Demam Laskar Pelangi

| September 25, 2008 | Sunting
Laskar Pelangi pergi tamasya
Bukunya yang sudah mbrojol dari tahun 2005 lalu ini menjadi national-bestseller dan berkali-kali cetak ulang dengan jumlah pembaca fantastis.

Setali uang dengan bukunya, filmnya yang diluncurkan hari ini juga sudah menjadi demam di masyarakat terlebih dahulu - ini melebihi popularitas bukunya sendiri pastinya yang baru booming beberapa tahun setelah bukunya keluar. Yah namanya juga lagi booming, jadi topik untuk diomongin dimana-mana, bahkan sampai di pengajian di daerahku Laskar Pelangi dijadikan contoh kalau mau usaha, nothing is impossible. 

Dan mungkin juga karena mengikuti trend itu pula kubuka catatanku untuk merangkai kalimat tentang LP dan inilah tulisan yg ke-5 membahas soal LP. Yah demi mengikuti apa yg dibilang booming dan supaya gak ketinggalan, akhirnya ku keluarin budaya latahku. -_-

Apabila berkesempatan untuk menonton filmnya, paling tidak ada 3 bagian cerita yang sangat ingin kulihat, yakni:
  • Betapa Bu Muslimah menangis saat Pak Harfan mulai pidato akan menutup sekolah karena murid baru yang tak memenuhi kuota hingga sang juru selamat Harun datang.
  • Debat Lintang dgn Drs. Zulfikar yang adalah guru Sekolah PN dengan seabrek gelar akademik dlm cerdas cermat yg akhirnya turunkan prestise sekolah PN di depan sebuah sekolah desa yang tampilannya tak lebih dari sebuah gudang kopra. 
  • Dan tentunya siapa yg gak penasaran nama karya akbar Mahar di karnaval 17an yg yang menampilkan ide-ide liarnya dalam hentak rampak tarian ala suku-suku di Afrika yang akhirnya kembali melambungkan prestise sekolah Muhammadiyah itu.
Selebihnya aku paling gak mau liat adegan dari Bab 30, Elvis has left his building dimana Lintang sudah tercampakkan di bedeng2 penambang pasir di tepi pantai, atau dengan adegan ibu anak di RSJ Zaal Batu. Uuuuuuhhh....

Yah tapi sayang tidak ada budget untuk nonton ke Jogja. Atau mungkin ada yang mau nraktir? Silakan, dengan senang hati. Hehehehe...

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine