Kamu Bisa Bas

| Februari 08, 2009 | Sunting
ada kalanya kita seolah sangat bersemangat untuk berdiri dan menjelang cerahnya matari, tetapi ada saatnya pula kita untuk sekedar mendongakkan kepala saja seakan tidak bisa bahkan termasuk untuk mangangkat tangan kiri kita dan kemudian menyuruhnya untuk menggamit tangan kanan kita saja beratnya seolah-seolah kita harus mengangkat candi borobudur dan memindahkannya ke jakarta.

seperti itu pulalah yang terasa pada diri ini hingga blog ini pun sampai tak menghasilkan satu tulisanpun sampai minggu pertama bulan ini. kenapakah itu? saya sendiri menganalisis bahwa kebiasaan kita untuk memanjakan diri kita sendiri sangatlah mempengaruhi hal tersebut. sebagai contoh adalah diri saya sendiri.

minggu ini, dengan jadwal sekolah yang begitu padat, yakni hampir setiap hari harus pulang jam empat sore, saya masih mempunyai waktu untuk membiarkan tubuh ini bermalas-malasan di atas dipan sambil sekedar mendengarkan dendang lagu dari mp3 ataupun membolak-balik buku yang sudah habis saya baca puluhan kali. betapakah itu hanya sebuah proses mubadirisasi waktu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk hal yang lain?

aaaggghht sungguh sebenarnya kita, serajin apapun kita, pada suatu waktu tentulah akan mencapai massa dimana kita benar-benar terperangkap lazy time sehingga kita membuang-buang waktu untuk hibernasi yang sebenarnya tidak perlu. dan hal tersebut pada nantinya akan bertambah parah apabila ada faktor x yang memperunyam masalah, yang akan saya jabarkan pada tulisan selanjutnya.

dan disinilah sesungguhnya eksistensi kita diuji, dan apabila kita mau untuk segera bangkit, tak ayal sebuah great of power yang benar-benar mahadahsyat akan mengaliri tubuh kita membentuk sebuah jaringan yang akan menuntuk kita untuk segera bangkit perlahan dan kemudian segera tancap gas untuk melompat dan berlari menyongsong datangnya matari.

untuk sekedar review, ingatkah anda pada lirik lagu ini?? awan hitam di hati yang sedang gelisah/daun-daun berguguran/ satu satu jatuh ke pangkuan/ tenggelam sudah ke dalam dekapan/ semusim yang lalu sebelum ku mencapai langkahku yang jauh/ kini semua bukan milikku/ musim itu telah berlalu/ matahari segera berganti

gelisah kumenanti tetes embun pagi/ tak kuasa ku memandang datangmu matahari/ kini semua bukan milikku/ musim itu telah berlalu/ matahari segera berganti/ badai pasti berlalu.


bagi saya sendiri itu sangatlah ikut melegakan, sehingga tak akan pernah saya hapus dari mp3 hp saya apapun kata teman-teman saya karena memang badai (malas disini) pasti akan segera pergi karena datangnya semangat baru. buktinya? ya inilah buktinya, posting pertama bulan februari.

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine