Tentang the Alchemist

| Agustus 15, 2015 | Sunting
The Alchemist - Paulo Coelho
Ini bukan novel, tapi fabel
Aku pertama kali menuntaskan the Alchemist ketika kemampuan bahasa Inggris masih jongkok. Rasanya ada lebih banyak bagian yang ku reka-reka sendiri maknanya, karena tidak dapat menangkap artinya secara penuh. Kamus Inggris Indonesia karangan Hassan Shadily memang sangat membantu ketika itu. Tetapi, ada saja ungkapan-ungkapan yang terasa begitu janggal bila diartikan kata demi kata.

Meski demikian, buah tangan Coelho ini adalah antara buku berbahasa Inggris yang kubaca tuntas untuk pertama kalinya, November 2008. Aku sempat hampir membaca terjemahan bahasa Indonesianya beberapa waktu kemudian, tetapi kuurungkan karena takut cerita yang sudah terbangun dalam benak malah ambyar.

Buku ini jadi semacam pintu awalku memasuki buku-buku Coelho lainnya  sebagian besar adalah terjemahan bahasa Indonesianya. Dan di antara buku-bukunya itu, rasanya hanya 'Veronika Memutuskan Mati' dan 'Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis' yang tidak begitu ku suka.

Membaca (buku-buku Coelho) adalah proses berjumpa dengan banyak pintu pemahaman baru. Kalau dari the Alchemist yang paling kentara tentu saja pengetahuan tentang kekatolikan. Ada banyak bagian yang ternyata diilhami oleh ayat-ayat Injil. Seorang teman bahkan secara acak membuka the Alchemist dan tak sampai lima menit ia bisa menemukan padanannya di dalam Injil.

Pintu-pintu lain yang turut terbuka karena the Alchemist adalah pintu sejarah. Aku jadi tergerak untuk kembali membaca jejak kejayaan Islam yang pernah menjejas tempat-tempat sejauh Spanyol karena buku ini misalnya.
***
The Alchemist adalah pengembangan total atas salah satu cerita dalam Hikayat Seribu Satu Malam, The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream. Pengembangan total? Yah, dari beberapa lembar cerita lantas di-jlentreh-kan menjadi novel setebal duaratusan halaman. Plot umumnya sama persis. Detail-detail ceritanya saja yang Coelho perkaya.

The Alchemist merupakan kisah tentang seorang anak lelaki yang memutuskan untuk pergi mencari harta karun berkat mimpi yang ia alami. Ia berkembara dari tempat tinggalnya, di Andalusia, menyeberang ke Tangier, Maroko, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke Mesir. Itu pun untuk mendapati bahwa harta yang didambanya nyata malah terkubur di tanah asalnya sendiri.

Ceritanya, di negeri Piramida ia menjadi bulan-bulanan perompak ketika berusaha menggali "hartanya". Para perompak itu memukulinya hingga sekarat, sekalipun ia menceritakan tentang apa maksudnya  mimpi, harta karun. Kepala perompak itu tentu terkekeh dan mengejeknya, "Aku juga bermimpi tentang harta karun yang terkubur di gereja tua di Spanyol. Tapi aku cukup pintar untuk tidak mempercayai mimpi bodoh semacam itu!"

Dari si kepala perompak itulah kemudian si lelaki, oh ya namanya Santiago, pulang ke tanah kelahirannya dan menemukan sekotak koin emas terkubur di halaman gereja tua yang pernah ia kunjungi.
***
The Alchemist mungkin adalah tulisan terbaik Coelho. Aku sudah beberapa kali membaca kembali buku ini. Dan setiap kali pembacaan selalu saja mendapatkan detail baru yang memang sudah aku jumpai sebelumnya, tetapi memberikan rasa tercerahkan yang sama sekali lain. Seolah itu adalah kali pertama aku menjumpainya.

Membaca the Alchemist adalah semacam menikmati perjalanan. Dan perjalanan, seperti yang Santiago alami, nyata merupakan satu proses belajar  belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri.  

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine