Ke Blora, Lewat Solo dan Purwodadi

| Juni 01, 2016 | Sunting
Bus ke Blora
Armada bus P.O. Agung, melayani trayek Purwodadi - Blora

Catatan:
Melihat banyak pembaca yang mampir ke tulisan ini untuk mencari tahu informasi semacam 'bus Solo - Blora', 'jadwal bus Solo - Blora', 'tarif bus Solo - Blora'  dan sebagainya, dapat saya informasikan sebagai berikut:
  1. Rute Solo - Blora masih bisa ditempuh dengan bus, namun tidak ada bus yang langsung sehingga harus oper. Pertama dari Solo ke Purwodadi lalu disambung dengan bus Purwodadi - Blora. 
  2. Dibandingkan jumlah bus Solo - Purwodadi yang masih cukup banyak, jumlah bus Purwodadi - Blora sangatlah sedikit, salah satunya dilayani oleh P.O. Agung. Sopir baru akan meninggalkan terminal Purwodadi apabila penumpang sudah ramai.
  3. Per Januari 2016, bus terakhir dari Purwodadi ke Blora berangkat dari terminal Purwodadi pukul 16.15. Total biaya yang saya keluarkan adalah 30.000 rupiah, masing-masing 15.000 untuk Solo - Purwodadi dan Purwodadi - Blora.
---
Bus Rela yang melaju kencang sejak kutampangi dari Terminal Tirtonadi, Solo mendadak saja memelankan jalannya, sebelum kemudian benar-benar berhenti. Pelan-pelan kubuka mata. Bus mandeg di depan sebuah bangunan, masih di tepi jalan. Kenéknya sibuk mencari sesuatu dari dalam kotak kayu yang berada di samping sopir. Lalu berlari turun dari bus, seraya menyambar handuk kecil yang ia cantolkan di pintu.

"Wonten mokmén. [1]" kata ibu paruh baya yang duduk di sebelahku. Pantas saja si kenék kalang kabut, urusan dengan polisi di republik ini hampir tidak pernah mudah. Dan benar saja, hingga tiga puluhan menit berlalu, bus kami belum juga melanjutkan perjalanan. Si ibu turun membeli rujak.
---
Aku meninggalkan rumah sekitar pukul sebelas pagi. Mamak mengantarku sampai ke Banyuripan, lalu aku menumpang mobil elf ke terminal Klatén. Bus Sedya Utama jurusan Solo yang lantas kunaiki tidak mengangkut banyak penumpang. Walhal sopir pelan-pelan saja membawa busnya. Dan hampir selalu berhenti setiap berjumpa perempatan, berharap tambahan penumpang. Klatén - Solo yang seharusnya bisa ditempuh dalam masa sejam berubah hampir dua kali lipatnya.

Meski dekat, Solo adalah tempat yang sama sekali asing bagiku. Terminalnya ternyata cukup bagus, bersih. Perutku sebenarnya kelaparan, tetapi karena takut kesorean, aku bergegas ke tempat pemberangkatan bus. Ni'ma yang aku tanyai dua hari sebelumnya mengatakan hanya ada satu bus jurusan Solo - Purwodadi. Bus Rela. "Tapi jangan sore-sore, nanti susah!" Pesan itu yang kupegang erat.

Namun apa daya, meski bergegas, pada akhirnya aku malah tertahan di antah berantah. Kenek bus belum juga kembali. Sementara sang sopir kuhitung sudah menghabiskan tujuh batang rokok.

"Bu, terminale masih jauh?" tanyaku pada si ibu yang tengah mengunyah potongan mangga.
"Sudah dekat kok. Sampeyan ajeng ten pundi?" jawabannya sedikit membuatku lega.
"Ajeng ten Blora." tentu saja Blora kuucapkan Mblora.
"Wah. Kesorén. Wis gak ana bis!"

Jawaban si ibu membuyarkan kelegaanku. Aku tidak ada rencana untuk bermalam di Purwodadi. Dan memang bukan kota ini tujuan perjalananku. Kukirimkan pesan pendek ke Ni'ma, berharap dia memberikan informasi yang berbeda. Tetapi jawabannya membuat perutku semakin lapar. "Iya Bas, kayake sudah kesorean. Ashar biasanya sudah habis." Sayup-sayup kudengar azan di kejauhan.
---
Tiga lewat dua puluh. Bus Rela akhirnya memasuki terminal Purwodadi. Tinggal beberapa penumpang saja yang ikut sampai ke terminal. Sebagian besar turun di tengah kota. Ketika aku turun dari bus, suara petugas terminal langsung menyambut. Cempreng. "Selamat datang di terminal Purwodadi. Menurut Perda nomor..."

Kesan pertama yang kutangkap dari terminal ini adalah kusam dan tidak terawat. Karat terlihat dimana-mana. Di kursi duduk, di tiang, di atap, dimana-mana. Area pemberhentian bus juga penuh lubang. Beberapa adalah kubungan air. Selain bus-bus besar yang sebagian besar adalah tujuan Jakarta, bus-bus yang berjajar adalah bus ukuran sedang.

Kenék-kenék bersahutan meneriakkan kota tujuan bus mereka. Sebagian besar aku kenali: Pati, Demak, Kudus hingga Semarang. Tetapi tidak ada satu pun yang meneriakkan Blora. Tempat tunggu bus tujuan Blora pun kosong, dipakai istirahat oleh beberapa orang pedagang makanan. Bau pesing menyeruak. Menambah runyam terminal yang memang sudah renta.

"Ten Blora Mas?" seorang Ibu pedagang tahu mendekatiku.
"Iya Bu. Masih ada bus mboten nggih?"
"Masih kok masih. Monggo..." Aku merasa lega, sementara Ibu tadi membuka plastik penutup dagangannya. Ada berbagai macam gorengan. Tahu susur, bakwan, juga mendoan. Minuman dingin juga ada. Aku mengambil tahu susur dua. Dua ribu saja.
"Mau ke Blora juga Mas?" seorang Ibu lain mendekat. Ia membawa tas plastik. Isinya sepertinya alat-alat dapur.
"Iya Bu... Tapi takut sudah ndak ada bus. Kesorean."
"Masih ada satu lagi kok. Saya mau ke Cepu." Aku bertambah lega.
---
Hari sudah gelap ketika bus P.O. Agung jurusan Purwodadi - Blora memasuki kota. Lampu bus menyala redup. Sementara di luar hujan turun, meski tidak deras. Sepanjang perjalanan aku sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin terlalu bahagia karena akhirnya mendapatkan kejelasan nasib.

Bus terakhir tujuan Blora datang tak lama setelah tahu susurku habis. Sebuah bus tua yang sudah penuh karat. Cat di badan bus mengelupas di sana sini. Lantai bus berdecit setiap kali ada penumpang naik. Sementara tempat duduknya hampir semua sudah jebol. Bus mulai bergerak setelah hampir satu jam menunggu penumpang.. 

Sebagian besar penumpang adalah anak muda. Berpasang-pasangan. Seorang bapak mengobrol dengan mereka. Lebih tepatnya si bapak mewawancarai mereka. Aku mendengarkan saja.

"Kalian dari mana?"
"Asli Blora Pak, Njapah."
"Bukan. Kalian ini pulang dari mana?"
"Ooo.. Dari Solo Pak. Dari bioskop."
"Dulu di Blora juga ada bioskop. Bioskop Garuda. Kursinya kayu. Kipas anginnya berisik. Paling sering nyiarke film India. Tapi sudah lama tutup. Gedungnya sekarang jadi kantor."

Di tengah jalan serombongan pengamén naik. Seorang, mungkin belum genap duapuluh tahun umurnya, berkalung gitar. Seorang lagi membawa ketipung. Dua orang lainnya menyanyi, seorang merangkap pembain kecrekan. Dengan formasi demikian, aku menduga mereka akan membawakan lagu dangdut. Lumayan. Tebakanku salah.

Sengaja aku datang ke kotamu. Lama nian tidak bertemu ingin diriku mengulang kembali berjalan-jalan bagai tahun lalu. Mulutku tak kuasa menahan untuk tidak ikut bersenandung begitu lagu mencapai klimaksnya. Seketika aku menjelma Broery Marantika. "Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra..."

Satu dua penumpang mulai turun begitu bus memasuki wilayah Blora. Rumah yang berdiri di kiri kanan jalan menurutku beratap lebih rendah dibandingkan rumah-rumah di Jawa Tengah bagian selatan. Masih banyak juga rumah berdinding gedhek bambu. Halaman tanah merah basah. 

Jalanan sepi. Lampu-lampu berpendaran. Hujan masih turun rintik-rintik. Aku ikut turun ketika Ibu yang kujumpa di terminal turun. Ia masih harus menyambung perjalanannya dengan mikrolet ke Cepu. Sementara aku menyusuri jalanan kota, mencari-cari tempatku bermalam. Penatku seketika hilang.
---
Mpu Bharadah semasa hidupnya sangat dihormati, ternyata dari pemasangan arca raja Kertanagara (Mahâsobhva atau Joko Dolok) di Wurare, sebagai penghormatan atau peringatan jasa Mpu tersebut. Prof. Dr. Purbatjaraka menarik bahwa "dengan sendirinyalah bahwa tempat itu dulunya tempat kediaman Mpu Bharadah" (Bahasa dan Budaya ii-III, Desember 1954, 32-33).

Perkataan Wurare terdiri dari Bhü = tanah, sedang rare berarti anak. Karena itulah tempat itu bisa juga disebut Lemah-putra, di mana Lemah artinya juga tanah. Lama-kelamaan Lemah-putra disebut Lemah-patra. Karena patra searti dengan tulis, surat dan citra, maka timbullah pernamaan seperti Lemah-tulis, Lemah-citra. Di dalam cerita Calon Arang sendiri disebutkan, bahwa tempat Mpu Bharadah adalah di Lemah-tulis, demikian pula disebutkan dalam kitab Negarakertagama.

Kata Wurare yang sebenarnya adalah Wurara. Dan oleh mulut rakyat yang kurang memahami bahasa, nama ini berubah-ubah menjadi Wrura, Wlura, Blura, akhirnya kini menjadi Blora. Jadi tempat kediaman Mpu Bharadah adalah Blora pada waktu sekarang. [2]
---
Hujan benar-benar reda ketika azan Isya terdengar samar-samar. Aku sudah selesai bebersih diri, memutuskan untuk berjalan melihat-lihat kota. Sebagian besar toko sudah tutup. Warung-warung tenda tepi jalan tak seberapa berisi pembeli. Sekira duaratus meter dari alun-alun kota berdiri satu-satunya kompleks pertokoan yang masih beraktivitas.

Aku menghampiri gerobak ronde yang mangkal di depannya. Penjualnya mas-mas tigapuluhan awal sepertinya. Logat bicaranya terdengar sangat akrab di telinga. Begitu kutanya ternyata ia berasal dari Juwiring, Klaten.

"Memang setiap hari sepi begini ya Mas?"
"Iya, sepi Mas. Apalagi dalam kota memang tidak boleh lewat bus."
"Ooo... Mas-e berarti gimana jualannya?"
"Ya kalau jualan beda Mas. Jualan kan usaha. Ada kebutuhan masyarakat yang memang ingin kita penuhi. Orang-orang, apalagi musim hujan seperti ini, butuh ronde untuk menghangatkan badan. Tidak hujan pun butuh ronde, nyegerne awak. Kota isinya orang-orang kerja Mas. Orang-orang lelah. Orang-orang yang tidak pernah bosan minum ronde."

Aku tidak sempat mencerna ceramah dadakan si Mas Penjual Ronde. Yang aku ingat malah penuturan Pram dalam pembuka buku Cerita Calon Arang. Bahwa kota ini dulunya tempat mukim mpu-mpu linuwih. Bisa saja salah satunya menjelma sosok penjaja ronde di hadapanku. Yah, bisa saja kan?
---
[1] Mokmén adalah istilah untuk razia kendaraan bermotor oleh polisi. Umum digunakan oleh masyarakat Jogja, Solo, dan sekitarnya.

[2] Bagian ini disalin penuh dari pengantar Pramoedya Ananta Toer untuk buku Dongeng Calon Arang, terbitan Yayasan Bentang Budaya tahun 1999, halaman viii.

3 komentar:

  1. Narasi yg bersahaja tapi pas, enak dibaca dan dicerna.... Dua jempol untuk penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah menyempatkan singgah dan membaca. Semoga bermanfaat. :)

      Hapus
  2. sangat enak di baca, rasanya terbawa dan tergambar apa yang terjadi saat itu..

    Jempol tenan buat mas bastian..

    BalasHapus

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine