Melodi Kevakuman

| Juli 19, 2009 | Sunting
Bingung
Entah apa artinya, tapi hal itulah yang kiranya melanda diriku hingga ku menelantarkan blog ini hingga hampir tiga puluh hari kutelantarkan anak asuhku. Sepertinya ada-ada saja alasan yang membuat otakku tak mampu memberikan instruksi pada sel-sel dalam tubuhku untuk bergerak dan menghasilkan sesuatu. Selalu saja ada alasan untuk menunda dan menundaku untuk melangkahkan kaiku ke warnet (ruang administrasi blog-ku selama ini, hehe). Entah tidak enak badan, entah hawanya lagi panas, dan juga entah-entah yang lain yang kemudian memperparah keterbengkalaian blog ini.

Tapi entah karena sudah terlalu lama atau bagaimana, atau karena sudah terlalu banyak uneg-uneg yang seharusnya segera disampaikan, sedari pagi niatan untuk pergi sudahlah terbuncah dalam dada ini meski kemudian pada akhirnya kaki ini baru bisa terlangkahkan pada lebih tengah hari, namun inilah yang mungkin menjadi awal dari persemadianku, hehe. Apalagi, banyak pula rekan-rekan setiaku yang sudah benar-benar memaklumatkan sebuah pesan kepadaku agar segera bangun.

Terakhir, Mbak Ratieh, mengirimkan sms-nya dua hari lalu. singkat, namun menjadi sejauh hal yang terus saya pikirkan, IDE AKAN SEGERA MENGUAP APABILA TAK SEGERA DIUNGKAPKAN. KEEP UR SPIRIT. GBU

dan itulah yang kemudian menjadi sebuah bahan renungan bahwa aku kudu terus menulis, apapun, tanpa harus kupikirkan apa yang akan terjadi pada tulisanku tersebut.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine