Kemana Perginya Orang-orang Resah

| Agustus 12, 2015 | Sunting
Makcik Nurlela IIUM
Rezeki sudah diatur, kita manusia berusaha.
Nilai tukar ringgit terhadap dolar menyentuh angka empat pagi ini. Pun nilai rupiah, terus terpuruk kabarnya, semakin mendekati nilai terendahnya.

Aku berangkat ke kelas dengan riang tadi. Tukang sapu-tukang sapu kampus tengah duduk bersama di tangga besar. Berbagi bubur kacang hijau buatan salah satunya. Tawa mereka terdengar begitu renyah. Mangkuk-mangkuk plastik di tangan mereka hingga ikut terguncang-guncang.

Di kelas, seorang kawan berkisah-kisah. Tentang bagaimana ia harus memutar otak agar tetap bisa berkurban pada hari raya nanti meski ekonomi tengah sulit. Ia berujar sungguh tidak bersyukurnya kita bila dengan apa yang kita punya sekarang, kita tetap saja mengeluh. Bayangkan seberapa keras krisis menghantam orang-orang yang lebih tak berpunya. 

Ada dari mereka itu yang bahkan hanya bisa tahu apa yang akan ia makan beberapa jam lagi. Sementara keadaan esok hari, dan esoknya, sudah lain lagi. Malam terasa semakin dingin pasti karena keterpurukan ekonomi membuat uang yang mereka punya tak lagi bisa membeli cukup makan seperti biasa.

Kawanku itu terus saja bercerita, sementara menunggu dosen datang memulai pelajaran. Aku kembali teringat pada tukang sapu-tukang sapu di tangga besar. Gajinya tak lebih dari tujuh ratus ringgit satu bulannya. Tetapi tawa mereka begitu lebar pagi tadi. Siapakah sebenarnya yang kurang bisa bersyukur?

Klub Buku Taksim

| Agustus 11, 2015 | Sunting
Saya sedang bebersih file-file dalam folder unduhan ketika melihat kembali sebelas foto cerita Klub Buku Taksim karya George Henton. Klub Buku Taksim merupakan bentuk protes terhadap bentrok yang terus terjadi antara polisi dan demostran sejak akhir Mei 2013. 

Protes bermula dari aksi berdiri diam selama delapan jam Erdem Gunduz di Taksim Square, Istanbul pada 17 Juni 2013. Berdiri menghadap bendera Turki di atas Pusat Kebudayaan Ataturk, apa yang dilakukannya lantas menjadi simbol perlawanan di segala penjuru Turki. 

Bersamaan dengan meluasnya aksi perlawanan ini, muncul apa yang disebut Klub Buku Taksim, membaca sambil berdiri sebagai bagian dari protes. Protes buku ini sebenarnya sudah ada sejak demonstrasi bermula pada awal Mei, tetapi lantas melebur dengan aksi berdiri diam yang dikenalkan oleh Erdem.

Buku-buku yang dibacapun beragam. Kebanyakan adalah buku-buku yang memang meneriakkan penolakan pada kekerasan.
Seorang pria dengan buku Marquez, Yaprak Firtinasi - versi Turki dari La Hojarasca

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine