HAMKA Milik Malaysia

| September 04, 2015 | Sunting
Seorang kawan Malaysia saya mencak-mencak setelah berkesempatan menonton film Di Bawah Lindungan Ka'bah besutan sutradara Hanny R. Saputra. Ia menganggap cerita yang disuguhkan dalam film melencong jauh dari novelnya, tulisan HAMKA. "Saya hafal benar detail cerita Allahyarham HAMKA itu. Ianya bukan semata cerita cinta anak-anak muda seperti dalam film itu. Yang lagi penting adalah cerita kecintaan seorang hamba pada Allah Ta'ala."

Rasanya memang sudah jamak diketahui bahwa karya-karya HAMKA juga dibaca luas oleh masyarakat Malaysia. Dan kawan itu adalah salah satunya. Ia bahkan bercerita tentang masuknya buku-buku karya sastrawan asal tepian Maninjau tersebut sebagai bacaan wajib sekolah menengah pada era 70 dan 80-an. Tak hanya itu, cerita-cerita gubahan HAMKA yang diadaptasi menjadi sandiwara radio pun didengarkan secara luas di negara ini. Abang seorang kawan yang lain pernah bercerita bahwa rekaman drama radio tersebut sampai diperdengarkan di kelas-kelas untuk kemudian dijadikan bahan pertanyaan — sesuatu yang rasanya tak dilakukan di Indonesia sekalipun.

Presiden kampus saya yang juga mantan Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Dr. Rais Yatim dengan bangga menyebut HAMKA adalah penjalin hubungan Indonesia dan Malaysia. Termasuk ketika politik konfrontasi dilancarkan oleh Bung Karno pada tahun 1963. HAMKA bahkan sampai dipenjara karena dituduh mengadakan rapat gelap merencanakan pembunuhan presiden — konon atas biaya Malaysia.

Kuatnya pengaruh sang Buya di negeri ini juga dapat dilihat dari anugerah Ijazah Kehormat Doktor Persuratan dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974. Pada kesempatan inilah Perdana Menteri Malaysia kala itu, Tun Abdul Razak, mengatakan, "Hamka bukan sahaja milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara."

Dengan persinggungan yang sudah demikian panjang, sebenarnya tak heran bila sangat mudah menemukan buku-buku HAMKA di toko-toko buku di Malaysia hingga hari-hari ini. Bahkan empat buku HAMKA — Tafsir Al-Azhar Jilid 1, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Tuan Direktur, Merantau ke Deli, dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, diterbitkan ulang secara berkala oleh Penerbit PTS sejak bulan Juli lalu.

Masyarakat Malaysia secara umum pun begitu menghormati peran dan kiprah HAMKA. Saya merasakan betapa mereka memiliki HAMKA. Selama 3 tahun di negeri ini, sudah tak berbilang lagi saya mendengar buah pikiran HAMKA disitir dalam khotbah-khotbah Jum'at, kelas-kelas, hingga percakapan sehari-hari.

Sebelum Penerbit PTS menerbitkan pun, buku-buku HAMKA sudah pernah diterbitkan oleh penerbit lain, Pustaka Dini. Dan, sekali lagi, dengan persinggungan yang sudah demikian panjang itu jadi hal biasa bukan? 
Buku-buku HAMKAdi toko buku Kinokuniya, KLCC. 
Namun, ceritanya jadi lain bila kemudian kita melihat bagaimana HAMKA tak lagi banyak dibaca di negerinya sendiri hari-hari ini. Pun di toko-toko buku, buku-buku HAMKA adalah barang langka.

Bulan Juli silam saya iseng mendatangi 4 toko buku besar di Jogja untuk mencari tahu apakah ada karya-karya beliau yang masih dijual. Di 3 buku sama sekali tidak ada. Sementara di katalog satu toko terlihat seri buku HAMKA terbitan Republika, tetapi petugas mengatakan itu pun sudah dikembalikan ke distributor. Aduh.

Saya tak patah arang. Saya coba untuk cek koleksi buku-buku HAMKA di perpustakaan 5 universitas di Jogja melalui laman Jogjalib. Hasilnya? Tidak ada satupun karya HAMKA yang tercatat di Perpustakaan UGM, UNY, UII, dan UIN Sunan Kalijaga. Menariknya yang tersedia malah puluhan judul buku dan skripsi yang membahas tentang HAMKA, baik pribadi ataupun karya-karyanya.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti kita harus jauh-jauh ke Malaysia demi membaca karya-karya HAMKA? Dan di saat itulah orang-orang kita akan berteriak, "Malaysia nge-klaim HAMKA!"

*) berlanjut

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine