Kau

| November 22, 2008 | Sunting
kau yang mengundangku,
bak tawarkan satu ajakan
agar lekas berkemas
dan bergegas menjengukmu

daun lamtoro rapatkan badan
batang- batang putri malu melipat
semua seperti ingin mengunci
dir dan kabarkan bahwa di rumah
itu hanya sunyi, yang digemakan

air kolam nyaris tanpa riak
lelawa segera berkelana,
sebagaimana..,
penyair angkuh yang mengembara
memburu kata- kata

aku masih ingin menikmati langit
aku masih ingin memandangmu
yang sayu dan selalu terjaga,
bagaimana berkelit dari
lelah dan lupa

dan, suara itu pula yang menuntunku
menuju sebuah rumah yang bercahaya

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine