu. Anak-anak yang selalu membuatmu terlihat begitu jengkel, serta merta bangkit dari duduk, bergegas ke arah jendela.

Mukamu tak terlukiskan lagi seramnya. Tetapi, begitu kau buka tirai dan melihat anak-anak itu memasang muka memelas, jangankan secuil kata kasar, mukamu pun seketika berseri. Lalu membiarkan mereka pergi.

Kau bilang, suara air hujan yang mengetuk-ngetuk genting mengingatkanmu pada masa perang. Umurmu baru menginjak belasan ketika pesawat sekutu menghujani Yogya dengan peluru, Februari 1949. Oleh bapakmu, kamu beserta Ibu dan saudara-saudaramu disembunyikan di dalam galian lubang di bawah dipan. Bapakmu berpesan agar kalian tidak bersuara, menunggu kekacauan mereda. Baru setelah itu sekeluarga akan mengungsi ke Delanggu, ke rumah simbahmu.

Tetapi janji Bapakmu itu tak pernah terjadi betul. Begitu bukan? Tubuhnya malah ditemukan tanpa nyawa, dengan bekas peluru jelas terlihat di dada dan perutnya.

"Bapakku itu pejuang. Ibuku bojo pejuang. Aku anak pejuang!" ujarmu lirih.

Dan karena itulah, ketukan-ketukan hujan akan mengingatkanmu pada bapakmu. Aku begitu hafal bagaimana kau akan membuka laci lemari kamar. Mengambil album foto bersampul biru untuk kemudian memandangi foto pertama di album itu. Gambar hitam putih seorang lelaki muda dengan setelan lengkap jas, rompi, kemeja dan dasi. Rambutnya tersisir klimis. Kacamata berbentuk bulat telur terpasang rapi. Posisi duduknya sedikit menyamping sehingga matanya sama sekali tak melihat ke arah kamera.
Lelaki di halaman pertama albummu
Lelaki di halaman pertama albummu
Aku selalu berpikir itu adalah gambar bapakmu. Ganteng dan terlihat mewah untuk ukuran anak seorang carik desa. Walau kemudian menjadi sulit untuk mencari kemiripan lelaki itu denganmu. Kecuali tentu saja hidung kalian yang sama-sama mekar.

"Dia ini bukan bapakku. Fotonya aku dapat dari pensiunan pegawai pos. Tetapi kurang lebih seperti inilah bapak. Memang nggantheng. Dia selalu bilang kalau ibuku itu banyak yang naksir. Tapi cuma bapak yang dipilih," katamu suatu ketika. Aku tentu saja kaget.

Dan seketika itulah kau akan bercerita tentang kehidupan keluarga sepeninggal bapakmu. Ibumu membawamu dan adikmu pulang ke Wonosari, ke rumah orang tuanya. Sementara dua saudaramu yang lebih tua dititipkan ke Delanggu.

Begitu situasi mulai membaik, ibumu menjual giwangnya untuk dijadikan modal berjualan di pasar. Walaupun situasi sudah lebih aman, tetapi pangan masih susah. Ia berjualan aking dan gaplek karena orang tak sanggup membeli beras. Dari situlah kau dan keluargamu lantas bisa menyambung hidup.

Belasan tahun berjualan di pasar itu, usaha ibumu kian berkembang. Namun, dari sana jugalah kepahitan hidupmu bersumber. "Begitulah hidup. Selalu saja ada yang menaruh benci dan iri pada jerih payah orang lain, méri. Méri itu memang penyakit." katamu.

Ketika peristiwa '65 meletus, ibumu turut diciduk aparat. Seseorang, yang kemudian diketahui sesama pedagang di pasar, mengarang laporan: ibumu menyumbang bahan makanan untuk kegiatan orang-orang PKI.

"Aku pulang ke rumah selang tiga atau empat hari. Aku sudah jadi perawat di Bethesda. Jadi ya walau sepeninggal bapak kami memang kéré, tapi kami tetap sekolah. Ibu yang mati-matian! Makanya begitu kami ada gaji, sedikit akan dikirim ke rumah. Terserah ibu untuk apa. Tapi semua enték diuntal sama itu orang-orang nggragas. Rumah itu sudah tidak rupa rumah. Berantakan. Barang-barang yang ada harganya hilang." jelasmu.

Kamu lantas akan menambahkan apa yang dikisahkan oleh sanak tetangga. Bahwa sebenarnya ada orang yang datang ke rumahmu beberapa malam sebelum penangkapan. Mereka menawarkan perlindungan asal dibolehkan 'bermalam'. Ibumu yang merasa tidak menyimpan salah apapun mengusir mereka dengan membawa antan beras, haha. Yah, kamu selalu menceritakan pengusiran ini dengan sangat bangga.

Beberapa hari kemudian, orang-orang itu datang lagi. Tepat setelah maghrib. Kali ini meminta ibumu menjerang air, membuat minum. Baju mereka hitam-hitam. Semakin malam jumlah mereka bertambah. Sebelum kemudian pergi begitu subuh menjelang. Ibumu turut dibawa.

Orang-orang mengingat hari itu karena sedang hari pasaran. Truk-truk yang berlarian awalnya dikira milik pedagang-pedagang dari jauh, tetapi ternyata membawa puluhan orang dari berbagai desa. Dan rumahmu adalah satu dari sekian titik kumpul. Seorang kerabatmu juga bersaksi bukan, bahwa malam itu negosiasi antara ibumu dan orang-orang itu kembali terjadi, tentang bolehkah mereka 'bermalam'. Ibumu teguh menolak.

Mukamu akan sembab kalau sudah sampai pada bagian ini. Dia memang tak lama ditahan. Pertama dikumpulkan di Kodim Wonosari. Lalu dibawa ke Wirogunan, sebelum dipindah sebentar ke Kotagede. Semuanya tak lebih dari dua tahun. Tetapi ia keluar penjara dengan kondisi ringkih. Sakit-sakitan.

"Selama Ibu ditahan aku berkali-kali hendak menjenguk. Tetapi tidak pernah ketemu. Ada malah aku ketemu mbakyu adhi dari Wonosobo yang sudah pergi ke Kendal, Semarang, Ambarawa, Magelang, sampai Purworejo untuk mencari orang tuanya, tetapi tidak ada."

Pembebasan Ibumu, sebagaimana penangkapannya, serasa petir di tengah terang. Keluarga besarmu padahal diam-diam sudah mempersiapkan berbagai uba rampe kalau sewaktu-waktu Ibumu disudahi.

Sanak saudara di pinggir-pinggir Wonosari waktu itu sering mengabari: banyak pasar di daerah itu kerinan karena pedagang tidak boleh melewati jalur-jalur tertentu selama para tentara sedang menjalankan tugas pembasmian. Sehingga keluargamu sudah siap apabila Ibumu turut dalam rombongan yang dibawa truk ke bukit-bukit gelap itu, sebelum kemudian disiksa untuk kali terakhir, dan diberikan pilihan terjun ke jurang dalam atau ditembak.

"Ditambah lagi, ada tetangga yang katanya melihat ada bola api terbang berputar-putar di atas wuwungan rumah kami. Itu tanda buruk."

Tetapi Ibumu malah pulang.

"Keluar dari penjara ibu tinggal di kontrakanku. Sempat pergi apel juga, tapi akhirnya mandek karena bola-bali opname. Terakhir ya September 1970 itu. Dokter-dokter gemati karena tahu dia ibuku. Seminggu dirawat lha kok tiba-tiba minta foto bapak." Setelah bagian ini kau akan berhenti lagi. Mengusap-usap foto lelaki di album itu.

Kalau kau terlalu lama diam, aku akan meneruskan kisah. Permintaan Ibumu itu pada intinya membuatmu sadar kalau bukan hanya harta benda berharga saja yang turut dimakan petugas. Tetapi mereka juga memakan kenangan, lewat album-album foto yang turut diangkut. Semua tanpa sisa.

"Tetapi gak mungkin juga kan aku bilang hilang semua ke Ibu? Makanya aku nyari foto yang mirip. Susah. Tapi ya mungkin sudah nasibnya Ibu, lha kok nemu satu dari pensiunan pegawai pos."

Pertanyaanku selalu saja sama begitu kau menyebut itu. "Lha ibumu apa sudah lupa wajah suaminya sendiri?"

"Ya sadar. Berkali-kali ia tanya kok bapak terlihat luwih nggantheng. Tapi aku diam saja. Aku baru bilang setelah beliau séda tiga minggu kemudian. Aku bisikkan ke kupingnya: 'Bu, itu memang bukan bapak. Tapi aku ndedonga semoga bapak bener-bener jadi se-nggantheng itu kalau ketemu ibu di akhérat nanti.' Itu pas banget saat beliau dikafani."
***
Adakah bagian yang terlewat? Ya, tentu saja, seperti biasanya. Atau kamu memang enggan menceritakan bagian ini? Iya, bagian saat Ibumu di penjara. Pernah sekali kau ceritakan bahwa selama minggu-minggu awal ditahan, Ibumu hanya disuruh menghafalkan Pancasila. Juga ditanya partai apa yang ia pilih ketika pemilu. Begitu terus menerus.

Baru setelah itu muncul cecaran tentang makani wong-wong komunis, memberi makan orang komunis. Ibumu tidak pernah mengaku tentu saja, karena memang tidak merasa melakukannya. Dan kalau sudah begitu, pemeriksanya akan mulai menariki pakaian Ibumu, satu demi satu hingga ia menangis dan pingsan.

"Mungkin mereka letih menanyai Ibu. Ada ratusan orang yang harus mereka tanyai. Sementara Ibuku teguh dengan tidak dan tangis. Pas tahu itu, jujur aku tambah marah, benci, banget. Tetapi bisa bertemu dengan Ibu lagi saja aku harusnya bersyukur. Banyak yang tidak tahu kabar berita orang tuanya setelah diambil. Kalau ingat itu, Gusti Allah tu baik banget ya sama aku."
***
Hujan-hujan seperti ini mengingatkanku padamu. Aku rindu pada cerita-ceritamu di waktu hujan. Cerita yang kurang lebih sama. Hujan terasa begitu sepi tanpamu, tanpa cerita-ceritamu. Apa di sana kau ketemu bapak ibumu? Apa di sana juga ada hujan? Kalau iya, pada siapa kau bercerita? Apa ada yang mendengar cerita-ceritamu?

Catatan: Tulisan ini diperbarui pada 25 Mei 2016 dan 13 Februari 2017 dengan menyertakan beberapa serpihan cerita. Juga mengoreksi bilangan tahun dan jumlah anak. Kecuali rincian potret lelaki yang digunakan, kisah yang diceritakan dalam tulisan ini adalah kisah benar. Atau setidaknya saya yakini demikian. Ibu dari seorang kawan menceritakannya pada pertengahan tahun 2012 dengan janji saya tidak akan pernah menyebut nama orang-orang yang terlibat. Tulisan ini saya selesaikan dengan mengikut janji tersebut.

HAMKA Milik Malaysia

| September 04, 2015 | Sunting
Seorang kawan Malaysia saya mencak-mencak setelah berkesempatan menonton film Di Bawah Lindungan Ka'bah besutan sutradara Hanny R. Saputra. Ia menganggap cerita yang disuguhkan dalam film melencong jauh dari novelnya, tulisan HAMKA. "Saya hafal benar detail cerita Allahyarham HAMKA itu. Ianya bukan semata cerita cinta anak-anak muda seperti dalam film itu. Yang lagi penting adalah cerita kecintaan seorang hamba pada Allah Ta'ala."

Rasanya memang sudah jamak diketahui bahwa karya-karya HAMKA juga dibaca luas oleh masyarakat Malaysia. Dan kawan itu adalah salah satunya. Ia bahkan bercerita tentang masuknya buku-buku karya sastrawan asal tepian Maninjau tersebut sebagai bacaan wajib sekolah menengah pada era 70 dan 80-an. Tak hanya itu, cerita-cerita gubahan HAMKA yang diadaptasi menjadi sandiwara radio pun didengarkan secara luas di negara ini. Abang seorang kawan yang lain pernah bercerita bahwa rekaman drama radio tersebut sampai diperdengarkan di kelas-kelas untuk kemudian dijadikan bahan pertanyaan — sesuatu yang rasanya tak dilakukan di Indonesia sekalipun.

Presiden kampus saya yang juga mantan Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Dr. Rais Yatim dengan bangga menyebut HAMKA adalah penjalin hubungan Indonesia dan Malaysia. Termasuk ketika politik konfrontasi dilancarkan oleh Bung Karno pada tahun 1963. HAMKA bahkan sampai dipenjara karena dituduh mengadakan rapat gelap merencanakan pembunuhan presiden — konon atas biaya Malaysia.

Kuatnya pengaruh sang Buya di negeri ini juga dapat dilihat dari anugerah Ijazah Kehormat Doktor Persuratan dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974. Pada kesempatan inilah Perdana Menteri Malaysia kala itu, Tun Abdul Razak, mengatakan, "Hamka bukan sahaja milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara."

Dengan persinggungan yang sudah demikian panjang, sebenarnya tak heran bila sangat mudah menemukan buku-buku HAMKA di toko-toko buku di Malaysia hingga hari-hari ini. Bahkan empat buku HAMKA — Tafsir Al-Azhar Jilid 1, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Tuan Direktur, Merantau ke Deli, dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, diterbitkan ulang secara berkala oleh Penerbit PTS sejak bulan Juli lalu.

Masyarakat Malaysia secara umum pun begitu menghormati peran dan kiprah HAMKA. Saya merasakan betapa mereka memiliki HAMKA. Selama 3 tahun di negeri ini, sudah tak berbilang lagi saya mendengar buah pikiran HAMKA disitir dalam khotbah-khotbah Jum'at, kelas-kelas, hingga percakapan sehari-hari.

Sebelum Penerbit PTS menerbitkan pun, buku-buku HAMKA sudah pernah diterbitkan oleh penerbit lain, Pustaka Dini. Dan, sekali lagi, dengan persinggungan yang sudah demikian panjang itu jadi hal biasa bukan? 
Buku-buku HAMKAdi toko buku Kinokuniya, KLCC. 
Namun, ceritanya jadi lain bila kemudian kita melihat bagaimana HAMKA tak lagi banyak dibaca di negerinya sendiri hari-hari ini. Pun di toko-toko buku, buku-buku HAMKA adalah barang langka.

Bulan Juli silam saya iseng mendatangi 4 toko buku besar di Jogja untuk mencari tahu apakah ada karya-karya beliau yang masih dijual. Di 3 buku sama sekali tidak ada. Sementara di katalog satu toko terlihat seri buku HAMKA terbitan Republika, tetapi petugas mengatakan itu pun sudah dikembalikan ke distributor. Aduh.

Saya tak patah arang. Saya coba untuk cek koleksi buku-buku HAMKA di perpustakaan 5 universitas di Jogja melalui laman Jogjalib. Hasilnya? Tidak ada satupun karya HAMKA yang tercatat di Perpustakaan UGM, UNY, UII, dan UIN Sunan Kalijaga. Menariknya yang tersedia malah puluhan judul buku dan skripsi yang membahas tentang HAMKA, baik pribadi ataupun karya-karyanya.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti kita harus jauh-jauh ke Malaysia demi membaca karya-karya HAMKA? Dan di saat itulah orang-orang kita akan berteriak, "Malaysia nge-klaim HAMKA!"

*) berlanjut

Membaca Sekali Peristiwa di Banten Selatan

| Agustus 23, 2015 | Sunting
Hari ini saya sebenarnya berniat untuk mulai membaca Pemberontakan Petani Banten 1888, buku mendiang Pak Sartono Kartodirdjo. Sayangnya kemudian tersadar kalau pakaian kotor sudah menumpuk. Sehingga pergi ke dobilah saya. Yah, akhir-akhir ini saya jarang mencuci tangan. Sambil menunggu cucian biasanya saya membaca. Buku Pak Sartono tentu terlalu tebal (dan berat) untuk dibaca dalam waktu tak lebih dari sejam. Buku Pramoedya Ananta Toer yang kemudian saya tenteng. Baru dibeli beberapa minggu sebelumnya di Gerak Budaya, Petaling Jaya. Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Seratus dua puluh enam halaman saja.
***
Cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan, tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di panggung. Begitu Pram menulis dalam kata pengantarnya. Selarik kalimat yang kemudian sangat membantu untuk memahami buku ini secara utuh.

Berbeda dengan novel-novelnya yang didominasi oleh paragraf-paragraf panjang, Pram menyuguhkan paragraf-paragraf yang lebih pendek, tak melewati 15 baris, dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Itu pun sebagian besar merupakan percakapan antara tokohnya.

Yah, Pram membangun cerita lewat percakapan-percakapan. Narasi-narasi pendek sekadar digunakan untuk pembuka saja. Atau selingan antar percakapan, untuk menjelaskan latar tempat semisal. Karena saking dominannya percakapan-percakapan antar tokoh, Pram tak lagi membubuhkan tanda petik untuk membuka-tutup percakapan. Dan bagi saya inilah salah satu daya tarik terbesar buku tipis ini.
Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis berdasarkan hasil blusukan dan wawancara Pram ke Banten Selatan pada akhir 1957. Wilayah tersebut dikaruniai dengan tanah yang subur. Juga kandungan emas yang diterus dikeruk di Cikotok. Namun ironisnya masyarakat hidup kéré. Keadaan yang sudah sedemikian susah diperparah dengan kekacauan yang dibuat oleh kelompok pemberontak Darul Islam. Pasar kacau. Diobrak-abrik DI. Dengan latar belakang sosial yang demikian inilah Pram lantas memunculkan dua kubu beda kuasa yang saling berseteru.

Kubu pertama adalah sekumpulan petani desa yang lugu. Mereka mewakili salah satu kelas terendah dalam masyarakat. Maskotnya bernama Ranta. Tentang Ranta, ia digambarkan secara singkat:  Ia berumur kurang lebih tigapuluh sembilan tahun. Tubuhnya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makan yang baik. Penggambaran yang sepertinya mewakili kondisi sebagian besar masyarakat saat itu.

Kelompok petani tersebut ditumbukkan dengan kelompok dari kelas yang lebih tinggi, diwujudkan melalui tokoh Juragan Musa si tuan tanah. Dulu dia semiskin aku dan kami semua di sini. Zaman Jepang dia jadi wérek romusha. Barangsiapa pergi, disuruhnya kasih cap jempol. Ternyata cap jempol itu merampas tanahnya. Nah itulah cerita mula-mula dia jadi tuantanah. Dia mengangkat diri sendiri jadi Juragan.

Si juragan dengan kuasanya memperdayai petani-petani miskin itu untuk mencuri bibit-bibit karet onderneming. Namun, begitu kerja itu mereka tuntas, bukan uang yang mereka dapat. Orang-orang si juragan sudah siap sabetan-sabetan rotan, atau sekadar gertakan untuk dilaporkan ke polisi.

Si Juragan ini pulalah yang kemudian diketahui bersekongkol dengan kelompok pemberontak. Dan disinilah Ranta dan teman-temannya dimunculkan sebagai pahlawan yang berhasil mengungkap kebobrokan si Juragan kepada Komandan militer setempat. Titik yang kemudian mengubah nasib Ranta: ia diangkat menjadi lurah. Ia bekerja bahu membahu dengan masyarakat dan militer untuk menumpas pengacau. Semangat gotong royong memang pesan utama novel ini. Mereka yang lebih banyak bekerja yang berhak akan apa yang biasa dinamai bahagia.

Yah, jalan cerita novel pendek ini sesederhana itu. Pram pun seolah keluar dari pakem karyanya yang senantiasa berkubang majas-majas dan permainan kata yang sering kali begitu rumit. Ia terkesan irit eksplorasi. Seolah-olah hanya menyalin ulang hasil wawancaranya dengan para narasumber.

Namun, fakta bahwa novel ini juga diplot untuk menjadi naskah pentas kembali harus diingat. Tak heran pula bila tokoh-tokohnya seolah menghidupkan karakter mereka sendiri-sendiri — melalui percakapan-percakapan, cerita-cerita, yang oleh Pram disebut akan menjadi tantangan para pemain bila kemudian dipentaskan.

Kebijaksanaan Ranta misalnya, diungkap salah satunya melalui orasi-orasi panjangnya. Dengar kalian tak perlu takut. Kalian punya anakbuah. Satu-satunya yang menyelamatkan kita semua cuma persatuan, persaudaraan. Jadi, pulanglah saudara ke tempat masing-masing. Pasang ranjau-ranjau bambu terpendam di tempat-tempat yang bakal dilewati gerombolan. Panah dan sumpit bagikan pada semua orang, laki, perempuan, tua, muda, semua sebaiknya ikut membantu. Nanti sore aku akan datang ke tempat-tempat saudara, ikut mengatur. Nah, sekarang pulanglah. Jangan pikirkan yang lain-lain, selain menumpas gerombolan. Kalau gerombolan dapat dihalaukan dari tempat ini, baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman.

Selain dengan sajian kalimat-kalimat yang lugas, Pram juga keluar dari pakem karyanya dengan menampilkan si tokoh protagonis, Ranta, sebagai pahlawan pemenang. Kalau misalnya dirunut satu-satu dari tokoh Farid dalam Perburuan, Bakir dalam Korupsi, si Gadis dalam Gadis Pantai, bahkan hingga Minke dalam tetralogi Buru, Pram tak pernah sekalipun memberikan kemenangan sempurna pada si protagonis, bahkan mengalahkan mereka.

Hal berbeda terjadi pada Ranta yang berhasil "memimpin" perlawanan dan menutup kisahnya dengan suka cita. Mereka semua bangkit, bergandengan tangan, dan menyanyikan Gotongroyong dengan irama yang cepat, yakit, rianggembira, penuh kepercayaan pada hari depan dan pada rahmat kerja.

Begitulah membaca Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Pram memunculkan sosok-sosok wong cilik sebagai salah satu aktor sejarah bangsa. Sesuatu yang seringkali malah diabaikan oleh mereka yang mengaku sebagai ahli sejarah. Pram membuka ruang untuk mereka bersuara. Bahkan juga kesempatan untuk mengubah nasib.

Tentang the Alchemist

| Agustus 15, 2015 | Sunting
The Alchemist - Paulo Coelho
Ini bukan novel, tapi fabel
Aku pertama kali menuntaskan the Alchemist ketika kemampuan bahasa Inggris masih jongkok. Rasanya ada lebih banyak bagian yang ku reka-reka sendiri maknanya, karena tidak dapat menangkap artinya secara penuh. Kamus Inggris Indonesia karangan Hassan Shadily memang sangat membantu ketika itu. Tetapi, ada saja ungkapan-ungkapan yang terasa begitu janggal bila diartikan kata demi kata.

Meski demikian, buah tangan Coelho ini adalah antara buku berbahasa Inggris yang kubaca tuntas untuk pertama kalinya, November 2008. Aku sempat hampir membaca terjemahan bahasa Indonesianya beberapa waktu kemudian, tetapi kuurungkan karena takut cerita yang sudah terbangun dalam benak malah ambyar.

Buku ini jadi semacam pintu awalku memasuki buku-buku Coelho lainnya  sebagian besar adalah terjemahan bahasa Indonesianya. Dan di antara buku-bukunya itu, rasanya hanya 'Veronika Memutuskan Mati' dan 'Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis' yang tidak begitu ku suka.

Membaca (buku-buku Coelho) adalah proses berjumpa dengan banyak pintu pemahaman baru. Kalau dari the Alchemist yang paling kentara tentu saja pengetahuan tentang kekatolikan. Ada banyak bagian yang ternyata diilhami oleh ayat-ayat Injil. Seorang teman bahkan secara acak membuka the Alchemist dan tak sampai lima menit ia bisa menemukan padanannya di dalam Injil.

Pintu-pintu lain yang turut terbuka karena the Alchemist adalah pintu sejarah. Aku jadi tergerak untuk kembali membaca jejak kejayaan Islam yang pernah menjejas tempat-tempat sejauh Spanyol karena buku ini misalnya.
***
The Alchemist adalah pengembangan total atas salah satu cerita dalam Hikayat Seribu Satu Malam, The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream. Pengembangan total? Yah, dari beberapa lembar cerita lantas di-jlentreh-kan menjadi novel setebal duaratusan halaman. Plot umumnya sama persis. Detail-detail ceritanya saja yang Coelho perkaya.

The Alchemist merupakan kisah tentang seorang anak lelaki yang memutuskan untuk pergi mencari harta karun berkat mimpi yang ia alami. Ia berkembara dari tempat tinggalnya, di Andalusia, menyeberang ke Tangier, Maroko, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke Mesir. Itu pun untuk mendapati bahwa harta yang didambanya nyata malah terkubur di tanah asalnya sendiri.

Ceritanya, di negeri Piramida ia menjadi bulan-bulanan perompak ketika berusaha menggali "hartanya". Para perompak itu memukulinya hingga sekarat, sekalipun ia menceritakan tentang apa maksudnya  mimpi, harta karun. Kepala perompak itu tentu terkekeh dan mengejeknya, "Aku juga bermimpi tentang harta karun yang terkubur di gereja tua di Spanyol. Tapi aku cukup pintar untuk tidak mempercayai mimpi bodoh semacam itu!"

Dari si kepala perompak itulah kemudian si lelaki, oh ya namanya Santiago, pulang ke tanah kelahirannya dan menemukan sekotak koin emas terkubur di halaman gereja tua yang pernah ia kunjungi.
***
The Alchemist mungkin adalah tulisan terbaik Coelho. Aku sudah beberapa kali membaca kembali buku ini. Dan setiap kali pembacaan selalu saja mendapatkan detail baru yang memang sudah aku jumpai sebelumnya, tetapi memberikan rasa tercerahkan yang sama sekali lain. Seolah itu adalah kali pertama aku menjumpainya.

Membaca the Alchemist adalah semacam menikmati perjalanan. Dan perjalanan, seperti yang Santiago alami, nyata merupakan satu proses belajar  belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri.  

Kemana Perginya Orang-orang Resah

| Agustus 12, 2015 | Sunting
Makcik Nurlela IIUM
Rezeki sudah diatur, kita manusia berusaha.
Nilai tukar ringgit terhadap dolar menyentuh angka empat pagi ini. Pun nilai rupiah, terus terpuruk kabarnya, semakin mendekati nilai terendahnya.

Aku berangkat ke kelas dengan riang tadi. Tukang sapu-tukang sapu kampus tengah duduk bersama di tangga besar. Berbagi bubur kacang hijau buatan salah satunya. Tawa mereka terdengar begitu renyah. Mangkuk-mangkuk plastik di tangan mereka hingga ikut terguncang-guncang.

Di kelas, seorang kawan berkisah-kisah. Tentang bagaimana ia harus memutar otak agar tetap bisa berkurban pada hari raya nanti meski ekonomi tengah sulit. Ia berujar sungguh tidak bersyukurnya kita bila dengan apa yang kita punya sekarang, kita tetap saja mengeluh. Bayangkan seberapa keras krisis menghantam orang-orang yang lebih tak berpunya. 

Ada dari mereka itu yang bahkan hanya bisa tahu apa yang akan ia makan beberapa jam lagi. Sementara keadaan esok hari, dan esoknya, sudah lain lagi. Malam terasa semakin dingin pasti karena keterpurukan ekonomi membuat uang yang mereka punya tak lagi bisa membeli cukup makan seperti biasa.

Kawanku itu terus saja bercerita, sementara menunggu dosen datang memulai pelajaran. Aku kembali teringat pada tukang sapu-tukang sapu di tangga besar. Gajinya tak lebih dari tujuh ratus ringgit satu bulannya. Tetapi tawa mereka begitu lebar pagi tadi. Siapakah sebenarnya yang kurang bisa bersyukur?

Klub Buku Taksim

| Agustus 11, 2015 | Sunting
Saya sedang bebersih file-file dalam folder unduhan ketika melihat kembali sebelas foto cerita Klub Buku Taksim karya George Henton. Klub Buku Taksim merupakan bentuk protes terhadap bentrok yang terus terjadi antara polisi dan demostran sejak akhir Mei 2013. 

Protes bermula dari aksi berdiri diam selama delapan jam Erdem Gunduz di Taksim Square, Istanbul pada 17 Juni 2013. Berdiri menghadap bendera Turki di atas Pusat Kebudayaan Ataturk, apa yang dilakukannya lantas menjadi simbol perlawanan di segala penjuru Turki. 

Bersamaan dengan meluasnya aksi perlawanan ini, muncul apa yang disebut Klub Buku Taksim, membaca sambil berdiri sebagai bagian dari protes. Protes buku ini sebenarnya sudah ada sejak demonstrasi bermula pada awal Mei, tetapi lantas melebur dengan aksi berdiri diam yang dikenalkan oleh Erdem.

Buku-buku yang dibacapun beragam. Kebanyakan adalah buku-buku yang memang meneriakkan penolakan pada kekerasan.
Seorang pria dengan buku Marquez, Yaprak Firtinasi - versi Turki dari La Hojarasca

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine