Laskar Pelangi Naik Layar Lebar!

| September 24, 2008 | Sunting
Film Laskar Pelangi
Esok, Kamis 25 September 2009, film layar lebar, Laskar Pelangi hasil besutan sutradara kondang Riri Riza dan Mira Lesmana yang diangkat dari novel Andrea Hirata akan diluncurkan yang akan ditandai dengan nonton bareng 1000 guru di Bandung. Film ini sejak awal sudah diprediksi akan mendulang sukses seperti juga sukses novelnya yang menjadi bestseller.

Bahkan sang penulis sendiri sudah memproklamirkan bahwa filmnya lebih bagus daripada novelnya! Yah sungguh sebuah pernyataan yang terlalu dini tentunya mengingat filmnya sendiri baru beredar besok, apalagi yang juga harus difikirkan adalah bahwa tidak semua estetika kata dapat dituangkan dalam adegan film lho bang Ikal. Terlepas dari itu semua, film Laskar Pelangi ini konon tidak jauh dari novelnya - meski sudah sedikit dibubuhi bumbu-bumbu penyedap lewat skenario Salman Aristo yang beberapa waktu lalu juga mendulang sukses lewat AAC.


Setting film ini sendiri dicari yang seotentik mungkin dengan keadaan Belitong era 1970-an dengan Sekolah Muhammadiyah tua yang menjadi pusatnya. Sementara pemeran film ini adalah paduan artis-artis profesional macam Lukman Sardi yang gadang menjadi tokoh Ikal, Cut Mini menjelma menjadi Bu Mus, hingga Ikranagara yang diplot sebagai Pak Kepsek Harfan. 


Laskar Pelangi sendiri diperankan oleh bocah-bocah Belitong. Mereka diantaranya adalah Zulfany, si Ikal masa kini, lalu si genius Lintang akan diperankan oleh Fedian, sementara si master seni Mahar oleh Veris Yamarno.

Yah, kita tunggu saja fìlmnya beredar , tinggal besok kok dan kita buktikan apakah benar lebih bagus dari novelnya . Dan semoga dengan film ini kita sebagai potret anak muda harapan bangsa dapat lebih termotivasi untuk terus belajar dan belajar. Selamat Laskar Pelangi yang sudah naik layar lebar :)


Berikut beberapa cuplikan filmnya, hangat dari akun Flickr Laskar Pelangi khusus untuk para pembaca semua.

yourimagetitle
Muhammadiyah Gantong
yourimagetitle
Bu Mus dan Pak Harfan
yourimagetitle
Ikal dan Ayahnya
yourimagetitle
Para Laskar
yourimagetitle
Membaca Peta
yourimagetitle
Harun dan kawan-kawan
yourimagetitle
Karnaval 17 Agustus
yourimagetitle
Sekolah Alam
yourimagetitle
Persiapan Cerdas Cermat
yourimagetitle
Hujan-hujanan
yourimagetitle
Menunggu Lintang

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine