Menerima Kekalahan - Akhir LCC UUD 1945 Tahun 2010

| Juni 07, 2010 | Sunting
Peserta LCC UUD 1945 Provinsi Jateng bersama Pimpinan MPR RI
terkadang manusia dihadapkan pada sebuah tembok yang membuatnya tak bisa bergerak.namun, di lain waktu manusia juga seperti seekor kijang yang dibiarkan berlarian di sebuah tanah lapang: bebas.dan sebagai manusia biasa, adalah wajar ketika suatu kali aku dihadapkan pada pilihan pertama: pikiran seolah terhalang oleh sesuatu, padahal tak ada apa-apa. tangan mendadak pula kelu, tak bisa bergerak meski keyboard komputer sudah tersentuh. 

dan yang lebih memperparah lagi adalah otak yang sudah cukup lelah."otak itu seperti manusia, ada waktunya ia kecapaian. sehingga jangan kau peras terus menerus, istirahatkan sejenak agar ia dapat mengisi ulang bahan bakarnya", begitu kata ibu suatu ketika, dulu kala. dengan alasan dan juga masalah itu pula akhirnya kubiarkan, dengan terpaksa, blog ini terbengkalai dalam waktu yang lumayan lama: satu bulan lebih!!! ada banyak cerita yang belum sempat terceritakan selama off, sehingga mungkin inilah waktu yang tepat untuk sekedar bercerita terlebih dahulu.

dalam dunia sepak bola kita sering mendengar istilah underdog, sebutan untuk tim-tim kelas rendah yang tidak dijagokan untuk menang sama sekali. lalu? dalam sebuah kompetisi predikat seperti itu tentunya dapat mengendorkan semangat kita. namun, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapinya. apabila kita menjadikannya sebagai sebuah lecutan untuk maju, maka tidak mustahil predikat tersebut malah menjadi semangat kita untuk menjadi lebih baik. semangat agar kita tak lagi dipandang sebelah mata. hal ini pula yang menjadi bagian dari ceritaku selama off. 

aku ditunjuk oleh sekolah utuk mengikuti sebuah lomba di tingkat karisidenan akhir januari lalu. materinya tak main-main: UUD 1945, dasar negara ini. aku, dan juga 9 anggota tim lainnya berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik, apalagi dari awal kami seolah juga menjadi tim underdog: tim dari sekolah pinggiran yang sama sekali tak terdengar sepak terjangnya. 

sementara tim lain kebanyakan adalah sekolah-sekolah yang sudah bonafit. namun, guliran cerita selanjutnya ternyata berkata lain.dari tim yang bukan apa-apa kami melejit menjadi salah satu tim kuat yang menjebol peringkat dua dari 18 sekolah yang bertanding, dan memberikan kami kesempatan untuk bertanding ke tingkat provinsi.dari sinilah aku mulai sadar dan menyadari bahwa segala sesuatu itu yang terpenting adalah usaha, bukan sekedar gemerlap dan kemilau luar semata.

kamipun bertolak ke provinsi, dengan gelar yan masih sama: tim underdog: satu-satunya sekolah menengah dari kota kecamatan yang nracak ikut kompetisi tingkat provinsi yang diisi oleh sekolah-sekolah kota!!! sekali lagi, badai menerpa tim kami. krisis kepercayaan diri!!! seperti sebuah kapal dapat dibilang aku yang menjadi nakhoda-nya saat itu. berusaha sekuat mungkin untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri anggota lainnya. berulang kali aku berkata,
yang diperhitungkan disini bukan darimana kita berasal, namun seberapa kemampuan kita untuk bisa bersaing dengan sekolah lainnya!!!
entah berapa kali, namun yang pasti, karena terdesak waktu pula anggota yang lain perlahan-lahan dapat njenggelek dan berkata, "betul, kita pasti bisa!!!" senang banget rasanya bisa menumbuhkan semangat orang lain. yah, walaupun pada akhirnya kita juga tidak menang, paling tidak kita sudah berusaha maksimal. dan yang lebih penting lagi, kita juga sudah mempersiapkan diri untuk menerima kekalahan (penting!!!)

menurutku ini adalah sesuatu yang penting, bukannya pesimis, namun dalam hidup manusia tidak selamanya berjalan mulus, sehingga ketika kita bersiap-siap untuk melangkah, menapaki sesuatu, kita tak hanya menyiapkan: bagaimana kalau kita berhasil? tetapi juga "bagaimana kalau kita belum berhasil?"

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine