Lintang, Jenius Alam yang Tersiakan

| September 27, 2008 | Sunting
Lintang
LINTANG SAMUDERA BIN SYAHBANI MAULANA BASARA, sebuah nama konon adalah doa dan kukira dengan nama seperti itu orang tua yang telah menamainya berharap semoga anaknya akan menjadi bintang yang menerangi samudera, memberikan ke-terang-an bagi penghuninya. Lalu siapa dia? Lintang, anggota Laskar Pelangi yang kucoba tuk ku kuak misteri di balik bocah kecil berambut ikal merah yang pada hari pertama sekolah salah membawa alat tulis ini. Lintang sangatlah luar biasa jenius. Dia adalah anak seorang nelayan miskin yang tidak memiliki perahu namun harus menanggung kehidupan 14 jiwa dalam keluarganya.

Setiap harinya Lintang mengayuh sepeda sejauh 80 kilometer untuk sampai ke tempat belajar yang ia cintai - SD Muhammadiyah Gantong, melewati hutan dan sungai-sungai yang banyak buayanya. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada di sekolah. Ia juga aktif dalam kelas dan memiliki cita-cita sebagai ahli matematika. Dengan otak yang benar-benar cemerlang layaknya sebuah Lintang yang bersinar.

Si jenius alam
Yah, Lintang adalah seorang jenius alami yang tersiakan, aku terpana saat Andrea melukiskan bagaimana saat angka-angka dari buku yang ia baca hidup dan menari-nari. Serta saat cahaya ilmu tampak dari dahi. Itu persis dengan apa yang aku bayangkan: ilmu memang cahaya dan ketika pemahaman atas ilmu merasuk dalam benak kita, kalimat dalam lembaran-lembaran itu memang seakan bercahaya dan seakan berbicara untuk dirinya sendiri dan mengatur sendiri dirinya dalam benak kita. Bila hal itu terjadi maka aku yakin ilmu itu akan lekat selamanya.

Demi Lintang jangan ada lagi putra bangsa yang tersiakan... Mari kita cari Lintang-Lintang lain dan bantu apa saja yang mungkin. Satu lagi yang mengharu biru adalah keyakinan akan daya magis sebuah cita-cita, pancangkan ia setinggi langit, jangan lepaskan sekalipun gravitasi bumi menghalangi kita meraihnya. Itulah kenapa aku tetap bercita untuk menjadi astronot sekalipun tampak absurd bagi orang lain.

Cita-cita kawan, anda harus punya satu!

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine