Anak-anak yang Memanggul Senjata

| Agustus 30, 2009 | Sunting
Johnny Mad Dog
Johnny Mad Dog dan para tentaranya
Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari para militer tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***
Tentara Johnny Mad Dog
Bahasa senjata tentara Johnny Mad Dog
Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di Festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. 

Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.


Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. 

Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.
***
Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. 

Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.
***
Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi sebulan silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. 

Masa usia anak-anak dan remaja memang sangat unik dan lugu, sehingga amat rentan dan mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

Tulisan Vincent Hakim | Foto milik jeuxactu.com

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine