Penyuntik Semangat itu Laskar Pelangi

| September 23, 2008 | Sunting
Laskar Pelangi. Novel apik Andrea Hirata yang hampir saja kulewatkan karena malas membaca. "Yen kamu pingin suntikan spirit untuk sekolah, baca Laskar Pelangi. Masak hari gini durung moco seh?" Kata-kata mas Iman mengomentari keluhku yang saat itu tengah kelelahan cuma karena mengayuh sepeda sejauh 8 km pulang pergi untuk sekolah itulah yang awalnya mengusikku. Ditambah argumen mbak Ratieh, "Kalau AAC aku gak terlalu pingin nonton film-e, tapi kalau Laskar Pelangi difilmkan, aku kudu nonton!"
Buku Laskar Pelangi
Yah, akhirnya sambil manfaatin waktu setelah ujian, Mei lalu kupinjam buku itu dari perpustakaan. Surprised: dari yang awalnya gak tertarik, kulahap buku itu dalam sehari. Kesepuluh murid Sekolah Muhammadiyah di Belitong Timor telah mengukir kisah apik yang dituturkan oleh satu dari mereka: Ikal yang tak lain konon adalah Andrea. Bahasanya mengalir begitu saja meski harus diakui banyak istilah asing yang digunakannya. 

Kisah dimulai di suatu pagi penentuan nasib sekolah Muhammadiyah tersebut: tetap dibuka atau ditutup. Sepuluh menjadi angka keramat, angka minimal jumlah murid yang harus didapat bila tetap ingin bertahan.


Sebuah drama sendu terjadi karena hanya ada 9 orang pendaftar hingga jam pendaftaran hendak ditutup: Ikal, Trapani, Lintang, Sahara, Kucai, Borek, A Kiong Mahar dan Syahdan. Tapi akhirnya datang malaikat penolong yang menjadikan sekolah itu tetap dibuka walau dalam keadaan yang memprihatinkan yaitu Harun. Dari situlah denyut nadi sekolah terasa lagi, pelan-pelan. Sepuluh anak itu belajar dalam kondisi kurang, walau begitu semangat mereka dan guru mereka: Bu Muslimah yang akhirnya mengubah nasib sekolah itu.

Dari 10 anak yan
g nantinya akan belajar bersama sampai lulus SMP itulah Laskar Pelangi lahir yang disebabin kesenangan mereka melihat pelangi setelah hujan reda. Dari situ pula lahir sosok-sosok brilian seperti Lintang, si kuli kopra yang mengayuh sepedanya 80 km untuk sampai sekolah yang menjelma menjadi Einstein cilik - walau selanjutnya karena sang ayah meninggal, mimpinya jadi seorang ahli matematika gagal karena ia harus berhenti sekolah dan bekerja cukupi kebutuhan keluarganya. Yah, ironis memang apalagi ini terjadi di pulau terkaya: Belitung. Ada pula si Mahar, master seni, yang berhasil mengangkat prestise sekolah kampung lewat ide cemerlang dalam karnaval 17-an. Dan tentunya dengan si Ikal sendiri.

Lalu ada apa dengan mereka? Baca sendiri deh novelnya, walaupun mungkin nanti kalian sudah melihat filmnya, kenikmatan tesendiri akan kalian dapat dari membaca novelnya. Yang pasti, novel inilah yang membuatku terus bersemangat walau kini kuharus mengayuh sepeda 10 kilometer lebih jau. Kalau Lintang saja bisa kenapa aku tidak? SEMANGAT!

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine