Umbrella Wisdom Kini

| Mei 22, 2016 | Sunting
Hampir pukul tiga pagi waktu Malaysia. Aku tengah membereskan beberapa tumpuk kertas. Terlalu banyak yang aku simpan. Dari kertas ulangan hingga potongan koran. Satu yang lantas menarik perhatian: selembar kertas A4 yang sudah koyak bagian atasnya. Sebuah daftar tertulis di sana. Daftar mimpi anak-anak Dao Atas, Pademangan, Jakarta Utara. Ditulis tiga tahun lalu. Aku kebetulan tengah ke Jakarta waktu itu, awal Mei 2013. Dan Heny mau menemaniku kembali ke Dao Atas, ke Umbrella Wisdom.

Kelas ramai seperti biasa. Banyak muka baru, hasil dari urbanisasi yang deras. Tapi juga banyak di antara mereka yang sudah cukup lama belajar bersama teman-teman di Umbrella Wisdom. Heny membuka kelas dengan doa, lalu mengajak anak-anak bernyanyi Potong Bebek sebelum memintaku untuk ke depan untuk memimpin games
Mimpi-mimpi anak Dao Atas
Malam itu kami bermain gaya. Masing-masing anak memperagakan mimpi mereka di depan kelas, sementara anak-anak yang lain menebaknya. Dari gaya yang mereka tampilkan itulah kemudian daftar dalam kertas ini bersumber.

Ada Bayu, bercita-cita menjadi pemain bola. Ikal, Bayu, dan Bilal, ingin menjadi tentara. Alam dan Musa ingin menjadi polisi. Sementara Gilang ingin menjadi pemadam kebakaran - Dao Atas dan kampung-kampung di sekitarnya sudah beberapa kali dilanda kebakaran. Ada juga yang kompak ingin menjadi dokter: Caca, Tiara, dan Zahra. Alimah ingin menjadi profesor. Sementara Eka ingin menjadi artis, ingin masuk TV - mimpinya ini 'terwujud' ketika stasiun TV NET. mengangkat profil Umbrella Wisdom dalam Lentera Indonesia edisi Tentang Eka dan Hari Merdeka.

Merasakan kelas yang tetap hidup tentu saja membuatku senang. Juga kagum kepada teman-teman yang setengah mati menghidupinya. Heny bercerita banyak hal, utamanya tentang dinamika pengelolaan kelas. Profil Umbrella Wisdom yang saat itu mulai banyak diangkat ke media membuat banyak pihak tergerak untuk mengulurkan tangan. Tidak semuanya mengajar. Ada yang membagikan makanan, memberikan donasi, hingga membantu perbaikan kelas.

Selepas edisi mampir itu, aku belum pernah mampir lagi. Tetapi dari laman facebook aku mengikuti kegiatan teman-teman di sana. Anak-anak bermain dan belajar seperti biasa. Komunitas-komunitas lain juga banyak yang berkolaborasi dengan kerja-kerja Umbrella Wisdom. Hingga kemudian kabar sedih datang akhir tahun lalu. Kampung Dao Atas digusur.

Desas desus rencana penggusuran kampung Dao Atas memang sudah lama terdengar. Bahkan sejak awal-awal Umbrella Wisdom beraktivitas, Pak Ramusin, tokoh setempat, sudah sering bilang bahwa kampung akan digusur. Kampung ini memang berdiri di atas tanah milik PT KAI, tanah negara. Dan karena masih desas desus, sebabnya pun bermacam-macam: mulai dari hendak diaktifkannya kembali jalur kereta api antara Stasiun Jakarta Kota dan Ancol yang membelah kampung, hingga rencana pembangunan rusunawa.

Dan 11 Desember 2015, desas desus itu akhirnya menjadi fakta. Kampung itu benar-benar digusur. Bangunan semi permanen yang sudah empat tahun ditempati oleh Umbrella Wisdom pun ikut rubuh oleh pasukan berseragam doreng. Sedih, tentu saja. Tempat itu dibangun relawan dari sebuah bekas pos jaga. Dindingnya penuh tambalan, lantai kayunya berderit setiap kali diinjak. Kelas lantas sedikit demi sedikit diperbaiki untuk mempernyaman kegiatan belajar. Dan semua itu roboh dalam sekejap.

Wilayah ini semakin rata dengan tanah setelah kebakaran datang, sekitar sebulan setelah penggusuran. Aktivitas Umbrella Wisdom memang sementara dihentikan, tetapi seperti biasa para relawan bergerak mengumpulkan bantuan. Gerak para relawan paling tidak membawa harapan bahwa Umbrella Wisdom akan berkegiatan kembali.

Benar saja. 10 Februari 2016, untuk pertama kalinya setelah penggusuran, Umbrella Wisdom kembali beraktivitas. Para relawan sungguh tahan banting ya? :) Kegiatan diadakan selepas Ashar di area dekat masjid setempat. Yah, di tempat terbuka, beratapkan langit, berdindingkan angin. Dan aktivitas ini bertahan hingga kini.
Belajar dan bermain bersama. Yang paling depan itu Muslim, adik Eka yang berdiri di belakang.
Kembali ke mimpi anak-anak Dao Atas yang kutemukan di tumpukan kertas-kertasku. Aku teringat satu kutipan dari Paulo Coelho, bahwa manusia dalam kondisi bagaimanapun akan tetap mampu melakukan apa saja yang mereka impikan. Semoga saja mereka tetap hidupi mimpi-mimpi itu, sehingga seberapapun berat hidup, mereka masih mempunyai alasan untuk berjalan dan berusaha.

Dan untuk para relawan yang telah menghidupi Umbrella Wisdom selama ini, semoga senantiasa diberi kekuatan untuk terus menyemai dan memupuk mimpi anak-anak Dao. Kalian hebat! Tabik.
Kegiatan belajar di Umbrella Wisdom saat ini diadakan setiap Sabtu sore. Bagi teman-teman yang berminat untuk menjadi pengajar bisa mendaftar di sini.

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine