Surabaya Awal Abad Ke-20, Seperti Dikisahkan oleh Hamka

| September 29, 2015 | Sunting
Tuan Direktur, terbitan PTS Publishing House - Juli 2015
Tuan Direktur, terbitan PTS Publishing House - Juli 2015
Sebagaimana yang saya tulis pada awal bulan ini, lima buku Hamka diterbitkan ulang oleh penerbit Malaysia PTS beberapa bulan bulan silam. Salah satu yang saya baca adalah Tuan Direktur, novel pendek yang pertama kali terbit sekitar 76 tahun lalu. Alur ceritanya sederhana saja, khas novel-novel zaman itu. Mengisahkan kehidupan Tuan Direktur, sebagaimana judulnya. Si Tuan ini nama aslinya Jazuli, pemuda Banjar yang berusaha untuk mengubah nasibnya dengan berdagang di Surabaya. Nasib baik, toko emas intan yang dibinanya berkembang pesat. Kehidupannya berubah. Sayang, perangainya pun ikut berganti.

Hamka berusaha menampilkan cerita dengan serinci mungkin meski dalam ruang yang cukup terbatas. Oh ya, sebelum dibukukan, Tuan Direktur adalah cerita bersambung di mingguan Pedoman Masyarakat terbitan Medan.

Salah satu hal yang digambarkan Hamka dengan (agak) panjang adalah latar novel ini: Surabaya. Paparan Hamka melemparkan saya ke Surabaya di awal abad ke-20 — saya sebenarnya ingin menulis 1930an mengingat waktu penerbitan novel ini, tetapi kunjungan pertama Hamka ke Surabaya sendiri terjadi antara tahun 1924-1925 sehingga ada kemungkinan pemaparan tersebut berdasarkan kunjungan tersebut.

Bukan sekadar memantik imaji saya tentang tatanan fisik kota Surabaya masa itu, tetapi juga keadaan sosial setempat. Saya tulis ulang agar saudara-saudara bisa menyertai pengembaraan saya. Kembara lintas masa menuju Surabaya awal abad ke-20. Bersiaplah.
***
Kota yang kaya dalam sebutan, serta menjadi pusat pula dari perniagaan besar dan kecil di Indonesia ini ialah Surabaya. Kaya dalam sebutan sebab tanjungnya orang namakan Tanjung Perak, kalinya Kali Mas dan gunungnya Gunung Ringgit. Surabaya kota perniagaan antarabangsa. Kapal-kapal dagang yang akan ke Hong Kong, sampai ke Kobe sana, demikian juga ke Amerika, senantiasa melalui Surabaya.

Maka pedagang-pedagang dari Maluku Timur Besar, sampai ke Tanjung Banda Neira, berkumpullah ke kota Surabaya. Bangsa Timur asing pun bukan sedikit jumlahnya di kota itu. Bangsa Tionghoa memegang pasaran seluruhnya. Bangsa Arab menjadi tuan tanah yang mempunyai rumah-rumah sewa berpintu, mempunyai vila yang indah-indah di kota Malang, Lawang dan Batu. Tiap-tiap petang hari Sabtu, berduyun-duyunlah auto yang mahal-mahal kepunyaan pedagang-pedagang segala bangsa untuk menghabiskan hari Minggunya di pesanggarahan yang indah-indah di kota Malang, Lawang dan Batu itu. Street-streetnya ramai dan ribut, tram bersilang siur, kenderaan memekakkan telinga. Kali Mas mengalir dengan kotornya, laksana Kali Tjiliwung di Betawi. Kali Tjiliwung di kota Betawi Lama dan Kali Mas di Surabaya, meskipun bagi sesetengah orang disebut suatu cacat yang tidak dapat dihindarkan dari kedua-dua kota itu, tetapi bagi sesetengah ahli fikir, kedua-duanya terpandang ciptaan alam yang tidak boleh dipandang murah harganya.

Pada kali-kali itulah nyata terbentang bahawa manusia tidak berdaya untuk menyembunyikan aib dan cela masyarakat. Di pinggir kali itu lalu dengan cepatnya auto yang mahal, sedang beberapa orang yang tidak tentu rumah tangganya, mandi di bawah dengan tidak memakai kain sehelai kain benang jua. Beberapa perempuan melintas di atas jambatan dengan pakainnya yang indah, di bawah beberapa perempuan lagi sedang menyudahkan kain cucian yang dicucinya dengan diupah. Ada pula manusia, yang lahir ke dunia dalam satu perahu kecil penjual atap di dalam kali itu. Setelah agak besar menjadi penolong ayahnya mengayuhkan perahu atapnya dan kelak setelah besar, dari sana pula mata pencahariannya, dan setelah tuanya di sana dia sakit. Setelah matinya di sana pula dia dimandikan dan dikapankan. Baharulah ditinggalkannya perahunya itu setelah teman-temannya menghantarkan ke kuburan.

Sebab itu bertambah ramai suatu kota, akan bertambah banyak terlintas hasil perjuangan masyarakat yang berjalan sebagai mesin. Mana yang tahan di bawahnya lalu dan mana yang lemah terlempar ke tepi.
***
Demikianlah Hamka menggambarkan kota Surabaya dalam bebuka novel Tuan Direktur. Sekali lagi, singkat saja, tetapi cukup memberikan gambaran umum tentang kondisi kota di masa itu. Saya pun jadi tergerak untuk kembali membuka kajian-kajian sejarah.

Meski terletak di tepian laut, Surabaya ternyata tidak memiliki pelabuhan modern hingga awal 1900-an. Dermaga di tepian Kali Mas memang menjadi pusat niaga yang ramai selama berbilang abad, berkah dari mulut sungai yang lebar dan alirannya yang tenang. Tetapi ini menjadi masalah bagi kapal-kapal besar: mereka tidak bisa menambatkan sauh karena airnya terlalu ceték. Sehingga yang terjadi adalah bongkar muat barang dilakukan di tengah lautan, kemudian dioper ke perahu-perahu kecil untuk dibawa ke dermaga. Proses semacam itu menjadi kurang efektif seiring dengan meningkatnya volume perputaran barang di akhir abad 19.

Dari sanalah muncul ide pembangunan pelabuhan di penghujung tahun 1890-an. Meski demikian pembangunan pelabuhan baru benar-benar terwujud pada tahun 1913, ada juga yang bilang 1916. Di bangun di sisi barat muara Kali Mas, pelabuhan ini dinamai Tanjung Pérak. Pertama kali beroperasi pada tahun 1920. Pada sekitar masa inilah Hamka mengunjungi Surabaya untuk pertama kalinya, dalam sebuah perjalanan satu tahun ke beberapa kota di Jawa.

Dimulainya pengoperasian Tanjung Pérak menjadi semacam penanda mulai meredupnya pamor Kali Mas sebagai pusat dagang. Perahu-perahu masih lalu lalang untuk pengangkutan. Tetapi kegiatan ekonomi mulai berpindah ke Pérak. Yang lantas membawa pelabuhan ini ke puncak jayanya pada dekade 1930-an.
Surabaya di masa lalu. Tanjung Perak (1920-an), Kali Mas (1935), dan trem yang membelah kota (1936) | © KITLV
Dengan posisinya sebagai simpul niaga, Surabaya menjadi kota berbagai bangsa. Di antaranya yang disebutkan oleh Hamka adalah Tionghoa dan Arab. Dahulu, kawasan tinggal mereka berada di sebelah timur Kali Mas, ada kampungnya sendiri-sendiri. Orang-orang pribumi berdiam di sekitar permukiman mereka juga. Sementara orang-orang kulit putih bermukim di sebelah barat sungai.

Orang-orang dari wilayah sekitar pun berdatangan mencari penghidupan. Petani-petani di daerah pinggiran misalnya, tidak lagi dapat bercocok tanam karena lahan-lahan partikelir dijadikan kawasan industri. Ke Surabayalah mereka pergi. Menggantungkan nasib dengan menjadi pekerja rumah tangga. Juga di sektor jasa lainnya, mulai dari jasa pengamanan hingga buruh pelabuhan. Pada titik inilah pengoperasian Tanjung Pérak dan benang kusut kemiskinan bertemu. Dipermudah dengan dikembangkannya moda transportasi massal, salah satunya trem. Buruh-buruh yang tinggal di pinggiran menjadi lebih mudah untuk mencapai tempat kerjanya.

Sementara, kelas-kelas yang lebih sengsara harus berdesak-desakan hidup di gang-gang. Atau yang lebih sengsara lagi ya seperti yang digambarkan Hamka: bertahan di pinggir-pinggir kali, atau di atas perahu-perahu rombeng.

Apakabar Surabaya hari ini?

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine