Gaza dalam Rembang Petang

| Januari 19, 2009 | Sunting
Kupu-kupu empat warna


DUNIA ini notabene dihuni sekitar tiga miliar manusia. 12 Juta di antara dari mereka-kurang dari setengah persen-diklasifikasi sebagai bangsa Yahudi (Israel). Secara statistik, mereka sebenarnya hampir tidak teramati. Tetapi bangsa Israel justru betul-betul dikenal, di luar proporsi dengan jumlah mereka yang kecil. Tak kurang dari 12 persen dari semua hadiah Nobel di dalam bidang fisika, kimia dan kedokteran telah jatuh ke tangan orang-orang Israel. Kontribusi Israel pada daftar nama-nama besar dunia di bidang agama, sains, sastra, musik, keuangan, dan filsafat amat mencengangkan.

Sederet nama-nama besar dan dimuliakan dunia juga telah dihasilkan bangsa ini. Semisal Karl Marx, yang dengan Das Kapitalnya yang legendaries. Albert Einstein, matematikawan paling kesohor hingga saat ini, yang menghantarkan kita ke zaman atom dan membuka jalan bagi manusia menapakkan kakinya di bulan, adalah berkat teorinya. Sigmund Freud, dengan psikoanalisanya, telah merevolusi pikiran manusia tentang dirinya sendiri, serta tentang hubungan antara pikiran materi. Tak ketinggalan Baruch Spinoza, yang membebaskan filsafat dari mistisisme dan membuka jalan bagi rasionalitas sains modern, adalah bukti luar biasa kehebatan anak-anak Israel.

Yang pasti, bangsa Israel memang sudah menyita perhatian dunia sejak zaman dahulu. Yakni sejak pada suatu hari, 4.000 tahun silam, ketika seorang laki-laki bernama Abraham (Ibrahim) mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dan memperkenalkan diri sebagai Yahwe (Jehovah), yang merupakan awal dialog Yahudi dengan Tuhan. Lewat tradisi Ibrahim kita mengenal tradisi (agama) semetik terbesar di dunia (Yahudi, Nasrani dan Islam). Sehingga banyak ajaran Ibrahim sampai sekarang masih tetap lestari. Baik dalam tradisi Yahudi, Nasrani maupun Islam. Hari raya terbesar dalam Islam, (Idul Adha), tak lebih ubahnya napak tilas kisah (tradisi) Ibrahim. Bahkan Masjidil Haram (Ka'bah) dan Masjidil Aqsa-dua nama masjid yang ditulis dalam Alquran--notabene pertama juga dibangun Ibrahim. Ironisnya, prestasi besar itu, dewasa ini sangat paradoks dengan perilakunya. Invasinya yang membabi-buta ke Jalur Gaza dewasa ini, sungguh merupakan ironis sejarah dan kemanusiaan yang tak terlupakan. Ia tak ubahnya Hitler dengan Nazi-nya.

Sehingga dari sudut pandang apapun, agresi biadab Israel ke jalur Gaza, adalah kejahatan sejarah, peradaban dan kemanusiaan yang tak terperikan. Terlebih jika dipandang dari sudut agama dan kemanusiaan. Kejahatan Israel atas penduduk sipil -utamanya perempuan dan anak-anak -- adalah bentuk kejahatan sempurna, lebih dari kejahatan yang pernah dilakukan iblis sekalipun. Sekeji-kejinya iblis, makhluk yang notabene karena kejahatannya distigmakan bakal menjadi penghuni neraka jahanam, dalam catatan sejarah, tak pernah membantai orang sedemikian masif dan sistemik demikian.

Maka manakala mengkaji konsep, setan (iblis) dalam pandangan Islam yang notabene terdiri dari jin dan manusia, perilaku biadab Israel tak ubahnya ikon langsung tak langsung dari iblis yang senyatanya. Yakni iblis yang berasal dari golongan manusia itu. Hanya orang-orang yang sakit jiwanya (skyzofrenia) saja yang mampu mentolerir tindakan biadab yang ada di depan mata itu, yang hingga hari ke-19 belas telah menewaskan nyawa mendekati angka seribu jiwa. Sementara lima ribuan lainnya harus menderita luka-luka dan cacat secara permamen. Sebuah angka fantastis dari tindakan keji bangsa manusia yang hampir menyamai angka kurban bencana alam misalnya Gempa Yogya-Jateng pada 27 Mei 2006. Sehingga orang waras, bahkan yang ateistik sekalipun, akal sehatnya tentu tidak akan mampu mencerna tindakan pembantaian ribuan jiwa manusia yang bersifat permanen dan sistemik tersebut.

Untuk itu, hemat kami menghadapi tindakan keji demikian, kita harus mengubah paradigma tentang bantuan yang hendak kita berikan. Jika selama ini kita terpikir untuk segera menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obat serta sarana dan prasarana vital lainnya ke Jalur Gaza. Paradigma dunia mestinya diubah. Yakni hentikan dahulu peperangan. Kalau perlu dengan segala cara. Barulah jika perang berhenti, kita memberikan bantuan kemanusiaan tersebut. Sekaligus melakukan renovasi dan rekonstruksi dan rehabilitasi kemanusiaan serta kebudayaan.

Sebab jika paradigma dunia tidak segera diubah, Israel toh, nyata-nyata telah gelap mata. Karena bangsa Israel, pada dasarnya bangsa yang skyzofrenia, mereka meyakini sebagai bangsa "pilihan Tuhan", Mereka merasa, menjadi pewaris sah dunia. Sehingga bangsa atau orang-orang lain, dianggap tak layak hidup dan menghuni dunia yang telah mereka warisi. Karena watak skyzofrenianya ini, bangsa Israel, seakan bisa berbuat apa saja, yang menurut mereka benar, sehingga mereka akan meremehkan siapa saja. Kecuali mitra bebuyutannya yang selama ini terus menyokongnya. Yakni Amerika. Sehingga resolusi PBB sekalipun tak digubrisnya.

Maka menghadapi watak demikian, satu-satunya cara hanyalah berbuat yang serupa, Yakni sebagaimana seruan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, dengan kekuatan senjata. Hanya saja, jika hal itu terjadi, maka masa depan dunia akan benar-benar di rembang petang. Perang dunia ketiga seperti sudah berada di depan mata. Apalagi jika, niat mereka didasari atas nama motif agama. Dan Wilayah Palestina, yang diyakini menjadi ikon suci dari tiga Agama Semit, sangat memungkinkan sekali untuk itu. .

Maka jika perang itu dianggap sebagai perang agama, kejadiannya pasti akan lebih dahsyat dari apa yang kita kira. Sebab sebagaimana diungkap Roger Shinn, Profesor etika sosial, Union Theological New York, "perang atas nama agama cenderung lebih ganas. Jika orang memperebutkan suatu daerah untuk kepentingan ekonomi, mereka akan mencapai suatu titik dimana pertempuran dianggap merugikan dibanding biayanya dan kemudian berkompromi. Jika penyebabnya adalah agama, kompromi dan perdamaian dianggap suatu kejahatan"

Senada dengan Shinn adalah apa yang diungkap oleh Blaise Pascal (1623-62), menyatakan bahwa "manusia tidak pernah melakukan kejahatan dengan begitu utuh dan penuh sukacita seperti bila mereka melakukannya karena keyakinan agama". Sebab "manusia akan bergumul demi agama, menulis demi itu, bertempur demi itu, mati demi itu; berbuat apa saja kecuali hidup demi itu... apabila agama yang sejati mencegah suatu kejahatan, agama-agama palsu membuat dalih untuk ribuan kejahatan" Ungkap Charles Caleb Colton. Padahal menurut sejarawan Inggris Arnold Toynbee, menyatakan bahwa "tujuan yang sebenarnya dari agama lebih luhur adalah untuk menyebarkan nasihat-nasihat rohani dan kebenaran yang menjadi dasarnya kepada sebanyak mungkin jiwa yang dapat dicapainya, agar setiap jiwa tersebut mampu memenuhi tujuan manusia yang sesungguhnya. Tujuan manusia yang sesungguhnya adalah memuliakan Allah dan memiliki Dia selama-lamanya"

Persoalannya, jika Israel terus saja berbuat nekat, maka aras ke arah perang agama itu bukan hal yang mustahil. Meski menurut hemat saya, motif utama invasi Israel, bukanlah motif agama. Yakni bentuk dari kefrustrasian para pemimpin Amerika-sekutu utama Israel-dalam menghadapi krisis ekonominya yang kian akut. Sehingga bentuk kefrustrasian itu dialihkan dengan perang, dengan harapan untuk mendongkrak kembali harga minyak yang kian terpuruk, serta sekaligus produksi persenjataan mereka menjadi laku. Itulah sebabnya, untuk tidak memperkeruh masalah setiap bangsa, juga siapapun-utamanya para pemimpin-- harus sangat arif dan hati-hati menghadapi masalah ini, sambil tetap mencari cara, bagaimana membuat Israel jera dan menghentikan kejahatannya.

Tulisan Otto Sukatno

Arsip

Pesan Mamak

Dirimu yang dulu kususui. Pantatmu yang dulu kubedaki. Kotoranmu yang kujumputi dengan tanganku sendiri, untuk kemudian kuairi.

Pernah kuceritakan padamu tentang negeri yang jauh. Sekadar cerita kala itu. Namun, kini kupikir itu adalah doa. Negeri itu tak kan sejauh dulu. Negeri itu tak kan seabstrak ceritaku dulu. Ku ucap doa untuk setiap langkahmu. Itu akan lebih bermakna daripada sedikit receh yang kusumpalkan ke sakumu. Ku serahkan dirimu pada Tuhan-Mu.

Pergilah, demi dirimu sendiri. Ku kan tunggu kau di sini. Pulanglah ketika kau lelah. Kan kuceritakan tentang negeri yang lebih jauh. Ah, kau sudah lebih tahu pasti. Baik-baik disana, sholat dijaga. Makan? Rasanya tidak perlu ku khawatir soal itu.

 
Uraian blog ini dicuplik dari puisi Sapardi Djoko Damono, Kata, 2
Reka templat oleh DZignine