Petuah untuk Para Pemimpin

| Juli 22, 2008 | Sunting
Pemimpin memiliki arti yang sangat luas dan mencakup berbagai hal dalam kehidupan.
Menjadi pemimpin memang nggak gampang. Sebelum memimpin anak buah, kita harus bisa memimpin diri sendiri, jangan harap bisa jadi leader kalau mimpin awake dhewe saja belum bisa. Pemimpin harus bisa belajar dari kebijaksanaan bumi yang sabar. Ditanami apa aja, dicangkul, diambil isinya, tetap saja diam, sabar. Lalu pemimpin juga harus seperti air yang selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan anak buahnya. Ia harus bisa memberikan ketenangan dan kesegaran, penawar atas dahaga dan ketidaktahuan.

Pemimpin juga harus menjadi angin. Tidak terlihat namun dapat dirasakan keberadaannya. Ada atau tidak, pemimpin tetap harus ada di hati anak buah. Pemimpin harus seperti matahari yang memberi sinar pada semua orang, tidak pandang bulu. Karena bila pemimpin punya anak emas pasti juga punya anak tiri. Pemimpinpun harus memberi cahaya saat gelap, memberi keindahan, mengayomi, dan membuat tenang anak buahnya seperti sifat bulan.


Gunung sebagai lambang kekokohan memberikan makna bila pemimpin juga harus kuat fisik dan mental.Selain itu juga seperti samudera: lega dan luas hati menerima segalanya. Sekali waktu perlu pula menjadi api, mampu "membakar" semangat anak buahnya dan kalau memang perlu ya marah hehe...

Hamot, Hamong, Hamemangkat

Selain delapan sifat itu, ada prinsip lain yang harus dipegang seorang pemimpin: hamot atau amot yakni mampu mengakomodasi semua kepentingan, mendengarkan aspirasi masyarakatnya. Lantas juga hamong atau ngemong, maknanya seorang pemimpin harus sanggup melayani, bukan malah selalu minta dilayani. Melayani berarti bertindak bukan sebagai penguasa, akan tetapi sebagai abdi rakyat. Yang ketiga adalah hamemangkat atau bisa menjaga martabat dan nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga rakyatnya. Menjaga disini bisa diartikan sebagai memberikan teladan yang baik sehingga rakyatnya dapat menirunya dan turut menjadi baik.

Dan... "Pemimpin iku durung bener yen durung wani salah. Lan durung gedhe yen durung wani ngaku cilik!" Seorang pemimpin itu belum benar bila belum berani (mengakui) kesalahan, dan ia  belum juga besar bila belum merasa kecil. Kecil karena apa yang diemban dan dijabatnya adalah amanat rakyat, perintah rakyat. Dan yang pasti sebagai seorang calon pemimpin paling tidak kita harus sudah memupuk sifat-sifat tersebut sejak dini supaya kalau jadi pemimpin kita bìsa menjaga amanah. Insya Allah.

— dicatat sekenanya, berdasarkan penjelasan pak Mugiyanto tentang Asta Brata

Tinggalkan Balasan

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine