Satu Siang Berdarah di Priok

| April 15, 2010 | Sunting
Seorang perempuan dan anak lelaki melintasi bekas tempat kejadian | Viva
Hari ini tadi hampir semua media di tanah air menjadikan tragedi Priok sebagai headline-nya. Tragedi ini terjadi kemarin, saat akan dilakukan penggusuran, atau meminjam bahasa aparat: penertiban area makam Mbah Priok oleh aparat Satpol PP. Oh ya, Mbah Priok sendiri diyakini sebagai salah satu ulama penyebar agama Islam di Jakarta.

Mengerikan mungkin menjadi kata yang pantas keluar setelah menyaksikan beritanya di layar televisi. Bentrokan terjadi sepanjang hari Rabu, 14 April 2010 kemarin. Penggusuran yang dilakukan oleh sekelompok Satpol PP dibantu oleh pihak kepolisian ini dimulai sejak pagi hari. Sebetulnya, menurutku, akar masalah tragedi Priok ini sebenarnya bukan dari masalah rencana penggusurannya, namun lebih pada kekurang-bijaksanaan kedua belah pihak, baik dari pihak satpol PP maupun dari masyarakat sendiri.

Banyak pihak menilai Satpol PP dan pihak kepolisian terlalu arogan dalam melakukan proses penggusuran. Tiba-tiba saja pada pagi hari kemarin ratusan petugas berseragam menyerbu wilayah pemakaman Mbah Priok, merangsek gerbangnya. Tentu, bagi warga yang tidak mengerti, apalagi wilayah pemakaman Mbah Priok ini dapat dibilang sebagai sebuah kawasan suci karena seperti dibilang di awal Mbah Priok -konon nama aslinya Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad- merupakan tokoh Islam sekaligus mujahid yang telah berjasa menyebarluaskan agama Islam di Jakarta, akan merespon negatif sikap Satpol PP ini. Akibatnya ratusan warga yang emosi dengan sikap Satpol PP yang menurut mereka tidak bijaksana, mementingkan kepentingan sekelompok orang berduit di PT Pelindo, turun ke jalan dan menghadang petugas.

Ternyata kisah berlanjut semakin keras. Penghadangan warga ini terus meningkat menjadi sebuah tragedi berdarah yang menelan banyak korban, baik dari pihak Satpol PP maupun masyarakat.Ratusan orang mengalami luka-luka, dan dilaporkan pula 2 nyawa telah hilang dengan sia-sia.

Kekerasan terus berlanjut hingga petang menjelang, walaupun konon sempat mereda karena guyuran hujan, dengan beberapa mobil terbakar, kendaraan roda dua milik wartawan juga rusak berat, dibakar, dan kemudian diberedeli bagian-bagiannya. Semakin malam, beberapa oknum masyarakat mulai merangsek masuk kantor PT Pelindo dan menjarah barang-barang kantor yang ada di dalamnya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Apakah motif Satpol PP hingga teganya menggusur tanah bersejarah milik masyarakat? Padahal ada seorang warga yang mengklaim sebagai ahli waris dengan menunjukkan dokumen resmi kepemilikan tanah pemakaman tersebut. Namun di sisis lain PT Pelindo juga menunjukkan dokumen penjualan atas tanah tersebut kepada pihak perusahaan tesebut.

Namun, apa pula motif masyarakat melakukan penyerangan yang demikian keras? Seandainya hanya mempertahankan lokasi yang bernilai agamis dan kultural, mengapa harus sampai membunuh dan menjarah? Atau mungkin ada "oknum" yang memanfaatkan ketegangan yang ada untuk melakukan keonaran?

Dari tayangan televisi aku dapat melihat betapa mencekam suasana bentrokon fisik antara warga yang menolak eksekusi lahan dengan Satpol PP dibantu polisi tersebut. Lemparan batu. Kilatan senjata-senjata tajam. Letupan tembakan. Semprotan water canon. Menjadi senjata utama. Hingga korbanpun kemudian berjatuhan dari ke dua belah pihak. Itulah sekelumit gambaran priok berdarah kemarin. Serem memang, namun ada satu hal yang harus kita cermati. Bahwa pola-pola kekerasan terus menerus menjadi ajang untuk penyelesaian atas sebuah masalah di Indonesia. Mulai dari rakyat jelata sampai dengan anggota dewan, semuanya beradu jotos demi kepentingan masing-masing.

Republik ini memang tengah sakit karena digerogoti penyakit-penyakit dalam yang semakin kronis. Rasa kasih sayang antar sesama manusia semakin luntur, berganti dengaan kebencian yang beranak pinak. Apakah kita akan mewariskan kebencian, kebobrokan. dan kecarut-marutan negara ini untuk anak cucu tercinta kita?

Semoga saja tragedi Priok kemarin dapat membuka mata hati kita semua, mata hati pemerintah, masyarakat, Satpol PP, polisi, dan semua rakyat Indonesia bahwa sebenarnya kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan sebuah masalah. Bahkan, malah akan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih besar.

Dan yang pasti: kita semua berharap tragedi yang memilukan seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine