Jogja Mulai Dihiasi Bendera

| Juli 31, 2008 | Sunting
Selain sebagai Kota Budaya, Pelajar, dan Wisata, Jogja ternyata menjadi kota harapan bagi sejumlah orang dari daerah lain yang mengadukan peruntungannya di kota ini menjelang bulan Agustus tiba sebagai pedagang bendera.
Pedagang Bendera
Pada bulan ini, sejumlah ruas jalan di Jogja dihiasi warna-warni merah putih. Hiasan tersebut bukan dari warga Jogja, namun dari pedagang bendera yang jauh-jauh datang dari Garut, Jawa Barat. Jika dari warga Jogja, paling-paling bendera partai politik yang kini juga mulai banyak bermunculan

Dede Yoyo (53), adalah satu dari puluhan pedagang bendera musiman dari Garut yang tahun ini kembali ke Jogja untuk mendagangkan bendera dan sejumlah aksesoris yang biasanya digunakan untuk memeriahkan perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang tahun ini menginjak usia ke-63.

Praktis hanya bermodalkan tempat yang mudah dijangkau pembeli, Dede yang baru sampai ke Jogja kemarin mulai menggelar dagangannya yang berupa bendera yang terdiri dari berbagai ukuran dari 25 cm hingga 150 cm, umbul-umbul, background, dan kipas.  Harganyapun bervariasi dari bender kecil seharga Rp 3.000,00 hingga background seharga Rp 250.000,00.

Tahun ini merupakan tahun ke-3 bagi Dede berdagang bendera di Jogja. Bagi ayah tiga anak ini, pengalamannya berdagang bendera di Jogja tahun lalu dirasa cukup menjanjikan keberuntungan baginya. Meski tak serta merta habis terjual, dagangannya bisa dibilang laku, dan yang paling penting adalah ada rejeki lebih untuk yang di rumah.

"Tahun ini tahun ketiga saya jualan bendera di Jogja. Tahun lalu dan sebelumnya ternyata mampu mendapat hasil yang lumayan. Bisa untuk pulang dan menyisakan untuk keluarga di rumah. Semoga tahun ini juga bisa berhasil," kata Dede kepada GudegNet di sela-sela dagangannya di atas jembatan Sungai Gajah Wong, Jl. Laksda Adisucipto.

Selama di Jogja, Dede akan mulai menggelar daganganya sejak pukul 09.00 pagi hingga menjelang malam. Selanjutnya, pria yang berprofesi tetap sebagai petani ini pulang ke kontrakan.


Diambil dari Gudeg.Net

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine