Langit-langit Kamar, Jam Setengah Lima Pagi

| November 22, 2014 | Sunting
Kamar Asrama IIUM, pagi tadi
Jam setengah lima pagi. Mendadak aku terbangun. Mataku terbuka begitu saja, menatap langit-langit kamar yang muam. Aku sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Bukan akhir-akhir ini saja sebenarnya, aku bahkan sudah lupa sejak kapan. Sejauh kubisa mengingat. Berbagai nasihat dan petuah kukerjakan untuk kononnya membuang kebiasaan tersebut, tetapi rasanya belum ada hasilnya.

Dan bukan mimpi buruk juga sebenarnya, hanya saja mungkin seram bagi sebagian orang. Bagiku sendiri, sudah terasa biasa saja. Di kamarku yang dulu, berkali-kali aku memimpikan (atau melihat?) seorang perempuan dengan rambut terurai panjang ada di dalam kamarku. Bahkan, pernah sekali aku melihatnya (atau memimpikannya?), berjalan melewati jendela sambil membenarkan bagian belakang pakaiannya. Oh ya, aku tinggal di lantai dua saat itu.

Begitupun setelah aku berpindah kamar. Aku mulai terbiasa tidur dengan kitab suci di dekatku. Tidak benar-benar dekat sebenarnya, tetapi masih pada jarak yang bisa kugapai sewaktu-waktu aku perlu.

Aku jadi ingat suatu malam. Pukul dua atau tiga mungkin. Aku bangun untuk sembahyang. Sempat ku menggerutu ketika mengambil wudhu. Sebabnya adalah kebiasaan orang-orang meninggalkan WC dengan air kran tetap mengucur. Terbuang. Tetapi bukan itu topik ceritaku. Melainkan, segera setelah kukembali ke kamar dan memulai sembahyang, aku mulai merasakan ada sesuatu di belakangku. Aku tidak tahu apa, tetapi dari dorongan udara yang dihasilkan, sesuatu itu seperti mengikuti gerakanku. Entahlah apa karena ketika kumenengok salam, hanya setumpuk pakaian kotor yang tertangkap oleh mataku. Lagipula, kamarku juga hanya muat untuk sholat satu orang, tidak lebih.

Pukul setengah lima pagi. Aku menatapi baling-baling kipas angin yang tanpa bosan memutari porosnya. Langit-langit di sini tidak seperti di rumah. Aku terbiasa melihat tikus berkejaran dengan sesamanya, sementara di sini hanya ada langit-langit kusam dimana kipas angin tanpa merk menggantung. Terasa hambar, tanpa cerita.

Baling-baling kipas angin berputar. Terus berputar.

Rak buku yang melekat di dinding terpaku tanpa irama, tak menghiraukan hasil tulisan orang-orang besar yang beristirahat di atas badannya. Kain penutup tingkap kamarkupun senada: tenang dan diam.

Tidak ada cicak seperti di rumah. Bahkan rasanya aku memang tidak pernah melihat cicak selama di sini. Aneh. Tik tak tik tak.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine