Tentang Kegelapan

| Februari 11, 2009 | Sunting
kelam. gelap. 
pekat merajai hari.
membungkus bumi.
suara jangkrik
suara kodok
suara nyamuk
gonggong segawon
orkestra abadi yang tak pernah berganti

kutermenung...
mataku ingin menerobos
tapi terhalang, terhalang gelap.

tiadakah lagi yang dapat sibak gelap
selain nyala kecil teplok?

dimanakah para cerdik pandai?
pak presiden...
pak menteri...
pak polisi...
pak DPR...
tiadakah mereka?
hingga kuharus menyita daya
kang samiun untuk memompa petromaks?
atau mbok karto untuk membakar obor?
tiadakah?

sungguh ku tak habis pikir,
sekalipun kemudian,
pak oemar bakrie bangkit dari pilenggahan
namun, terlamabat sudah pak

gelap telah merata
tak mungkin bapak menyedot gelap 
dan memasukkanya ke dalam kendi
sendiri?
tak mungkin kan?

pak presiden sekalipun,
kemarin kemana pak?
gelap sudah semakin pekat
sementara bapak baru tiba,
tidakkah ini hanya seremoni
penyedap perang calon pemimpin negeri?

untunglah ayam-ayam kecil datang membela
mereka berusaha keras tuk memanggil matari
agar ia menyinari bumi, menyerap pekat
yang tak pernah terurai
bagai benang dalam lipatan padi...


yah, negeri ini butuh bukti bung!
butuh revolusioner yang dandani birokrasi pranata negara.
bukan sekadar para jago bicara, tapi tiada daya tuk wujudkanya
apakah itu anda?
atau mungkin anda?

tapi yang pasti bukan agos, atau yu ngatirah
mereka tak punya cukup duit untuk itu, sungguh
tapi sekalipun begitu, mereka masih sanggup,
meski tertatih,
tuk sekolahkan temon, genuk, sipar, ratno
atau siapapun anak mereka,
untuk mempersiapkan para pemimpin negara
pada nantinya.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine